RSS

Menatap Wajah Ayahku

03 Oct

Di ambang pensiun ayahku masih giat berangkat ke sekolah. Sudah lebih dari 35 tahun beliau mengabdikan dirinya untuk mendidik para penerus bangsa ini. Perjalanannya sebagai pendidik adalah inspirasi yang begitu kuat bagi kehidupanku. Setelah lulus dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Muhammadiyah di Magelang ayah mulai bertugas di daerah terpencil. Ayah ditempatkan di daerah Penisihan tepatnya di wilayah Kabupaten Cilacap. Sebuah tempat yang ketika itu belum dialiri listrik, jalan tanah yang berlumpur ketika hujan dan kesulitan air ketika musim kemarau.
Untuk sampai ke sekolah ayah harus menempuhnya dengan naik sepeda, di musim hujan sepeda tua itu harus dipanggul melintasi jalan berlumpur agar bisa sampai ke sekolah. Ayah sering tertawa mengingat kejadian itu, katanya “kalau musim kemarau ayah yang naik sepeda tetapi kalau musim hujan gantian ayah yang dinaiki sepeda”. Pakaian dan sepatu harus betul-betul dijaga agar tidak basah kehujanan, untuk hal yang satu ini ayah menyiasati dengan memanfaatkan plastik kresek. Sepatu dan pakaian dibungkus dalam plastik dan ayah berangkat sekolah dengan memakai pakaian biasa. Ayah adalah sosok guru yang menjaga kerapian dan kebersihan di depan murid-muridnya. Menurut beliau, seorang guru bukanlah sosok yang sekedar menularkan ilmu pengetahuan melainkan juga menjadi suri tauladan murid-muridnya. Ibarat pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Apa yang ditampilkan oleh seorang guru akan dicontoh dan diikuti oleh murid-muridnya. Karena itu guru sebagai seorang pendidik tidak cukup hanya memiliki kecakapan akademik tetapi juga harus bersih dari cacat moral.
<a href="“>

Jika seorang guru memiliki cacat moral baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di sekolah, maka dia tidak bisa lagi menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya. Itulah alasan ayah menjaga penampilannya di depan para siswa. Untuk bisa mengajari siswanya menjaga kebersihan dan kerapihan maka seorang guru harus memberi contoh mulai dari hal yang sederhana seperti berpakaian bersih dan rapi. Kebiasaan lain yang juga dijaga oleh ayah adalah bangun pagi dan berangkat ke sekolah tepat waktu. Di keluarga ayah mengajarkan disiplin dengan keteladanan bangun pagi. Di sekolah beliau mengajarkan disiplin dengan selalu datang tepat waktu. Kalau ingin murid-muridnya datang tepat waktu maka guru juga harus memberikan contoh dengan datang tepat waktu pula.
Pendidik adalah contoh bagi murid-muridnya. Karena itu ayah sering merasa prihatin melihat pendidik sekarang yang tidak memperhatikan hal tersebut. Seorang guru yang tidak disiplin, berpakaian tidak rapi, menggunakan kata-kata kasar, kotor dan melemahkan mental siswa sejatinya tidak layak disebut sebagai seorang pendidik. Tidak sedikit juga guru yang membawa masalah dalam rumahtangga ke sekolah. Masalah yang dihadapi di rumah membuat mereka mudah murah dan tidak fokus dalam mendidik. Ayah bercerita kalau di jamannya para guru selalu berusaha memisahkan persoalan di rumah dan sekolah. Mereka menempatkan diri sebagai pendidik yang baik ditengah keterbatasan fasilitas belajar mengajar.
Di Penisihan 35 tahun yang lalu fasilitas belajar mengajar memang masih sangat terbatas. Gedung sekolah yang sudah tua, meja kursi yang rusak, koleksi buku perpustakaan yang minim dan murid-murid yang terpaksa belajar sesuai jadwal pekerjaan orang tuanya. Selain keterbatasan sarana dan prasarana para guru juga harus menyesuaikan dengan budaya masyarakat setempat. Sebagian besar masyarakat di daerah itu bekerja sebagai petani. Di musim tanam dan panen biasanya orang tua melibatkan anak-anaknya untuk membantu pekerjaan di sawah. Akibatnya kegiatan belajar mengajar juga sering terganggu. Para guru harus bersabar menungggu kedatangan murid-muridnya ke sekolah untuk belajar. Ditengah kegiatan belajarpun orang tua masih sering datang ke sekolah, memanggil anaknya untuk membantu pekerjaan. Sebagian siswanya sudah berusia melebihi usia belajar di tingkat dasar. Beberapa dari mereka terpaksa masuk sekolah di usia yang sudah lebih tua dari semestinya. Untuk jenjang sekolah dasar (SD) cukup banyak siswanya yang sudah berusia di atas 12 tahun.

<a href="“>

Cerita ayahku tentang perjalanannya sebagai pendidik sering diulang-ulang di depan anaknya. Ayahku tidak sedang mengeluh, bukan pula menyesali perjalanan hidup apalagi menertawakan kondisi pendidikan waktu itu. Baginya bercerita pengalaman tentang dunia pendidikan yang digelutinya adalah upaya untuk membentuk karakter, semangat, dan menguatkan sendi-sendi kepribadian putra-putrinya. Disiplin, kerja keras, ulet, pantang menyerah, adalah kunci sukses yang beliau ajarkan melalui cerita-ceritanya.
Kekurangan fasilitas bukanlah halangan untuk maju. Tantangan yang dihadapi oleh seorang pendidik ibarat garam di dalam kubangan sayuran yang justru memperkaya rasa. Belajar mengajar adalah sebuah semangat untuk berbagi dan saling menguatkan. Berbagi pengetahuan, kepercayaan diri, pengalaman, ketrampilan dan keteladanan yang diberikan oleh pendidik. Saling menguatkan dilakukan dengan memberi semangat bagi siswanya agar memiliki kekuatan mental dalam mencapai kesuksesan. Ayah sering bercerita betapa bangganya dia sebagai guru ketika beberapa muridnya di sekolah dasar dulu datang ke rumah dan bercerita kesuksesan mereka saat ini. Ada yang sudah menjadi tentara, guru, polisi dan berbagai profesi lainnya. Ayah merasa bangga karena mereka berasal dari daerah terpencil yang sarana dan prasarana belajarnya masih terbatas. Mereka membuktikan bahwa kuatnya mental dan semangat untuk sukses bisa mengalahkan berbagai keterbatasan. Semangat dan nilai-nilai perjuangan yang selalu ayah tekankan ketika belajar begitu kuat tertancap di benak mereka.
Hal lain yang mutlak dimiliki oleh seorang guru adalah fokus dan jiwa mengabdi untuk pendidikan. Tanpa adanya jiwa mengabdi maka menjadi pendidik tidak lebih dari ritual pekerjaan biasa yang dinilai dengan besaran rupiah. Mengabdi untuk pendidikan bermakna profesional dan tulus dalam berbagai ilmu dan pengetahuan. Materi bukanlah tujuan utama, tetapi kemajuan sumber daya manusia dan pembentukan akhlak peserta didiklah yang menjadi orientasi utamanya. Karena itu pekerjaan sebagai seorang pendidik sejatinya tidak bisa dinilai semata dengan besaran rupiah yang dia terima. Ayah sering merasa prihatin dengan para guru sekarang yang lebih memfokuskan mencari materi daripada mengabdi buat keberhasilan anak didiknya. Contohnya guru sering meninggalkan kelas untuk mengurus sertifikasi, mencari sertifikat, dan tujuan lain yang bersifat mengejar materi. Mereka membiarkan murid-muridnya di dalam kelas dengan tumpukan tugas yang ditinggalkan. Ada keegoisan dari sang guru ketika kepentingan pribadinya mengalahkan hak dari peserta didiknya.
Pergeseran fokus dari guru dan hilangnya jiwa mengabdi tersebut seringkali bisa dilihat dari hasil pendidikan. Standar kelulusan atau purna belajar yang diemban oleh seorang siswa sering hanya dilihat dari bukti nilai ujian nasional atau nilai sekolah yang tertulis dalam ijazah dan rapot. Sejatinya ketika pendidikan bisa membebaskan manusia dari sifat non manusiawinya maka perubahan perilaku dan akhlak peserta didik adalah pertanda purna belajar yang hakiki. Berdasar pengalaman ayah mendidik, kehilangan fokus dan jiwa mengabdi ini mengakibatkan banyak perserta didik yang kehilangan daya nalar dan nuraninya. Karena itu fenomena tawuran remaja dan anak sekolah yang marak akhir-akhir ini tidak lepas dari hilangnya sosok pendidik yang mampu membina perilaku dan akhlak mereka. Imbas dari pendidikan kita yang tidak mengedepankan pembangunan spiritual yang utuh menjadikan peserta didik mengalami disorientasi dari tujuan pendidikan. Standar nilai dan bukti prestasi kognitif dianggap sebagai sebuah keberhasilan tunggal, sementara kebaikan perilaku dan akhlak sebagai buah pendidikan justru diabaikan.
Menjelang masa pensiun sebagai guru, ayah tidak mewariskan harta benda berlimpah bagi anak-anaknya, tetapi semangant dan pengabdiannya adalah suri tauladan yang tidak terkira. Sekelumit kisah tentang ayahku semoga memberi manfaat dan dorongan bagi kita semua untuk memperbaiki dunia pendidikan.
Menatap wajah ayahku adalah menatap wajah guruku.
Menatap wajah ayahku adalah menatap wajah pendidikan bangsa ini.
Menatap wajah ayahku adalah menatap wajah generasi bangsa ini.
Di matanya tersimpan sejuta harapan, doa, dan semangat yang selalu ditularkan bagi kebaikan pendidikan di Indonesia.

 
55 Comments

Posted by on October 3, 2012 in lomba kary tulis

 

Tags:

55 responses to “Menatap Wajah Ayahku

  1. Muhammad Ammar Haq

    November 2, 2012 at 12:25 am

    saya sependapat dengan apa yang ditulis di atas, Ayah sama dengan seorang guru. karena seorang Ayah bukan hanya memiliki peran untuk mencari nafkah bagi keluarganya, namun berkewajiban juga untuk mendidik anaknya, seperti saat pertama kita lahir tentunya para orang tua berdo’a untuk anaknya agar kelak bisa bermanfaat bagi Agama, masyarakat, dan Bangsa, serta menjadi kebanggaan keluarga. harapan-harapan itu tentunya harus dibarengi dengan peran sang Ayah untuk mendidik sang anak. seperti halnya seorang guru, dia menginginkan murid-muridnya untuk membawa nama baik almamater, baik itu melalui perlombaan Akademik ataupun non Akademik. dan menginginkan agar kelak bisa ilmu yang di berikan semasa di bangku pendidikan bisa berguna dan bermanfaat untuk hal yang positif. Namun realitanya saat ini masih ada guru yang yang hanya mengejar materi. profesi sebagai guru cuma dianggap sebuah pekerjaan, bukan tanggung jawab moral yang kelak akan di pertanggung jawabkan.

     
  2. Andiesca Safira Maharany

    November 2, 2012 at 6:34 am

    saya sangat setuju sekali dengan sikap keikhlasan bapak guru tersebut. karena, seorang murid atau pelajar yang bersekolah pasti tidak hanya ingin memiliki nilai akademik yang tinggi, justru keahlian,moral dan akhlak lah yang dinomorsatukan untuk kedepannya nanti. jika murid tersebut hanya bermodalkan nilai yang tinggi tetapi tidak memiliki kemampuan non akademik percuma saja, pasti ia akan sulit untuk mengembangkan kemampuannya jika ia sudah terjun ke dunia masyarakat nanti. Dapat disimpulkan bahwa sebaiknya seorang guru mengajar muridnya tidak hanya sekedar mengajar tetapi mengajak murid-muridnya untuk sukses di masa depan serta mengajarkan moral dan akhlak yang baik agar mereka tidak hanya bermodalkan kemampuan akademik tetapi memperhatikan moral dan akhlak mereka juga di masyarakat.

     
  3. Nindiana Tri A (3100120018)

    November 2, 2012 at 2:18 pm

    Memang salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia sekarang ini karena lemahnya kualitas para pendidik untuk menggali potensi anak. para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan minat dan bakat yang dimiliki oleh siswa nya. pendidik seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. karena kreatifitas sangat penting untuk dikembangkan dalam proses pendidikan.

    Selain kurang kreatif nya para pendidik dalam membimbing anak didik nya, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram. kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. lebih parah lagi pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. ini salahnya karena kurikulum tidak di buat dengan memperhatikan kondisi dalam masyarakat. Jadi para lulusan hanya pintar cari kerja tanpa bisa menciptakan lapangan kerja.

    Ki Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia, peletak dasar yang kuat pendidkan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut : Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14)

    Jadi intinya, sekolah zaman sekarang adalah bentuk sekolah masa lalu yang di beri pakaian masa kini. mari kita lihat dan cermati yang terjadi di sekitar kita. sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan forum seperti ini juga sebagai pemberdaya semua orang untuk mendukung dunia pendidikan yang lebih baik lagi

     
  4. Muh. fahri bahar

    November 2, 2012 at 8:08 pm

    cerita ini mengingatkan kita tentang keadaan atau kuliatas para tenaga pendidik kita pada saat ini, kurangnya perhatian guru terhadap murid-muridnya mengakibatkan terbengkalainya tugas sebagai seorang pendidik, sangat di sayangkan pada pada jaman sekarang di era globalisasi dan di sini tugas dan kewajiban seorang pendidik untuk senantiasa memperhatikan para peserta didiknya dalam hal perilaku dan akhlak yang semakin hari semakin memburuk, di jaman ini para pesrta didik tidak hanya berkelakuan tidak baik terhadap teman-temannya akan tetapi sudah berani melawan pendidiknya. hal ini menunjukkan bahwa kurangnya perhatian pendidik terhadap para peserta didik khusunya di bidang perilaku dan akhlak. Perlunya perhatian serius dari pendidik , jangan hanya mengedepankan standar nilai tinggi sebagai keberhasilan yang unggul, tapi di sisi lain nilai spiritual terabaiakan yang justru menjadi tujaun utama keberhasilan seorang pendidik.

     
  5. Adi Luthfi Wguna

    November 3, 2012 at 4:50 am

    Sangat memprihatinkan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, seorang guru yang seharusnya bertugas mendidik anak didiknya, Kini malah lebih mementingkan materi. Terkadang guru menyelewengkan tugasnya sebagai guru yang harusnya mengajar dikelas. Ada beberapa guru yang lebih sering memberikan tugas, ketimbang masuk ke kelas untuk mengajar. Tidak heran jika banyak sekali pelajar yang ketika sudah lulus sekolah seperti baru lulus SMP dan ketika masuk SMA ilmu yang didapat sewaktu SMP tidak bertahan sampai masuk SMA. Meskipun seperti itu ternyata diluar sana masih banyak pahlawan tanpa tanda jasa yang memang benar benar mementingkan pendidikan ilmu maupun karakter. Dan memang tujuan mereka adalah mencerdaskan anak didiknya, agar bisa menjadi penerus bangsa yang mampu memajukan bangsanya.

     
  6. lutfiyatus sa'diyah

    November 3, 2012 at 4:57 am

    Kebanyakan perilaku guru akan ditiru oleh murid-muridnya terutama para siswa-siswi SD. Jadi para guru harus menjaga sikapnya. Tidak seperti dijaman sekarang. Perilaku guru yang seharusnya mengajarkan berperilaku baik malah menyimpang. Seperti kebanyakan kasus yaitu seorang guru mencabuli muridnya. Perilaku tersebut sangat memalukan, bagaimana nasib anak tersebut ketika sudah dewasa nanti. Selain itu cara mengajar guru yang tidak serius. Mestinya seorang guru tugasnya mengajarkan dan menyampaikan ilmu. Tetapi sekarang banyak guru yang cuma datang duduk dan kemudian memberikan tugas kepada muridnya, sedangkan guru tersebut malah membuat tugas lain yang seharusnya itu adalah tugas guru yang dibuat diluar jam mengajar.

     
  7. Ayu Widi Utami M

    November 3, 2012 at 3:39 pm

    Pekerjaan guru sangat mulia dan tak ternilai harganya. Saya dapat membaca, menulis, itu karena peran guru. Ada kalimat “guru tidak sekedar menularkan ilmu pengetahuan melainkan juga menjadi suri talaudan murid-muridnya”. Namun kenyataannya beberapa guru malah merusak moral muridnya. Seperti kasus tentang guru memperkosa muridnya, menghukum disuruh memakan kertas, dan kekerasan fisik. Padahal peran mereka adalah mendidik bukan melakukan tindak kekerasan dan kriminal. Guru yang baik menjadi panutan dan tidak cacat moral. Namun tak sedikit yang cacat moral, misalkan meninggalkan jam pelajaran tanpa alasan jelas berarti secara tidak langsung mengajarkan untuk berkorupsi, menghukum dengan tindak kekerasan berarti melatih untuk tawuran.

     
  8. david

    November 3, 2012 at 5:34 pm

    Dari artikel diatas saya bisa mengetahui bahwa seberapa giginya seorang guru memperjuangkan pendidikan demi kesusesan bangsa ini, sangat luar biasa perjuangan guru tersebut dia tidak mengenal panas atau hujan dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai guru. Kalau saya membandingkan dengan pendidikan zaman sekarang atau guru zaman sekarang, mungkin jarang bahkan mungkin tidak ada guru seperti itu sekarang yang lebih mementingkan pendidikan dibanding upah yang meraka dapat dari pekerjaan menjadi seorang guru.

     
  9. Della Maulidya

    November 3, 2012 at 11:25 pm

    salut dengan sosok ayah di artikel ini ,seorang guru yang benar benar mengabdi untuk pendidikan negri ,bukan sertifikasi.Artikelnya sangat menginspirasi ,smoga semakin banyak pendidik seperti sosok “ayah” tadi. dan indonesia makin maju , Aamiin YRA🙂

     
  10. ♫Raras♫ (@Rarassz)

    November 4, 2012 at 7:47 am

    Cerita di atas merupakan cerminan wajah pendidikan di Indonesia saat ini. Tugas seorang guru bukan hanya sekadar mengajar materi pelajaran di sekolah, tetapi juga membangun karakter dan akhlak yang baik kepada murid-muridnya sehingga diharapkan dapat tercipta generasi penerus bangsa yang lebih baik. Akan tetapi, saat ini pendidikan di Indonesia sudah jauh bergeser dari hakikatnya semula. Saat ini banyak guru-guru yang tidak kompeten, bersikap kurang profesional terhadap kewajibannya dalam mendidik murid-muridnya, juga cenderung untuk lebih mengejar materi dan peningkatan jabatan. Tak heran jika pelajar saat ini sudah semakin memburuk akhlaknya.
    Namun begitu, sosok seorang guru teladan seperti cerita tersebut tidak sepenuhnya menghilang dari dunia pendidikan. Walaupun memang jarang dan sulit untuk ditemukan, namun masih ada guru yang berusaha untuk selalu profesional dan konsisten dalam menjalani profesinya, tidak mengejar materi maupun peningkatan jabatan. Seperti contohnya guru-guru di daerah pedalaman papua. Mereka sepenuhnya mengabdi di dunia pendidikan. Tidak peduli berapa gaji yang mereka dapatkan, yang terpenting adalah bagaimana memajukan pendidikan anak-anak di daerah yang terisolasi dari kehidupan dunia luar itu.
    Dari cerita di atas, kita bisa memetik beberapa pelajaran bahwa apapun profesi yang kita jalani kita harus selalu bersikap profesional dan konsisten dalam menjalankan profesi tersebut. Totalitas dan loyalitas dalam menjalani sebuah profesi akan menjadi suatu kebahagiaan tersendiri yang nilainya tidak dapat ditukar dengan berapapun materi yang kita dapatkan.

     
  11. Ilham Setyawan

    November 5, 2012 at 2:59 am

    menurut saya artikel diatas dari segi pendidikan sangat berguna dan sebagai contoh bagi para pengajar guru maupun murid yang akan diajar, karena pendidikan di jaman sekarang sangat mengenaskan dimana sekarang banyak sekolah dan guru yang bermain secara materi, dan tidak melihat dari sisi prestasi siswa yang baik. seharusnya pendidikan jaman sekarang di ubah dan di renovasi agar lebih baik dan tidak terjadinya anak-anak yang putus sekolah. kita harus mengingat dan memahami pendidikan yang di ajarkan pada zaman dahulu yang mementingkan pendidikan yang layak agar dapat mencerdasakan bangsa dan negara dan guru yang memegang teguh sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”.
    intinya pendidikan zaman sekarang lebih baiknya di tata ulang atau di perbaiki dari moral para guru dan sikapnya dan untuk muridnya di bekali akan pendidikan yang baik dan layak untuk memajukan penididikan di indonesia.

     
  12. dina sulfianti

    November 5, 2012 at 3:42 am

    didalam cerita ini mencerminkan sosok seorang ayah yang berpropesi sebagai guru seorang guru yang sabar mengahadapi kehidupan dan menadi sosok yang dapat di contoh oleh murid-muridnya karena ia sosok guru yang mengajarkan bagaimana mempunyai moral yang baik.guru juga bukan hanya menularkan ilmu pengetahuannya saja tapi guru juga menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya dan seorang guru juga bertugas untuk membangun karakter dan ahklak yang baik bagi murid-muridna .dilihat para guru zaman dulu dan zaman sekarang sangatlah berbeda dulu para guru sangat mementingkan pendidikan bagi murid-muridnya di bandingkan upah karena para guru tapi kenyataan yang kita dapat lihat di zaman sekarang sebagian guru malah memiliki ahklak yang buruk contohnya adanya kasus guru mencabuli muridnya dan banyak juga guru menghukum muridnya dengan kekerasan padahal peran seorang guru yaitu sebagai cerminan bagi muridnya bukan sebagai contoh ang buruk bagi murid-muridnya.

     
  13. MayangWulandari (@MayangWulan)

    November 5, 2012 at 3:49 am

    Menurut saya artikel ini memberikan pelajaran kepada kita pelajar Indonesia dan khususnya para guru , bahwa pendidikan itu sangat penting dan kita tidak boleh menyepelekannya. Di jaman sekarang karakter guru sudah sangat berbeda dengan karakter yang di artikel tersebut, banyak guru yang mengejar uang demi kesenangan sendiri akibatnya para murid hanya di beri tugas dan ringkasan dari guru, kalau begini bagaimana murid akan maju dan bisa? Sekarang banyak guru juga yang cacat dalam moral dan tidak menunjukan sikap teladan seorang guru misalnya : memukul siswa , memaki siswa bahkan melakukan aksi pornografi terhadap muridnya. Pendidikan di Indonesia jaman sekarang sudah kacau , karena banyak guru yang tidak mengajarkan tentang pendidikan karakter dan pembentukan akhlak, pada akhrinya banyak anak-anak yang sudah rusak moralnya. Berbeda dengan tokoh yang ada di artikel, tokoh guru yang di artikel lebih menekankan pada pembentukan akhlak pada murid, bukan semata-mata karena materi. Jaman dulu guru berusaha keras untuk membuat muridnya lebih maju, walaupun badai menerja mereka tetap datang ke sekolah. Namun tidak semua guru seperti itu , masih ada yang seperti pada tokoh yang ada di artikel.
    Pada jaman-sekarang fasilitas sekolah sudah l melebihi cukup daripada jaman dulu yang pas-pasan, harusnya dengan seperti itu murid –murid harus lebih baik dan pintar ini karena faktor guru juga yang kadang tidak memberi semangat belajar kepada muridnya. Banyak sekarang guru yang bekerja tidak profesional , misalnya saja : korupsi waktu, akibatnya para murid tidak berbekal ilmu .Disiplin, tanggung jawab dan pantang menyerahlah sikap yang harus dilakukan seorang guru untuk memberi teladan kepada muridnya. Saya tidak menyalahkan cara mengajar guru sekarang, tetpai saya melihat berdasarkan fakta yang ada. Jika pendidikan Indonesia sudah tidak diperbaiki lagi, mau jadi apa generasi penerus bagsa kelak.

     
  14. Erik henriawan

    November 5, 2012 at 3:58 am

    pendapat saya dari artikel di atas. artikel di atas mencermin ayah itu adalah pahlawan bagi keluarga selain itu selain itu menjadi seorang guru yang harus mempuyai tanggung jawab yang besar bagi murid-muridnya,cerita di atas juga menggambarkan tentang kerasnya perjuangan seorang ayah yang juga menjadi guru dan dia juga sangat bertanggung jawab bagi keluarga dan pekerjaannya. cerita ini juga mencerminkan tentang pendidikan di indonesia yang sangat buruk seperti kita ketahui bahwa banyak juga guru di indonesia yang kehidupannya seperti cerita di atas. tetapi rata-rata guru di zaman sekarang ini banyak yang lari dari kenyataan maksudnya yaitu tidak bertanggung jawab dari pekerjaannya.sosok seorang guru teladan seperti cerita tersebut tidak sepenuhnya menghilang dari dunia pendidikan. Walaupun memang jarang dan sulit untuk ditemukan, namun masih ada guru yang berusaha untuk selalu profesional dan konsisten dalam menjalani profesinya, tidak mengejar materi maupun peningkatan jabatan. Seperti contohnya guru-guru di daerah pedalaman rata-rata guru di sana kehidupannya sangat persis dengan cerita tersebut. pada intinya cerita di atas wajib di jadikan sebagai contoh kehidupan kita.

     
  15. Zalfa K

    November 5, 2012 at 4:07 am

    Saya setuju sepenuhnya dengan artikel ini. Seorang guru memang seharusnya mencontohkan hal- hal yang baik kepada muridnya. Seperti moral dan akhlak. Bapak guru tersebut sangat menekankan pengajaran moral dan akhlak terhadap murid- muridnya yang kelak harapan beliau murid- muridnya dapat mencontoh moral dan akhlak yang beliau ajarkan. Serta kerendah hatian sikap bapak guru tersebut dan juga keteladanan sang bapak guru yang beliau terapkan terhadap anak- anaknya juga patut dicontoh. Sang bapak guru tersebut benar- benar mengabdi untuk negeri.
    Melihat kondisi sekarang, ada sebagian guru yang berlomba- lomba mengejar materi berupa sertifikasi, dan murid- muridnya seakan terlantar dan kehilangan kesempatan dalam menuntut ilmu. Sang guru yang tak bertanggungjawab ini paling hanya mengandalkan tugas, dan seakan tidak mementingkan nasib murid- muridnya untuk ke depannya akan tindakan yang mereka lakukan.

     
  16. Muhamad Helan Chaeroni

    November 5, 2012 at 4:12 am

    Saya sangat setuju sekali dengan prinsip-prinsip yang diaajarkan oleh sesosok ayah menjadi seorang guru . Dia sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya dan tugasnya menjadi seorang guru . Ayah memiliki tekat yang kuat demi untuk para muridnya biarpun seterjal apapun jalannya dia hadapi dengan sabar. Zaman sekarang tak jarang kita temui guru yang benar-benar sepenuh hati melaksanakan tugasnya , jadi dia cuma mengajar sesuai dengan KTSP-NYA tanpa memberikan nilai-nilai yang baik untuk pendidikan karakter untuk kebaikan muridnnya .
    Saya berpesan semoga tahun – tahun kedepan banyak cerminan sosok “ayah” yang ada dalam artikel diatas yaitu guru yang dapat menanamkan sikap luhur , disiplin dan guru yang dapat menjadi inspirasi para muridnya . Agar taraf pendidikan kita tidak kalah dengan negara lain .

     
  17. Muhammad Taufiq Nur

    November 5, 2012 at 4:16 am

    Menurut saya, cerita yang berjudul Menatap Wajah Ayahku ini adalah cerita yang mengkedepankan masa lalu dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru namun pada akhirnya memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi untuk dunia pendidikan.
    Kalau melihat potret realita kehidupan sekarang, tentulah jauh dari apa yang diceritakan di cerita ini. Para guru (PNS) yang semestinya mengapdikan hidupnya untuk mengajar muridnya secara sungguh-sungguh, memberi contoh yang baik, serta tidak mementingkan materi ternyata sekarang hanya sedikit guru saja yang masih melakukannya. Dalam penggalan cerita ini, seorang ayah yang menjadi sosok guru yang selalu menjaga kerapian dan kebersihan di depan murid-muridnya ini adalah contoh yang bisa di bandingkan dengan kehidupan sekarang. Sekarang guru lebih suka berpakaian apa adanya yang penting tetap bisa mengajar. Dan dalam penggalan cerita juga dikatakan bahwa guru harus menjaga disiplin dan bangun pagi agar tidak telat mengajar tapi dalam kenyataan sekarang sungguh ironis, guru yang seharusnya menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya sering kali datang tidak tepat waktu dan yang lebih parahnya sering kali tidak hadir.
    Saya suka dan setuju dengan cerita yang berjudul Menatap Wajah Ayahku karena ada banyak pesan moral di setiap kalimatnya, ini juga bisa menjadi tolak ukur di kehidupan sekarang ini. Dan yang paling penting cerita ini dapat menjadi contoh yang bagus untuk guru di kehidupan saat ini dan yang akan datang.

     
  18. asmoro seto

    November 5, 2012 at 4:23 am

    pendapat saya dari artikel di atas. artikel di atas mencermin ayah itu adalah pahlawan bagi keluarga selain itu selain itu menjadi seorang guru yang harus mempuyai tanggung jawab yang besar bagi murid-muridnya,cerita di atas juga menggambarkan tentang kerasnya perjuangan seorang ayah yang juga menjadi guru dan dia juga sangat bertanggung jawab bagi keluarga dan pekerjaannya. cerita ini juga mencerminkan tentang pendidikan di indonesia yang sangat buruk seperti kita ketahui bahwa banyak juga guru di indonesia yang kehidupannya seperti cerita di atas. tetapi rata-rata guru di zaman sekarang ini banyak yang lari dari kenyataan maksudnya yaitu tidak bertanggung jawab dari pekerjaannya.sosok seorang guru teladan seperti cerita tersebut tidak sepenuhnya menghilang dari dunia pendidikan. Walaupun memang jarang dan sulit untuk ditemukan, namun masih ada guru yang berusaha untuk selalu profesional dan konsisten dalam menjalani profesinya, tidak mengejar materi maupun peningkatan jabatan. Seperti contohnya guru-guru di daerah pedalaman rata-rata guru di sana kehidupannya sangat persis dengan cerita tersebut. pada intinya cerita di atas wajib di jadikan sebagai contoh kehidupan kita.semoga ada ayah ayah yang lain yan dapat menginspirasi kita Amin YRA

     
  19. Haifa Arum Liestari

    November 5, 2012 at 9:55 am

    Saya salut dengan sikap seorang ayah yang di paparkan dalam artikel di atas . Saya salut dan menghargai perjuangannya demi menyalurkan pendidikan pada anak bangsa . Dan juga sifatnya sebagai ayah yang mengajarkan sendi sendi kerja keras , ulet dan pantang menyerah . Mengajarkan bahwa kesuksesan tidak akan datang tanpa kerja keras dan pengorbanan .
    Pada Zaman dulu dimana teknologi belum secanggih sekarang pendidikan seringkali di abaikan . Apalagi di daerah pedesaan yang sebagian besar penduduknya hanyalah tamantan sd atau bahkan tidak pernah mengenyam bangku pendidikan sama sekali . Orang tua terdahulu menilai bahwa bersekolah percuma , mereka lebih pada berpandangan negatif . Berpendapat bahwa sekolah hanyalah pekerjaan anak anak kota , Ketika sang anak ingin bersekolah orang tua mereka melarang , malah menyuruh anaknya membantu di sawah . Hal hal seperti ini yang sebenarnya menghancurkan mimpi dan masa depan si anak itu sendiri . Karena para orang tua terdahulu juga tidak mengajarkan / mengenalkan pendidikan . Jadi skema atau tatanan hidupnya sama . kurang memperhatikan pendidikan . jarangnya orang yang mau menjadi guru di daerah terpencil yang pada saat itu teknologi masih kurang .

    Seperti dalam artikel di atas meski tidak banyak yang berminat untuk menjadi guru di desa tersebut tetapi masih ada sosok ayah di dalam artikel tersebut yang mana tulus dan mengabdikan dirinya bukan semata-mata karena materi melainkan karena sebuah pengabdian . Jarang sekali pada zaman sekarang seorang guru yang memiliki sifat dan sikap seperti penggambaran sosok ayah sekaligus guru dalam artikel di atas . Yang ada pada zaman sekarng guru – guru sering tidak konsen dalam mengajar , bahkan sering malas – malasan untuk mengajar dan hanya meninggalkan tugas saja , atau bersikap semena – mena lantaran masalah yang sedang di hadapinya dalam keluarga . Bahkan ada juga sebagian guru yang dalam mengajar tidak optimal dan tidak memberikan hak sepenuhnya pada apa yang seharusnya murid dapatkan , Mereka hanya setengah setengah dalam menjelaskan . alhasil murid tidak faham dan agar nantinya murid murid meminta les tambahan dan menjadi masukan material untuk guru itu sendiri . Jaman sekarang hampir semuanya bisa di beli oleh uang termasuk nilai , mustinya seorang guru bisa bersikap adil dan mampu menjadi contoh yang baik untuk murid muridnya , tidak hanya mengajarkan pada akademik saja , melainkan juga pada akhlaknya .

     
  20. Adinda Aulia Chossanova

    November 5, 2012 at 10:43 am

    dalam artikel diatas menceritakan kehidupan seorang guru yang benar-benar mengeban tugas menjadi seorang guru yang seaslinya yaitu menjadi guru yang suri tauladan, yaitu memberikan contoh yg baik kepada muridnya pada cuplikan “Untuk bisa mengajari siswanya menjaga kebersihan dan kerapihan maka seorang guru harus memberi contoh mulai dari hal yang sederhana seperti berpakaian bersih dan rapi. bangun pagi dan berangkat ke sekolah tepat waktu”

    namun pada kenyataannya hanya segelintir guru yg memberikan contoh tersebut buat muridnya, seiring zaman era globalisasi yg berkembang dan membuat guru mengikuti arus zaman sifat asli guru yg selalu wibawa,terhormat dan elegan itu pun luntur.

    mungkin masih ada segelintir guru yg masih menggunakan metode yg disiplin tersebut contohnya dalam artikel tersebut beliau sosok yg tepat dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa mengedepankan kedisplinan,rajin dan memberikan contoh yg baik untuk muridnya

    sistem pendidikan di indonesia yg tidak merata dan fasilitas sarana dan prasarana yang tidak baik dan terpenuhi mungkin faktor utama yg membuat ragu untuk terjun di pendidikan diwilayah terpencil namun sosok Ayah disini iklas menerima dan sangat bertanggung jawab dengan tugasnya ini seharusnya dicontoh oleh guru-guru zaman sekarang yang lebih mementingkan sertifikasi untuk menunjang gaji yg tinggi tanpa memandang ilmu yg diberikan untuk murid.

    untuk terjun ke dunia pendidikan seharusnya seperti sosok Ayah yang benar-benar fokus dalam dunia pendidikan dan niat untuk mencerdaskan anak-anak indonesia, semoga ada guru yang mengikuti sosok Ayah ini .

     
  21. mayang wulandari putri wijaya

    November 5, 2012 at 11:09 am

    Menurut saya artikel ini memberikan pelajaran kepada kita pelajar Indonesia dan khususnya para guru , bahwa pendidikan itu sangat penting dan kita tidak boleh menyepelekannya. Di jaman sekarang karakter guru sudah sangat berbeda dengan karakter yang di artikel tersebut, banyak guru yang mengejar uang demi kesenangan sendiri akibatnya para murid hanya di beri tugas dan ringkasan dari guru, kalau begini bagaimana murid akan maju dan bisa? Sekarang banyak guru juga yang cacat dalam moral dan tidak menunjukan sikap teladan seorang guru misalnya : memukul siswa , memaki siswa bahkan melakukan aksi pornografi terhadap muridnya. Pendidikan di Indonesia jaman sekarang sudah kacau , karena banyak guru yang tidak mengajarkan tentang pendidikan karakter dan pembentukan akhlak, pada akhrinya banyak anak-anak yang sudah rusak moralnya. Berbeda dengan tokoh yang ada di artikel, tokoh guru yang di artikel lebih menekankan pada pembentukan akhlak pada murid, bukan semata-mata karena materi. Jaman dulu guru berusaha keras untuk membuat muridnya lebih maju, walaupun badai menerja mereka tetap datang ke sekolah. Namun tidak semua guru seperti itu , masih ada yang seperti pada tokoh yang ada di artikel. Saya tidak menyalahkan cara mengajar guru sekarang, tetpai saya melihat berdasarkan fakta yang ada.
    Pada jaman-sekarang fasilitas sekolah sudah melebihi cukup daripada jaman dulu yang pas-pasan, harusnya dengan seperti itu murid –murid harus lebih baik dan pintar ini karena faktor guru juga yang kadang tidak memberi semangat belajar kepada muridnya. Banyak sekarang guru yang bekerja tidak profesional , misalnya saja : korupsi waktu, akibatnya para murid tidak berbekal ilmu .Disiplin, tanggung jawab dan pantang menyerahlah sikap yang harus dilakukan seorang guru untuk memberi teladan kepada muridnya. Jika pendidikan Indonesia sudah tidak diperbaiki lagi, mau jadi apa generasi penerus bagsa kelak.

     
  22. Anita Ayu Rachmawati

    November 5, 2012 at 11:58 am

    Saya sependapat dengan Artikel diatas bahwa seorang guru tidak hanya mengajarkan materi di dalam kelas saja melainkan juga menjadi panutan yang baik bagi siswa-siswinya, Maka dari itu guru semestinya berpenampilan yang baik selayaknya seorang guru yang bisa menjadi contoh yang baik bagi siswanya. Di era sekarang,guru pun sudah berbeda dengan guru yang dulu dikarenakan guru sekarang lebih mengutamakan kepentingan sendiri dan mengejar sertifikasi dibandingkan dengan mengajar siswanya. Guru sekarang harusnya lebih mengajarkan tentang pendidikan karakter kepada siswa agar siswa lebih bisa menjadi siswa yang dapat bertanggung jawab,jujur,dan bijaksana. Selain itu guru pun mengajarkan agama,moral,etika yang lebih agar menjadi insan yang berbudi luhur. Akan tetapi dari sekian banyak guru yang ada di Indonesia sekarang,masih ada guru yang benar-benar menerapkan sistem belajar yang baik. contoh: Guru di pedalaman bisa mengajarkan siswanya dengan penuh kesabaran dan keuletan. Guru harus memiliki tanggung jawab yang besar dalam membangun karakter generasi bangsa yang berkualitas.

     
  23. RISKA NALIA PUMITA

    November 5, 2012 at 12:37 pm

    Artikel diatas adalah gambaran peran seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik yang tanpa pamrih dalam mengajar murid-muridnya meskipun dengan berbagai rintangan yang harus dia hadapi namun itu tidak membuat dia berputus asa. Dan selain dia dapat menjadi panutan bagi murid-muridnya dia juga mampu menjadi suri tauladan di masyarakat utamanya terhadap keluarganya. Itulah sosok guru yang mengabdi terhadap negara dengan sesungguhnya karena dia tidak pernah berharap negara memberikan balasan yang lebih untuk dia.
    Artikel di ataspun dapat menjadi landasan kita bahwa bagaimana kondisi pendidikan di negeri kita saat ini sangat jauh berbeda dengan isi artikel di atas . yang terjadi saat ini adalah guru tidak pernah memperhatikan pendidikan muridnya melainkan hanyalah memperhatikan kenaikan gajinya, akibatnya karena kurangnya perhatian guru terhadap muridnya maka siswapun lebih malas lagi untuk memperhatikan pelajarannya sehingga tak sedikit siswa yang tamat dari suatu sekolah dengan pengetahuan yang masih belum sesuai dengan tingkat pendidikannya. Yang ada hanyalah prilaku kriminal betapa tidak karena saat ini banyak kasus guru yang melanggar norma-norma sosial. Seperti kata pepatah ‘’guru kencing berdiri maka murid kencing berlari’’. Dengan artikel di atas dapat membuka hati kita untuk memperhatikan kondisi pendidikan di negara kita saat ini dimana sekolah saat ini bukan menjadi tempat menimba ilmu melainkan hanya menjadi tempat untuk menambang rupiah. Maka tak heran indonesia dulu menjadi tempat belajar bagi negara malaysia namun saat ini indonesia balik belajar ke malaysia, hal ini tidak lain karena tak ada perhatian guru terhadap peserta didiknya.

     
  24. hanifah puzi lestari (31001200142)

    November 5, 2012 at 12:59 pm

    Cerita yang sangat menarik sekali,tentang keikhlasan seorang guru yg mengajar didaerah terpencil. Seorang guru yang tak hanya mengejar materi untuk dirinya sendiri tetapi memberikan ilmu yg bermanfaat bagi org lain. Sudah jarang sekali atau hampir tidak ada org yg seperti bapak guru itu. Dijaman sekarang org hanya mementingkan perutnya sendiri daripada org lain. Semuanya mencari materi. Ilmu yg mereka dapat hanya sedikit yg mereka bagikan untuk org lain,itu salah satu turunnya mental siswa.

     
  25. R Zarkasyi

    November 5, 2012 at 1:32 pm

    Guru adalah kerata basa yang berasal dari kata “kudu digugu lan ditiru”. Kalimat ini berarti “harus dipatuhi dan diteladani”. Kerata basa ini memiliki makna bahwa setiap siswa harus mematuhi segala ucapan guru dan meneladani segala prilaku guru. Ini juga mengisyaratkan bahwa setiap guru harus bijak bersikap sehingga mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi setiap muridnya.
    Guru dalam perspektif Islam tidak hanya seseorang yang hanya mengajarkan suatu ilmu, merupakan seseorang yang tidak hanya mengajar tetapi juga “mendidik”. Kata mendidik sangat banyak sekali penafsirannya, memiliki arti yang luas yaitu dari akhlak, prilaku, dan tingkah laku.
    Allah SWT berfirman:
    وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُم طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون(التوبة:122)
    Yang dimaksud pada ayat ini bahwa tidak sepatutnya mukmin itu semua pergi (ke medan perang), tapi haruslah ada yang menuntut ilmu, agar ia dapat mengajarkan ilmunya setelah ia pergi.
    Kehadiran guru dalam proses pembelajaran merupakan peranan yang penting, peranan guru itu belum dapat digantikan oleh teknologi seperti radio, internet maupun komputer yang paling modern. Banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan keteladanan yang diharapkan dari hasil proses pembelajaran, yang tidak dapat dicapai kecuali melalui pendidik.
    Guru sebenarnya, tidak hanya orang yang bekerja sebagai guru, tetapi semua manusia adalah guru. Guru bagi keluarganya, teman-temannya, dan saudara-saudaranya. Karena seseorang adalah panutan seseorang lain. (المسلم مرآة أخيه)

    Maka dengan demikian, patutnya seluruh manusia bercermin kepada Rasulullah SAW, guru dan pendidik, suri tauladan bagi seluruh umat manusia.

     
  26. umar

    November 5, 2012 at 1:57 pm

    setelah saya membaca artikel diatas, saya sangat perihatin dengan adanya Seorang guru SMP tega mencabuli siswinya sendiri berulangkali bahkan hingga sang siswi hamil. Ironisnya aksi bejat guru tersebut tidak hanya dilakukan pada 1 orang karena saat akan menikahi korban muncul sosok wanita muda lain yang mengaku juga dihamili tersangka. karena pada dasarnya guru harus dapat menjadi contoh baik bagi anak didiknya dan mempunyai sikap:
    1. Adil, Jujur dan Objektif.
    2. Sabar dan Rela Berkorban
    3. Komitmen atau Keteguhan Hati
    4. Percaya dan Cinta Kepada Anak Didiknya
    5. mempunyai akhlak yang baik
    apabila guru telah memiliki sikap seperti di atas, maka siswa yang dapat menjadi contoh di wilayah tempat tinggalnya masing-masing dan dapat berguna bagi bangsa indonesia khususnya.
    tidak seperti sebagian karakteristik siswa yang ada di indonesia sekarang yang hobynya hanya tawuran dan mengkomsumsi narkoba.

     
  27. gutri dewi solika

    November 5, 2012 at 2:31 pm

    Komentar saya yaituseorang sosok ayah yang berprofesi sebagai seorang guru yang berumur lebih dari 35 tahun, beliau mengabdikan dirinya untuk mendidik para penerus bangsa ini, yang tidak lelah memberikan ilmunya kepada muridnya dan tak pernah pantang menyerah, juga tidak pernah mengeluh dalam melintasi jalan berlumpur agar bisa sampai di sekolah. Selain itu iya berprinsip bahwa, seorang guru bukanlah sosok yang sekedar menularkan ilmu pengetahuan melainkan juga menjadi suri tauladan bagi murid-muridnya. Seorang guru yang bertanggung jawab dengan profesinya dan sosok ayah yang patut untuk dicontohi oleh keluarga maupun anak-anaknya. Dia member contoh mulai dari hal yang sederhana, selain itu juga dalam keluarganya iya mengajarkan disiplin dengan kebiasaan bangun pagi.
    Pada kenyataannya pendidik sekarang yang cukup memprihatinkan, menggunakan kata-kata kasar, kotor dan melemahkan mental siswa, tidak sedikit juga guru yang membawa masalah rumah tangga ke sekolah, membuat mereka mudah marah dan tidak fokus dalam mendidik. Kenyataannya para guru sekarang yang lebih memfokuskan mencari materi dari pada mengabdi buat keberhasilan anak didiknya. Ada keegoisan dari sang guru ketika kepentingan pribadi mengalahkan hak dari peserta didik.
    Dari kenyataan di atas sebagian besar guru yang mementingkan urusan pribadinya di bandingkan dengan kewajibannya sebagai seorang guru yang harus bertanggung jawab atas profesinya. Apa bila kita menginginkan buah yang baik maka kita harus mendidik murid-murid dengan prilaku yang baik agar murid tersebut mengikuti apa yang kita telah contohkan maka murid tersebut mendapatkan kesuksesan yang diraihnya. Seorang guru tentu bangga bahwa muridnya sukses dalam meraih cita-citanya. Seorang guru yang menularkan ilmunya tidak sia-sia yang ia ajarkan maka seorang guru tidaklah mudah untuk membalikkan telapak tangan yang penuh perjuangan, keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan.

     
  28. kristiawan dhori saputra

    November 5, 2012 at 4:02 pm

    Kisah seorang ayah sekaligus berprofesi sebagai guru walaupun di tempatkan di sebuah daerah terpencil seorang guru rela mengjar demi kecerdasan murid murid tidak perduli di mana dia di tempatkan dia tetap semangat mengjar para murid dia adalah guru yang patut di contoh selalu mengajarkan kebaikan dan kebersihan tidak pernah menurunkan minat belajar siswa disiplin datang tepat waktu dan juga sebagai seorang ayah yang tidak pernah mencampurkan urusan keluarga dengan sekolah itu sosok ayah yang baik walaupun keaadan sangat terbatas dan fasilitas sangat minim namun dengan semangat belajar mampu merubah masa depan dan telah banyak yang sukses,berbeda dengan sekarang yang hanya mementingkan materi saja sehingga kehilangan daya nalar dan nuraninya para siswa juga hanya mengejar nilai bukan pengetahuanya sehingga banyak siswa tawuran dan akhlak pun di abaikan.

     
  29. SINTA SRIYANA SAKTI

    November 5, 2012 at 4:23 pm

    cerita diatas sangat mempengaruhi batin dan naluri saya untuk menjadi seorang pendidik yang sangat sabar seperti si Ayah dalam cerita tersebut. Menjadi seorang pendidik bukan hanya menjadi pendidik yang mengamalkan segala ilmunya kepada anak didikannya. Akan tetapi, menjadi seorang pendidik juga harus memberikan contoh yang dapat membuat anak didikannya menjadi baik dan disiplin serta memiliki ahlak yang baik. Ketika seorang pendidik mempunyai sikap yang tidak disiplin, maka anak didikannya akan mengikuti sikap dari si Pendidik.
    Menjadi seorang guru tidaklah mudah. Meskipun seorang guru mudah untuk memberikan segala ilmunya kepada anak didikannya, tapi apakah seorang guru tersebut mampu mendidik perilaku anak didikannya? pada zaman era globalisasi yang semakin canggih, semakin meningkat tidaklah mudah kita menemukan seorang guru yang mampu mendidik anak didikannya untuk menjadi anak yang baik, akan tetapi lebih mendidik anak didiknya menjadi lebih cerdas dan paham akan ilmu yang diberikannya. Menjadi seorang pendidik yang memiliki sikap dan sifat yang baik, sangatlah sulit ditemukan pada era globalisasi saat ini. Menemukan seorang guru yang memperhatikan sikap kebaikan, kebersihan dan kedisiplinan yang slalu diutamakan dalam didikannya sangat sulit ditemukan dalam era globalisasi ini. Meskipun, deorang pendidik tidak mengajarkan hal-hal tersebut secara materi, tetapi dengan perlakuannya yang baik, bersih dan disiplin mampu menghipnotis anak didikannya ikut terjun dalam sikap yang akan menjadi suri tauladan pada anak didikannya.
    Hal utama untuk menjadi seorang guru adalah mencintai profesinya sebagai guru dan mempertanggung jawabkannya. Melakukan tugas sebagai pendidik dan pengajar (guru) harus didasari dengan niat yang tulus dan ihklas bukan karena menginginkan gaji ataupun uang.
    ketahuilah, tanpa guru klita tidak bisa menjadi apa yang kita inginkan. Menjadi seorang Presidenpun, mereka juga mendapatkan ilmu dari seorang guru.
    Menjadi seorang guru merupakan tanggung jawab besar utuk menjadikan anak didikannya menjadi cerdas dan memiliki ahlak yang baik.
    Guruku adalah pahlawanQ, pahlawan yang memiliki cahaya terang dalam menuntas kebodohan dan perilaku tidak baik dalam kegelapan.

     
  30. hanifah puzi lestari

    November 5, 2012 at 4:24 pm

    cerita yang sangat menarik sekali, tentang keikhlasan seorang guru yang ,mengajar didaerah terpencil. seorang guru yang tak hanya mengejar materi untuk dirinya sendiri tetapi memberikan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. sudah jarang sekali atau hampir tidak ada orang yang seperti bapak guru itu. dijaman sekarang ini orang hanya mementingkan perutnya sendiri daripada orang lain. semuanya mencari materi. ilmu yang mereka dapat hanya sedikit yang mereka bagikan untuk orang lain. itu salah satu turunnya mental para siswa.

     
  31. Zulkang(31001200150)

    November 5, 2012 at 4:29 pm

    Jika kita melihat dari artikel tersebut di atas maka kita dapat mengetahui bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap siswa dan semua itu tidak terlepas dari peran seorang guru sebagai pendidik. Guru mempunyai peran yang sangat penting dalam kemajuan pendidikan itu sendiri, dan seorang guru tidak cukup hanya memiliki kecakapan akademik namun juga harus mempunyai moral yang baik, karena guru merupakan seseorang yang akan menjadi panutan bagi para siswanya.
    Jika kita melihat kenyataan yang ada pada zaman sekarang ini maka tentu saja akan sangat jarang ditemukan sosok guru seperti yang digambarkan dalam artikel tersebut. Pada umumnya guru sekarang lebih mementingkan jabatan daripada mengurus para siswanya, dan kebanyakan dari mereka hanya mengajarkan pendidikan akademik saja kepada para siswanya tanpa memikirkan pendidikan moral, akibatnya banyak siswa yang tawuran, memakai narkoba, merokok serta perilaku negatif lainnya sebagai akibat dari moral mereka yang rusak karena kurangnya pendidikan moral itu sendiri.
    Jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, maka semakin lama bangsa kita ini akan menjadi bangsa yang tidak bermoral. Mungkin bisa saja dengan perkembangan teknologi yang ada pada zaman sekarang ini banyak generasi-generasi cerdas yang akan tumbuh. Namun kecerdasan tanpa dilandasi akhlak yang baik malah akan semakin merusak Bangsa kita ini, mereka justru akan menggunakan kecerdasan hanya untuk kepentingan pribadi mereka tanpa memikirkan kepentingan orang lain dan ini akan menimbulkan suatu kehidupan yang tidak stabil yang malah akan semakin memperburuk keadaan.
    Oleh karena itu seorang guru dalam melaksanakan sistem pendidikan harus memperhatikan keseimbangan antara pendidikan akhlak dan pendidikan akademik agar tercipta generasi-generasi bangsa berkualitas yang cerdas dan dilandasi oleh Iman dan Takwa, yang nantinya akan membangun bangsa kita ini menjadi bangsa yang besar yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa yang lainnya di dunia internasional.

     
  32. Aulia Ainin Rokhmah

    November 5, 2012 at 4:58 pm

    pendidikan karakter haruslah ditanamkan sedini mungkin, agar akhlak, moral, sikap, tingkah laku para penerus bangsa dapat lebih baik dari era sekarang ini, sikap, perilaku, dan wibawa yang ditunjukkan oleh Ayah diatas membuat saya tersadar bahwa hal-hal sekecil apapun dapat kita ambil maknanya apabila kita melakukan dengan hati, ikhlas, penuh syukur. Banyak hal yang perlu diteladani dari sosok Ayah diatas, seperti bagaimana cara dia menjaga penampilan, kesopanan, wibawa serta pembawaan yang selalu tenang dalam menghadapi tiap masalah.

     
  33. Radhyta Mahenda Mukhsin

    November 5, 2012 at 5:20 pm

    Menurut saya isi artikel diatas sangat berhubungan yang menggambarkan tentang bagaimana cara mendidik seorang guru terhadap anak muridnya dan bagaimana cara mendidik seorang ayah terhadap seorang anaknya
    Pada jaman saat ini sebagaimana kita lihat kebanyakan seorang guru mengajarkan atau mendidik anak muridnya dengan cara yang tidak sebagaimana mestinya,seperti mengajarkan pelajaran hanya dengan memberi tugas dan tugas,tidak menerangkan tentang bagaimana materi tersebut agar mudah dipahami oleh murid-muridnya dan kelak menjadi ilmu yang bermanfaat untuk muridnya
    Seperti halnya seorang ayah yang kebanyakan tidak mengajarkan ilmu moral,akhlak dan kepribadian yang baik dan benar terhadap anak-anaknya sehingga kebanyakan anak-anak sekarang tidak mengerti lagi tentang sopan-santun
    Menurut saya baik profesi seorang guru dan pribadi seorang ayah bukan hanya memiliki peran untuk mencari nafkah bagi keluarganya, namun berkewajiban juga untuk mendidik anak didiknya dengan baik dan benar
    Seperti saat pertama kita lahir tentunya para orang tua berdo’a untuk anaknya agar kelak bisa bermanfaat bagi Agama, masyarakat, dan Bangsa, serta menjadi kebanggaan keluarga. harapan-harapan itu tentunya harus dibarengi dengan peran sang Ayah untuk mendidik sang anak. seperti halnya seorang guru, dia menginginkan murid-muridnya untuk membawa nama baik almamater, baik itu melalui perlombaan Akademik ataupun non Akademik. dan menginginkan agar kelak bisa ilmu yang di berikan semasa di bangku pendidikan bisa berguna dan bermanfaat untuk hal yang positif.

     
  34. Yulyfatun

    November 6, 2012 at 2:15 am

    menurut saya artikel tersebut sangat bagus sekali, apalagi kalau dibaca oleh para pendidik yang ada di Indonesia supaya termotivasi dan menyadari untuk memperbaiki system pembelajaran dan pendidikan yang faktanya sekarang ini sekolah maupun universitas lebih mementingkan nilai materi daripada kualitas dan kemampuan siswa maupun mahasiswa. Selain itu pada faktanya system pendidikan sekarang ini lebih menuntut murid maupun mahasiswa untuk mendapatkan nilai tertinggi, selain tuntutan hasil nilai ujian dan rapot yang tinggi, siswa juga dituntut untuk tetap mengejar maupun mempertahankan prestasi dan akreditasi yang lebih baik untuk sekolah atau suatu universitas, tanpa memperhatikan sikap dan perilaku siswa atau mahasiswanya, meskipun hasil yang diperoleh tidak berdasarkan hasil murni usaha sendiri tetapi hasil kecurangan dan kebohongan yang dampaknya di masa depan dapat merugikan bangsa ini seperti contohnya korupsi . untuk itu saya berharap para pendidik dan pemerintah baik para guru, dosen maupun pendidik lainnya serta dinas pendidikan saling bekerjasama memperbaiki system pendidikan di Indonesia lebih-lebih memperbaiki sikap dan perilaku para pendidik yang paling utama, sehingga nantinya berpengaruh baik dan yang lebih penting adalah moral yang ditanamkan bisa membawa pengaruh positif bagi sikap dan perilaku para generasi penerus bangsa.

     
  35. inka farahnas (31001200152)

    November 6, 2012 at 4:10 am

    hal yang paling membanggakan ketika mempunyai ayah seperti cerita di atas. sudah seharusnya seorang guru bersikap, berfikir dan bertindak seperti itu. guru tidakseharunya mementingkan materi semata dan mengabaikan tugasnya sebagai seorang pendidik yang menjadi tauladan bagi murid-muridnya. tapi tidak bisa di pungkiri bahwa sekarang jarang sekali ada seorang guru yang benar-benar bisa menjadi tauladan bagi murid-muridnya. semoga saja banyak yang membaca cerita di atas terutama bagi guru dan calon guru yang ingin mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. perilaku guru-guru sekarang juga sangat jauh dengan perilaku guru-guru yang di ceritakan oleh cerita di atas. jadi harapan kami sebagai pelajar kepada para pengajar jangan hanya mementingkan materi semata sehingga tugas-tugas sebagai pengabdi bangsa terabaikan.

     
  36. wiwiek aryanti

    November 6, 2012 at 4:35 am

    Menurut saya, artikel ini sangat membangun. Seorang ayah seperti sosok yang di ceritakan diatas adalah ayah impian bagi semua anak. Sosok guru seperti diatas bisa menjadi taulada bagi guru-guru lainnya. Dia menjadi guru bukan dengan tujuan mencari materi. Tetapi ingin mengajari siswanya untuk menjadi generasi penerus yang jujur dan bisa memberi manfaat bagi orang banyak. Walaupun banyak rintangan yang menghadang, tapi dia tidak pernah menyerah.

     
  37. inten meilani purnamasari

    November 6, 2012 at 5:09 am

    Menurut saya , di zaman sekarang ini sudah sangat jarang ditemukan seorang guru seperti sosok guru yang diceritakan pada cerita tersebut . sosok guru yang tauladan dan bertanggung jawab terhadap kewajibannya yang bisa menjadi tolak ukur bagi siswa dan guru lainnya . disamping itu juga, seorang ayah yang bisa memotivasi anaknya untuk tetap mengutamakan kedisiplinan dirumah maupun disekolah untuk tetap menjaga kebersihan dan kerapihan diri. Kebanyakan di zaman yang sekarang ini guru mencari ilmu yang lebih tinggi bukan hanya untuk menularkan ilmu yang ia dapatkan kepada siswanya melainkan untuk mendapatkan sertivikasi atau gaji yang lebih tinggi dan terkadang tidak memenuhi kewajibannya untuk mengajar , contoh guru seperti itu yang cacat moral bisa membuat generasi penerus menjadi rusak . sehingga , sangat banyak pelajaran yang dapat dipetik dari cerita tersebut untuk terus dipahami .

     
  38. Siti Dewi Muksinah

    November 6, 2012 at 6:22 am

    Menurut sya seorang guru yang sekarang dan seorang guru yang dahulu sudah berbeda. guru yang sekarang pahlawan dengan tanda jasa sedangkan guru yang dahulu pahlawan tanpa tanda jasa. murid zaman sekarang dan murid zaman dahulupun berbeda. guru zaman sekarang lebih mementingkan gaji dari pada mendidik murid. fasilitasnya pun berbeda. sekarang banyak murid yang lebih pntar dari pada gurunya. menurut wiliam chander bagley pendidikan ialah yang ketika dengannya kita dapat melakukan suatu experimen yang akan menjadikan tugas dan aktivitas kita menjadi ebih sempurna. tapi mahasiswa yang sekarang lebih suka copy paste dan tidur ketika di jelaskan dan ha ini jauh berbeda dengan kondisi zaman dahulu.

     
  39. Titis Putri

    November 6, 2012 at 6:34 am

    Artikel ini sangat bagus untuk memotifasi pendidikan yang ada di Indonesia…Mungkin bisa dijadikan bahan untuk perubahan pendidikan yang sekarang ini jauh dari moral dan akhlak. Saya berharap siapa saja yang membaca artikel ini dapat termotifasi khususnya para pendidik seperti guru dapat bekerja sama memperbaiki sistem pendidikan di negara kita ini karena pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan, jauh dari moral2 yang semestinya, sehingga akan membawa pngaruh positif bagi moral generasi penerus bangsa.

     
  40. muhammad alwani

    November 6, 2012 at 7:05 am

    Zaman sekarang memang jarang guru-guru yang memiliki profesionalisme yang memadai (merancang, melaksanakan, dan menilai hasil pembelajaran, serta melakukan bimbingan pelatihan dan pengamatan terhadap muridnya, juga tulus mengabdi ) dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan pengajar . Selain itu, secara kuantitas jumlah guru di Indonesia sudah cukup memadai, tapi secara kualitas masih kurang. Penyebaran guru yang tidak merata juga masih terlihat saat ini, banyak sekolah yang kekurangan guru namun tidak sedikit pula sekolah yang kelebihan guru.
    kalau sudah demikian Insya Alloh pendidikan yang berlangsung di sekolah bisa secara seimbang dapat mencerdaskan kehidupan anak dan harus menanamkan budi pekerti kepada anak didik. “Sangat kurang tepat bila sekolah hanya mengembangkan kecerdasan anak didik, namun mengabaikan penanaman budi pekerti kepada para siswanya.

     
  41. Muhammad Rivaldi Rafsanjani

    November 6, 2012 at 8:35 am

    Saya sangat sependapat dengan tulisan tersebut, karena pada saat ini memang semakin sulit mendapatkan guru yang betul-betul mengajarkan kita tentang apa arti sebenarnya dari pendidikan yang baik, sekarang lebih banyak guru yang sekedar mengajarkan kita tentang ilmu pengetahuan, tetapi tidak mengajarkan kita tentang pendidikan akhlak dan lain sebagainya. Semoga yang ingin menjadi guru kelak bisa meneladani tokoh ayah tersebut, karena dengan seperti itu negara kita pasti bisa lebih maju lagi.

     
  42. Ⓓio̷n̷ Ⓝu̷gra̷ha̷ ㋡ (@itsyondion)

    November 6, 2012 at 10:53 am

    Artikel diatas menurut saya sangat bagus, apalagi jika dibaca oleh Para Guru/Pengajar di Indonesia yang kebanyakan lebih mengutamakan “Materi” daripada Pendidikan. Tidak sedikit juga guru yang terkadang Menerangkan Pelajaran tetapi keluar dari materi pelajaran dan malah bercerita tentang Keluarga ataupun Rumah Tangganya, yang seharusnya tidak perlu diceritakan kepada Murid-muridnya. Di Indonesia pun hingga saat ini masih banyak guru yang tidak disiplin, berpakaian tidak rapi, menggunakan kata-kata kasar, kotor dan melemahkan mental siswa, yang sejatinya tidak layak disebut sebagai seorang pendidik. Karena jika seorang guru memiliki cacat moral baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di sekolah, maka dia tidak bisa lagi menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya. Karena itu guru sebagai seorang pendidik tidak cukup hanya memiliki kecakapan akademik tetapi juga harus bersih dari cacat moral. Dan saya sangat salut dengan sosok Seorang Guru/Ayah yang Lebih mengutamakan Pendidikan untuk Murid-muridnya ketimbang mencari Materi ataupun Sertifikasi seperti yang ada dalam Artikel diatas.

     
  43. Ahmad Fadzil (@fadziI_)

    November 6, 2012 at 12:12 pm

    Begitu hebatnya sosok ayah dalam sepenggal cerita diatas🙂
    Beliau yang masih mengedepankan pendidikan moral dan mempunyai fokus untuk membentuk akhlak karimah terhadap anak didiknya patut kita teladani.
    Memang tidak dapat terpungkiri bahwa kondisi pendidikan di negara kita saat ini cukup memprihatinkan , melihat dari maraknya tawuran , kekerasan , dan beberapa tindakan kriminal yang terjadi di lingkup para murid sekolahan. Hal ini mungkin dapat dikarenakan para pendidik yang kurang mengedepankan tanggung jawab untuk mengajar , dengan lebih mementingkan materi.
    Namun dalam kondisi seperti ini kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan para pendidik karena peran keluarga juga tidak kalah penting dalam mendidik seseorang.
    Sejatinya pendidik utama untuk seorang murid adalah keluarga , khususnya orang tua, karena orang tualah yang dapat lebih membentuk karakteristik anaknya.

     
  44. ana luqmana

    November 6, 2012 at 2:36 pm

    Maraknya tawuran di kalangan remaja bukan karena kesalahan pelajar semata. Peran orangtua dan guru sangatlah berarti dalam membentuk pelajar yang tidak hanya pandai ilmu tetapi juga berakhlak mulia. Kewajiban guru adalah mendidik secara kognitif,psikomotorik dan afektif. Keseimbangan antara ketiganya akan menghasilkan pribadi yang dapat bertanggungjawab dan bermanfaat dalam masyarakat. Yang harus dipertimbangan bukan hasil akhir saat ujian nasional tetapi proses saat belajar mengajar,dimana aspek kognitif,psikomotorik dan afektif harus benar-benar berjalan seimbang. Pemberian tunjangan sertifikasi bagi guru yang telah memenuhi syarat justru membuat guru hanya berorientasi pada materi. Karena banyak guru yang justru memaksakan untuk memenuhi syarat dalam mendapat sertifikasi. Seperti harus mengajar 24 jam. Akibatnya guru memaksakan diri mengajar tidak sesuai dengan kompetensinya sehingga merugikan pelajar karena tidak mendapat pendidikan dari segi ilmu,praktik dan sikap. Tetapi siswa hanya sebagai alat seorang guru dalam mengejar sertifikasi. Adanya aturan yang mengharuskan pelajar meraih nilai dalam batas tertentu justru tidak memperbaiki keadaan. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang harus dicapai siswa diperoleh bukan melalui cara yang “halal” tetapi dipaksakan agar tuntas sesuai apa yang disyaratkan. Dan akibatnya, yang penting dapat nilai tuntas meskipun tidak sesuai kenyataan. Kenyataan seperti inilah yang harus diperbaiki dalam dunia pendidikan kita. Guru yang ideal adalah guru yang seperti sosok ‘ayah’ dalam artikel. Yang tidak egois dan dengan tulus hati mendidik siswa melalui teladan yang baik. Dibuktikan dengan kesediaannya ditempatkan selama berpuluh tahun di pedalaman. Guru yang seperti ‘ayah’ pada zaman sekarang hanya 1 diantara 1000. Kebijakan pemerintah yang memberi tunjangan sertifikasi harus ditinjau ulang. Dan, yang terpenting bukan hasil akhir tetapi proses dalam mendidik siswa menuju pribadi yang pandai dalam ilmu dan berbudi dalam perilaku.

     
  45. Siti Jumiah Islamiati Bisman

    November 6, 2012 at 3:23 pm

    Pada dasarnya setiap ayah akan memberikan contoh yang baik kepada anaknya. Disini bisa kita ambil contoh dari sebuah pepatah “Pengalaman adalah guru terbaik”. Semua manusia mempunyai kisah di masa lalu, entah itu kisah yang baik ataupun buruk yang kelak akan di ceritakan pada anak-anaknya untuk menjadi sebuah motivasi. Kejadian seperti di atas sudah banyak kita temukan di kehidupan sehari-hari yang bisa kita ambil pesan positifnya. Dan masalah banyaknya pelanggaran yang telah banyak di lakukan para guru ataupun siswa semua itu tidak dapat di hindari karna mereka hanya manusia biasa yang mungkin saja tidak bisa mengendalikan diri dari kehidupan dunia serta dengan semakin berkembangnya zaman yang medern sehingga tidak heran anak sekolah sekarang bertingkah laku tidak baik karna telah terpengaruh budaya luar yang tidak mempunyai aturan. Dan yang terpenting menurut saya segala kebaikan itu berada pada pengendalian diri seseorang untuk bisa memampukan dirinya menjadi contoh yang baik atau buruk bagi semua yang ada di sekitarnya.

     
  46. muchammad qoni

    November 6, 2012 at 4:15 pm

    Artikel yang bagus untuk membuka mata, hati para pendidik akan pentingnya sebuah pendidikan .Ayah, Guru menurut saya hubungan anak, ayah,dan guru seharusnya bisa lebih dekat layaknya seperti teman bermain. ketika seorang anak, murid, ayah, guru benar-benar menjadi seorang teman perasaan nyaman akan terasa. jadi keduanya tidak akan mementingkan urusan pribadi mereka seperti mencari sertifikasi atau apalah itu.

     
  47. akhanggas

    November 9, 2012 at 9:10 am

    ini….. bikin a juga ikutan😉

     
  48. arisentani

    November 14, 2012 at 1:20 pm

    hehehehehe, orang tua kita sama-sama guru yang membesarkan anaknya dengan penuh perjuangan mas

     
    • mubarok01

      November 16, 2012 at 1:34 am

      iyo ri, miris juga nek melihat semangat guru sekarang, beda dengan jaman dulu, semoga pendidikan kita semakin baik ke depannya

       
  49. Gunung Ayu Pertiwi

    November 17, 2012 at 2:47 pm

    Bapak dan Ibuku jg guru Mub🙂 sedikit banyak aku tahu idealisme dan cita2 mulia mereka. mau tidak mau seorang guru harus berkembang sesuai dengan zaman yang mereka hadapi, tentu saja tanpa harus meninggalkan prinsip2 dalam mendidik, dan dalam memberikan tauladan kepada murid-muridnya. tantangan seorang guru semakin berat…tp juga semakin menantang. yang pasti mereka tidak bisa bekerja sendiri, elemen keluarga, lingkungan masyarakat, perkembangan IPTEK jg memberikan pengaruh yang besar. tetap angkat topi untuk semua guru..semoga mereka tetap bersemangat untuk menghasilkan generasi bangsa yang cerdas otak dan cerdas hati..amin🙂

     
    • mubarok01

      November 17, 2012 at 5:54 pm

      Bener, mereka mengajarkan banyak hal meskipun menghadapi banyak tantangan. Demi masa depan bangsa ini

       
  50. Mister Nashrudien

    November 26, 2012 at 5:04 am

    Subhanalloh sungguh luar biasa.. Saya sebagai guru ini sangatlah belum ada apa2nya dg pak guru ini.. Smg saya bs mjd guru.. Ya guru spt bapak ini…

     
    • mubarok01

      November 27, 2012 at 3:09 am

      terimakasih komennya, Insyaalloh bisa mas, ayo semangat, kan mendidik bukan sekedar pekerjaan tetapi investasi kebaikan yang amalnya tidak terputus

       
  51. Dzulfikar

    November 27, 2012 at 7:52 am

    inspiratif, guru-guru di pedalaman tak habis-habisnya memberikan cerita yang inspiratif. Semoga mereka semua bisa lebih sukses dan dimudahkan dalam segala urusan. Salam kenal
    http://dzulfikaralala.wordpress.com

     
    • mubarok01

      November 28, 2012 at 12:41 am

      iya,semestinya mereka mendapat penghargaan yang layak tanpa perlu meminta atau bahkan mengemis perhatian.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: