RSS

MERAIH KEPERCAYAAN DENGAN KETELADANAN

13 Dec

Di tengah lauttext anchor yang luas sebuah kapal yang sarat penumpang tengah berlayar menuju tujuan. Birunya air laut yang terhampar luas seakan tak bertepi. Burung-burung beterbangan di atas kapal dan sesekali menukik ke laut untuk menangkap ikan atau sekedar minum untuk melepas dahaga. Meski air laut yang asin tentunya tidak bisa menawarkan dahaga tetapi burung yang hidup di tengah laut seolah tak peduli dan terus saja meminumnya. Lumba-lumba dan ikan-ikan kecil yang mengiringinya nampak sebentar muncul di permukaan dan kemudian tenggelam dalam birunya lautan sebelum akhirnya kembali meloncat ke atas permukaan air. Mereka layaknya hewan terlatih seperti di arena sirkus yang berusaha menghibur para penontonnya. Ikan lumba-lumba nampak menari-nari di sekitar kapal seolah mengiringi sebuah perjalanan kapal yang indah dan penuh dengan kebahagiaan, keteraturan, ketentraman, kedamaian dan keyakinan akan keselamatan perjalanan.
Gambaran di luar kapal nampak menyenangkan namun keadaan di dalamnya sungguh menggambarkan sesuatu yang berbeda. Di dalam kapal yang penuh sesak dengan penumpang tersebut terdapat dua bagian kapal yang dihuni oleh penumpang berbeda. Bagian atas kapal diperuntukkan bagi penumpang kelas bisnis dan eksekutif dengan segala fasilitas dan kemudahannya. Pelayanan kelas satu diberikan kepada penumpang di kelompok ini. Bagian bawah kapal diperuntukkan bagi penumpang kelas ekonomi yang harus rela berdesakan karena terbatasnya tempat. Keingingan pengelola kapal untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya membuat mereka memasukkan penumpang di kelas ekonomi melebihi kuota semestinya. Kondisi yang pengap dengan terbatasnya fasilitas baik tempat tidur, kamar mandi, makanan dan air harus diterima penumpang di kelas ini. Keberadaan sekoci dan pelampung jika sewaktu-waktu kapal tenggelam tidak sebanding dengan rasio jumlah penumpang di kelas ini. Mereka memang tidak bisa memilih karena kebutuhan untuk sampai tujuan dan terbatasnya kemampuan ekonomi.
Perjalanan yang panjang menuju tempat tujuan ternyata merubah perilaku penumpang di dalam kapal. Bagi penumpang di bagian atas tentu tidak begitu bermasalah karena semua kebutuhannya tercukupi. Lain halnya dengan penumpang di bagian bawah yang harus berbagi dan berebut untuk sekedar mendapat air dan menggunakan kamar mandi. Perjalanan yang semula tenang tiba-tiba berubah ketika gelombang besar menghantam kapal. Semua penumpang nampak panik dan ketakutan sementara anak buah kapal (ABK) mencoba meyakinkan bahwa kondisi tetap aman dan terkendali. Dalam kondisi yang sedang kacau balau tersebut beredar kabar dari mulut ke mulut yang menyatakan bahwa kapal akan segera tenggelam. Penumpang di bagian atas tidak begitu terpengaruh dengan isu ini karena mereka bisa melihat bahwa kondisi kapal masih stabil. Selain itu fasilitas keselamatan seperti pelampung dan sekoci tersedia cukup untuk mereka. Posisi mereka yang berada diatas juga memperpendek jarak jika sewaktu-waktu harus dievakuasi dari kapal.
Kondisi berbeda terjadi di bagian bawah yang dihuni penumpang kelas ekonomi. Isu akan tenggelamnya kapal dengan mudah mereka percayai karena tidak bisa melihat langsung kondisi kapal seperti penumpang di atas. Selain itu sarana keselamatan juga tidak sebanding dengan jumlah mereka. Karena itu merekapun segera berebut untuk mendapatkan pelampung dan berusaha menuju bagian atas kapal. Sebagian penumpang yang sudah tidak sabar malah berusaha untuk melubangi badan kapal dengan harapan bisa segera keluar dari kapal yang hendak tenggelam. Mereka memang berpikiran pendek dan hanya ingin segera keluar dari kapal agar selamat. Keinginan mereka sungguh menghawatirkan dan jika tidak dicegah maka kapal akan benar-benar tenggelam. Para ABK juga tidak nampak berusaha keras meyakinkan penumpang di kelas ini bahwa kapal benar-benar dalam kondisi aman dan keselamatan penumpang bisa terjamin.
Cerita diatas hanyalah ilustrasi untuk menggambarkan kondisi transportasi di negeri kita. Elemen dasar yang harus ada dalam penyelenggaraan jasa transportasi masih belum mampu diberikan oleh para pengelola jasa ini. Empat hal yang terkait yaitu keselamatan, keamanan, keterjangkauan, dan ketertiban pelayanan masih jauh dari harapan. Keempat elemen ini tentu saja berkaitan satu sama lain sehingga bermuara pada tersedianya pelayanan transportasi yang nyaman. Seperti dalam cerita di atas aspek ketertiban pelayanan dan keselamatan penumpang masih belum menjadi fokus perhatian. Sebagian besar pengelola jasa transportasi masih berorientasi pada keuntungan bisnis semata sehingga mengabaikan hak-hak konsumen.
Di sektor transportasi laut secara umum pelayaran nasional kita masih banyak dibelit masalah. Lemahnya kepedulian dari perusahaan dan ABK dalam menerapkan sistem keselamatan yang efektif, kelaikan kapal yang hanya berorientasi pada sertifikasi, dan belum konsistennya pengawasan dari pemerintah terhadap pelaksanaan persyaratan keselamatan pelayaran hanyalah sekian contoh masalah yang membelit sektor transportasi laut. Laporan-laporan kecelakaan pelayaran biasanya disebabkan oleh permasalahan teknis (terbalik dan tabrakan) akibat aktivitas operasi yang tidak reliable. Hal ini bisa dimengerti mengingat sebagian besar kapal yang beroperasi di perairan republik ini adalah kapal-kapal tua dengan umur di atas 8,5 tahun. Kapal-kapal uzur itu dikelola oleh sumber daya manusia yang profesionalismenya rendah. Selain itu alat-alat keselamatan juga tidak tersedia dan terpelihara sehingga banyak yang tidak berfungsi terutama pada pelayaran penumpang dan penyeberangan.
Di sektor transportasi darat dan udara pun kondisinya tidak jauh berbeda. Dari keempat elemen dasar penyelenggaraan jasa transportasi baru aspek keterjangkauan harga bisa jadi yang agak terpenuhi. Factor keselamatan dan ketertiban pelayanan apalagi keamanan masih belum sesuai yang diharapkan. Kalau kita amati di jalan-jalan dengan mudah kita temukan bis atau angkutan kota yang semestinya sudah tidak layak beroperasi. Ban gundul, kaca pecah, rem blong, asap kendaraan yang menghitam, penumpang berdesakan, belum lagi ulah sopir yang ugal-ugalan adalah potret keseharian dalam dunia transportasi darat. Sementara di sektor pelayanan pengguna jasa transportasi darat harus bersiap menghadapi calo tiket maupun perilaku awak bus yang terkadang semaunya sendiri.
Di bidang transportasi udarapun kondisinya tidak lebih baik. Banyaknya kecelakaan jatuhnya pesawat di berbagai daerah menandakan bahwa aspek keselamatan masih menjadi barang yang langka. Pesawat yang tidak bisa take off, gagal landing atau bahkan kehilangan navigasi menandakan bahwa kondisi pesawat sudah tidak laik terbang. Maraknya perang tarif berbuntut pada pengurangan aspek keselamatan dalam penerbangan.
Seperti cerita kapal laut yang terhantam gelombang di atas ketika pengguna jasa transportasi sudah tidak percaya dengan aspek keselamatan dan ketertiban pelayanan maka mereka akan cenderung mencari solusi demi keuntungan sendiri. Bagi yang mampu secara ekonomi tentu akan memilih membeli mobil pribadi daripada harus berdesakan naik kendaraan umum. Bagi yang ekonominya pas-pasan bisa memilih kredit sepeda motor dengan uang muka yang ringan. Pendeknya berbagai cara akan mereka tempuh untuk bisa memperoleh sarana transportasi yang dianggap lebih aman dan nyaman daripada naik kendaraan umum. Sepintas keputusan ini seolah menjadi solusi bagi diri sendiri yang menguntungkan. Namun kalau kita cermati lebih jauh keputusan ini justru menimbulkan permasalahan baru dari sisi keselamatan maupun ketertiban.
Semakin banyaknya kendaraan pribadi yang melintas di jalan akan mengakibatkan kemacetan terutama di saat jam-jam sibuk. Kemacetan arus lalu lintas di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bisa dijadikan contoh akibat membengkaknya penggunaan kendaraan pribadi. Kapasitas jalan tidak mampu menampung jumlah kendaraan yang terus bertambah. Kalau dibiarkan terus menerus maka berbagai kota di republik ini akan mengalami kelumpuhan total. Kemacetan struktural tersebut masih diperparah dengan perilaku pengguna lalu lintas kita yang terbiasa bermental “menerabas” demi kepentingan sendiri. Bergerombol di depan garis pembatas putih pada lampu pengatur lalu lintas (traffic light), dan beberapa di antaranya menerobos lampu merah bila kesempatan itu ada, menjadi pemandangan sehari-hari. Belum lagi membelok di mana terdapat rambu tidak boleh membelok, melawan arus lalu lintas, melawan arah di jalan satu arah, melintas di trotoar yang disediakan bagi pejalan kaki, melintas di lajur sepeda yang disediakan di jembatan penyeberangan, dan menyerobot saat palang perlintasan kereta api ditutup.
Kemacetan lalu lintas yang dipicu semakin banyaknya kendaraan di jalan mengakibatkan pemborosan bahan bakar, buruknya kualitas udara, kematian, hingga masalah kesetaraan hak dalam penggunaan ruang jalan. Dampak yang lebih parah adalah jatuhnya korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia yang mencapai 30.464 jiwa per tahun. Dengan data itu rata-rata setiap hari terjadi 40 kejadian kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 30 orang meninggal dunia. Sebagian besar kecelakaan dialami kaum laki-laki dari kelompok usia produktif, yakni antara 15 – 40 tahun. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas secara massal. Kerugian ekonomi nasional setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp 41 triliun atau kurang lebih US$ 4,5 Milyar atau 2,9 persen pendapatan domestik bruto Indonesia. Saat ini Indonesia duduk di peringkat ke-3 negara di ASEAN yang jumlah kecelakaan lalu lintasnya paling tinggi. Ini angka yang luar biasa, dimana kecelakaan bisa digolongkan sebagai pembunuh nomor 3 di Indonesia.
Kesemua itu merupakan dampak dari tidak tertatanya manajemen transportasi kita sehingga keempat elemen dasar yang semestinya ada dalam penyelenggaraan jasa transportasi belum bisa optimal. Ketika masyarakat sudah tidak percaya bahwa sarana transportasi umum mampu memberikan jaminan keselamatan dan keamanan mana mungkin mereka mau menggunakannya. Demikian halnya ketika pelayanan yang diberikan masih jauh dari tertib, maka masyarakat akan memilih menggunakan sarana transportasi pribadi.

Keselamatan dan ketertiban pelayanan bukan suatu kebetulan
Kembali ke cerita perjalanan kapal di atas, ketika semua penumpang menghendaki perjalanan mereka berjalan lancar dan selamat sampai tujuan maka kerjasama diantara mereka adalah suatu keharusan. Jika masing-masing berjalan sendiri dengan mengutamakan kepentingan pribadinya maka keinginan untuk selamat sampai tujuan akan sulit dicapai. Demikian halnya dalam membangun sektor transportasi di Indonesia karena keselamatan dan ketertiban pelayanan bukanlah suatu kebetulan melainkan buah dari usaha dan doa yang sungguh-sungguh. Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat akan jaminan keselamatan dan ketertiban pelayanan maka diperlukan langkah-langkah terencana yang dilakukan secara konsisten.
Masalah ransportasi selalu berkaitan dengan persoalan-persoalan makro seperti kebijakan pemerintah, strategi dan program pemerintah, hingga partisipasi aktif dan perilaku sosial masyarakat. Artinya semua pihak memiliki andil dalam membangun sistem transportasi nasional (sistranas) yang handal. Upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat harus diawali dengan pembenahan intern dari pemerintah maupun pengusaha angkutan. Sebagai regulator pemerintah sesungguhnya telah merumuskan peraturan yang memadai dalam pengaturan sektor transportasi. Keberadaan undang-undang lalu lintas, aturan kelaikan kendaraan, dan prosedur keamanan menunjukkan bahwa dari sisi regulasi semestinya sudah memadai. Adanya Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (DKTN) yang merumuskan kebijakan keselamatan di sektor transportasi adalah bagian dari upaya serius untuk membenahi sektor transportasi. Lembaga-lembaga non pemerintah seperti Organda dan asosiasi penerbangan sipil nasional sebagai penjelmaan kalangan pengusaha transportasi juga telah merumuskan manual book yang harus ditaati anggotanya.
Lalu mengapa fakta di lapangan menunjukkan bahwa aspek keselamatan dan ketertiban pelayanan belum mendapat perhatian serius? Jawabannya adalah belum berjalannya sistem aturan sebagaimana mestinya. Berbagai aturan yang telah ada saat ini lebih merupakan dokumen formal ketimbang sesuatu yang aplikatif dan dirujuk oleh berbagai pemangku kepentingan. Padahal jika semua dijalankan keselamatan dan ketertiban pelayanan akan dapat dicapai.
Pentingnya keteladanan
Peribahasa barat mengatakan habit is second nature (kebiasaan adalah watak kedua). Demikian halnya dalam meraih kepercayaan yang memerlukan pembiasaan dan bukti dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sulit untuk meraih kepercayaan pengguna transportasi jika mereka tidak terbiasa dengan pelayanan yang tertib dan mengutamakan keselamatan. Karena itu filosofi bahwa penyelenggaraan jasa transportasi harus mengutamakan keselamatan dan ketertiban harus ada dalam benak semua stakeholders yang terlibat. Para pejabat pemerintah dan pengusaha angkutan harus bisa mengimplementasikan filosofi tersebut dalam kebiasaan sehari-hari sehingga baerubah menjadi watak.
Ketika sudah menjadi watak maka dalam meyelenggarakan jasa transportasi tentu akan mengutamakan kedua aspek tersebut. Perilaku tertib dan mengutamakan keselamatan yang sudah menjadi watak di kalangan aparat pemerintah dan pengusaha angkutan akan menjadi teladan bagi bagi masyarakat. Pada akhirnya kepercayaan sedikit demi sedikit akan tumbuh kembali. Ibarat pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulino (asal mulanya cinta berasal dari kebiasaan) artinya ketika masyarakat sudah terbiasa dengan pelayanan yang tertib dan mengutamakan keselamatan maka dengan sendirinya cinta akan tumbuh. Ketika cinta sudah tumbuh maka kepercayaan akan dengan mudah diraih.
Akan tetapi kondisi ini tentu tidak bisa diraih dalam sekejap mata melainkan membutuhkan waktu dan konsistensi. Seperti ketika kita melempar batu ke tengah air yang tenang maka gelombang air yang muncul tidaklah langsung besar dan menyebar. Gelombang air akan muncul dari kecil kemudian semakin lama semakin melebar sebelum akhirnya mencapai semua tempat. Demikian halnya kepercayaan juga diperloleh secara bertahap. Kuncinya ada pada konsistensi dan kesungguhan dari para penyelenggara jasa transportasi baik pemerintah maupun pengusaha angkutan dalam mengimplementasikan berbagai prosedur keamanan, ketertiban dan keselamatan. Jika semua dijalankan, kecelakaan bisa ditekan dan keselamatan bisa diraih.
Satu hal yang tak bisa dilupakan adalah masalah pengawasan yang kerap menjadi titik lemah pemerintah. Oleh karena itu publik perlu diberi kesempatan untuk terlibat aktif dalam pengawasan. Keterlibatan public dapat dibangun melalui adanya semacam pos komando komunikasi publik di jajaran Departemen Perhubungan. Dengan adanya semacam hotline pengaduan, pengawasan oleh masyarakat dapat berjalan dengan sendirinya. Tentu dengan catatan, pengaduan itu tidak dianggap sebagai angin lalu tanpa tindak lanjut. Dengan melibatkan masyarakat dalam melakukan pengawasan berarti mengajak mereka untuk meningkatkan kepedulian terhadap pembangunan sektor transportasi. Perasaan ikut memiliki dan peduli ini akan sangat bermanfaat bagi kinerja pemerintah dan pengusaha angkutan. Pemerintah bisa melakukan pengawasan secara efektif terhadap implemetasi peraturan di lapangan karena mereka memiliki ujung tombak yang banyak yaitu masyarakat.
Berbagai tindak penyimpangan yang dilakukan oleh segelintir oknum dapat segera ditindak dengan adanya laporan yang masuk dari masyarakat. Dengan wilayah cakupan pengawasan yang demikian luas dari Sabang sampai Merauke tentu membutuhkan tenaga dalam jumlah besar. Dengan keterbatasan jumlah personil pemerintah yang ada maka peran aktif masyarakat adalah solusi yang tepat. Selama ini muncul kesan bahwa pengguna jasa transportasi kurang terlibat secara aktif dalam pembangunan sektor ini. Mereka cenderung hanya menuntut adanya pelayanan yang memuaskan tetapi enggan untuk memberikan solusi yang membangun. Keadaan ini tentunya menjadikan iklim pembangunan sektor transportasi berjalan tidak sehat dan timpang mengingat masyarakat juga merupakan stakeholders yang semestinya berperan aktif.
Pada akhirnya perlu diingat bahwa permasalahan ketertiban dan keselamatan dalam penyelenggaraan jasa transportasi tidak dapat dibebankan sepenuhnya pada pemerintah saja. Walaupun pemerintah telah membuat berbagai aturan dan berusaha menegakkannya namun jika masyarakat dan pengusaha angkutan tidak mematuhinya maka keinginan tersebut tidak akan tercapai. Selain pemerintah, pihak-pihak terkait seperti pemilik angkutan umum, pemilik mobil pribadi, pengguna angkutan umum, dan pengemudi angkutan umum harus bahu membahu membangun dunia transportasi kita. Semoga penyelenggaraan jasa transportasi di negara ini akan semakin baik setiap tahunnya.

 
Leave a comment

Posted by on December 13, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: