RSS

menang lomba PT Sriboga

29 Sep
  • artikel berikut pernah dikutsertakan pada lomba karya tulis ilmiah yang diadakan oleh PT SRIBOGA RATURAYA produsen tepung terigu di Semarang dan alhamdulillah saya dapat juara 2 yang juara 1 temen saya dari Jogjakarta. silahkan dibaca, boleh dikutip asal menyebutkan sumber dengan benar dan digunakan untuk keperluan yang tidak melanggar hukum. artikel dibuat ole:MUbarok, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, UNISSULA Semarang

PENDULUM KONTRIBUSI INDUSTRI TERIGU BAGI BANGSA INDONESIA

Pendahuluan

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”. Potongan lagu Koes Plus ini menggambarkan betapa sejahteranya masyarakat Indonesia. Namun pada kenyataannya gambaran tersebut tidak sepenuhnya benar. Persolan kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan ketahanan pangan saat ini menjadi ancaman serius bagi rakyat Indonesia. Meski tanah kita subur dan sumber daya alam melimpah namun persoalan busung lapar ternyata mengintai kehidupan bangsa ini. Pemenuhan kebutuhan dasar dari manusia tersebut saat ini mengalahkan berbagai kepentingan lainnya. Indonesia memang memiliki persoalan di bidang hukum, politik maupun HAM namun masalah-masalah tersebut tidaklah lebih penting dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang berkaitan dengan kehidupannya. Bagaimana bisa menyelesaikan masalah politik, hukum, HAM dan lainnya jika perut rakyat kosong. Persoalan mendasar inilah yang seringkali memicu terjadinya berbagai masalah di masyarakat. Kondisi perut lapar bisa membuat orang berbuat kriminal, anarki dan berbagai perbuatan melanggar hukum lainnya.

Dengan penduduk diatas 200 juta jiwa, Indonesia menjadi negara dengan persoalan kependudukan yang rumit. Penduduk Indonesia pada tahun 2035 diperkirakan akan bertambah menjadi dua kali lipat dari jumlahnya sekarang atau menjadi sekitar 400 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar tersebut jelas akan menimbulkan persoalan serius terhadap kebutuhan lapangan kerja, ketersediaan pangan dan persoalan lainnya. Setiap tahunnya jumlah angkatan kerja yang tidak mampu diserap dunia kerja selalu meningkat yang berarti angka pengangguran bertambah setiap tahunnya. Semakin meningkatnya jumlah pengangguran berarti pula semakin banyak keluarga miskin di Indonesia. Selain kemiskinan, persoalan ketahanan pangan juga menjadi ancaman serius jika tidak ditangani dengan benar. Kondisi ini jelas membutuhkan penanganan serius agar tidak menjadi potensi konflik.

Berbagai upaya untuk mengatasi masalah pengentasan kemiskinan dan terwujudnya ketahanan pangan nasional memerlukan kesungguhan dan kreatifitas untuk mewujudkannya. Penyelesaian permasalahan ini harus berupa kerangka kerja yang komprehensif sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru. Untuk bisa membuka lapangan dalam jumlah banyak tentunya dibutuhkan perkembangan industri yang signifikan. Meskipun sektor informal bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar pula, namun keberadaan industri besar tetaplah diperlukan. Hal ini mengingat mentalitas wirausaha di kalangan rakyat Indonesia masih lemah. Alih-alih berusaha menciptakan lapangan kerja sendiri, rakyat Indonesia justru lebih senang menjadikan dirinya karyawan bagi orang lain. Hal ini nampak nyata dari antrian pelamar ketika ada lowongan PNS maupun pembukaan lowongan kerja di sebuah perusahaan. Kita tidak perlu menutup mata bahwa seperti itulah kondisi masyarakat kita saat ini sehingga keberadaan industri besar masih sangat diperlukan untuk membuka lapangan pekerjaan.

Berkaitan dengan masalah ketahanan pangan nasional maka solusi yang diharapkan tidak sekedar meningkatkan produksi beras saja. Hal lain yang juga harus digalakkan adalah adanya diversifikasi pangan. Ketergantungan pada satu komoditi saja seperti beras, akan membuat ketahanan pangan nasional menjadi rapuh. Sudah sejak lama program diversifikasi pangan dimunculkan ke arah konsumsi produk-produk karbohidrat selain beras yaitu ubi jalar, jagung, ubi kayu, sagu dan tepung terigu. Namun pada kenyataannya hanya tepung terigu yang mengalami perkembangan signifikan sebagai pengganti beras. Sumber karbohidrat lain belum mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Konsumsi terigu terutama dalam bentuk mie mengalami perkembangan pesat di Indonesia. Hal ini bisa dimengerti karena tepung terigu lebih mudah diolah menjadi bahan makanan daripada jenis umbi-umbian.

Menurut Guru Besar IPB Ali Khomsan, peranan terigu dalam konsumsi pangan penduduk di berbagai wilayah dunia sangat bervariasi. Di Timur Tengah dan Afrika Utara, 75 persen dari total konsumsi energi yang berasal dari serelia mengandalkan bahan terigu. Konsumsi terigu mencapai 140 kg/kapita/tahun. Konsumsi terigu di India dan Tiongkok 40-50 kg. Di Indonesia pada dekade awal 1990-an konsumsi terigu masih sekitar 2 kg/kapita/tahun, karena beras masih mendominasi sebagai pangan pokok. (sumber: www.suarapembaruan.com).

Sebelum tahun 1970-an, Indonesia mengimpor terigu langsung dalam bentuk tepung, karena industri pengolahan belum berkembang. Namun sejak 1971 Indonesia mengimpor dalam bentuk gandum dan tepung terigu. Dari tahun ke tahun impor dalam bentuk butiran gandum ini semakin meningkat dan proporsinya jauh lebih tinggi dibandingkan impor dalam bentuk tepung terigu. Fluktuasi impor butiran gandum terlihat mencolok dan umumnya meningkat dengan tajam pada saat produksi padi agak menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa beras dan terigu bersifat saling substitusi dimana ketiadaan yang satu dapat diisi oleh yang lain. Indonesia mengimpor terigu dari berbagai negara seperti AS, Australia, Kanada, Argentina, dan dari beberapa negara Eropa.

Di Indonesia saat ini terdapat beberapa pabrik tepung terigu diantaranya PT Sriboga Raturaya (Semarang), PT Bogasari (Surabaya), PT Berdikari (Ujung Pandang), dan Pangan Mas (Cilacap). Di tahun 2008 ini akan ada beberapa pabrik baru yang beroperasi sehingga kapasitas produksi dalam negeri akan meningkat seiring peningkatan permintaan terhadap terigu.

Proses meningkatnya komsumsi terigu sebagai bahan pangan selain beras memang patut dicatat sebagai bagian dari proses diversifikasi pangan. Namun disayangkan bahwa makanan alternatif tersebut adalah produk yang berbasis bahan baku impor. Mulai berkembangnya penggunaan tepung terigu sebagai sumber pangan lain selain beras ternyata juga menimbulkan berbagai kritik. Sebagian pengamat mengatakan bahwa perkembangan penggunaan terigu membuat kita tergantung dengan impor mengingat gandum tidak bisa di tanam di Indonesia. Naiknya impor berarti kita tetap tergantung dengan bangsa lain sekaligus juga pemborosan terhadap devisa negara. Meskipun saat ini produksi terigu di dalam negeri sudah mengalami peningkatan cukup signifikan namun berbagai kritik tersebut tetap ada.

Gradasi nuansa optimis dan pesimis terhadap kontribusi industri terigu bagi perekonomian nasional bergerak serempak. Baik yang pro maupun kontra masing-masing memberikan argumentasi yang meyakinkan. Mereka yang mempermasalahkan ketergantungan terhadap impor bahan baku terigu nampaknya juga harus mempertimbangkan peran industri terigu bagi perkembangan ekonomi nasional. Demikian sebaliknya kita juga tidak menutup mata akan adanya kekhawatiran terhadap ketahanan pangan nasional karena bahan dasar terigu yang masih impor. Namun hal mendasar yang harus tetap dicatat, industri terigu akan terus bergerak maju dengan beragam prospek cemerlang ekonomi dan sosialnya, terlepas dari keberatan sejumlah pihak Persoalan yang kemudian layak dibaca dan harus disikapi adalah perlunya upaya untuk merumuskan langkah-langkah agar kontribusi positif industri terigu dapat dirasakan lebih besar daripada efek negatifnya. Bagaimanapun juga sebuah kebijakan pasti akan membawa dampak baik dan buruk, maka upaya kita adalah meminimalkan dampak buruk tersebut.

Tulisan di bawah ini akan mengkaji kontribusi kehadiran industri terigu dengan mencermati aras serta arus kontribusi industrinya terhadap dua persoalan pokok yaitu perekonomian nasional dan ketahanan pangan. Fokus kajian akan dimulai dari kontribusi yang diberikan oleh industri terigu bagi perekonomian dan ketahanan pangan nasional. Selanjutnya akan diberikan beberapa masukan agar arus kontribusi itu lebih mudah terhadirkan dan mengarah ke berbagai bidang.

Pembahasan

Lemparkanlah sebuah batu ke tengah danau yang airnya tenang. Selanjutnya lihatlah gelombang air yang muncul dari kecil kemudian semakin besar dan melebar mencapai semua sisi danau. Fenomena tersebut memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa sebuah hal kecil ternyata bisa membawa dampak besar dan menyentuh semua sisi. Demikian halnya peran dan kontribusi sebuah industri yang bergerak ke segala arah layaknya pendulum yang tak pernah berhenti.

Kehadiran sebuah industri akan menimbulkan efek ekonomi yang banyak dan menjalar ke berbagai sisi. Secara jelas kontribusi dunia industri bagi kemajuan perekonomian sosial nampak dari kemampuannya untuk menciptakan lapangan kerja baik secara formal maupun informal. Sebagai contoh kehadiran produsen terigu tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan formal di perusahaan tersebut tetapi memberikan lapangan kerja informal di sektor pengolahan makanan berbahan dasar terigu. Perkembangan lapangan kerja informal berbasis terigu ternyata lebih besar daripada sektor lapangan kerja formal yang diciptakannya. Layaknya kita melempar sebuah batu ke tengah kolam air yang tenang, ternyata gelombang yang ditimbulkan bisa menjangkau daerah yang lebih luas dari pusat jatuhnya batu tersebut.

Perkembangan tepung terigu sebagai bahan pangan mengalami perkembangan pesat di Indonesia. Terigu mengalahkan produk subtitusi beras lainnya yang tidak kunjung mengalami perkembangan dalam tingkat konsumsinya. Perkembangan terigu sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras ternyata melahirkan kritikan dan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan nasional. Bahan dasar terigu yang berasal dari impor dikhawatirkan membuat ketahanan pangan nasional terancam karena ketergantungan terhadap negara lain. Para pakar sebenarnya mengharapkan bahwa program ketahanan pangan akan bisa ditopang oleh produk yang bisa ditanam di Indonesia seperti jagung, ubi dan jenis umbi-umbian. Selain berkaitan dengan ketahanan pangan kritikan juga mengarah pada pemborosan devisa negara yang digunakan untuk impor bahan baku terigu.

Kritikan tersebut memang masuk akal dan bisa dibenarkan. Namun yang perlu kita lihat bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia bisa beralih dari beras sebagai makanan pokok. Persoalannya adalah kemampuan dari produsen untuk mengemas produk subtitusi tersebut sehingga diminati oleh masyarakat. Ketika terigu mendapat tempat di hati masyarakat dibanding bahan alternati lain maka sikap yang seharusnya dilakukan adalah merubah sumber pangan lainnya agar diminati seperti terigu. Bahan-bahan dari umbi-umbian bisa dibuat tepung layaknya terigu sehingga bisa mudah diolah. Hal ini semestinya dijadikan sebagai motivasi, bahwa program diversifikai pangan sangat mungkin diterima oleh masyarakat kita, yaitu melalui ‘pengindustrian’ pangan alternatif yang melibatkan kegiatan produksi, distribusi, pemasaran, dan promosi.

Berikut ini akan diuraikan kontribusi industri terigu bagi perekonomian nasional dan juga perannya dalam menunjang ketahanan pangan nasional sebagai bahan renungan bahwa kehadiran indsutri terigu ternyata membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia.

  1. Kontribusi Ekonomi

Kontribusi industri terigu dapat dilihat dari aras dan arus kontribusinya. Aras kontribusi suatu industri biasanya dicermati dari supply side dan demand side. Dalam hal ini supply side mengindikasikan kontribusi industri terigu pada peningkatan GDP, kesempatan atau lapangan kerja dan government revenues.

Pembukaan pabrik terigu di berbagai daerah dengan sendirinya akan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah massal. Secara formal ini menjadi aras kontribusi utama industri terigu disamping sumbangan terhadap peningkatan GDP dan pajak bagi pemerintah. Meski demikian kehadiran industri terigu lebih terasa manfaatnya bagi penyediaan lapangan kerja informal yang jumlahnya lebih besar dari lapangan kerja formal yang disediakan. Selain itu arus kontribusinya juga senantiasa berkembang dan meningkat seiring dengan perkembangan peminat produk ini.

Krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak 1998 lalu memberikan pelajaran yang berharga buat bangsa ini. Ekonomi sistem konglomerasi yang mengandalkan usaha-usaha besar sebagai basis ekonomi bangsa ternyata rentan terhadap goncangan. Skema trickle down effect yang menempatkan usaha konglomerasi sebagai soko guru ekonomi nasional telah terbukti tidak mampu menjalankan tugasnya. Yang terjadi justru sebaliknya, usaha kecil dan menengah yang kurang diperhatikan ternyata mampu menjawab tantangan di tengah hancurnya usaha-usaha besar. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjawab tantangan dengan menjadi pilar ekonomi nasional yang tahan goncangan dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Karyawan perusahaan yang mengalami pemutusan hubungan kerja besar-besaran, memandang usaha kecil sebagai peluang mendapatkan penghasilan yang cukup realistis ditengah sulitnya mencari pekerjaan. Usaha kaki lima yang sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, tampil menyerap ribuan pengangguran yang terus diproduksi setiap tahunnya. UMKM telah membuktikan ketangguhannya sebagai pilar ekonomi rakyat.

Berkaca dari pengalaman tersebut, maka arah pengembangan ekonomi nasional ke depan semestinya berorientasi menuju kemandirian ekonomi berbasis pada ekonomi kerakyatan dimana UMKM menjadi motor penggeraknya. Menurut Profesor Mubyarto, ekonomi rakyat adalah usaha ekonomi yang tegas-tegas tidak mengejar keuntungan tunai, tetapi dilaksanakan untuk memperoleh pendapatan bagi pemenuhan kebutuhan keluarga secara langsung. Termasuk dalam hal ini kebutuhan pangan, sandang, papan, dan kebutuhan-kebutuhan keluarga lain dalam arti luas, yang semuanya mendesak dipenuhi.

Hal inilah yang nampak nyata dari kehadiran industri terigu di Indonesia. Terigu yang dihasilkan menjadi bahan baku bagi berbagai jenis usaha kecil yang menyerap jutaan tenaga kerja. Usaha mie, bakso, siomay, roti, gorengan dan usaha lain yang berbahan terigu telah berhasil menggerakkan sektor ekonomi riil di masyarakat.

Saat ini jumlah pedagang mie dan bakso di Indonesia diperkirakan mencapai 10 juta orang. Ini merupakan sektor informal terbesar di Indonesia yang terus didorong untuk tumbuh dan berkembang, sebab mampu menyerap tenaga kerja yang besar. Hal itu diungkapkan Menakertrans Erman Suparno saat membuka Festival Mi dan Bakso Indonesia di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Dari sisi ekonomi diperkirakan perputaran uang di sektor ini pada tahun 2007 mencapai lebih kurang Rp 180 miliar/hari. Atau Rp 5,4 trilun/bulan dengan asumsi 6 juta pengusaha mi dan bakso dapat menjual 10 porsi/hari dengan harga Rp 3.000/porsi (sumber:plinplan.com) Selain itu usaha mie dan bakso ternyata juga berefek atau menggerakan usaha lain sebagai pendukungnya. Kehadiran usaha mie dan bakso secara langsung menggerakkan usaha kecil alin seperti penyedia sayuran, rempah-rempah. daging sapi, saos, kecap. cuka, air minum, teh, tisue, plastik pembungkus dan sumpit mie.

Data BPS menyebutkan saat ini UMKM di Indonesia tercatat sekitar 44,69 juta unit usaha atau 99 persen lebih dari total pelaku usaha yang ada dan menyerap 79 juta tenaga kerja atau 99 persen dari keseluruhan angkatan kerja. Data Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso (PAPMISO), mencatat bahwa dari jumlah UKM tersebut sekitar 20 persen diantaranya menjadi pedagang mie dan bakso. Usaha ini sedikitnya melibatkan usaha ikutan lainnya seperti penjual daging sapi, daging ayam, minyak goreng, minyak tanah, gula, telur, bumbu-bumbuan, sayur-sayuran dan penggilingan daging yang menyerap sekitar 7-10 juta orang tenaga kerja.

Di masa krisis yang lalu, para pengusaha besar tidak mampu bertahan sehingga bangkrut, namun para pedagang mie dan bakso tetap eksis. Bisnis mie dan bakso juga sempat diterpa dengan adanya isu mie bakso mengandung formalin, menggunakan daging celeng, kucing dan daging tikus. Namun mereka tetap mampu bertahan sebagai penyedia lapangan kerja hingga pada akhirnya isu-isu tersebut hilang dengan sendirinya. Hal itu membuktikan bahwa usaha mie dan bakso tahan banting dan jenis makanan ini banyak disukai oleh warga masyarakat. Ini merupakan potensi yang jelas dalam perekonomian rakyat. Selain sebagai sumber makanan alternatif keberadaan mie dan bakso ternyata juga dapat menjadi daya dorong dunia wisata terutama wisata kuliner. Di beberapa daerah festival mie dan bakso telah menjadi agenda rutin untuk menunjang perkembangan pariwisata.

Selain usaha mie dan bakso yang telah menampung jutaan tenaga kerja, usaha lainnya yang berbahan dasar terigu seperti usaha roti,makanan ringan dan gorengan juga memberi kontribusi positif bagi ketersediaan lapangan kerja di Indonesia. Di pinggir-pinggir jalan berjejer penjual gorengan, aneka makanan ringan dan roti yang selalu laris manis diserbu konsumen. Inilah gambaran gamblang dari peran industri terigu dalam memberikan dukungan bagi penyediaan lapangan kerja informal dalam jumlah yang cukup besar.

  1. Ketahanan Pangan

Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana tersebut dalam pasal 27 UUD 1945. Sebagai kebutuhan dasar dan hak asasi manusia, pangan mempunyai arti dan peran yang sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Seseorang yang mengalami kekurangan pangan atau kelaparan disebabkan karena tidak adanya kemampuan untuk mempunyai cukup pangan. Di Indonesia, kelaparan merupakan aspek yang paling menggambarkan kemiskinan. Ketersediaan pangan yang lebih kecil dibandingkan kebutuhannya dapat menciptakan ketidakstabilan ekonomi. Berbagai gejolak sosial dan politik dapat juga terjadi jika ketahanan pangan terganggu. Kondisi kritis ini bahkan dapat membahayakan stabilisasi nasional yang dapat meruntuhkan pemerintah yang sedang berkuasa.

Bagi Indonesia, pangan diidentikkan dengan beras karena jenis pangan ini merupakan makanan pokok utama.  Pengalaman telah membuktikan kepada kita bahwa gangguan pada ketahanan pangan seperti meroketnya kenaikan harga beras pada waktu krisis ekonomi 1997/1998, yang berkembang menjadi krisis multidimensi, telah memicu kerawanan sosial yang membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional. Nilai strategis beras juga disebabkan karena beras adalah makanan pokok paling penting. Beras memiliki pengaruh yang besar dalam bidang ekonomi (penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan dan dinamika ekonomi pedesaan), lingkungan (menjaga tata guna air dan udara bersih) dan sosial politik (perekat bangsa, ketertiban dan keamanan). Beras juga merupakan sumber utama pemenuhan gizi yang meliputi kalori, protein, lemak, dan vitamin.

Pengertian pangan sendiri sebenarnya memiliki dimensi yang luas lebih dari sekedar kebutuhan kenyang. Kebutuhan pangan manusia meliputi kebutuhan pangan esensial bagi kehidupan yang sehat dan produktif dan pangan yang dikonsumsi atas kepentingan sosial dan budaya, seperti untuk kesenangan, kebugaran, kecantikan, dan sebagainya. Dengan demikian, pangan tidak hanya berarti pangan pokok, dan jelas tidak hanya berarti beras, tetapi pangan terkait dengan berbagai hal lain.

Pengertian ketahanan pangan bagi suatu negara menyangkut ketersediaan dan keterjangkauan terhadap pangan yang cukup dan bermutu. Dalam hal ini terdapat aspek pasokan yang mencakup produksi dan distribusi pangan, disamping aspek daya beli yang mencakup pula tingkat pendapatan individu dan rumah tangga. Keduanya ditunjang dengan aspek aksesibilitas setiap orang terhadap pangan, yang berarti mencakup hal yang berkaitan dengan keterbukaan dan kesempatan individu dan keluarga mendapatkan pangan. Masalah kerawanan pangan dan gizi umumnya karena suatu kelompok masyarakat tidak mampu mengakses pangan, bukan kerena ketidaktersediaan pangan. Karena pendapatannya yang kurang, penduduk miskin tidak mampu membeli pangan yang bergizi dan mencukupi agar dapat hidup sehat dan produktif. Padahal, pangan banyak tersedia di sekitar mereka, seperti di toko, di kios, di warung, maupun di pasar, namun mereka tidak mampu mengaksesnya.

Untuk mencapai ketahanan pangan suatu negara diperlukan upaya-upaya serius yang tertata. Sinkronisasi kebijakan nasional dan daerah menjadi syarat mutlak. Tidak mungkin terjadi ketahanan pangan nasional tanpa operasionalisasi kebijakan ketahanan pangan daerah, dan tidak ada daerah yang mampu membangun ketahanan pangannya sendiri tanpa keterkaitannya dengan daerah lain. Beberapa daerah dapat memiliki surplus suatu jenis pangan, tetapi tidak untuk jenis pangan lainnya. Beberapa daerah mungkin memang merupakan sentra produksi pangan, tetapi faktor produksinya dihasilkan didaerah lain (misalnya keterkaitan dalam DAS, masalah input produksi, transportasi, dll).

Oleh sebab itu, pengembangan ketahanan pangan perlu diawali dengan pengembangan strategi ketahanan pangan daerah, yang kemudian disinkronisasikan dan dikoordinasikan dengan daerah lain serta diletakkan dalam kerangka ketahanan pangan nasional. Saat ini, sinkronisasi antar daerah dan koordinasi tingkat nasional masih menjadi sesuatu yang langka dengan berbagai dukungan yang diberikan akan sangat sulit dilakukan usaha penganeka-ragaman pangan yang bertumpu pada inisiatif pemerintah (pusat) karena akan timbul ‘conflict of interest’.

Ketahanan pangan yang rapuh senantiasa memunculkan kekhawatiran Hal ini menyangkut rawannya stabilitas nasional dan keterpurukan nasib petani. Bencana alam, terutama banjir, yang melanda persawahan petani akhir-akhir ini menyebabkan potensi gagal panen di sekitar 240.000 hektare lahan. Jika tiap hektare sawah berpotensi menghasilkan 4,7 ton gabah maka kerugian sudah setara dengan total impor beras. Sementara itu, dengan perubahan iklim global negara-negara tetangga penghasil beras juga sudah mulai mengerem pelepasan beras mereka ke pasar internasional. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan pangan bagi rakyatnya. Isu pangan akan selalu menarik perhatian. Kebutuhan pokok yang paling utama dan harus dipenuhi oleh setiap orang adalah pangan.

Selain persoalan produksi, distribusi dan sinkronisasi kebijakan, aspek diversifikasi juga menjadi bagian penting bagi terwujudnya ketahanan pangan. Ketahanan pangan yang terlalu bergantung pada satu komoditi, mengandung resiko bahwa kebutuhan pangan rumah tangga dan nasional akan rapuh. Oleh karenanya kita perlu meningkatkan upaya pengembangan pangan alternatif yang berbasis umbi-umbian (ubi, ketela, garut, dll), tanaman pohon (sukun dan sagu), serta bahan pangan berbasis biji-bijian (beras, jagung, sorgum, dli), yang dapat diproses menjadi tepung yang bisa diolah menjadi aneka produk makanan yang mempunyai nilai tambah tinggi. Di Thailand, makanan berbasis tepung singkong variasinya banyak sekali. Supaya tidak bergantung terhadap beras Indonesia harus mengembangkan diversifikasi pangan tersebut sejak sekarang.

Sekalipun potensi bahan pangan alternatif yang kita miliki cukup besar dan beragam, tetapi dalam pengembangannya bukanlah perkara mudah. Kita dihadapkan pada berbagai kendala yang cukup mendasar. Di samping kendala teknis dan pembiayaan, ada juga kendala budaya sosial dan psikoiogis berupa pandangan bahwa beras merupakan makanan bergengsi (superior food) sedang umbi-umbian, sagu, sukun dan jagung merupakan makanan inferior (inferior food), sementara gandum bukan makanan yang dapat kita produksi sendiri.

Dalam situasi seperti ini imbauan diversifikasi pangan menjadi layak untuk dipertimbangkan kembali. Apalagi, selama ini umbi-umbian hanya dikenal sebagai makanan ringan kecuali di pedalaman Papua yang konsumsi utama masyarakatnya adalah ubi jalar. Mengharapkan rakyat Indonesia makan umbi-umbian sebagai pengganti nasi adalah ibarat mimpi di siang bolong.

Upaya untuk melakukan diversifikasi pangan ternyata juga mendapat tantangan serius. Diversifikasi pangan sumber protein, mineral, dan vitamin telah berhasil dilakukan dengan terkonsumsinya berbagai bahan pangan yang mengandung zat-zat tersebut. Namun diversifikasi pangan sumber karbohidrat, yang merupakan bagian terbesar pangan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia masih sukar dilaksanakan. Pola pangan sebagian masyarakat tergolong tradisional dan terkesan ortodoks, yaitu melestarikan cara makan dan jenis makanan yang diwariskan oleh nenek moyang dan leluhumya. Masyarakat yang biasa makan nasi tidak merasa kenyang sebelum makan nasi sebagai sumber karbohidrat. Masyarakat yang biasa makan jagung, ubikayu, sagu, atau ubijalar, secara psikologis dan kultural sebenamya masih menikmati dan ingin meneruskan mengkonsumsi jenis makanan tersebut, namun mengalami perubahan terdorong oleh pergeseran status sosial dan status bahan pangan yang menuju kepada pemilihan bahan pangan beras.

Masyarakat kita perlu mengembangkan makanan berbasis tepung, yang bisa tahan lebih lama, dapat diperkaya dengan mineral dan vitamin, serta lebih fleksibel pengolahannya. Mengembangkan bahan pangan tepung tidak harus berupa industri besar, sebab jagung atau beras dapat ditumbuk atau digiling dengan mesin giling tepung yang tersebar di desa-desa penghasilnya, sementara untuk membuat tepung sagu, teknologinya telah dikuasai masyarakat lokal. Sayangnya teknologi pemanfaatan tepung dan bahan yang dapat kita produksi sendiri seperti tepung tapioka, tepung beras, tepung jagung, tepung sagu belum berkembang dengan baik untuk menjadi bahan baku roti, pengganti gandum. Penggunaan yang umum baru pada produk makanan ringan. Kita tidak usah menutup mata bahwa masyarakat sebenarnya lebih menyukai terigu sebagai alternatif substitusi beras. Produk mi instan yang diperkenalkan industri sejak beberapa dekade lalu, telah menggeser preferensi masyarakat terhadap umbi-umbian dan akhirnya mi instan menduduki posisi sebagai alternatif pangan pokok.

Meningkatnya komsumsi terigu umumnya dipicu oleh perubahan gaya hidup masyarakat yang menjurus serba instan. Kelompok ekonomi tinggi umumnya telah mengurangi konsumsi beras karena telah mengalami pergeseran pola makan. Sarapan tak lagi harus nasi, tetapi bisa roti atau sereal. Meningkatnya status ekonomi masyarakat dan semakin gencarnya iklan produk pangan dapat membentuk gaya hidup baru dalam konsumsi pangan seseorang. Terigu dan produk olahannya menunjukkan tendensi meningkat konsumsinya di kalangan masyarakat Indonesia. Di supermarket kita bisa leluasa memilih mi instan dari berbagai merek. Biskuit aneka rasa sebagai makanan cemilan di waktu senggang berjejer penuh di rak-rak toko dan swalayan. Restoran fast-food dengan burgernya laris diserbu pengunjung. Makanan-makanan tersebut semuanya terbuat dari bahan dasar terigu.Tepung terigu dapat dibuat menjadi beragam jenis makanan.

Inilah kondisi nyata preferensi masyarakat Indonesia terhadap produk subtitusi beras yang mereka inginkan. Terigu telah memberikan bukti kepada kita bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia bisa mengubah pola dan preferensi sumber makanan pokok mereka. Selama ini kebijakan untuk melakukan diversifikasi pangan dianggap sulit diwujudkan mengingat preferensi rakyat Indonesia sulit beralih dari beras. Untuk mengharapkan masyarakat kita mau mengonsumsi produk makanan dari ubi jalar, ubi kayu, dan umbi-umbian lainnya memerlukan kreatifitas produsen dalam menyajikannya.

Industri terigu telah memberikan kontribusi nyata terhadap upaya untuk melakukan diversifikasi pangan di luar beras. Ketika kemudian muncul tudingan bahwa perkembangan komsumsi terigu justru akan membuat rawan ketahanan pangan nasional maka hal ini perlu dikaji lebih bijaksana. Memang benar bahwa bahan baku terigu adalah produk impor dan ini membuat kita tergantung dengan negara lain. Namun kondisi ini justru harus dijadikan motivasi dan tantangan bagi semua pihak untuk merubahnya menjadi kontribusi positif. Terigu telah mengalihkan sebagian konsumsi masyarakat Indonesia dari beras sehingga tidak tergantung pada satu produk. Hal yang semestinya kita lakukan adalah bagaimana sumber makanan pokok lainnya bisa dikembangkan sebagaimana terigu. Ini adalah tantangan yang harus kita jawab dengan optimis. Apa yang dilakukan oleh industri terigu dengan menyediakan bahan makanan yang mudah diolah menjadi aneka hidangan perlu dicontoh. Harapannya sumber makanan lain seperti jagung, sagu, sorgum, ubi jalar, ubi kayu dan umbi-umbian lainnya yang bisa ditanam di Indonesia akandapat berkembang layaknya terigu.

Masyarakat saat ini sudah terbiasa untuk mengonsumsi mie, bakso, roti, sereal dan aneka produk lainnya yang berbahan tepung. Inilah yang harus dilakukan yakni mengubah aneka bahan makanan lainnya menjadi bahan tepung yang mudah diolah. Upaya lainnya adalah menggandeng sektor industri untuk mengembangkannya menjadi produk masal. Upaya merubah kebiasaan masyarakat agar mau mengkonsumsi produk tepung lain selain terigu juga harus digencarkan layaknya produsen terigu mempromosikannya dengan gencar.

  1. Kesimpulan dan Saran
  1. Kesimpulan

Kehadiran industri terigu telah memberikan kontribusi positif bagi bangsa Indonesia. Kehadirannya mampu menstimulus lahirnya berbagai jenis usaha lain sehingga tersedia lapangan kerja dalam jumlah yang signifikan. Kehadiran usaha mie, bakso, roti, gorengan dan makanan lain berbahan dasar terigu merupakan kontribusi nyata industri ini selain sumbangannya bagi GDP dan pemasukan pemerintah dari sektor pajak. Saat ini jumlah pedagang mie dan bakso di Indonesia diperkirakan mencapai 10 juta orang. Ini merupakan sektor informal terbesar di Indonesia yang terus didorong untuk tumbuh dan berkembang karena mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Selain kontribusi di sektor ekonomi, kehadiran industri terigu ternyata juga memberi kontribusi positif bagi upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional adalah dengan mengurangi ketergantungan terhadap satu produk semata yakni beras. Ketergantungan pada satu produk akan membuat rawannya ketahanan pangan nasional. Kehadiran tepung terigu sebagai bahan alternatif subtitusi beras ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat Indonesia. Konsumsi terhadap mie, bakso, roti, bakpao dan makanan berbahan baku terigu lainnya bisa menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Aneka makanan lezat yang dihasilkan dari olahan tepung terigu telah menjadi primadona baru mendampingi makanan berbahan dasar beras.

Meski kontribusi positif industri terigu bagi bangsa Indonesia demikian nyata, namun kita tidak menutup mata akan adanya berbagai kritik yang mengemuka. Kekhawatiran akan munculnya ketergantungan terhadap produk impor mengingat bahan dasar terigu tidak bisa ditanam di Indonesia adalah salah satu bentuk kritik seiring perkembangan industri terigu. Dengan naiknya konsumsi terigu maka impor bahan baku terigu juga akan naik, mengingat gandum belum bisa ditanam di dalam negeri. Hal lain yang juga menjadi bahan kritik adalah pemborosan devisa negara yang digunakan untuk impor bahan baku terigu.

Kedua hal tersebut bisa dimengerti dan merupakan masukan positif yang harus disikapi dengan arif. Untuk mereduksi berbagai kekhawatiran tersebut maka perlu dilakukan berbagai upaya serius untuk semakin memperbesar arus kontribusi industri terigu disamping upaya solusi alternatif lain yang mendukung upaya ketahanan pangan nasional.

Berikut ini disajikan beberapa saran bagi produsen terigu untuk meningkatkan arus kontribusinya bagi bangsa Indonesia.

  1. Saran
  1. Produsen terigu telah memberikan kontribusi di sektor ekonomi dan ketahanan pangan disamping juga memperoleh keuntungan dari perkembangan konsumsi terigu di Indonesia. Oleh karena itu perlu kiranya produsen terigu memberikan kontribusi lebih banyak bagi sektor ekonomi dan ketahanan pangan dengan melakukan upaya serius menuju kemandirian ekonomi berbasis UMKM dan memperkuat ketahanan pangan nasional berbasis bahan lokal. Hal ini sekaligus sebagai jawaban untuk mengikis kehawatiran akan ketergantungan pangan nasional dari bahan baku impor.
  2. Industri terigu perlu memperluas arus kontribusinya dengan mengambil peran bagi pengembangan diversifikasi pangan. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan riset atau menggandeng akademisi guna melakukan riset pengembangan tepung berbasis bahan baku lokal seperti ubi, jagung, sorgum dan umbi-umbian lainnya. Produsen bisa menggandeng petani sebagai penyedia bahan baku ubi, jagung, dan umbi-umbian sebagai bahan pembuatan tepung.
  3. Perkembangan komsumsi masyarakat terhadap produk mie, roti, dan aneka makanan berbasis tepung selayaknya ditindaklanjuti dengan upaya mempromosikan jenis tepung lain selain terigu. Hal ini penting agar upaya pengembangan diversifikasi pangan dapat berjalan seimbang.
  4. Produsen terigu juga perlu menggandeng pelaku kuliner untuk mengembangkan aneka makanan berbasis tepung yang berasal dari bahan lokal sehingga diharapkan penggunaan tepung non terigu akan dapat berkembangan. Ketika masyarakat telah terbiasanya mengonsumsi makanan berbahan tepung non terigu layaknya mengomsumsi makanan berbahan terigu, maka produsen dapat melakukan produksi masal yang dengan sendirinya akan menguntungkan perusahaan.
  5. Sebagai wujud tanggung jawab sosial lainnya maka produsen terigu diharapkan meningkatkan kontribusinya bagi perkembangan sektor pendidikan. Pemberian bantuan pendidikan dan memberikan kesempatan magang kerja bagi siswa akan membantu meningkatkan kualitas pendidikan kita

 
3 Comments

Posted by on September 29, 2008 in lomba kary tulis

 

3 responses to “menang lomba PT Sriboga

  1. danjiwan

    December 9, 2008 at 2:32 am

    Selamat ya…
    semoga prestasimu dapat memberi inspirasi untuk kami agar tidak hanya jadi pemimpi…

     
    • mubarok01

      December 30, 2008 at 1:53 am

      yo smga.nang ketompo PNS ra??????????????????????

       
    • mubarok01

      December 30, 2008 at 1:54 am

      we aku diajari go masang foto atau gambar nang blog ya

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: