RSS

Menuju Era Blusukan Digital

Blusukan sudah menjadi model kedekatan pemimpin dengan rakyat. Metode yang popular dilakukan oleh Presiden Joko Widodo tersebut kini diikuti oleh banyak pemimpin lain. Blusukan mengandung filosofi kedekatan pemimpin dengan rakyatnya. Melihat, merasakan, menemani dan memberikan solusi secara cepat bagi beragam persoalan rakyat.
Pemimpin yang hadir langsung ditengah rakyatnya menunjukkan relasi yang harmonis. Menunjukkan kedekatan dan menyekat jarak yang semula bagitu jauh antara pimpinan dan rakyatnya. Kehadiran pemimpin secara fisik di tengah rakyatnya akan menumbuhkan semangat, optimisme sebagaimana ungkapan Ki Hajar Dewantara “Ing Madya Mangun Karsa”. Rakyat merasa diperhatikan, ditumbuhkan semangatnya sehingga kemauannya untuk maju akan tumbuh.
Aspek lain yang menjadi ciri khas blusukan adalah spontanitas, realitas dan aktualitas. Bawahan tidak bisa lagi memberikan laporan “asal bapak senang”. Pemimpin yang melihat realitas langsung di lapangan tidak bisa dibohongi dengan laporan rekayasa dari bawahannya. Rakyat bisa menyampaikan keluh kesahnya secara langsung kepada pemimpinya. Sementara pemimpin bisa melihat dengan kasat mata kondisi rakyatnya. Informasi yang diperoleh pemimpin sesuai realitas di lapangan sekaligus bersifat aktual.
Blusukan memang efektif untuk mendapatkan informasi terkini dan terakurat dari lapangan. Meski demikian dengan luas wilayah Indonesia yang mencapai 17 ribu pulau dan tersebar dari Sabang sampai Merauke blusukan secara fisik tentu tidak bisa dilakukan terus-menerus. Blusukan secara fisik membutuhkan waktu, tenaga, dan mobilitas yang bisa menguras energi pemimpin. Selain melihat realita di lapangan seorang pemimpin juga harus memikirkan solusi dari beragam persoalan rakyatnya. Dia harus menjalin relasi, mengembangkan jaringan, menjalin komunikasi dengan legislatif, membina bawahan dan menyelesaikan persoalan administratif yang menyita waktu.
Karena itu untuk menunjang blusukan secara fisik dibutuhkan blusukan digital. Cara ini memungkinkan pemimpin mengakses informasi terbaru dan terakurat tentang rakyatnya. Blusukan digital juga bisa dilakukan dengan cepat dan mencakup wilayah yang lebih luas. Dalam waktu bersamaan seorang pemimpin bisa memantau kondisi pelayanan publik, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, sosial ekonomi di berbagai tempat.
Untuk menjalankan blusukan digital dibutuhkan teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi. Ruang kerja seorang pemimpin layaknya ruang kendali dimana pemimpin bisa melihat kondisi rakyat dan wilayahnya. Sinergi antara teknologi informasi dan komunikasi, integrasi sistem informasi manajemen dan akurasi basis data sangat diperlukan dalam blusukan digital. Kunci utama dari keberhasilan sistem blusukan digital ini adalah kekuatan jaringan, keterhandalan basis data, dan pembaharuan data yang cepat.
Misalnya pembaharuan data kependudukan yang akurat dan cepat akan mempermudah pemimpin membuat kebijakan kependudukan. Pembaharuan data perdagangan, kenaikan harga kebutuhan pokok yang dilakukan secara rutin dan cepat akan memudahkan pengambilan keputusan ketika terjadi lonjakan harga kebutuhan pokok yang tidak wajar. Integrasi dengan CCTV yang terpasang di berbagai penjuru akan memudahkan pemantauan kondisi jalan yang rusak, kemacetan, dan kemajuan pembangunan infrastruktur.
Beberapa program pemerintah saat ini sedang mengarah ke era blusukan digital. Salah satunya adalah rencana Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi yang menggagas 5 ribu desa online di seluruh Indonesia. Desa-desa ini akan menjadi proyek percontohan untuk sistem jaringan koneksi online untuk pemantauan kucuran dana desa di tahun 2015. Melalui sistem ini pemerintah bisa melihat kondisi desa yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan cepat.
Prioritas utama dari program ini adalah desa-desa yang tersebar di daerah perbatasan. Kondisi desa di daerah perbatasan sangat memprihatinkan. Kondisi infrastruktur, layanan kesehatan, pendidikan dan layanan public lainnya sangat jauh tertinggal. Karena itu dibutuhkan akselerasi pembangunan yang nyata. Daerah perbatasan adalah beranda bangsa sekaligus simpul-simpul persatuan yang harus dijaga. Tanpa upaya nyata untuk mengembangkan daerah perbatasan maka ancaman disintegrasi bangsa akan semakin kuat. Desa-desa di daerah perbatasan akan memilih bergabung dengan negara lain yang mampu memberikan perhatian dengan lebih baik.
Blusukan digital akan mampu menghasilkan potret kondisi desa dan penduduknya secara cepat dan massif. Pemerintah bisa memantau langsung kemajuan pembangunan desa. Memastikan bahwa dana alokasi pembangunan desa bermanfaat sebagaimana mestinya.
Di Jawa Tengah
Salah satu kota di Jawa Tengah yang siap menerapkan konsep blusukan digital adalah Pekalongan. Perkembangan teknologi informasi berbasis open source telah mendorong kota ini menuju kota broadband (pita lebar). Data dari Pemkot Pekalongan menunjukkan saat ini sudah sekitar 90% terkoneksi jaringan fiber optic yang dipasang secara mandiri. Jaringan ini sangat bermanfaat untuk membangun sinergi online dari berbagai program dan layanan pemerintah. Sementara pusat ruang kendali dan monitor akan terpasang di kantor walikota. Melalui layar terkoneksi tersebut pemimpin bisa melakukan berbagai blusukan digital terhadap persoalan yang dihadapi masyarakatnya.
Daerah-daerah lainnya bisa menerapkan konsep yang sama atau mengembangkan konsep lain yang sesuai karakteristik daerah. Semakin banyak daerah yang siap melakukan blusukan digital akan membawa Jawa Tengah lebih maju. Pelayanan publik lebih baik dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
Tidak menafikan hakekat blusukan
Blusukan secara fisik memiliki keterbatasan waktu, jangkauan dan kecepatan. Sehingga blusukan digital bisa menjadi solusi pendukung yang tepat. Meski demikian blusukan secara fisik tetap diperlukan karena hakikat kedekatan pemimpin dengan rakyatnya terwujud disini. Kehadiran blusukan digital hanya menunjang kinerja seorang pemimpin. Mempermudah, mempercepat dan memperluas jangkauan, bukan menafikan hakekat blusukan.
Kehadiran teknologi hanya bersifat mendukung, mempermudah dan tidak berarti menafikan hakekat dari sebuah aktifitas manusia. Blusukan secara fisik tetap diperlukan untuk membangun relasi harmonis pemimpin dengan rakyatnya. Sementara blusukan digital hanya bersifat menunjang dari sisi kecepatan dan keluasan akses.

 
Leave a comment

Posted by on December 23, 2014 in Uncategorized

 

“Menatap Wajah Desaku”

Perjalanan pulang ke tempat kelahiran selalu membawa selaksa makna bagi setiap orang. Kesempatan untuk datang kembali ke tempat kita dilahirkan seolah mengenang kembali memori masa lalu yang penuh dengan warna pelangi. Demikian pula yang saya rasakan menjelang Idul Fitri 1435 H yang lalu. Lahir dan besar di sebuah daerah terpencil di ujung selatan dan barat Jawa Tengah terpatri mendalam beribu kenangan saat kecil.

Saya lahir di sebuah dusun bernama Sidaurip Desa Sidanegara, terletak di Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap. Secara geografis Cilacap adalah kabupaten di bagian selatan dan barat Jawa Tengah. Desa kelahiran saya hanya dibatasi sungai Citanduy untuk menyeberang ke Jawa Barat. Berbatasan dengan Kabupaten Ciamis sehingga bahasa yang sehari-hari digunakan adalah campuran antara bahasa “ngapak” dengan sunda. Menurut cerita dari orang tua dan kakek, saya lahir tepat ketika daerah kami mengalami kekeringan. Kakek bercerita bagaimana sulitnya mendapatkan air bersih ketika itu. Untuk mendapatkan air bersih harus berjalan jauh dari rumah. Air sungai Citandui yang biasanya penuh tiba-tiba menyusut drastis di musim kering tersebut. Sumur sudah kering sementara hujan tak kunjung datang.

Belum banyak yang berubah dari masa ketika saya meninggalkan daerah tersebut di saat lulus SMP. Hanya terlihat jaringan listrik yang sudah menjangkau kampungku dan pengaspalan jalan yang sudah lubang di berbagai tempat. Sampai lulus SMP listrik belum masuk kampungku sehingga lampu “teplok” dan petromak menjadi andalan penerangan. Sanitasi juga masih sama, banyak selokan tertutup, air berwarna hitam dan bau air sumur yang anyir karena tercemar air selokan. Padahal air bersih adalah syarat bagi kehidupan yang sehat. Tanpa ketersediaan air bersih yang mencukupi kesehatan warga juga tidak terpenuhi. Pembangunan kesehatan berbasis ketersediaan air bersih akan membuat kesehatan warga meningkat.

Peran Bidan Desa

Hal kedua yang saya lihat ketika datang ke kampung halaman adalah perubahan perilaku masyarakat terutama terkait kesehatan reproduksi. Saya lahir dengan bantuan dukun bayi di kampung. Dukun bayi ini telah melegenda bertahun-tahun dan membantu banyak persalinan. Kehadirannya sudah ada semenjak orang tua saya kecil. Keahliannya diturunkan ke anak-anaknya sehingga keluarga Nyi Jojoh dikenal sebagai keluarga dukun bayi.

Semasa kecil sampai dengan SMP saya masih sering mendengar ibu yang meninggal ketika melahirkan. Dukun bayi sudah berusaha semampunya, tetapi batas pengetahuan dan kemampuannya memang tidak memungkinkan mendiagnosa persoalan kehamilan dan kandungan dengan lebih akurat. Pengetahuan yang didapat secara turun-temurun tidak dibarengi dengan pengetahuan medis dan peralatan yang memadai. Sekitar tahun 2007 saya masih mendapatkan cerita dari adik saya yang tinggal di kampung tersebut tentang proses kelahiran disana. Ketika melahirkan anak pertamanya dia di bantu oleh Nyi Jojoh, dia diminta menggigit rambutnya ketika melahirkan agar bayinya ceapat keluar. Alhamdulilah anak pertamanya lahir dengan selamat. Dia juga bercerita beberapa ibu-ibu disana yang kehilangan anak ketika melahirkan. Menurut data yang diperoleh dari WHO, angka kematian ibu di Indonesia mencapai 9.900 orang dari 4,5 juta keseluruhan kelahiran pada tahun 2012. Hal itu sama dengan 66 pesawat Boeing 737 seri 400 jatuh dan seluruh penumpangnya meninggal.

Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi
sumber gambar; skpd.batamkota.go.id

Ketika Idul FItri kemarin, saya kembali menengok tempat kelahiran dan mendapatkan informasi yang menggembirakan. Kehadiran bidan desa yang dulu masih kurang diperhitungkan sekarang sudah mulai menjadi rujukan dan panutan ibu-ibu yang hamil dan melahirkan. Mereka juga sudah mulai sadar untuk memeriksakan kehamilan ke bidan dengan rutin, mengikuti saran kesehatan yang diberikan, dan mengikuti tahapan persalinan yang benar. Keberadaan dukun bayi bukan dikesampingkan tetapi mereka diberi bekal pendidikan kesehatan yang memadai. Masih cukup banyak masyarakat yang lebih mempercayai dukun bayi sehingga pemberian bekal kesehatan bagi mereka sangat diperlukan. Kolaborasi antara bidan desa dengan dukun bayi tersebut mampu meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan balita.

Dalam pengamatan di kampung halaman saya, keberhasilan usaha bidan desa dalam merubah cara pandang masyarakat tentang kesehatan kehamilan tidak lepas dari beragam faktor. Setidaknya ada dua hal yang berpengaruh yaitu:
a. Keaktifan bidan desa memanfaatkan waktu pertemuan dengan kelompok ibu-ibu. Forum yang bisa digunakan diantaranya acara pengajian, PKK, arisan.
b. Peningkatan peran puskesmas yang tidak lagi pasif tetapi aktif dalam menggalakkan kesehatan. Mereka bergerak mendekati masyarakat memanfaatkan forum dan agenda acara yang ada di lingkungan tersebut. Bagi masyarakat di kampung kami, Puskesmas sering dipandang sebagai tempat yang menakutkan. Pergi ke Puskesmas berarti kita sedang mengidap penyakit. Padahal Puskesmas memiliki peran lebih besar dari sekedar tempat berobat. Informasi tentang kesehatan, mencegah penyakit, dan beragam aktifitas kesehatan masyarakat terencana di Puskesmas termasuk penanganan kesehatan ibu dan bayi.

Program percepatan pembangunan kualitas kesehatan berbasis perdesaan telah dirasakan di tempat kelahiran saya. Urgensi peran bidan desa dan peningkatan kinerja puskesmas telah dirasakan manfaatnya. Ada beberapa hal yang bisa diambil pelajaran dari kisah di kampung kelahiran saya. Diantaranya:
1. Akan lebih baik jika bidan desa yang ditempatkan di daerah terpencil memiliki kemampuan berkomunikasi dengan bahasa setempat. Saat ini semakin banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. JIka mereka mau kembali dan membangun desanya tentu akan lebih mudah. Penguasaan bahasa dan pemahaman terhadap adat istiadat masyarakat setempat akan membantu memudahkan interaksi dengan warga.
2. Membekali bidan desa yang bertugas di daerah terpencil dengan kemampuan komunikasi yang memadai. Kemampuan untuk melakukan pendekatan, melakukan persuasi, dan kesebaran dalam menjalin komunikasi dengan warga.
3. Waktu masih SD di kampung saya seringkali ada acara layar tancap yang dilakukan oleh pemerintah. Biasanya selain memutar film perjuangan juga ada pemutaran film tentang kesehatan. Ini bisa jadi sarana untuk sosialisasi beragam program kesehatan. Saat ini ketika era teknologi komunikasi semakin canggih media sosialisasi tentu semakin banyak, tetapi bukan berarti media terdahulu tidak lagi efektif.

Penonton asyik menonton layar tancap penyuluhan KB. sumber: (Antara/doc.)

4. Jangan biarkan bidan desa berjuang sendirian dalam mendidik kesehatan warga. Mereka yang ditugaskan di daerah terpencil harus sering mendapat dukungan moral sehingga semangat tetap terjaga. Berjuang dengan segala keterbatasan di daerah terpencil membutuhkan energi dan konsistensi yang kuat. Karena itu dukungan moral sangat penting bagi mereka.

Semoga dengan semakin baiknya peran dari bidan desa, akan mampu meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi di daerah. Menatap wajah desaku, seolah menatap wajah-wajah desa terpencil lainnya di Indonesia. Bergerak menuju arah lebih baik menuju Perdesaan Sehat.

 
Leave a comment

Posted by on October 16, 2014 in lomba kary tulis

 

Tags: ,

Media Massa Dalam Peliputan Bencana

Dalam setiap kejadian bencana selalu diikuti dengan pemberitaan media massa yang massif. Media massa beromba-lomba untuk memberikan informasi terbaru, terlengkap, tercepat, terakurat dalam liputan bencana. Mereka bahkan mengirim tim khusus untuk mencari informasi seputar bencana. Ketika tsunami melanda Aceh pada tahun 2004 lalu, media massa berlomba-lomba mengirim tim liputan terbaik untuk memberikan informasi terbaru. Demikian pula ketika gempa bumi mengguncang Yogyakarta dan Padang. Letusan dahsyat gunung Merapi dan Sinabung juga menjadi pemberitaan berhari-hari di media massa. Saat ini Gunung Slamet di Jawa Tengah sedang menjadi pusat pemberitaan media. Salah satu gunung berapi terbesar di Jawa ini sedang bergejolak.

Kejadian bencana selalu memiliki magnitude yang kuat untuk diberitakan. Dari berbagai sisi kejadian bencana memiliki nilai berita. Liputan media di satu sisi memberikan informasi terkini kepada masyarakat tetapi di sisi lain justru sering kontraproduktif dengan upaya penanganan bencana.

Kurang empati

Dalam peliputan bencana seringkali media tidak mempertimbangkan sisi empati. Korban yang sedang sedih, dalam ketakutan, kekalutan, tampil seadanya harus direkam kamera untuk disebarluaskan. Ini tentunya memberikan efek kengerian, kesedihan bagi yang melihatnya, misalnya sanak saudaranya yang tinggal jauh. Sebagai contoh ketika terjadi erupsi Merapi, orang-orang tua yang diangkut dalam mobil bak terbuka dengan rambut penuh debu dan wajah ketakutan direkam begitu saja dan ditampilkan di layar televisi.

Ketika mereka sedang sedih tiba-tiba stasiun televisi datang dengan pertanyaan yang tidak menunjukkan empati “bagaimana perasaan ibu menghadapi musibah ini”? Sebuah pertanyaan yang diajukan tanpa empati sama sekali. Orang yang yang sedang ditimpa musibah pastilah sedih, menangis tidak perlu ditanya lagi. Apalagi rona kesedihan dan tangisannya kemudian menjadi bahan tontonan yang menghasilkan iklan dan pemasukan bagi televisi.

Empati adalah keharusan, mereka yang sedang tertimpa musibah membutuhkan dorongan dari kita semua. Karena itu dalam pemberitaanpun semestinya media memahami kondisi ini. Jangan sampai tuntutan untuk menghasilkan berita tercepat, terakurat, terlengkap kemudian mengikis nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya.

 Dramatisasi dan trauma

Untuk menghasilkan dramatisasi, televisi bahkan secara langsung menyiarkan proses evakuasi yang terkadang menyedihkan. Dalam gempa di Padang misalnya, mereka yang tertimbun reruntuhan terus-menerus direkam televisi dan disiarkan langsung. Korban bencana yang sedang kebingungan dikejar wartawan untuk diwawancarai. Kemudian media juga membuat program khusus yang menampilkan kesedihan, menggambarkan dahsyatnya bencana dan akibat yang ditimbulkannya.

Kita juga menyayangkan ketika televisi terus-menerus mengulang gambar yang sama, sehingga menimbulkan efek ketakutan yang mendalam. Dalam teori komunikasi seseorang yang menerima terpaan komunikasi berulang-ulang akan tertancap kuat dalam memorinya. Bayangkan jika itu anak kecil. Mereka akan terus teringat memori mengerikan setiap kali melihat totntonan bencana.

Berikan harapan

 Ketika rumah hancur diterjang bencana, ketika sanak saudara pergi meninggalkan selamanya, ketika harta benda tak lagi tersisa maka harapanlah yang membuat orang tetap kuat menjalani hidupnya. Pasca bencana “harapan” adalah sebuah keinginan terbesar yang diharapkan oleh korban bencana. Harapanlah yang akan mampu menggerakkan mereka untuk bangkit dari keterpurukan. Harapanlah yang akan mengubah kesulitan menjadi usaha yang kuat.

Kinerja BNPB, para relawan dan segenap masyarakat dalam tahapan pasca bencana seolah dinihilkan kembali karena muncul pemberitaan di media yang menghancurkan harapan. Contohnya, digambarkan kondisi rumah dan tempat tinggal mereka tidak mungkin diperbaiki kembali, atau tidak ada program nyata dari pemerintah untuk membantu mereka, bantuan logistik tidak mencukupi, tidak cepat sampai, logistik hanya terbatas untuk beberapa hari. Muatan berita-berita tersebut meruntuhkan mental dan harapan korban. Dalam kondisi kalut bencana orang seringkali kehilangan konsentrasi dan logika, sehingga informasi ditelan mentah-mentah. Pasca bencana informasi yang mengatakan kekurangan bantuan logistik membuat orang kalap dan berebut bantuan sehingga menghambat penyaluran dan menimbulkan keributan.

Media semestinya membuat pemberitaan yang menumbuhkan harapan korban musibah. Jangan terlalu banyak mengungkit-ungkit kesedihan, kengerian, yang membuat orang putus harapan. Semestinya ada pengertian bahwa kebebasan pers bukan berarti bebas tanpa aturan. Justru rasa tanggungjawab, empati, kepedulian semestinya bisa mendorong manusia untuk membantu sesamanya.

Media memiliki pengaruh yang besar dalam menyebarkan harapan. Beberapa catatan penting yang harus dipegang oleh insan media diantaranya; berikan informasi akurat, buatlah pemberitaan yang menumbuhkan optimisme. Gunakanlah sumber resmi yang terpercaya sehingga tidak menimbulkan desas-desus. Informasi yang tidak akurat seringkali justru menimbulkan kepanikan, contohnya setelah gempa jogja tahun 2006 beberapa media memberitakan kalau tsunami akan terjadi. Hal ini membuat warga semakin kalut sehingga mereka berbondong-bondong mengungsi..

Berikan empati dan tumbuhkanlah harapan korban bencana agar mereka mampu melewati masa-masa sulit. Bantulah BNPB, pemerintah, relawan dan masyarakat dengan pemberitaan yang bertanggungjawab, berempati, dan menumbuhkan harapan. Jangan hancurkan harapan mereka yang sedang ditimpa kesulitan. Sebagai negara dengan potensi bencana yang tinggi maka sinergi segenap potensi bangsa sangat dibutuhkan di masa prabencana, ketika terjadi bencana dan pascabencana.

 
1 Comment

Posted by on September 18, 2014 in lomba kary tulis

 

Tags: , ,

Operator Seluler dan Sinergi Ketahanan Pangan

Jum’at 29 Agustus 2014

Pagi itu jam 8 pagi, kami bersiap untuk berangkat menunaikan salah satu Tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat hari ini adalah Dusun Selongisor, Desa Batur, Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Letaknya kira-kira 2 jam perjalanan perjalanan dari kampus. Desa ini terletak di dataran tinggi berbatasan antara kabupaten Semarang dan Salatiga. Dari jalan utama Salatiga-Magelang yang melewati kawasan Kopeng kami harus belok kiri setelah Koramil Getasan. Letaknya yang berada di lereng pegunungan Merbabu membuat udara begitu dingin, bahkan ketika menjelang siang hari, kabut sudah turun.
Tujuan kami ke desa Batur adalah bertemu dengan kelompok tani Tranggulasi yang berada di dusun Selongisor. Kelompok tani ini sudah dikenal karena kemampuannya mengembangkan pertanian organik. Mereka tidak hanya bertani untuk mencukupi kebutuhan keluarga melainkan sudah menjadi pemasok di berbagai pasar modern dan tradisional.


Produk Pertanian Organik Kelompok Tani Tranggulasi, Siap Kirim sumber gambar disini

Selain mengembangkan pertanian, mereka juga mengembangkan pelatihan dan magang di bidang pertanian . Tujuannya adalah untuk menularkan ilmu pertanian sekaligus semangat bertani yang sudah mulai luntur di kalangan masyarakat kita. Bertani identik dengan kemiskinan dan kesulitan, pandangan inilah yang mencoba untuk ditepis oleh kelompok tani Tranggulasi. Melalui pertanian mereka ingin menunjukkan kalau sektor ini menjanjikan, terutama pertanian organik. Setali tiga uang, dengan bertani tidak hanya menghadirkan keuntungan bagi diri sendiri, kelompok dan keluarga tetapi juga sekaligus menopang ketahanan pangan Negara. Sungguh mulia peran yang mereka pilih tersebut. Sebagai bentuk penghargaan dari pemerintah terhadap kiprah kelompok tani ini, pada tahun 2011 Kelompok Tani Tranggulasi mendapatkan penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2011.


Sumber Gambar (Koleksi Kelompok Tani Tranggulasi)

“Sinyal Byar Pet”

Setelah beramah tamah dengan Pak Camat, Pak Kades, Kepala Dusun dan Kelompok Tani Tranggulasi tim pengabdian masyarakat mulai mengerjakan tugasnya. Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini terkait dengan bantuan dari Kementrian Sosial yang difasilitasi oleh universitas kami. Sebagian anggota tim mengurus administrasi anggota kelompok tani yang rencananya akan mendapatkan bantuan dana. Sebagian tim survey ke rumah penduduk di sekitar Desa Batur, rumah-rumah tersebut nantinya akan mendapatkan bantuan bedah rumah dari Kementrian Sosial. Paket bantuan dari Kementrian Sosial terdiri dari bantuan permodalan untuk kelompok usaha bersama (KUBE), bedah rumah, dan pengerasan jalan.
Setelah meninjau rumah-rumah penduduk yang akan menerima bantuan bedah rumah, aku memilih untuk berjalan-jalan melihat situasi sekitar Dusun Selongisor. Kulihat layar handphoneku menunjukkan jam 10.30 wib. Dari dua operator seluler yang akau pakai, tak satupun yang keluar sinyalnya. Kucoba berjalan ke tempat yang lebih tinggi, mungkin ada sinyal seluler disana. Tepat di depan SD Batur salah satu handphone ku menunjukkan adanya sinyal seluler sementara yang satu tetap tidak nampak.


Sumber gambar disini

Dalam hati terbersit, di daerah yang masih dekat dengan ibukota provinsi saja masih ada daerah yang sulit dijangkau sinyal seluler, bagaimana dengan daerah lain. Hasil obrolan kami dengan masyarakat di Desa Batur, menunjukkan bahwa sinyal seluler masih menjadi barang mahal. Sesekali HP mereka bisa menangkap sinyal, tetapi kemudian hilang tak berbekas seolah daerah tersebut tak pernah dilewati sinyal seluler. Hanya di tempat-tempat tertentu seperti di depan SD Batur itulah sinyal cukup kuat diterima.
Bagi mereka terutama kelompok tani yang juga memasarkan produknya ke berbagai daerah kehadiran sinyal seluler adalah barang vital. Terkadang mereka harus turun, atau mencari daerah agar bisa menghubungi kolega bisnis. Ada beberapa operator seluler yang sinyalnya cukup kuat namun justru operator tersebut bukan pemain besar yang nomernya banyak dipakai oleh kolega bisnis mereka.
Selain menembus pasar local dan nasional, produk sayur organic dari Kelompok Tani Tranggulasi juga sudah menembus pasar internasional seperti Singapura. Untuk menopang pengembangan bisnis ke luar negeri tentunya membutuhkan koneksi internet, bagaimana kalau sinyal byar pet? Tentunya sulit bagi kelompok tani ini untuk mengembangkan pasarnya.
Produk mereka bagus, sungguh mempesona kalau ada operator seluler yang mau menggandeng kelompok tani seperti Tranggulasi ini. Menyebarkan produk mereka, menyebarkan konten pelatihan mereka, memotivasi generasi muda untuk menjadi petani organic, sekaligus promosi wisata alam yang menjanjikan.

Ini adalah blog dari ketua petani Tranggulasi bapak Pitoyo Ngatimin http://pitoyo-tranggulasi.blogspot.com/

gambar.tranggulasi1

Ini adalah postingan pertama sekaligus belum pernah di update lagi sampai sekarang. kesulitan koneksi internet membuat upaya update konten menjadi lebih sulit. Jika Blog ini didukung oleh kerjasama dengan operator seluler tidak hanya bermanfaat bagi petani di kelompok tani tersebut tapi lebih besar dari itu adalah menyebarkan harapan bahwa menjadi petani organic adalah pekerjaan yang menjanjikan.

 
“Sinergi dan Harapan”
Dalam kerangka kegiatan pengabdian masyarakat tim universitas membuatkan secara khusus website untuk membantu pemasaran produk, menyebarkan semangat dan mendukung ketahanan pangan nasional. Bagi kelompok tani Tranggulasi yang sudah dikenal di berbagai daerah keberadaan website ini akan membantu meningkatkan peran dan pemasaran produk mereka. Perjalanan mereka dalam mengembangkan pertanian organik patut disebarkan, dikemas sehingga menumbuhkan semangat generasi muda untuk meniru jejak mereka

web.tranggulasi

Ini adalah web tranggulasi yang dibuat oleh tim universitas dalam rangka kegiatan pengabdian masyarakat.

Dalam impian saya tranggulasi bisa lebih banyak memberi manfaat dengan bantuan operator seluler: Website tersebut masih sangat sederhana, jika ada operator seluler yang mau menggandeng kelompok tani tersebut tentunya bisa dibuat website yang lebih baik.
Kelompok Tani Tranggulasi memiliki produk pertanian organic, memiliki semangat bertani, dan membantu mewujudkan ketahanan pangan nasional. Operator seluler memiliki teknologi komunikasi, jaringan, kemampuan manajemen media online, pengalaman. Sinergi ini saya yakin akan menghasilkan sebuah gerakan semangat bertani yang menasional.
Dengan potensi luas wilayah Indonesia untuk sector pertanian yang begitu luas semestinya ketahanan pangan bisa dicapai. Kelompok Tani Tranggulasi hanya contoh, operator seluler bisa menggandeng potensi bangsa yang lain di berbagai bidang. Saat ini di berbagai tempat di Indonesia muncul degradasi semangat untuk menjadi petani sehingga dari Tranggulasi kita bsa menyebarkan semangat menyebarkan kebahagiaan menjadi petani, menyebarkan harapan, menyebarkan optimisme.
Patut kita tunggu operator seluler manakah yang akan mengambil peran, mewujudkan sinergi sehingga semangat bertani, semangat kemandirian pangan bisa disebarkan ke berbagai daerah.

 
Leave a comment

Posted by on September 2, 2014 in CampurSari

 

Tags: , ,

Sampah Udara

Lebaran identik dengan kegembiraan…

Pagi itu, Senin di hari ke 7 setelah lebaran 1435 H di langit berhamburan balon udara tradisional yang diterbangkan oleh penduduk. Balon tradisional yang terbuat dari plastik dan kertas tersebut diisi dengan asap hasil pembakaran kayu, arang, atau minyak tanah (pokoknya diisi asap). Beberapa balon diberi pemberat dengan petasan/mercon yang diharapkan meledak di udara.

Balon yang jumlahnya ratusan, pagi itu mulai menutup angkasa. ORang-orang dibawah pada tepuk tangan, horeeee-horeeeeeeeeeeee, tertawa lebar sambil menengadahkan kepala melihat langit..

Sejurus kemudian suara riuh rendah tersebut berubah menjadi kekalutan ketika sebuah balon yang syarat dengan pembera mercon gagal melambung tinggi dan jatuh tepat di atas rumah tetangga. Gak cuma itu, mercon yang jadi pemberat juga meledak di atas genteng. JAdilah genteng yang terbuat dari tanah liat tersebut pecah berhamburan karena ledakan mercon. Sementara orang-orang di luar berteriak kalut, penghuni rumah juga berhamburan keluar…Kalau sudah begini ujung-ujungnya saling menyalahkan.

Kenapa balon diterbangkan,,kenapa diberi bandul mercon dlll

sementara tuan rumah hanya bisa ngenes melihat rumahnya berantakan…Di langit sampah-sampah plastik dan kertas berwujud balon udara yang jumlahnya ratusan tersebut setiap saat bisa jatuh keatap rumah penduduk…

 

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2014 in Uncategorized

 

50ribu=Berkah dan Senyum

Kebahagiaan itu katanya tidak lengkap kalau tidak menghadirkan senyum bagi sesama. Bahagia untuk diri sendiri sementara saudara yang lain dalam kesusahan rasanya tidak lengkap. Kali ini saya akan cerita bagaimana dengan uang 50 ribu kita bisa jalan-jalan di Semarang plus menghadirkan kebahagiaan untuk orang lain. Artinya dengan 50 ribu kita bisa mendapat kebahagiaan (senyum) sekaligus membahagiakan orang lain (berkah). Jadi konsep perjalanan kali ini adalah “jalan-jalan keliling semarang, menebar senyum dan diiringi dengan sedekah”

Kita mulai ceritanya.

Semarang, adalah ibukota Jawa Tengah, terletak di pesisir utara Pulau Jawa. TIpologi kotanya naik turun, berhawa panas dan memiliki kultur campuran antara masyarakat industri dan pesisir. Kalau mau jalan-jalan di Semarang, pakai motor lebih praktis, cukup modal bensin 2 liter (2 x6500=13 ribu) udah panas nih pantat buat keliling kota. Tapi kalau mau lebih santai sambil melihat pemandangan kota, enaknya sih naik BRT (ini kayak busway di Jakarta). Kalau naik BRT ini kita bisa keliling kota Semarang cukup dengan 3500 rupiah. Kalu mau pindah jalur sepanjang masih turun di halte kita gak perlu nambah duit lagi.
– Kita mulai perjalanan dari daerah Semarang atas tepatnya di Tembalang. Kenapa dimulai dari Tembalang. Disini merupakan salah satu pusat kegiatan warga Semarang. Di Tembalang kita akan ketemu kampus Universitas Negeri terbesar di Jawa Tengah yah namanya Universitas Diponegoro. Karena lingkungan kampus sudah pasti kehidupannya gak ada matinya. selama 24 jam daerah ini selalu rame. Warung, toko, gerai waralaba, rental komputer dll siap melayani selama 24 jam. Buat kulineran juga asyik. Banyak jenis kuliner tersebar di daerah ini. Karena konsepnya jalan sambil beramal maka di Tembalang keluarkan uang 5000, berikan kepada siapapun yang membutuhkan, yang pertama kali ditemui hari itu. Nah duitnya masih 45 ribu. Kita sarapan dulu, salah satu menu tradisonal yang ada disini adalah “Gablok”. Makanan ini kayak gendar yang kemudian ditaburi bumbu kacang plus sayuran (pecel). Jangan lupa nyicipi gorengannya. Harga Gablok per porsi 1.500, gorengan 2: 15000, teh anget:15000, jadi cukup dengan 4500 kita sudah sarapan. DI tembalang selain wisata kampus, kita bisa juga menikmati aneka kreatifitas anak mudanya. Sampai di Tembalang kita sudah mengeluarkan duit 5000 (buat sedekah) + 4500 (buat sarapan): jumlah pengeluaran= 9500
– Dari Tembalang kita menuju ke pusat kota Kawasan Simpang 5. Ini adalah jantungnya kota Semarang. Kawasan ini menjadi pusat keramaian dan aktifitas warga. Dari Tembalang kita bisa naik BRT seharga 3500. DI kawasan Simpang 5 berderet aneka Mall, dan Masjid legendaris yaitu masjid Baiturrahman. Setelah puas mengelilingi kawasan Simpang 5 jangan lupa bergeser sedikit ke barat menuju Lawang Sewu. Bangunan bersejarah peninggalan Belanda ini menjadi salah satu icon Kota Semarang. Dari Simpang 5 ke Lawang Sewu bisa naik bis kota dengan ongkos 2000 atau jalan kaki sambil melihat suasana kota. Tarif masuk kawasan Lawang Sewu sekitar 5000 (kalau belum naik, hee). jadi sampai sini kita sudah menghabiskan. 9500+3500+2000+5000= 20.000 yeah duitnya masih 30 ribu.


Sumber Gambar, Klik

– Dari Lawang sewu kita bisa lanjut ke Kota Lama. naik bis kota sekitar 3000 rupiah. Di kawasan ini kita akan ketemu bangunan bersejarah peninggalan kolonial, seperti Gereja Blenduk, Musium Kereta Api, Stasiun Kereta Api Tawang, Polder Tawang dll. Bagi yang hobi fotografi disini kalian akan ketemu banyak komunitas foto. Mereka terpikat dengan keindahan Kota Lama. TIdak jarang daerah ini juga dijadikan lokasi pengambilan gambar sinetron dan film.
– Dari kota lama jalan kira2 500 meter akan ketemu Pasar Johar. salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Semarang. dengan modal sisa duit 27 ribu saatnya kita istirahat, makan siang, sambil beli oleh-oleh khas Semarang yang murah meriah disini. Ada pusat oleh2 di Jalan Pandanaran tapi kalau gak bawa duit banyak, mending jalan ke Pasar Johar. Kuliner siang hari di sekitar pasar Johar, kita bisa nyicipi soto khas semarang per porsi sekitar 8000 (sudah sama 1 gelas teh anget). Sambil istirahat makan siang, bagi yang muslim bisa sholat dhhur atau ashar di Masjid Kauman. Kalau mau beli oleh khas bisa milih antara Wingko Babat atau Lumpia. Wingko babat seharga 1000 rupiah per buah, sedangkan lumpia sekitar 1500 rupiah perbuah. Duitnya 27 ribu- makan siang 8000= masih 19.000. Beli oleh2 wingko babat 5 buah 5000 rupiah jadi duitnya masih 14.000
– Dari pasar Johar kita bergeser ke Barat menuju Klenteng Sam Pho Kong. cukup naik bis kota seharga 3000. Klenteng ini menjadi salah satu simbol pluralitas warga Semarang. duitnya masih 11 ribu. sebelum menutup hari kembali kita keluarkan 5000 buat sesama. Berikan kepada merekayang membutuhkan. sisa 9000 bisa buat naik bis kembali ke tembalang, atau ke stasiun kereta, atau ke terminal untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain.

nah duitnya sudah habis, perjalanan berkah sambil beramal dan tersenyum karena bisa jalan2 keliling kota Semarang
buat yang mau jalan-jalan pakai motor Klik dulu link dibawah ini ya, pilihan motor tepat buat keliling kota semarang.

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2014 in CampurSari

 

SEBUAH RENUNGAN UNTUK PENDIDIKAN KITA

Pagi itu Walid harus sekolah, jam dinding menunjukkan pukul 05.15 pagi. Ayahnya baru pulang dari masjid. Seperti biasa sang ayah selalu berusaha untuk membangunkan Walid supaya bisa berangkat sekolah. Walid mudah dibangunkan kalau dibujuk dengan makanan, tetapi kalau dibangunkan untuk berangkat sekolah dia pasti menolak. Sang ayah sudah tahu kebiasaan tersebut. Jadilah pagi itu segelas susu hangat menjadi senjata ayah untuk membangunkan Walid. Usaha ayah berhasil, Walid bangun dengan semangat untuk minum segelas susu, selanjutnya dia mudah dibujuk untuk mandi dan siap-siap berangkat sekolah.
Di kamar lainnya, sang kakak Rijal sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Meskipun baru kelas satu SD, tas yang harus digendongnya sudah penuh sesak dengan buku. Jadilah tubuh kecil Rijal harus menanggung beratnya tas yang penuh seabrek buku. Belum lagi tentengan tempat bekal makan dan minum yang juga harus dibawa. Sang ayah menggeleng kepala, di usia yang masih kecil, anak-anaknya sudah harus menanggung beban pendidikan yang begitu berat. Sejak usia dini mereka sudah harus belajar membaca, menulis dan berhitung. Padahal sesungguhnya di usia mereka, saat bermain adalah masa yang indah. Sang ayah merenung mengingat kembali masa kecilnya, ketika seusia Walid dan Rijal dia bisa bermain sesukanya. Tidak harus dibebani dengan jadwal sekolah yang berat. Jaman dulu belum ada PAUD bahkan TK saja baru di kota-kota besar. Pendidikan formal pertamanya di bangku SD itupun tidak harus dengan membawa seabrek buku yang begitu berat. Pulang sekolah dia masih bisa main sepuasnya, tak seperti anak-anaknya yang setelah pulang masih dikejar PR.
Kondisi Walid dan Rijal masih lebih baik karena saudara-saudara mereka di tempat lain menghadapi beragam persoalan pelik. Sebagian dari mereka harus bertaruh nyawa untuk bisa sampai ke sekolah. Menyeberangi jembatan maut yang setiap saat bisa runtuh karena sudah tidak layak dilewati.

Sumber foto: antaranews.com
Di tempat lain, sebagian pelajar harap-harap cemas karena gedung sekolahnya sudah lapuk. Sambil belajar mereka juga harus memikirkan keselamatan dirinya jika sewaktu-waktu gedung sekolah mereka ambruk. Di jenjang pendidikan menengah, kita selalu mengelus dada ketika tawuran pelajar tidak kunjung selesai. Narkoba dan tindakan kriminalitas pelajar meningkat setiap tahunnya. Di level pendidikan tinggi juga setali tiga uang. Tawuran antar mahasiswa, plagiarisme dan pengangguran terdidik yang diproduksi tiap tahun seolah tidak ada ujung pangkalnya. Isu ujian nasional yang dikaitkan dengan system dan pemerataan pendidikan juga selalu mengemuka setiap tahun.
Persoalan pendidikan Indonesia mencakup sistem pendidikan, ketersediaan sarana prasarana, kemanfaatan pendidikan, kordinasi atar level pendidikan, dan sumber daya manusia. Tidak dipungkiri bahwa pendidikan adalah investasi masa depan sebuah bangsa. Jika salah urus maka eksistensi sebuah bangsa dipertaruhkan. Pada tulisan ini saya ingin membahas persoalan pendidikan dengan fokus pada dua hal yaitu: pendidikan karakter sejak dini dan pemerataan akses.

Pendidikan Karakter
Buat apa pinter kalau tidak jujur, buat apa berprestasi kalau kehilangan integritas, kenapa harus jenius kalau tidak bisa menghormati orang tuanya. Sia-sialah menuntut ilmu ke berbagai penjuru dunia, kalau tidak bisa mengabdi buat bangsanya. Semestinya bertambahnya ilmu membuat seseorang lebih baik karakternya. Bukan sebaliknya menjadi pribadi yang culas, oportunis, serakah, tamak, dan kehilangan rasa hormat terhadap sesama. Ini masalah pendidikan kita, bukan sekedar pintar tetapi juga mampu menjadi karakter yang baik, karena hakekat sesungguhnya dari pendidikan adalah karakter kemanusiaannya.
Pendidikan karakter sejak dini berarti memulai dari keluarga. Nilai-nilai yang melekat kuat dalam diri seseorang dibangun dari internalisasi dalam keluarga. Pada kenyataannya kondisi ini justru yang banyak dilupakan. Mereka memulai pendidikan justru dari lingkup formal. Orang tua menyerahkan anaknya sejak dini kepada orang lain atau institusi pendidikan yang terkadang tidak mengutamakan pendidikan karakter.
Sebagai contoh, sejak kecil anak dididik oleh pembantu karena orang tuanya sibuk bekerja. Di usia 3-5 tahun mereka dimaksukkan ke PAUD atau TK dengan harapan mendapatkan pendidikan formal yang baik. Di tingkat pendidikan yang semestinya mengedepankan penguatan karakter, justru anak dibebani dengan baca, tulis, hitung yang kemudian dijadikan sebagai ukuran keberhasilan pendidikan. Sehingga, ketika anak tidak mampu mengikuti standar pendidikan tersebut, orang tua merasa khawatir dan menganggap anak mereka tertinggal dari yang lain. Namun ketika anak menunjukkan karakter jujur, berani, peduli, berjiwa social tetap dianggap biasa hanya karena belum bisa baca, tulis dan hitung. Pintar dari aspek akademis tanpa dibarengi karakter kuat sejak dini justru berpotensi melahirkan kerusakan.
Setiap orang tua semestinya memahami kondisi ini sehingga mengambil peran penuh dalam pembentukan karakter putra-putrinya. Pendidikan formal hanya bersifat membantu dan memberikan bekal akademis, sementara pembentukan karakter yang kuat ada di keluarga dan lingkungan tempatnya tumbuh.
Untuk menunjang keberhasilan pendidikan karakter instrument pendidikan formal yang harus disiapkan dengan matang adalah sosok guru. Mereka yang menjadi guru haruslah sosok terbaik dari sisi prestasi akademik, karakter sebagai pendidik, motovasi dan metode dalam mendidik Karena guru adalah actor utama dalam keberhasilan pendidikan. Maka mereka haruslah sosok terbaik sehingga bisa menghasilkan generasi terbaik.
Pemerataan Kesempatan
Kita yakin kalau bangsa ini tidak kekurangan potensi sumber daya manusia. Di berbagai penjuru tanah air bertebaran anak bangsa yang hebat. Persoalanya bisakah mereka mendapat kesempatan merasakan pendidikan yang layak?fasilitas yang memadai?dan kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi yang terbaik bagi bangsa ini?.
Tidak dipungkiri persoalan pemerataan kesempatan dalam mengakses pendidikan masih menjadi masalah bagi keberhasilan pendidikan kita. Mereka yang pintar dan bersemangat tidak bisa mengakses pendidikan karena masalah ekonomi, letak geografis, sampai ketiadaan sarana pendidikan di sekitarnya. Banyak sekali potensi bangsa yang memiliki kesempatan untuk maju dan berkembang. Sayangnya tidak semua memiliki kemampuan akses dan pendanaan untuk meningkatkan kompetensinya. Pemerintah sudah menggulirkan program wajib belajar gratis sampai dengan tingkat SMA ada juga dana BOS yang digunakan untuk membantu operasional sekolah. Meski demikian ternyata persoalan pendidikan yang disebabkan oleh factor ekonomi masih dominan.
Inilah tantangan dunia pendidikan kita. Pertama bagaimana membentuk karakter peserta didik dengan baik dan kedua memastikan setiap potensi bangsa bisa mengakses pendidikan yang layak.

 
Leave a comment

Posted by on May 22, 2014 in CampurSari

 
 
IELTS Liz

IELTS Videos, IELTS Tips & IELTS Lessons for Free

Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

BBC | Blog Belalang Cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita