RSS

SINYAL SELULER DI BATAS NEGERI (Reproduksi Nasionalisme Banal Melalui Sinyal Seluler)

22 Dec

Dari sabang sampai merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia
Indonesia tanah airku
Aku berjanji padamu
Menjunjung tanah airku
Tanah airku Indonesia
Lagu dari Sabang sampai Merauke karya R. Suharjo tersebut menggambarkan dengan jelas bagaimana luasnya wilayah bumi pertiwi. Indonesia adalah negara kepulauan dengan luas wilayah mencapai jutaan kilometer. Luas wilayah Indonesia terbentang menjadi pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke dengan jumlah tidak kurang dari 13.000 pulau. Luas wilayah yang membentang dari Sabang sampai Merauke membuat Indonesia memiliki banyak wilayah yang berbatasan langsung dengan negara lain. Berdasar Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005, terdapat sebanyak 92 pulau di wilayah Indonesia berbatasan langsung dengan negara tetangga di antaranya: Malaysia (22), Vietnam (2), Filipina (11), Palau (7), Australia (23), Timor Leste (10), India (13), Singapura (4) dan Papua Nugini (1). Wilayah perbatasan tersebut tersebar di 18 provinsi Indonesia yaitu Nanggroe Aceh Darussalam (6), Sumatra Utara (3), Kepulauan Riau (20), Sumatra Barat (2), Bengkulu (2), Lampung (1), Banten (1), Jawa Barat (1), Jawa Tengah (1), Jawa Timur (3), Nusa Tenggara Barat (1), Nusa Tenggara Timur (5), Kalimantan Timur (4), Sulawesi Tengah (3), Sulawesi Utara (11), Maluku Utara (1), Maluku (18), Papua (6) dan Papua Barat (3).
Permasalahan di batas negara bukan sekedar persoalan luas wilayah melainkan kompleksitas antara nasionalisme, kepentingan ekonomi, identitas bangsa dan bagaimana harga diri suatu bangsa di mata internasional. Pengelolaan wilayah perbatasan menjadi isu nasional yang sering kita abaikan. Masih ingat dalam benak kita bagaimana satu persatu wilayah perbatasan kita beralih ke negara lain karena ketidakmampuan bangsa ini menjaga wilayahnya. Sebagai contoh adalah lepasnya kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan pada tahun 2002 karena kalah diplomasi dengan Malaysia. Pasca lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan Malaysia kembali mengklaim wilayah Indonesia sebagai bagian dari wilayahnya. Klaim Malaysia yang menyatakan wilayah Blok Ambalat di Laut Sulawesi sebagai wilayahnya menyulut kembali sengketa kedua negara yang sempat mereda. Ketidaksigapan dalam menjaga dan mengelola wilayah perbatasan membuat wilayah Indonesia rentan beralih kepemilikan.
Kondisi wilayah perbatasan yang minim infrastruktur tidak hanya berakibat pada terhambatnya perkembangan ekonomi namun juga hilangnya kebanggaan sebagai bangsa. Sebagai contoh potensi sumber daya alam di wilayah perbatasan Kalimantan yang cukup besar dan bernilai ekonomi tinggi, ternyata tidak sebanding bagi kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya. Infrastruktur sosial ekonomi di kawasan ini, baik dalam aspek pendidikan, kesehatan, maupun sarana prasarana penunjang wilayah, masih tertinggal dengan negara Malaysia. Di perbatasan Papua dengan Papua Nugini masyarakat di daerah tersebut tertinggal secara ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Sumber daya alam melimpah berupa kayu dan hasil pertambangan tidak bisa dinikmati oleh penduduk di sekitarnya.Wilayah perbatasan yang terisolir memustuskan imaji dari warganya sebagai bagian dari bangsa ini.
Selama ini mereka yang tinggal di daerah perbatasan lebih sering dituntut untuk setia, menjaga nasionalisme dan memberikan yang terbaik untuk bangsa ini. Di sisi lain hak mereka sebagai warga negara seringkali diabaikan. Apakah adil jika mereka yang tinggal dengan beragam keterbatasan tersebut dituntut kewajiban sama dengan mereka yang memiliki banyak kelebihan?.Daerah perbatasan identik dengan ketertinggalan, keterbelakangan, terisolir dan aneka kondisi buruk lainnya. Padahal di wilayah merekalah kekayaan alam negeri ini bersumber dan menjadi tulang punggung pemasukan negara. Jangan mudah menyalahkan negara lain jika mereka sampai mencaplok sebagian wilayah Indonesia. Karena itu sikap mawas diri sangat diperlukan untuk berbuat lebih baik di masa depan. Berkaca pada kondisi tersebut maka seyogyanya segenap pihak berfikir dan mengambil peran agar pemberdayaan daerah perbatasan bisa berjalan lebih cepat.
Tulisan ini bermaksud mengkaji peran industri seluler dalam menanamkan pengingat banal guna menjaga nasionalisme warga di daerah perbatasan. Berkomunikasi adalah kebutuhan dasar manusia termasuk mereka yang tinggal di daerah perbatasan. Namun lebih dari kebutuhan dasar tersebut, berkomunikasi sesungguhnya merupakan bagian dari reproduksi nasionalisme suatu bangsa. Karena itu peran industri komunikasi sangat penting dalam upaya memelihara nasionalisme bangsa.
SINYAL SELULER DAN NASIONALISME BANAL
Upaya untuk menjaga kedaulatan di wilayah perbatasan menjadi tugas penting yang harus diemban oleh semua pihak. Kekurangan infrastruktur dan beragam fasilitas menjadi tugas pemerintah untuk menyediakannya. Sementara, pihak swasta bisa berperan aktif dalam menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah perbatasan. Upaya untuk menjaga keutuhan negara tentu tidak cukup hanya ditempuh melalui pendekatan fisik belaka. Untuk menjaga keutuhan bangsa dibutuhkan perekat bersifat spiritual yang melampaui batas fisik dan menjadi acuan bagi kesatuan nasional.
Nasionalisme selama ini dianggap sebagai perekat kuat bagi keutuhan suatu bangsa. Nasionalisme sebagai basis ideologi kebangsaan yang dibangun dari pengalaman kolektif perang kemerdekaan membutuhkan penyegaran agar lebih fungsional dalam memecahkan berbagai persoalan kebangsaan di abad informasi. Batas-batas fisik negara yang terus mencair menyebabkan kesatuan negara kepulauan seperti Indonesia amat rentan disintegrasi. Kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa perasaan senasib dan sepenanggungan akan cukup sebagai perekat nasionalisme bangsa ini. Perlu sebuah tindakan nyata baik dalam bentuk fisik maupun upaya pengingat yang berlangsung secara terus-menerus agar kesatuan nasional tetap terjaga.
Menurut Billig, dalam bukunya Banal Nationalism (1995), nasionalisme secara banal (keseharian, biasa-biasa, sambil-lalu) terreproduksi dan tertanamkan, meski tidak ada kejadian-kejadian yang membarakan nasionalisme. Billig mengkritik konseptualisasi nasionalisme yang cenderung memfokuskan pada manifestasi-manifestasi kasat mata yang muncul terutama dalam kondisi-kondisi khusus. Sebaliknya dari semangat membara yang muncul kadang-kadang, nasionalisme adalah kondisi yang bersifat endemik. Inti pandangan Billig tentang nasionalisme menyatakan bahwa nation senantiasa direproduksi lewat pengingat-pengingat yang kelihatannya sepele dan tak-terperhatikan (banal reminders) yang secara terus-menerus dan sehari-hari mengingatkan penduduk akan negaranya. Salah satu contoh pengingat nasionalisme banal adalah bendera. Jika dalam nasionalime membara bendera-bendera dikibarkan oleh penduduk dengan semangat menyala, dalam nasionalisme banal bendera adalah pengingat yang sepele dan tak-terperhartikan. Kadang-kadang secara tak sengaja kita melihatnya, namun lebih sering kita acuh tak acuh. Tetapi bendera-bendera itu, secara terus-menerus, tanpa kita sadari, menjadi pengingat kalau kita adalah anggota sebuah bangsa.
Pengingat-pengingat itu begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari warga negara, yang tanpa sadar senantiasa mengingatkan posisinya di tengah-tengah bangsa lain. Pengingatan terus-menerus tanpa sadar ini, menurut Billig, mencegah terjadinya amnesia-kolektif bahwa mereka adalah warga dari sebuah bangsa. Dengan demikian reproduksi nasionalisme tidaklah terjadi pada saat khusus, tetapi setiap hari dan terus menerus.
Bagaimana dengan sinyal selular? Arti penting sinyal seluler di daerah perbatasan tidak hanya bermanfaat secara ekonomi namu juga sebagai pengingat banal tentang identitas kebangsaan. Seperti kita tahu, kehadiran industri seluler akan membawa multiplier effect yang bisa menggerakkan bisnis lainnya. Lebih dari itu terbukanya jaringan komunikasi juga akan menguak daerah-daerah terisolir sehingga perkembangan pembangunan bisa lebih cepat. Bagi keutuhan suatu bangsa kehadiran sinyal seluler akan membantu proses reproduksi nasionalisme melalui pengingat yang berjalan terus-menerus. Eksistensi, identitas dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa melebihi aspek keuntungan ekonomi yang akan muncul. Saudara kita yang tinggal di daerah perbatasan tidak hanya memperoleh manfaat dari kehadiran fisik industri seluler tetapi juga mental dan nasionalisme sebagai bangsa akan tetap terpelihara. Mereka akan tetap merasa menjadi bagian dari Indonesia setelah terhubung dalam jaringan komunikasi yang luas..
Dengan memanfaatkan layanan seluler warga di daerah perbatasan bisa mengikuti perkembangan kondisi negaranya yang bisa diakses melalui beragam pemberitaan media online. Layanan seperti ring back tone (RBT) yang memanfaatkan lagu kebangsaan dan lagu daerah bisa terus menerus mengingatkan dan memupuk nasionalisme mereka. Berkirim pesan dengan sanak saudara di daerah lain, mengirim foto melalui layanan MMS, atau menghubungi saudara untuk bercerita dan mendengar suaranya akan mengurangi perasaan gundah karena tinggal di daerah terisolir.
Bagi perkembangan pendidikan di daerah perbatasan, kehadiran sinyal seluler bisa memberikan dampak luas bagi akses materi pendidikan, soal latihan, atau menambah wawasan dengan menggali sumber informasi dari beragam tempat. Para guru yang tinggal di daerah perbatasan juga bisa meningkatkan wawasan dan pengetahuan melalui sumber online sehingga bisa meningkatkan mutu materi pengajaran yang diberikan kepada siswanya. Sekolah di daerah perbatasan juga tidak perlu khawatir tertinggal informasi terbaru tentang pelaksanaan ujian dan lainnnya sehingga mimpi untuk memeratakan standar kualitas pendidikan bisa dipercepat.
Pada akhirnya meskipun secara fisik mereka terisolir karena lemahnya infrastruktur, setidaknya keberadaan sinyal seluler akan membantu mereka untuk terhubung dengan dunia luar. Telepon seluler saat ini hampir ada di tangan setiap orang, dengan dukungan harga pulsa yang murah maka potensi untuk tersebarnya informasi dalam jumlah massif akan semakin mudah. Oleh kerena itu selayaknya kita mendorong para operator untuk memperluas jaringan sampai ke seluruh pelosok tanah air.
Saat ini salah satu kebutuhan bangsa yang harus dipenuhi adalah terpeliharanya rasa kebanggaan menjadi bagian dari bangsa ini. Kondisi bangsa yang penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme meluluhkan harapan dan kebanggaan sebagian masyarakat. Hukum yang tidak kunjung berpihak pada mereka yang lemah juga membuat bangsa semakin frustasi. Maka rasa kebanggaan sebagai bangsa harus terus dipupuk melalui beragam prestasi dan aksi nyata. Beberapa waktu yang lalu kita cukup banggga dengan prestasi Sea Games 2011, maka selanjutnya beragam upaya untuk menumbahkan kebanggaan bangsa harus terus dilakukan. Industri seluler bisa membantu warga di daerah perbatasan untuk tetap bangga menjadi bagian bangsa ini. Kehadirannya sungguh bagaikan oase di tengah padang pasir, meski tinggal di daerah tandus dan terisolir tetapi selalu muncul harapan baru. Ketersediaan jaringan komunikasi menumbuhkan harapan yang membutuhkan kerja keras namun yang pasti investasi tersebut tidak sekedar bernilai ekonomis tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan keutuhan sebagai sebuah bangsa.

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: