RSS

Diskriminasi Korban Perkosaan

31 Oct

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M.Nuh, melakukan klarifikasi publik terkait pernyataan yang dikutip situs berita http://www.republika.co.id, tanggal 11 Oktober 2012, bertajuk “M Nuh: Kadang-kadang Sama-sama Senang, Ngakunya Diperkosa”. Kutipan pernyataan tersebut telah melukai rasa keadilan bagi perempuan korban perkosaan, keluarga, para anak didik dan orang tua, maupun masyarakat. Kutipan pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perlakuan terhadap korban perkosaan masih diskriminatif. Setidaknya setiap korban perkosaan akan mengalami diskriminasi pada tiga kondisi:
Pertama, di sekolah. Siswi SMP di Depok yang menjadi korban pemerkosaan, SA (14 tahun) belum kembali bersekolah. Ia masih trauma terhadap perlakuan sekolahnya, SMP Yayasan Budi Utomo yang melakukan pengusiran terhadapnya beberapa waktu lalu. Perlakuan terhadap SA menjadi contoh bentuk lazim dari diskriminasi yang dilakukan oleh pihak sekolah. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sudah menjadi korban perkosaan masih menjadi korban diskriminasi. Masa depan yang hancur semakin buram setelah sekolah menolaknya untuk kembali mengenyam pendidikan. Korban perkosaan seolah di cap sebagai sosok yang kotor, tidak bermartabat dan tentu saja tidak layak untuk berada di lingkungan sekolah yang dianggap sebagai institusi yang terhormat.
Kedua, diskriminasi di keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Keluarga yang semestinya menjadi tempat untuk berlindung dan mendapatkan dukungan terkadang justru memberikan perlakuan diskriminatif terhadap korban perkosaan. Mereka dianggap sebagai aib yang telah mencoreng nama baik keluarga. Perlakuan buruk seperti dimarahi, dikucilkan, diusir dari rumah dan diputus hubungan kekerabatannya merupakan perlakuan lazim yang diterima korban perkosaan. Alih-alih mendapat dukungan positif yang diharapkan hadir dari keluarga mereka seringkali justru menerima perlakuan diskriminatif.
Munculnya perlakuan diskriminatif dari keluarga biasanya dipicu oleh kepicikan dalam memandang akar persoalan. Setiap korban perkosaan semestinya tetap dipandang sebagai korban yang harus dibantu, didukung dan diberikan motivasi untuk bangkit. Tidak memungkiri sebagian dari mereka melakukan kesalahan dalam pergaulan atau salah dalam memilih teman. Meski demikian ketika mereka menjadi korban perkosaan tindakan pertama yang harus dilakukan adalah memberikan dukungan. Kesalahan yang mereka lakukan bisa diperbaiki dalam bentuk nasihat dan pengawasan setelah kondisi psikologis mereka pulih kembali.
Di masyarakat nasib mereka juga setali tiga uang. Korban perkosaan digambarkan sebagai sosok yang kotor, busuk sehingga harus dihujat, dijauhi. Masyarakat menganggap mereka sebagai sampah yang harus dibuang jauh. Padahal secara logika lebih bejat mana mereka dari para koruptor yang mencuri harta rakyat?. Tekanan dari lingkungan seringkali juga mempengaruhi keluarga dalam menentukan sikap terhadap anaknya. Keluarga yang tidak kuat dengan tekanan lingkungan biasanya memilih mengungsikan anak ke tempat lain. Tidak sedikit keluarga yang memilih mengusir dan memutuskan hubungan kekerabatan dengan alasan menjaga nama baik di masyarakat.
Ketiga, diskriminasi dalam pemberitaan media massa. Korban perkosaan semestinya adalah sosok yang harus dibantu, dibela dan diberikan motivasi untuk bangkit. Perlakuan media massa terkadang justru tidak mencerminkan hal tersebut. Dalam pemberitaan di televisi misalnya, korban disorot wajahnya sehingga semua bisa mengetahui siapa korban tersebut. Mereka juga digambarkan secara fisik yang memunculkan anggapan kalau perkosaan adalah akibat wajar dari perbuatan mereka. Sebagai contoh korban perkosaan digambarkan sebagai sosok yang cantik, pendiam, berpakaian minim, dan bepergian sendirian. Hal lain yang sering diberitakan adalah kesalahan mereka dalam memilih teman, bergaul dan keburukan lain yang melatarbelakangi terjadinya perkosaan. Berdasar pemberitaan tersebut kemudian muncul justifikasi kalau perkosaan yang mereka terima adalah wajar sebagai akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Upaya Menghapus Diskriminasi
Akumulasi diskriminasi yang diterima oleh korban perkosaan akan menghasilkan tekanan fisik dan psikologis yang kuat. Tidak sedikit yang tidak kuat menanggung beban tersebut sehingga memilih jalan pintas. Bunuh diri dan kabur dari rumah menjadi pilihan nekat yang ditempuh setelah mereka tidak diterima di keluarga, lingkungan, dan sekolah. Kejadian seperti ini tentu tidak bisa dibiarkan terus, perlu ada upaya signifikan untuk menghapus diskriminasi terhadap korban perkosaan.
Korban perkosaan terlepas dari kesalahan yang telah dilakukan tetaplah sosok korban yang harus diberikan dukungan, motivasi dan bantuan untuk kembali menatap masa depan. Di usia mereka yang masih muda tentu rentan melakukan kesalahan sehingga terjerumus dalam salah pergaulan. Salah memilih teman melalui situs jejaring sosial seperti facebook, terlena dalam bujukan orang yang baru dikenal, mudah bertemu dengan orang asing, dan tidak membangun komunikasi yang baik dengan keluarga menjadi akar dari beragam modus perkosaan. Kesalahan-kesalahan tersebut memang harus diperbaiki tetapi lakukanlah setelah kondisi fisik dan psikologisnya pulih.
Upaya mendesak yang harus dilakukan ketika terjadi kasus perkosaan adalah memastikan mereka mendapat dukungan dari keluarga, sekolah dan lingkungan. Keluarga tidak perlu merasa malu dan berkecil hati. Berilah dukungan dan perbaiki kesalahan mereka setelah kondisinya normal. Sekolah juga harus mengubah cara pandangnya terhadap korban perkosaan. Mengeluarkan mereka dari sekolah tidak menyelesaikan masalah justru menambah beban psikologis korban. Pendidikan semestinya dipandang sebagai proses bagi setiap individu untuk mengembangkan nalar dan perilaku mereka anak didik menjadi lebih baik. Ketika korban perkosaan dikeluarkan dari sekolah maka esensi pendidikan tersebut terputus dan fungsi sekolah untuk mendidik manusia menjadi lebih baik juga dengan sendirinya hilang.
Masyarakat perlu memberikan penilaian yang objektif dan memberikan perlakuan positif terhadap korban. Mereka bukanlah pelaku kejahatan besar yang merugikan bangsa dan negara. Mereka bukanlah pencuri, perampok atau bahkan koruptor yang harus diperlakukan dengan buruk. Anggaplah mereka sebagai bagian dari putra dan putri kita yang melakukan kesalahan dan membutuhkan bimbingan untuk menjadi lebih baik.
Upaya menghapus diskriminasi terhadap korban perkosaan bukan sekedar upaya sesaat yang bermanfaat bagi individu korban. Sesungguhnya segala bentuk upaya menghapus diskriminasi adalah tindakan nyata untuk memperbaiki kehidupan sosial masyarakat. Tumbuhnya kesadaran untuk saling mendukung, memberikan motivasi dan memandang positif persoalan yang dihadapi orang lain akan menghasilkan perbaikan dalam hubungan sosial antar manusia. Muaranya adalah tercipta sebuah masyarakat yang penuh empati, kesetaraan dan kepedulian untuk meningkatkan harkat hidup manusia.

 
Leave a comment

Posted by on October 31, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: