RSS

PEREMPUAN DAN KETAHANAN PANGAN KELUARGA

09 Oct

Persoalan ketahanan pangan menjadi isu yang senantiasa relevan untuk diperbincangkan. Ketahanan pangan menyangkut kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi selain sandang dan papan. Hingga saat ini, ketahanan pangan Indonesia diakui masih sangat kurang, sehingga kemungkinan Indonesia akan terkena dampak dari terganggunya suplai pangan dari negara lain. Hal tersebut diungkapkan Perum Bulog (SuaraMerdeka.com/28/7/2012). Penyebab kerawanan ketahanan pangan Indonesia bersumber dari kurangnya diversifikasi pangan, ketergantungan dengan pihak lain, dan kurangnya produksi pangan dalam negeri.
Hingga saat ini beras masih menjadi sumber pangan utama yang dikonsumsi masyarakat. Bahan pangan lain seperti ketela, jagung, dan sagu belum menjadi pilihan utama masyarakat. Permintaan beras selalu meningkat, sementara produksi dalam negeri belum mampu memenuhi. Akibatnya, pilihan impor beras dari negara lain dianggap sebagai solusi terbaik untuk mengatasi kekurangan pangan. Baru-baru ini pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan untuk membeli beras dari Kamboja dengan volume 100.000 ton per tahun (antaranews.com/28/8/2012). Impor tersebut digunakan untuk menjaga ketersediaan beras dalam negeri mengingat produksi beras nasional masih belum mencukupi.
Ketahanan pangan keluarga
Ketahanan pangan nasional dibangun dari ketahanan pangan keluarga. Sebagai satuan sosial terkecil keluarga menjadi pondasi kekuatan ketahanan pangan nasional. Ketika kebutuhan pangan dalam keluarga tercukupi secara konsisten maka ketahanan pangan nasional akan terjaga. Pilar ketahanan pangan dalam keluarga bertumpu pada kemampuan seorang ibu untuk mengatur kebutuhan dapur. Peran nyata tersebut menunjukkan pentingnya peran dan kiprah perempuan dalam menjaga ketahanan pangan keluarga yang berimbas pada ketahanan pangan nasional.
Peran perempuan dalam menjaga ketahanan pangan keluarga setidaknya terbagi dalam tiga hal: pertama, kemampuan untuk mengatur ekonomi keluarga sehingga mampu untuk membeli kebutuhan pangan. Pepatah mengatakan tidak boleh besar pasak daripada tiang (pengeluaran tidak lebih besar dari pendapatan). Kemampuan seorang ibu untuk mengatur ekonomi keluarga akan sangat berpengaruh pada ketahanan pangan keluarga. Penghasilan yang diperoleh dibelanjakan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Skala prioritas dalam mengelola keuangan keluarga menjadi pertimbangan dalam mengalokasikan penghasilan. Pada titik inilah kontinuitas ketahanan pangan keluarga dipertaruhkan. Jika seorang ibu tidak mampu mengelola ekonomi keluarga, maka ketahanan pangan juga akan terganggu.
Kedua, kreatifitas perempuan dalam melakukan diversifikasi pangan. Seorang anak yang sejak kecil dibiasakan untuk mengkonsumsi karbohidrat dari beragam jenis makanan seperti ketela, jagung dan sagu kelak akan terbiasa mengkonsumsi pangan non beras. Pembiasaan ini penting agar diversifikasi pangan yang dicanangkan secara nasional bisa tercapai. Kreatifitas perempuan dalam menyajikan diversifikasi pangan ternyata juga dipengaruhi kondisi alam dan sosial budaya di sekitarnya.
Sebagai contoh kaum perempuan di Gunung Kidul Yogyakarta terbiasa menyimpan gaplek dan tiwul untuk masa paceklik. Kondisi alam yang kekeringan dan mengandalkan air hujan untuk bercocok tanam membuat produksi padi tidak bisa dilakukan sepanjang tahun. Untuk mengantisipasi kondisi ini perempuan di Gunung Kidul sudah menyiapkan gaplek dan tiwul yang berbahan ketela agar ketahanan pangan keluarga tetap terjaga. Ketela termasuk bahan pangan yang bisa diolah menjadi beragam jenis makanan. Selain gaplek dan tiwul, ketela juga bisa diolah menjadi bahan mie yang bisa digunakan sebagai alternatif pangan.
Ketiga, kreatifitas untuk memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat menanam tanaman pangan. Para ibu yang tinggal di pedesaan biasanya akan memanfaatkan tanah di sekitar rumahnya untuk menanam bermacam kebutuhan pangan. Ketela, cabe, sayuran, bumbu dapur, dan palawija biasanya ditanam di sekitar rumah untuk menunjang pangan keluarga. Mereka yang tinggal di perkotaan dengan lahan perumahan yang sempit bisa memanfaatkan pot untuk menanam beragam sayuran yang bermanfaat bagi keluarga.
Upaya memanfaatkan lahan kosong juga bisa dikelola di tingkat rukun tetangga. Ibu-ibu anggota PKK biasanya memiliki program untuk menunjang pangan keluarga. Selain tanaman pangan lahan kosong juga sering dimanfaatkan untuk menanam tanaman obat keluarga. Model kreatifitas yang dilakukan secara serentak di berbagai tempat bermanfaat untuk mendayagunakan potensi agraris yang dimiliki bangsa ini. Tindakan nyata tersebut berguna untuk memberikan contoh, memberikan motivasi dan membangkitkan semangat generasi muda agar mau terjun ke bidang pertanian. Potensi agraris yang dimiliki bangsa ini sering tidak dilirik oleh generasi muda karena dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan.
Peran-peran nyata dari perempuan dalam menopang ketahanan pangan keluarga menjadi konstribusi nyata untuk menunjang ketahanan pangan nasional. Persoalan ketahanan pangan semestinya menjadi prioritas yang harus diselesaikan. Diperlukan sebuah perencanaan yang matang dan konsisten agar ketahanan pangan tetap terjaga. Laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat akan menimbulkan permasalahan di bidang pangan. Kondisi ini harus dipikirkan dengan seksama agar tragedi kelaparan tidak terjadi di negeri ini.
Indonesia bisa mencontoh Brasil dalam mengatasi persoalan pangan. Brasil kini menjadi negara eksportir utama pangan ke seluruh dunia. Padahal Brasil di tahun 2002 lalu berada dalam kondisi rawan pangan. Negara ini memiliki sekitar 50 juta rakyat menderita yang menderita kelaparan kronis. Pemerintah kemudian mengeluarkan program zero hunger (nol kelaparan) yang berfokus pada peningkatan akses pangan dan gizi. Dalam kurun waktu 10 tahun program ini ternyata cukup berhasil. Brasil mampu mengatasi persoalan pangan dalam negaranya sekaligus tampil menjadi negara eksportir pangan dunia.
Program ini sejatinya juga bisa dilakukan di Indonesia mengingat potensi agraris yang dimiliki. Dengan luas wilayah dari Sabang sampai Merauke Indonesia bisa menjadi negara berdaulat di bidang pangan sekaligus produsen pangan dunia. Potensi di darat dan laut jika dikelola dengan baik akan menghasilkan produksi pangan melimpah.

 
Leave a comment

Posted by on October 9, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: