RSS

PERAN MASYARAKAT DALAM PEMBERANTASAN KORUPSI MELALUI INTERNALISASI BUDAYA PROSES

01 Nov

Terjadi perbincangan yang menarik dalam sebuah keluarga.
Ayah: Bu tadi saya kena tilang, dari pada repot dengan urusan persidangan maka saya kasih saja pak polisi uang
Ibu: gak pa-pa pak, sidang juga mbayar. Tadi ibu juga perpanjang KTP pak, katanya satu bulan baru jadi, padahal ibu perlu KTP untuk buka rekening Bank, jadi tadi ibu kasih uang petugasnya biar cepet jadi.
Adik: Kok ayah dan ibu kasih uang ke orang sih, buat adik aja to
Ibu: bukan ngasih uang dik, tapi kalau ngurus surat2 biar cepet memang harus begitu
Adik: Ooo gitu to, kalau ngurus surat2 biar cepet harus pakai duit

Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa proses internalisasi budaya korupsi sudah terjadi sejak usia dini. Di jalan, rumah, sekolah, kampus dan ruang publik mengajarkan untuk menempuh jalan pintas guna meraih tujuan. Praktek korupsi terjadi di berbagai layanan birokrasi seperi perijinan, pembuatan KTP dan SIM.
Jumlah praktek korupsi di Indonesia sudah sampai tahap yang kronis. Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua mengungkapkan satu keresahan terkait kondisi yang sebenarnya bahwa angka korupsi pegawai negeri sipil (PNS) yang ada di KPK meresahkan. “Jujur, meresahkan angka korupsi yang ada di KPK, jika mengikuti semuanya 60 persen dari 4,2 juta PNS harus kami tangkap. Masalahnya penjara jadi tidak cukup, biaya besar untuk penindakan, mereka (yang korupsi) akan korupsi lagi setelah keluar (penjara),” ujar dia. Menurut Hehamahua, apa yang dilakukan para PNS tersebut mungkin bukan karena awalnya memiliki niat untuk korupsi. Namun, karena sistem yang buruk dilakukan berulang-ulang menjadi peluang, maka korupsi terlaksana1 .

Tahapan konstruksi budaya korupsi
Di Indonesia korupsi bukan sekedar kejahatan biasa melainkan sudah masuk kategori luar biasa. Korupsi tidak hanya dilakukan oleh segelintir orang dengan cara sembunyi-sembunyi tetapi dilakukan secara berjamaah dan terang-terangan. Sebuah pertanyaan yang menggelitik diajukan adalah darimana budaya ini tumbuh dan berkembang di Indonesia?.
Praktek korupsi lahir dari budaya menerabas yang menjadi mentalitas bangsa Indonesia. Prof. Koentjaraningrat dalam menyebutkan lima sifat mentalitas yang tidak sesuai dengan pembangunan. Salah satunya sifat mentalitas yang suka menerabas. Menerabas artinya mengabaikan proses dan mementingkan hasil. Mentalitas menerabas berarti meremehkan mutu ketika mengharapkan keunggulan hasil dan mengacuhkan kualitas proses. Manusia lebih memilih jalan yang paling mudah dalam melakukan sesuatu tanpa melalui proses yang benar2 .
Budaya menerabas menjadi akar pembenaran praktek korupsi. Proses tersebut melalui tahapan konstruksi realitas yang dialami oleh bangsa ini. Dalam pandangan Berger proses tersebut melalui tiga tahapan. Pertama, ekternalisasi yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Kedua, objektivasi yaitu hasil yang telah dicapai baik secara mental maupun fisik dari eksternalisasi yang telah dilakukan manusia. Eksternalisasi menghasilkan realitas objektif yang bisa jadi akan menghadapi manusia itu sendiri. Ketiga, internalisasi yaitu proses penyerapan kembali dunia objektif kedalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Melalui internalisasi manusia menjadi hasil dari masyarakat3 .
Dalam kasus korupsi di Indonesia awalnya adalah dari tahap objektivasi. Masyarakat memandang bahwa tips, suap, upeti adalah kegiatan rasional untuk mencapai tujuan. Praktek tersebut bisa dibuktikan dalam berbagai sendi kehidupan seperti pengurusan perijinan, pendidikan, dan perdagangan. Kemudian masyarakat mulai mengkonstruksikan dalam dirinya (internalisasi) bahwa korupsi adalah hal wajar dan terkadang wajib dilakukan agar urusan cepat selesai. Ketika semua orang berfikiran sama maka terjadilah konstruksi massa yang membenarkan logika berfikir instan tersebut. Pada tahap eksternalisasinya terjadilah tindakan korupsi secara berjamaah. Perilaku meniru budaya korupsi terjadi karena dalam tahap objektivasi mereka melihat praktek tersebut menguntungkan. Berikut gambaran proses tersebut:

Sirkulasi ini harus dihentikan agar budaya korupsi bisa dihapus dari memori dan perilaku bangsa ini.

Internalisasi budaya proses
Bagaimana memutus sirkulasi konstruksi budaya korupsi tersebut?. Memutus mata rantai budaya korupsi memang bukan perkara mudah, namun bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Diperlukan sebuah konstruksi budaya yang mengajarkan, membiasakan dan menjadi perilaku sehari-hari. Sebuah budaya yang menekankan pentingnya menempuh proses yang benar dan bersih. Budaya proses ini harus meyakinkan setiap individu bahwa menempuh proses yang benar dan bersih bukanlah sesuatu yang rumit, lama, dan mahal. Budaya proses adalah budaya yang penuh keadilan, memperlancar urusan dan meminimalkan praktek korupsi.
Proses internalisasi budaya proses bisa dilakukan di keluarga, sekolah, kampus dan ruang publik. Inti dari internalisasi budaya proses adalah adanya komunikasi yang terbuka dan keteladanan yang diberikan.
a. Di rumah
Ajarkan anak sejak dini untuk memperoleh segala sesuatu dengan proses yang benar. Jangan memberikan contoh kepada anak untuk memperoleh segala sesuatu dengan mengandalkan uang. Yakinkan mereka bahwa mengikuti proses bukanlah hal sulit. Orang tua perlu membuka komunikasi dengan anak untuk membicarakan segala persoalan. Sebagai contoh, ketika anak bercerita bahwa tadi ia melihat temannya menerobos antrian masuk kelas berikan pemahaman bahwa perbuatan tersebut keliru. Berilah keteladanan semisal sedang berada di ATM atau membayar di kasir supermarket untuk mengantri dengan tertib. Bagi anak yang lebih besar dan menggunakan kendaraan bermotor, yakinkan mereka untuk mentaati peraturan dan tidak menyuap ketika ditilang. Berikan dukungan kepada mereka ketika berbuat kesalahan dan jangan biarkan mereka menempuh jalan pintas untuk menyelesaikan persoalan.
b. Di sekolah dan kampus
Dunia pendidikan semestinya menjadi benteng pendidikan moral yang ampuh bagi peserta didik. Meski demikian seringkali dunia pendidikan justru menjadi tempak siswa untuk belajar budaya menerabas. Sistem pendidikan yang mementingkan hasil akhir dalam penilaian membuat anak-anak memilih jalan pintas dan enggan mengikuti proses. Untuk lulus ujian mereka memilih membeli kunci jawaban daripada belajar giat. Sekolah membantu kecurangan siswanya ketika ujian agar angka kelulusan bisa seratus persen. Contoh-contoh peilaku buruk tersebut kemudian terbawa dalam praktek kehidupan lainnya. Untuk itu perlu kemauan yang kuat dari sekolah, guru dan pelaku pendidikan untuk mengajarkan budaya proses kepada peserta didik. Biasakan murid untuk memperoleh prestasi belajar dengan kerja keras dan kejujuran, berikan dukungan ketika mereka mengalami kesulitan, bantulah mereka dalam proses belajar bukan hasil akhir penilaian.
c. Di ruang publik
Ruang publik adalah tempat pembelajaran yang penting bagi masyarakat. Melalui ruang publik mereka belajar segala sesuatu yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan hidup. Sebagai contoh, ketika mereka mengurus KTP di kelurahan dan melihat banyak orang yang menggunakan jasa calo, maka mereka berpotensi untuk menirunya. Kunci dari internalisasi budaya proses di ruang publik adalah keteladanan yang diberikan. Keteladanan bisa berasal dari pegawai pemerintah dan seluruh masyarakat yang ada di ruang publik. Perilaku mereka akan ditiru orang lain sehingga harus dipikirkan dengan serius dampak dari perbuatan yang dilakukan. Kita semua yang berada di ruang publik bisa memberikan contoh, melakukan gerakan dan mendorong aplikasi budaya proses. Mulailah dari memberikan contoh untuk tertib proses dan berikan teguran kepada mereka yang menerabas.
Kita semua menyadari bahwa pemberantasan korupsi membutuhkan partisipasi dari semua pihak. Ibarat pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati,maka peran kita dalam internalisasi budaya proses adalah sebuah sumbangsih bagi penghapusan budaya korupsi. Tentunya upaya tersebut harus diikuti dengan perbaikan pelayanan birokrasi yang lebih transparan, cepat dan akuntabel.

rujukan:
1. http://oase.kompas.com/read/2012/01/29/00564959/Budaya.Malu.Hilang.Korupsi.Terbilang
2. Koentjaraningrat dalam Soerjono Seokanto, 1990, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, hlm 238-239, baca juga tulisan Afdal Ade Hendrayana, “Copy Paste : Refleksi Budaya Menerabas”, diunduh dari http://www.ganto.web.id/index.php?mod=artikel&kat=&id=78&judul=copy-paste-refleksi-budaya-menerabas.html pada 31/10/2012
3. Eriyanto, 2002, Analisis Framing, Yogyakarta: LKIS hlm:13

 
Leave a comment

Posted by on November 1, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s