RSS

Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme

08 Nov

Bhinneka Tunggal Ika seperti kita pahami sebagai motto Negara, yang diangkat dari penggalan kakawin Sutasoma karya besar Mpu Tantular pada jaman Keprabonan Majapahit (abad 14) secara harfiah diartikan sebagai bercerai berai tetapi satu. Motto ini digunakan sebagai ilustrasi dari jati diri bangsa Indonesia yang secara natural, dan sosial-kultural dibangun diatas keanekaragaman
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa yang tercantum dan menjadi bagian dari lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Sebagai semboyan bangsa, artinya Bhinneka Tunggal Ika adalah pembentuk karakter dan jati diri bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebagai pembentuk karakter dan jati diri bangsa ini tak lepas dari campur tangan para pendiri bangsa yang mengerti betul bahwa Indonesia yang pluralistik memiliki kebutuhan akan sebuah unsur pengikat dan jati diri bersama. Bhinneka Tunggal Ika pada dasarnya merupakan gambaran dari kesatuan geopolitik dan geobudaya di Indonesia, yang artinya terdapat keberagaman dalam agama, ide, ideologis, suku bangsa dan bahasa .
Kebhinekaan Indonesia itu bukan sekedar mitos, tetapi realita yang ada di depan mata kita. Harus kita sadari bahwa pola pikir dan budaya orang Jawa itu berbeda dengan orang Minang, Papua, Dayak, Sunda dan lainnya. Elite pemimpin yang berasal dari kota-kota besar dan metropolitan bisa jadi memandang Indonesia secara global akan tetapi elite pemimpin nasional dari budaya lokal tertentu memandang Indonesia berdasarkan jiwa, perasaan dan kebiasaan lokalnya. Ini saja menunjukkan kalau cara pandang kita tentang Indonesia berbeda. Jadi tanpa kemauan untuk menerima dan menghargai kebhinekaan maka sulit untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Apa yang dilakukan oleh pendahulu bangsa ini dengan membangun kesadaran kebangsaan atau nasionalisme merupakan upaya untuk menjaga loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa.
Selama ini sifat nasionalisme kita kurang operasional atau hanya berhenti pada tataran konsep dan slogan politik. Nasionalisme bisa berfungsi sebagai pemersatu beragam suku, tetapi perlu secara operasional sehingga mampu memenuhi kebutuhan objektif setiap warga dalam suatu negara-bangsa. Tradisi dari suatu bangsa yang gagal memenuhi fungsi pemenuhan kebutuhan hidup objektif akan kehilangan peran sebagai peneguh nasionalisme. Saat ini diperlukan tafsir baru nasionalisme sebagai kesadaran kolektif di tengah pola kehidupan baru yang mengglobal dan terbuka. Batas-batas fisik negara-bangsa yang terus mencair menyebabkan kesatuan negara kepulauan seperti Indonesia amat rentan terhadap serapan budaya global yang tidak seluruhnya sesuai tradisi negeri ini. Disamping itu realisasi otonomi daerah yang kurang tepat akan memperlemah nilai dan kesadaran kolektif kebangsaan di bawah payung nasionalisme.
Menurut Profesor Abdul Munir Mulkhan, kekukuhan nasionalisme di dalam diri bangsa ditentukan posisi dan seberapa ia berakar dalam “dunia batin” warga bangsa tersebut. Nasionalisme yang sekedar konsensus politik nasional, akan mudah pudar bersama perubahan sosial yang semakin cepat di era global ini. Wawasan nasionalisme akan tetap segar jika ia juga merupakan daya spritual dan kesadaran hidup di dalam diri orang atau warga bangsa. Karena itulah nasionalisme seharusnya selalu disegarkan kembali dan didialogkan bersama seluruh warga suatu bangsa tersebut. Nasionalisme yang berhenti sebagai doktrin ideologis kenegaraan kurang berakar dalam kesadaran hidup warga. Kesadaran nasionalisme (NKRI) tumbuh kukuh dalam diri rakyat kebanyakan yang rela berkorban bagi kepentingan nusa bangsanya, ketika mereka merasa menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kebangsaan itu. Kesadaran primordial rakyat nampak lebih kental dibanding elite yang lebih rasional. Namun ketika rakyat itu melihat praktek kekuasaan yang egois bagi kepentingan elite, muncul kritik dan pemberontakan budaya .
Sejarah penyatuan Indonesia adalah contoh konkret keberhasilan dari penerapan Bhineka Tunggal Ika. Lebih dari satu dekade yang lalu, Ben Anderson melontarkan gagasannya tentang masyarakat khayalan (imagined communities). Konsep ini menarik karena Anderson, mengklaim bahwa nasionalisme berakar dari sistem budaya dalam suatu kelompok masyarakat yang saling tidak mengenal satu sama lain. Kebersamaan mereka dalam gagasan mengenai suatu bangsa dikonstruksi melalui khayalan yang menjadi materi dasar nasionalisme. Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa, bahkan bangsa yang terkecil sekalipun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir di pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial. Pandangan yang dianut Anderson menarik karena meletakkan nasionalisme sebagai sebuah hasil imajinasi kolektif dalam membangun batas antara kita dan mereka, sebuah batas yang dikonstruksi secara budaya melalui kapitalisme percetakan, bukan semata-mata fabrikasi ideologis dari kelompok dominan. Dalam konsep Anderson, nasionalisme Indonesia terbentuk dari adanya suatu khayalan akan suatu bangsa yang mandiri dan bebas dari kekuasaan kolonial, suatu bangsa yang diikat oleh suatu kesatuan media komunikasi, yakni bahasa Indonesia. Bhineka Tunggal Ika bukan slogan politik. Nasionalisme tidak bergantung pada mitos saja, tetapi juga harus melihat realita kebhinekaan Indonesia.

rujukan:
Oleh Prof Dr Udin S.Winataputra,M.A. 2009. Multikulturalisme-Bhinneka Tunggal IKa dalam Perspektif Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia. Dikutip dari http://baehaqiarif.wordpress.com/2009/02/19/63/ diakses 6/8/2012/10.43 wib

[2] (Rahman, 2010: 8) dalam Sari Monik Agustin, 2011:195, Prosiding seminar komunikasi UI, 2011

[3] Dikutip dari https://mubarok01.wordpress.com/2009/09/, diakses 6/8/2012/10.48

 
3 Comments

Posted by on November 8, 2012 in Sosial budaya

 

Tags:

3 responses to “Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme

  1. Muhammad Ammar Haq

    November 8, 2012 at 3:09 am

    kini bhinneka tunggal ika hanya sebagai selogan yang menjadi pajangan-pajangan, perbedaan bukan dijadikan sebagai pemersatu, melainkan sebuah perbedaan yang berarti aku”, kamu”, bukan km adalah aku dan aku adalah km, sehingga sekarang banyak kasus tawuran mulai dari antar pelajar hingga antar warga, yang nota bene warga adalah masyarakat dewasa. bhinneka tunggal ika ini hampir tak mempunyai arti. sungguh ironis bangsa ini mudah sekali di adu domba. padahal bangsa ini terbentuk oleh persatuan yang penuh dengan darah para syuhada (pahlawan).:) .

     
    • mubarok01

      November 8, 2012 at 3:52 am

      butuh dukungan dari semua pihak terutama darah muda agar persatuan tetap terjaga

       
  2. mubarok01

    November 8, 2012 at 3:51 am

    butuh dukungan dari semua pihak terutama darah muda agar persatuan tetap terjaga

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: