RSS

06 Sep

RENUNGAN KEMERDEKAAN DIANTARA RETAKAN KEBHINEKAAN

Setiap tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia selalu memperingati hari kemerdekaan yang diproklamirkan pada tahun 1945 silam. Zaman berubah, generasi berganti tetapi perayaan kemerdekaan baik di kota maupun di desa selalu meriah. Lomba olahraga di kampung-kampung sampai seremonial kenegaraan selalu digelar di hari bersejarah ini.

Anak-anak sekolah berpakaian rapi, memegang bendera dan berjalan keliling sambil berteriak “merdeka” seakan mengenang kembali para pendahulu bangsa ini ketika menyambut hari kemerdekaan. Tak ketinggalan di berbagai tempat bendera merah putih dikibarkan, umbul-umbul dipasang, gapura desa diperbaharui.dan berbagai spanduk ucapan selamat memenuhi sepanjang jalan. Lomba makan krupuk, panjat pinang, gerak jalan, panggung hiburan, karnaval sampai pentas wayang semalam suntuk digelar untuk menyambut peringatan hari kemerdekaan.

Tahun ini ada yang berbeda dalam peringatan kemerdekaan kita. Sebuah kado yang mengerikan diberikan tepat sebulan sebelum perayaan kemerdekaan. Aksi terorisme yang yang menghancurkan Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton kembali terjadi. Tanggal  17 Juli 2009 bangsa ini harus kembali menyaksikan jatuhnya korban tak bersalah akibat ulah segelintir orang. Mayat-mayat dan potongan tubuh korban ledakan berserakan dimana-mana. Dari tayangan televisi kita saksikan kengerian, kerusakan dan korban-korban tak bersalah kembali menjadi tumbal aksi teror yang biadab. Nyawa orang-orang yang tidak tahu menahu duduk perkara harus melayang dengan demikian murahnya.

Kejadian tersebut mengungkit luka lama ketika serentetan aksi teror mengguncang negeri ini. Sabtu 1 Oktober 2005 ledakan bom kembali mengguncang Bali. Sepanjang tahun 1999-2003 saja tercatat 193 kasus bom terjadi di berbagai daerah di tanah air. Diantaranya adalah teror bom yang terjadi di Hotel JW Marriot, Kedubes Australia maupun Bom Bali I pada tahun 2002.

Aksi teror memberikan peringatan kepada kita semua bahwa kemerdekaan masih harus diperjuangkan. Kemerdekaan dari rasa takut, kemiskinan, kebebasan, ketidakadilan dan aneka belenggu lain yang masih mengikat bangsa ini.

Kini 64 tahun sudah usia bangsa ini, suatu usia yang semestinya menunjukkan kematangan, kearifan, kemapanan dalam bertindak dan tentu saja kemampuan untuk merealisasikan hakekat kemerdekaan. Namun, jika kita cermati keadaan masyarakat kita sekarang ini harapan tersebut tentunya masih jauh dari kenyataan. Krisis berkepanjangan yang dialami bangsa ini tidak saja berakibat secara ekonomi, tetapi juga semakin menjauhkan dari sikap dewasa. Berbagai konflik horizontal yang dipicu persoalan politik, ekonomi, sosial, suku, agama dan ras (SARA) mencerminkan jauhnya bangsa ini dari sikap arif dan matang dalam bertindak. Lihatlah pemilihan kepala daerah yang berdarah-darah dan penuh amuk massa, aksi tawur antar warga, maupun kekerasan dalam berbagai bentuk. Belum lagi keinginan beberapa daerah untuk merdeka yang semakin menguat. Pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilihan presiden juga berpotensi untuk memicu perpecahan bangsa. Meski berjalan cukup aman, tetapi gesekan antar pendukung partai ataupun presiden nampak nyata di permukaan.

Kesemuanya itu memunculkan kekhawatiran ancaman perpecahan nasional akibat berbagai kasus yang tak henti-hentinya terjadi selama ini. Munculah pesimisme bahwa “persatuan dan kesatuan” yang didengungkan selama ini tampaknya tidak sekokoh yang dibayangkan. Suatu bentuk tanpa isi, karena persatuan bersifat seremonial belaka. Begitu seremoni usai, maka muncullah gejala-gejala yang mengkhawatirkan itu.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa dalam ancaman serius. Indonesia yang selalu digembar-gemborkan sebagai bangsa yang bersatu ternyata begitu mudah dipecah-belah. Semangat nasionalisme yang menunjukkan loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa dan negara semakin kabur dan hanya berhenti pada tataran seremonial belaka. Semua itu menjadi renungan bersama bangsa ini sehingga kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai upacara bendera, kemeriahan atau bahkan sekedar rutinitas yang datang setiap tahun.

Belajar dari sejarah bangsa

Retakan-retakan kebhinekaan yang mulai menguat di tengah masyarakat kita semestinya mendapat perhatian serius dari semua pihak. Jika tidak kita perhatikan dengan serius maka keutuhan bangsa ini bisa jadi tinggal kenangan. Satu per satu wilayah Indonesia akan memilih untuk merdeka dan pada akhirnya Indonesia tinggal menjadi kenangan sejarah. Persoalannya bagaimanakah kita bisa mengatasi ancaman tersebut?

Jika kita mau menggali dan belajar dari sejarah perjalanan bangsa ini, maka jawaban pertanyaan tersebut bisa kita temukan. Generasi 1908 yang dipelopori Boedi Oetomo, generasi 1928 dengan Sumpah Pemuda, dan generasi 1945 yang berhasil mencetuskan proklamasi telah memberi pelajaran bagaimana persatuan dan kesatuan bangsa ini dibentuk. Kuncinya terletak pada kemauan untuk menghargai dan menerima kebhinekaan, mengikis egoisme primordial dan membangun kesadaran kebangsaan.

Kebhinekaan Indonesia itu bukan sekedar mitos, tetapi realita yang ada di depan mata kita. Harus kita sadari bahwa pola pikir dan budaya orang Jawa itu berbeda dengan orang Minang, Papua, Dayak, Sunda dan lainnya. Elite pemimpin yang berasal dari kota-kota besar dan metropolitan bisa jadi memandang Indonesia secara global akan tetapi elite pemimpin nasional dari budaya lokal tertentu memandang Indonesia berdasarkan jiwa, perasaan dan kebiasaan lokalnya. Ini saja menunjukkan kalau cara pandang kita tentang Indonesia berbeda. Jadi tanpa kemauan untuk menerima dan menghargai kebhinekaan maka sulit untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Apa yang dilakukan oleh pendahulu bangsa ini dengan membangun kesadaran kebangsaan atau nasionalisme merupakan upaya untuk menjaga loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa. Permasalahannya, mengapa nasionalisme kita sekarang ini nampaknya tidak mampu menjaga keutuhan bangsa?. Hal tersebut tidak terlepas dari sifat nasionalisme kita yang tidak operasional atau hanya berhenti pada tataran konsep dan slogan politik.

Nasionalisme bisa berfungsi sebagai pemersatu beragam suku, tetapi perlu secara operasional sehingga mampu memenuhi kebutuhan objektif setiap warga dalam suatu negara-bangsa. Tradisi dari suatu bangsa yang gagal memenuhi fungsi pemenuhan kebutuhan hidup objektif akan kehilangan peran sebagai peneguh nasionalisme. Saat ini diperlukan tafsir baru nasionalisme sebagai kesadaran kolektif di tengah pola kehidupan baru yang mengglobal dan terbuka. Batas-batas fisik negara-bangsa yang terus mencair menyebabkan kesatuan negara kepulauan seperti Indonesia amat rentan terhadap serapan budaya global yang tidak seluruhnya sesuai tradisi negeri ini. Disamping itu realisasi otonomi daerah yang kurang tepat akan memperlemah nilai dan kesadaran kolektif kebangsaan di bawah payung nasionalisme

Menurut Profesor Abdul Munir Mulkhan, kekukuhan nasionalisme di dalam diri bangsa ditentukan posisi dan seberapa ia berakar dalam “dunia batin” warga bangsa tersebut. Nasionalisme yang sekedar konsensus politik nasional, akan mudah pudar bersama perubahan sosial yang semakin cepat di era global ini. Wawasan nasionalisme akan tetap segar jika ia juga merupakan daya spritual dan kesadaran hidup di dalam diri orang atau warga bangsa. Karena itulah nasionalisme seharusnya selalu disegarkan kembali dan didialogkan bersama seluruh warga suatu bangsa tersebut.

Nasionalisme yang berhenti sebagai doktrin ideologis kenegaraan kurang berakar dalam kesadaran hidup warga. Kesadaran nasionalisme (NKRI) tumbuh kukuh dalam diri rakyat kebanyakan yang rela berkorban bagi kepentingan nusa bangsanya, ketika mereka merasa menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kebangsaan itu. Kesadaran primordial rakyat nampak lebih kental dibanding elite yang lebih rasional. Namun ketika rakyat itu melihat praktek kekuasaan yang egois bagi kepentingan elite, muncul kritik dan pemberontakan budaya.

Inilah krisis paling serius, lebih serius daripada berbagai krisis ekonomi-politik yang dihadapi bangsa ini. Kesadaran spritual di atas penting dikembangkan sebagai basis “nasionalisme baru” berbeda dengan konsep kewilayahan di berbagai belahan dunia dan bangsa lain. Soalnya ialah bagaimana kesadaran itu berfungsi di tengah mobilitas sosial dan kesadaran rasional dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan. Kesadaran kenusantaraan yang primordial tersebut nampak semakin pudar dalam lapis sosial lebih tinggi dan masyarakat yang semakin meng-kota.

Lebih dari satu dekade yang lalu, Ben Anderson melontarkan gagasannya tentang masyarakat khayalan (imagined communities). Konsep ini menarik karena Anderson, mengklaim bahwa nasionalisme berakar dari sistem budaya dalam suatu kelompok masyarakat yang saling tidak mengenal satu sama lain. Kebersamaan mereka dalam gagasan mengenai suatu bangsa dikonstruksi melalui khayalan yang menjadi materi dasar nasionalisme.

Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa, bahkan bangsa yang terkecil sekalipun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir di pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial. Pandangan yang dianut Anderson menarik karena meletakkan nasionalisme sebagai sebuah hasil imajinasi kolektif dalam membangun batas antara kita dan mereka, sebuah batas yang dikonstruksi secara budaya melalui kapitalisme percetakan, bukan semata-mata fabrikasi ideologis dari kelompok dominan. Dalam konsep Anderson, nasionalisme Indonesia terbentuk dari adanya suatu khayalan akan suatu bangsa yang mandiri dan bebas dari kekuasaan kolonial, suatu bangsa yang diikat oleh suatu kesatuan media komunikasi, yakni bahasa Indonesia.

Bhineka Tunggal Ika bukan slogan politik. Nasionalisme tidak bergantung pada mitos saja, tetapi juga harus melihat realita kebhinekaan Indonesia. Dan inilah yang selama ini diabaikan. Momentum kemerdekaan semestinya menjadi saat tepat untuk menyegarkan kembali gagasan nasionalisme tersebut. Harapannya bisa mengatasi berbagai retakan-retakan kebhinekaan yang mulai menjurus pada tindakan anarkhis yang membahayakan keutuhan bangsa. Usia bangsa ini sudah semakin bertambah, semestinya kehidupan lebih baik bisa diperoleh. Renungan kemerdekaan menjadi penting untuk memandang dengan jernih persoalan bangsa. Mewaspadai retakan-retakan kebhinekaan yang bisa mengancam keutuhan bangsa.

 
3 Comments

Posted by on September 6, 2009 in CampurSari

 

3 responses to “

  1. dan

    September 21, 2009 at 3:18 am

    Agaknya perlu diadakan perjanjian damai (atau diulang kalau memang sudah ada) antar berbagai elemen, kelompok, suku, aliran, dsb, semua yang ada di Indonesia ini.

     
    • mubarok01

      November 13, 2009 at 3:40 am

      sok tau kowe, heeee

       
  2. anonymous

    April 17, 2012 at 2:51 pm

    Please dech aaahh…kl nukil dalil tlg rujukan nya yg jelas + shahih donk
    Abdul Munir Mulkan + Ben Anderson layak kah jadikan rujukan..??? :p
    B’dw…di tgg layout nya😉

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: