RSS

paradigma

15 Apr

PARADIGMATIC CONTROVERSIES, CONTRADICTIONS, AND EMERGING CONFLUENCES (Egon G.Guba and Yvonna S. Lincoln) OLEH: Mubarok

PROGRAM PASCASARJANA ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2009

PARADIGMATIC CONTROVERSIES, CONTRADICTIONS, AND EMERGING CONFLUENCES Pada buku Handbook of Qualitative Research edisi pertama, Guba dan Lincoln memfokuskan pada pertentangan diantara beberapa riset paradigma berkaitan dengan legitimasi dan intelektual dan hegemoni paradigma (Guba dan Lincoln,1994). Setelah lebih dari 10 tahun penerbitan buku tersebut terjadi banyak perubahan penting dalam cetak biru proses inkuiri ilmu sosial. Berkaitan dengan legitimasi, Guba dan Lincoln mengamati bahwa pembaca terbiasa dengan literature pada metode dan paradigma yang merefleksikan ketertarikan yang tinggi dalam hal ontology dan epistimologi yang berbeda dengan beberapa patokan ilmu sosial konvensional. Kedua, beberapa ahli terlatih yang sudah mapan dalam penelitian kuantitatif ilmu sosial ingin belajar lebih banyak tentang pendekatan kualitatif. Ketiga, terjadi lonjakan jumlah teks kualitatif, hasil penelitian, pelatihan, dan materi pelatihan. Dalam persoalan hegemoni atau supremasi, diantara paradigma posmoderen, semakin jelas bahwa ramalan Geertz (1988, 1993) tentang kekaburan genre semakin cepat terjadi. Inkuiri metodologi tidak dapat disajikan sebagai satu bentuk aturan atau abstraksi yang dapat diaplikasikan secara universal. Metodologi adalah jalinan tak terpisah dengan kemunculan dari sebagian disiplin ilmu (seperti sosiologi dan psikologi) dan beberapa perspektif (seperti Marxisme, feminisme dan homoseksual). MAJOR ISSUES CONFRONTING ALL PARADIGMS Di buku edisi pertamanya Guba dan Lincoln menyajikan tabel yang merangkum aksioma asli dari beberapa paradigma yaitu positivism, postpositivisme, teori kritis dan kontruksionisme. Pada edisi terbaru ini mereka mencoba untuk mereproduksi kembali paradigm-paradigma tersebut dengan menambahkan satu paradigma baru yaitu partisipatori. Guba dan Lincoln juga menghapus beberapa aspek yang semula ada di edisi pertama. Aspek-aspek tersebut adalah inquiry aim, accommodation dan hegemony. Selain itu aspek voices juga diganti dengan istilah inquirer posture. BASIC BELIEFS (METAPHYSICS) OF ALTERNATIVE INQUIRY PARADIGMS Positivisme Secara ontologis paradigma positivis meyakini adanya realitas yang naïf (benar-benar nyata) tetapi dapat ditangani . Realitas tersebut diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku secara universal. Secara epistimologi paradigma positivis memandang sifat hubungan antara peneliti dan ilmu adalah dualis/obyektif. Adanya realitas obyektif yang berada di luar peneliti membuat mereka harus menjaga jarak dengan obyek penelitian. Prinsip-prinsip imparsialitas harus dikedepankan ketika melakukan penelitian sehingga tidak dibenarkan mencampuradukkan penelitian dengan subjektifitas pendapat dari peneliti. Metodologi penelitian yang digunakan bersifat eksperimen/manipulatif, verifikasi hipotesis dengan metoda utama yang digunakan adalah kuantitatif. Sifat pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah hipotesis yang sudah diverifikasi dan ditetapkan sebagai fakta atau hukum. Sebuah penelitian dengan paradigma positivis dianggap berkualitas jika memenuhi standar obejektifitas, reliabilitas, dan validitas (internal dan eksternal). Seorang peneliti harus mengenyampingkan nilai dan moralitas individu dalam memandang obyek penelitian. Seorang peneliti yang baik adalah yang mampu menemukan realitas dengan obyektif. Postpositivisme Paradigma Postpositivis melihat realitas “nyata” tetapi tidak sempurna dan kemungkinan dapat ditangani. Realitas tersebut ada tetapi tidak dapat sepenuhnya diperoleh. Realitas dikontrol oleh hokum alam yang hanya dapat dipahami sebagian saja. Pandangan ontologis tersebut mengoreksi pendapat positivis yang melihat adanya realitas yang benar-benar utuh dan ada. Secara epistimologis paradigma ini melihat perlunya modifikasi dualis/obyektif. Obyektifitas hanya dapat diperkirakan dan bergantung pada kritik. Peneliti tetap dituntut menjaga obyektifitas sehingga hubungan dengan obyek penelitian bersifat interaktif yang netral. Metodologi penelitian yang digunakan bersifat modifikasi ekperimen/manipulatif, multiplisme kritis, falsifikasi hipotesis, dan bisa melibatkan metoda kualitatif. Hal ini sedikit berbeda dengan pendekatan positivis yang menekankan metoda utama penelitian harus bersifat kuantitatif. Sifat pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah hipotesis non falsifikasi yang kemungkinan jadi fakta atau hukum. Sebuah penelitian dengan paradigma postpositivis dianggap berkualitas jika memenuhi standar obejektifitas, reliabilitas, dan validitas (internal dan eksternal). Hal ini masih sama dengan pendekatan positivis. Akumulasi pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian ini juga sama yaitu berupa upaya membangun blok-blok untuk ditambahkan pada struktur pengetahuan, generalisasi,dan hubungan sebab akibat. Kritis Paradigma kritis meyakini bahwa realitas sosial bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tinggal mengambil begitu saja. Mereka meyakini adanya Historical realism yakni realitas yang teramati (virtual reality) sesungguhnya merupakan realitas “semu” yang telah terbentuk oleh nilai-nilai sosial, politik, budaya, ekonomi, etnik dan gender. Jadi realitas yang ditemui sebenarnya bukanlah sesuatu yang nyata dan benar-benar ada melainkan suatu yang semu dan dibentuk dan dipengaruhi oleh tarik-menarik berbagai kekuatan sosial yang ada. Oleh karena itu secara epistimologi hubungan antara peneliti dan obyek penelitian bersifat transaksional/subyektif. Hubungan tersebut dijembatani oleh nilai-nilai tertentu. Pemahaman tentang realitas merupakan value mediated findings. Metodologi penelitian yang digunakan bersifat partisipatif dengan mengutamakan dialogic/dialectical. Mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual dan multilevel analysis yang bisa dilakukan melalui penempatan diri sebagai partisipan dalam proses transaksi sosial. Sebuah penelitian dalam paradigma kritis dianggap berkualitas jika memenuhi standar historical situatedness yakni sejauhmana penelitian memperhatikan konteks historis, sosial, budaya, ekonomi dan politik. Semakin dalam tinjauan kritis yang digunakan untuk menjelaskan obyek penelitian maka sebuah penelitian dianggap semakin bermutu. Nilai-nilai dan moralitas yang melekat pada individu peneliti sangat dianjurkan untuk melihat realitas yang ada. Hal ini tentu berbeda dengan pandangan positivis yang beranggapan bahwa nilai-nilai dan moralitas individu harus berada jauh dari obyek penelitian agar tidak melanggar prinsip obyekifitas. Seorang peneliti dalam pandangan kritis adalah seorang intelektual transformatif yang mampu menjadi penganjur atau aktivis perubahan. Konstruktivisme Secara ontologis paradigma ini memandang realitas sebagai hasil konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berlaku sesuai konteks spesifik (khusus) dan lokal yang dinilali relevan oleh pelaku sosial. Sifat hubungan antara peneliti dan obyek penelitian bersifat transactional/ subjectivist. Pemahaman tentang suatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Secara sadar dengan bekal nilai dan moralitas yang diyakini, seorang peneliti akan mendefinisikan realitas yang ia temui ketika melakukan penelitian. Metodologi penelitian yang diagunakan diantaranya adalah Hermeneutical/ dialectical. Menekankan empati dan interaksi dialektik antara peneliti dan responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti melalui metode kualitatif seperti participant observation. Kriteria kualitas penelitian adalah authenticity dan reflectifity. Sejauhmana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yang dihayati oleh para pelaku sosial. Oleh karena itu seorang peneliti perlu dibekali dengan pelatihan metoda kualitatif dan juga kuantitatif, sejarah dan upaya pemberdayaan masyarakat. Partisipatori Participative reality : realitas subyektif dan obyektif diciptakan bersama2 oleh pikiran & kosmos yg ada. Subjektivitas kritis dalam transaksi partisipatori dengan kosmos; epistemologi pengetahuan praktis, pengalaman dan proposisi, yg diperluas. Partisipasi politik dlm penelitian tindakan kolaboratif; mengutamakan praktik; menggunakan bahasa didasarkan pada konteks pengalaman yg dihayati bersama. AKSIOLOGI Paradigma positivis melihat nilai, etika dan pilihan moral harus berada di luar proses penelitian. Peneliti berperan sebagai disinterested scientist (orang yang bebas dari kepentingan dengan obyek penelitian) sehingga bisa memisahkan antara dirinya dengan obyek penelitian. Pandangan ini tidak jauh berbeda dengan kalangan Postpositivis kecuali pada peran peneliti yang ditempatkan sebagai mediator antara sikap ilmiah dengan obyek penelitian. Tujuan penelitian dari kedua paradigma ini adalah ekplanasi, prediksi dan kontrol. Paradigma Kritis dan Konstruktivis melihat bahwa nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu penelitian. Dalam Paradigma Kritis peneliti menempatkan diri sebagai intelektual yang bertugas melakukan transformasi, advokasi dan menjadi aktivis perubahan. Dalam pandangan konstruktivis peneliti dipandang sebagai fasilitator yang menjembatani keragaman subjektifitas pelaku sosial. Tujuan penelitian Dalam Paradigma Kritis adalah untuk melakukan kritik sosial, transformasi,emansipasi dan sosial empowerment. Sedangkan dalam pandangan konstruktivis tujuan penelitian adalah untuk melakukan rekonstruksi realitas sosial secara dialektik antara peneliti dengan obyek penelitian. Dalam paradigma parsipatori nilai, etika dan pilihan moral berkembang dengan keseimbangan otonomi, kerjasama dan hirarki dalam sejarah. ACCOMODATION AND COMMENSURABILITY Positivis dan postpositivis berpandangan sama bahwa paradigma dapat diperbandingkan atau disepadankan untuk semua bentuk positivistik. Pandangan kritis, konstruktivis dan parsipatori melihat bahwa paradigma ini tidak dapat diperbandingkan dengan bentuk-bentuk positivistik. Beberapa paradigma dapat diperbandingkan dengan pendekatan kritis, konstruktivis dan parsipatori khususnya ketika mereka bergabung dalam pendekatan liberasionis di luar Barat. THE CALL TO ACTION Ketika penelitian terjadi maka peneliti tidak dibenarkan untuk mengambil tindakan terhadap obyek penelitian. Demikian pendapat positivis dan postpositivis yang melihat bahwa peneliti tidak bertanggungjawab terhadap obyek penelitian. Tindakan dipandang sebagai bentuk advokasi atau subjektifitas yang menjadi ancaman bagi validitas dan objektifitas penelitian. Dalam pandangan kritis justru tindakan ditemukan secara khusus dalam pemberdayaan, emansipasi yang diantisipasi dan diharapkan. Tujuan akhirnya adalah terciptanya transformasi sosial yang mengarah pada kesamaan dan keadilan di masyarakat. Tidak jauh berbeda dengan pandangan kritis, paradigma konstruktivis dan partisipatori juga melihat bahwa penelitian sering dianggap tidak lengkap tanpa tindakan sebagai bagian dari partisipasi. Formulasi konstruktivis memberi mandat pada pelatihan dalam tindakan politik jika patisipan-partisipan tidak paham sistem politik. KONTROL Dalam sebuah penelitian permasalahan kontrol juga menjadi kontoversi yang menarik untuk diperdebatkan. Pertanyaan seperti siapa yang memiliki inisiatif penelitian? Siapa yang menentukan pertanyaan apa yang penting untuk diajukan? Siapa yang menentukan penemuan apa yang akan diperoleh? Bagaimana data akan diperoleh? merupakan pertanyaan yang menarik untuk dijawab. Dalam pandangan positivis dan postpositivis kontrol sebuah penelitian semata-mata berada dalam diri peneliti. Dialah yang menentukan bagaimana penelitian akan dilakukan. Pandangan kritis melihat bahwa kontrol sering berada dalam diri intelektual transformatif dan konstruksi-konstruksi baru yang muaranya kembali kepada komunitas. Paradigma konstruktifis melihat bahwa kontrol dibagi bersama antara peneliti dan partisipan penelitian. Hal yang hampir sama dalam pandangan partisipatoris yang melihat bahwa kontrol dibagi pada beragam derajat. FOUNDATION OF TRUTH AND KNOWLEDGE IN PARADIGMS Kebenaran dalam pandangan positivis dan postpositivis adalah di luar diri peneliti. Ada realitas nyata yang dapat didekati dengan metoda penelitian yang menjaga keterlibatan peneliti atas kebenaran tersebut. Peneliti bertugas menemukan kebenaran tersebut dalam penelitianya. Paradigma kritis melihat adanya fondasi kebenaran dalam kritik sosial. Fondasi kebenaran ada di luar sana dan terletak pada sejarah tertentu, ekonomi, rasial, ketidakadilan, marjinalisasi dan infrastruktur sosial. Seorang peneliti tidak terpisahkan dari realitas obyektif dan mungkin dia tidak menyadari adanya kebenaran. Paradigma konstruktifis melihat bahwa fondasi kebenaran terletak pada hubungan anatara partisipan-partisipan komunitas. Kebenaran dibangun dalam kesepakatan komunitas sebagai hasil negosiasi dan tidak bersifat universal. Paradigma parsipatoris melihat kebenaran sebagai suatu yang nonfondasional. VALIDITY: AN EXTENDED AGENDA Validitas tidak bisa disamakan dengan obyektifitas. Ada beberapa teori, filosofi dan rationalitas pragmatik untuk menguji konsep obyektifitas. Disisi lain validitas tidak bisa dihilangkan atau ditolak karena merupakan poin pertanyaan yang harus dijawab dalam penelitian. Salah satu isu yang menarik untuk dibicarakan terkait validitas adalah pertentangan antara metoda dan interpretasi penelitian. Dalam pandangan positivis dan postpositivis kriteria validitas suatu peneltian dapat diukur dari konstruksi validitas; rigor, dan adanya validitas internal & eksternal. Kaum kritis beranggapan bahwa validitas suatu penelitian dilihat dari adanya stimulus tindakan, transformasi sosial, kesamaan, dan keadilan sosial. Kalangan konstruksionis melihat konstruksi validitas diperluas dari sisi validitas kristalisasi, kriteria otensitas, validitas rhizomatic, catalitic, voluptuous dimana kriteria berpusat pada etika & relasi. Validitas berpusat pada determinasi komunitas. Sedangkan bagi partisipatori pertimbangan validitas diperluas sama dengan penelitian sering dianggap tidak lengkap tanpa tindakan sebagai bagian dari partisipasi. Formulasi konstruktivis memberi mandat pada pelatihan dalam tindakan politik jika patisipan-partisipan tidak paham sistem politik. VOICE, REFLEXIFITY, AND POSTMODERN TEXTUAL REPRESENTATION Ada tiga isu menarik tetapi menyakitkan untuk didiskusikan yakni terkait dengan suara, status refleksifitas dan problem representasi tekstual postmoderen. Secara prinsip paradigma positivis dan postpositivis melihat suara peneliti, dan refleksifitas menjadi masalah bagi obyektifitas penelitian. Sementara representasi tekstual tidak menjadi masalah dan dalam beberapa hal dapat dirumuskan. Kalangan kritis melihat suara sebagai campuran antara peneliti dan partisipan. Kalangan konstruktivis berpendapat bahwa suara merupakan campuran antara peneliti dengan partisipan dimana terkadang suara partisipan lebih dominan. Refleksifitas bersifat serius dan menimbulkan masalah. Representasi tekstual menjadi sebuah isu yang diperluas. Paradigma parsipatori melihat suara sebagai sebuah campuran dimana representasi tekstual jarang didiskusikan tetapi bermasalah. Refleksifitas berdasar pada subyektifitas kritis dan kesadaran diri. ,

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2009 in CampurSari

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: