RSS

lomba pemuda

03 Mar

Membangkitkan Kembali Kepemimpinan Pemuda di Indonesia

Lemparkanlah sebuah batu ke tengah danau yang airnya tenang. Selanjutnya lihatlah gelombang air yang muncul dari kecil kemudian semakin besar dan melebar mencapai semua sisi danau. Fenomena tersebut memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa sebuah hal kecil ternyata bisa membawa dampak besar dan menyentuh semua sisi. Demikian halnya sebuah ide, penemuan, semangat atau bahkan sekedar imajinasi yang seringkali dianggap kecil ternyata bisa memberi dampak besar bagi kehidupan manusia.
Ketika para pendahulu kita mencetuskan ”Sumpah Pemuda” pada tanggal 28 Oktober 1928 maka lahirlah sebuah semangat baru yang melanda bangsa Indonesia. Melalui semboyan “satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa” mereka berhasil mengajak bangsa kita bersatu guna mewujudkan kemerdekaan. Sebelum peristiwa tersebut beberapa mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Boedi Oetomo telah mulai menyemai benih persatuan bangsa melalui jalur organisasi. Mereka sadar bahwa persatuan menjadi syarat mutlak untuk mencapai kemerdekaan karena perjuangan bangsa yang tidak berdiri di atas persatuan akan mudah dipatahkan.
Dalam sejarah Indonesia, pemuda selalu memiliki peranan luar biasa sebagai “avant garde” (ujung tombak) perubahan. Berbagai perubahan di bidang sosial politik selalu menempatkan pemuda di garda depan. Semangat yang mereka tularkan tak hanya menyentuh lapisan cerdik cendekia tetapi juga merambah semua lapisan masyarakat. Tiap perubahan zaman selalu dimulai dengan barisan pemuda yang visioner, berani, pantang menyerah, dan tak hirau dengan gemerlap imbal jasa maupun popularitas. Benedict Anderson, seorang Indonesianis mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya.
Pernyataan Ben Anderson ini tak salah apabila dikaitkan dengan sejarah panjang bangsa, dimana pemuda menjadi aktor utama dari setiap peristiwa penting yang terjadi di Indonesia. Herbert Feith, Seorang Indonesianis lainnya menyatakan bahwa pemikiran politik modern pemuda di Indonesia menjadi awal bangkitnya nasionalisme modern. Hal itu dimulai antara tahun 1900-an dan 1910-an, dengan munculnya sekelompok kecil mahasiswa dan cendikiawan muda yang memandang dunia modern sebagai tantangan terhadap masyarakat dan menganggap diri mereka sebagai pemimpin potensial di masa yang akan datang. Sejarah menulis Kebangkitan Nasional 1908, Soempah Pemoeda 1928, Kemerdekaan RI 1945, Angkatan 1966, Peristiwa Malari 1974, dan Gerakan Reformasi 1998, menjadi deretan noktah sejarah pemuda yang gemilang bagi tegaknya peradaban.
Senada dengan pernyataan keduanya, Bung Karno juga menempatkan pemuda sebagai bagian penting dari tonggak dan aktor pendorong perubahan. Bung Karno mengungkapkan kata-kata yang berbunyi “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia,” guna menggambarkan kemampuan pemuda dalam mewujudkan perubahan. Dalam pikirannya, pemuda digambarkan sebagai sosok unggul, pilihan, bergairah, bergelegak dan bergelora secara fisik, psikis, intelektual, dan sikap. Pemuda digambarkan sebagai sosok superior, progresif, revolusioner dengan api berkobar-kobar, dan bara spirit yang menyala-nyala.
Saatnya Bangkit Kembali
Meski berbagai fakta telah membuktikan peran luar biasa pemuda dalam membawa perubahan dalam masyarakat, namun sampai sekarang tidak banyak pemuda yang mendapat kesempatan menjadi pemegang kendali kepemimpinan suatu negara. Di berbagai belahan dunia kepemimpinan suatu negara masih didominasi oleh generasi tua yang dianggap lebih mampu. Keberadaan pemuda seolah hanya dipergunakan sebagai ujung tombak untuk menghancurkan tembok status quo namun segera disingkirkan ketika tujuan tersebut tercapai.
Pada tahun 1998 lalu ketika para pemuda mendobrak kemapanan orde baru dan menggulirkan orde reformasi ternyata merekapun tidak memperoleh peran signifikan. Alih-alih menjadi pengganti generasi orde baru, barisan pemuda yang menelorkan perubahan tersebut justru hanya menjadi kendaraan yang mengantarkan generasi lain memegang kepemimpinan baru di Indonesia. Fakta ini menunjukkan bahwa peran pemuda yang sangat vital dalam berbagai percaturan perubahan ternyata masih dianggap sebatas pendobrak dan belum layak sebagai pemegang kendali setelah perubahan terjadi. Setelah menelorkan orde reformasi dengan berbagai pengorbanan, pemuda kembali menjadi penonton dan orang lain yang justru menikmati hasil dari kerja keras tersebut.
Keadaan itu semestinya mengundang pemikiran kita bersama mengingat laju reformasi yang didengungkan sejak beberapa waktu lalu ternyata belum banyak membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat. Kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, kolusi, nepotisme dan berbagai penyimpangan lainnya masih banyak terjadi. Perjalanan reformasi bangsa kita yang dicetuskan pada tahun 1998 lalu masih terengah-engah dan membutuhkan sosok-sosok penuh kepedulian untuk mengembalikan kondisi bangsa ini yang sudah terlanjur bobrok. Harapan tersebut sebenarnya dibebankan dipundak kalangan pemuda yang dianggap masih bisa bersikap netral dan belum terkontaminasi kepentingan politik praktis. Akan tetapi melihat kenyataan gerakan pemuda saat ini yang ternyata juga mulai dijangkiti bias orientasi tentunya harapan itu sulit terwujud. Gerakan pemuda yang diharapkan menjadi gerakan moral yang sempat membawa harapan guna pencerahan bangsa, ternyata tidak seindah yang diharapkan dan digembar-gemborkan.
Pada tahun 1998 lalu kita sempat menyaksikan bersatunya gerakan pemuda yang dipelopori para mahasiswa ketika menurunkan pemerintahan orde baru dan menggulirkan roda reformasi. Dengan persatuan dan kekompakan yang dimiliki mereka berhasil membawa perubahan yang berarti sebagai pintu gerbang untuk perbaikan kondisi bangsa ini. Namun sedikit demi sedikit mereka mulai tersisih dan tak lagi memegang kendali perubahan. Muka-muka lama yang berganti baju yang justru berhasil menikmati kerja keras para pemuda ini.
. Keberhasilan menggulingkan pemerintahan orde baru dan dilanjutkan dengan menggulirkan roda reformasi dianggap sebagai puncak pencapaian sehingga kemudian “meninabobokkan” mereka untuk tetap menjaga konsistensi gerakan. Mereka beranggapan bahwa dengan keberhasilan meruntuhkan pemerintahan orde baru maka tujuan telah tercapai. Pada kenyataanya apa yang mereka anggap sebagai tujuan akhir tersebut sesungguhnya baru merupakan awal dari perjalanan reformasi.
Sejarah gemilang para pemuda dalam percaturan perubahan di Indonesia semestinya menjadi pemicu semangat bagi generasi penerus saat ini. Kelebihan dan kekurangan yang ada di setiap generasi merupakan sarana untuk berkaca dan menimba pengalaman. Apa yang telah dilakukan oleh generasi muda sebelumnya tentu memiliki sisi positif yang harus kita ambil dan sisi negatif yang harus dibuang. Angkatan 1908, 1928, 1945 sampai dengan angkatan 1998 memiliki karakteristik berbeda sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Dengan potensi luar biasa yang dimiliki saatnya kepemimpinan pemuda di Indonesia bangkit kembali dan mengambil peran nyata guna kepentingan bangsa dan negara.

Tantangan dan Hambatan
Kondisi bangsa yang masih carut marut merupakan tantangan yang harus segera diatasi. Pemuda sebagai agen perubahan harus segera mengambil peran nyata guna mewujudkan perubahan. Kalau sebelum kemerdekaan 1945 gerakan pemuda identik dengan perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajahan, maka dalam konteks era reformasi yang diharapkan adalah kepemimpinan pemuda yangmampu mengawal laju reformasidemi kepentingan bangsa dan negara. Untuk bisa berperan maksimal pemuda harus siap dengan berbagai tantangan dan hambatan yang berasal dari dalam maupun dari luar pemuda sendiri.
Guna mempersiapkan kemampuan pemuda dalam menghadapi tantangan global sedianya harus datang dari kalangan pemuda itu sendiri. Pembentukan pemuda yang hatinya berkobar sebagaimana diinginkan oleh Bung Karno, harus berasal dari inisiatif dan kesadaran kalangan pemuda dan bukan berharap dari belas kasihan pihak lain. Dengan persiapan dan inisiatif tersebut diharapkan munculnya kepemimpinan pemuda yang menekankan pada karakter, sikap, visi, dan orientasi pada nilai-nilai kebangsaan dan kerakyatan.
Seorang pemimpin yang berkualitas dan tangguh dihasilkan dari proses pembelajaran yang panjang dan matang dengan lingkungan. Tidak ada seorang pemimpin yang kemudian lahir tanpa proses belajar. Mereka yang hadir sebagai pemimpin tanpa proses pembelajaran akan menghasilkan sosok pemimpin instan yang hakekatnya tidak memiliki kemampuan apapun. Kenyataan ini yang sekarang nampak pada kepemimpinan pemuda di Indonesia.
Sebagian besar generasi muda segera berambisi untuk naik menjadi pemimpin tanpa persiapan yang memadai. Akibatnya bisa dilihat ketika mereka gugup, gagap dan akhirnya gagal dalam memgemban tugas membawa perubahan. Peristiwa bergulirnya reformasi pada tahun 1998 lalu semestiya menjadi pelajaran berharga bagi pemuda di Indonesia. Karena tidak siapnya generasi muda dengan cetak biru reformasi maka setelah menggulingkan orde baru mereka tidak mampu untuk mengawal laju reformasi dengan benar.
Kegagalan tersebut semestinya menjadi pelajaran berharga bagi pemuda agar mereka menyiapkan sedini mungkin agar siap ketika mengambil peran dalam perubahan. Kemampun leadership harus senantiasa ditumbuhkan melalui berbagai aktifitas organisasi dan kemasyarakatan yang mendewasakan kerangka berfikir mereka. Dalam masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia maka pemuda harus bisa menempatkan diri dalam pusaran kehidupan masyarakat multikultural. Pengembangan multikulturalitas kepemimpinan pemuda diharapkan dapat menghindarkan ancaman perpecahan bangsa.
Pemuda diharapkan menjadi ‘lem sosial’ yang mampu menyatukan berbagai perbedaan dan mengolahnya menjadi keunggulan bangsa yang produktif. Karena itulah persemaian kepemimpinan pemuda yang berbasis multikultural sudah semestinya makin diperkuat untuk mengatasi problem-probolem yang muncul dari heterogenitas tersebut karena pluralitas dan keanekaragaman adalah aset masyarakat Indonesia yang paling besar. Dari laborotorium masyarakat yang multikultural pemuda bisa belajar kepemimpinan sejati. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam hati dan kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin sejati dan diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi juga harus memiliki serangkaian metoda kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Seorang pemimpin harus mampu mengimplementasikan potensi yang dimiliki guna mencapai tujuan yang dikehendaki. Proses belajar kepemimpinan sejati di tengah masyarakat multikultural seperti di Indonesia tentu sangat dibutuhkan oleh pemuda sebelum mereka terjun menjadi pemimpin sesungguhnya.
Iklim sosial politik yang kondusif bagi pemuda untuk berkiprah juga diperlukan agar regenerasi kepemimpinan dan sistem edukasi bagi generasi muda dapat berjalan secara berkelanjutan. Regenerasi kepemimpinan kaum muda dalam organisasi kepemudaan harus berpijak pada fair competition. Kesempatan harus diberikan kepada generasi muda yang memiliki kemampuan dan kapabilitas dan tidak berdasarkan senioritas. Lambatnya regenerasi akibat pola patronase dan senioritas dalam organisasi kepemudaan semestinya disingkirkan jauh-jauh. Patronase dan senioritas pada akhirnya membuahkan sikap introvert dan minder dari generasi yang jauh lebih muda karena mereka tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan kemampuan mereka. Organisasi kepemudaan sendiri, idealnya berada pada koridor netral terhadap semua kepentingan pemerintahan dan kelompok-kelompok politik. Ini akan berpengaruh pada pembangunan sikap kritis dan konstruktif terhadap situasi yang dihadapi.
Hal terakhir yang perlu diperhatikan agar kepemimpinan pemuda bisa bangkit kembali adalah mempersiapkan pribadi pemuda yang bersih berbagai masalah-masalah sosial. Kita tidak bisa menutup mata bahwa salah satu faktor penghambat berkembangnya kepemimpinan pemuda adalah maraknya masalah-masalah sosial yang mereka hadapi. Maraknya masalah-masalah sosial di kalangan pemuda, seperti kriminalitas, sek bebas, premanisme, narkoba, dan HIV/AIDS telah melumpuhkan kemampuan mereka untuk maju.
Berdasar data temuan beberapa lembaga penelitian dan LSM, angka-angka kasus narkoba yang menjangkiti generasi muda kita sungguh mengerikan. Sebagaimana data yang dikeluarkan oleh Gerakan Nasional Anti Narkoba dan Madat (Granat, 2003), dari sekitar 2 juta pemakai narkoba pada tahun 1999, naik 100% menjadi 4 juta pemakai pada tahun 2003. Berdasarkan prediksi kenaikan angka-angka ini, maka pada tahun 2013 jumlahnya diperkirakan menjadi 10 juta orang. Ironisnya, 90 persen dari total pemakai narkoba adalah generasi muda dan pelajar, termasuk 25.000 diantaranya adalah mahasiswa.
Bagaimana mungkin kita mengharapkan pemuda mengambil peran kepemimpinan bangsa ketika mereka tidak sadar akibat pengaruh narkoba. Jangan berharap terlalu banyak kepada pemuda ketika mereka lebih senang dengan narkotika daripada berfikir untuk kemajuan bangsa dan negara. Alih-alih menjadi harapan bangsa, kondisi pemuda yang terjangkit narkoba justru menjadi beban dari bangsa dan negara. Karena itu berbagai upaya serius harus segra dilakukan untuk menyelamatkan pemuda sebagai aset bangsa dengan menjauhkan mereka dari jerat narkoba.
Ketika para pemuda bangsa ini telah mampu mengatasi berbagai masalah pribadinya dan kembali bergerak untuk kepentingan bangsa dan negara maka kita layak berharap akan terjadinya perubahan yang nyata. Kembalinya kepemimpinan pemuda di Indonesia sesungguhnya bukan sekedar kepentingan pemuda sendiri melainkan kepentingan bersama seluruh bangsa. Pemuda bersama-sama dengan dukungan dan kepercayaan rakyat akan menghasilkan buah kerja yang positif sebagai upaya memperbaiki kondisi bangsa.

 
3 Comments

Posted by on March 3, 2009 in lomba kary tulis

 

Tags:

3 responses to “lomba pemuda

  1. mubarok01

    September 2, 2009 at 1:27 am

    ah tenane

     
  2. elcaeff

    November 8, 2009 at 11:33 am

    helo…
    ngomong2 baju… ada kan tmpat p’nyewaan baju tahun 1928-145 ??? kalo ada dmn ??

     
    • mubarok01

      November 13, 2009 at 3:44 am

      kalo persewaan baju belum tau ada dimana

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: