RSS

”Korupsi dalam Masyarakat Tontonan”

08 Nov

Abstract:
Dalam masyarakat tontonan maka kemasan, citra dan perilaku dari aktor lebih dikedepankan daripada kualitas isi pesan. Masyarakat tontonan telah terbentuk sejak dahulu kala ketika tontonan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Arena olimpiade, perlombaan dibidang ketangkasan, dan beragam tontonan lainnya telah menghipnotis manusia untuk duduk di depan panggung pertunjukan. Dalam masa perkembangan media massa yang pesat tontonan beralih dari panggung nyata menuju panggung virtual dengan keluasan dan kecepatan jangkauan menembus batas ruang dan waktu. Dalam kasus korupsi, ranah jangkauan vibrant dari suatu kasus tidak berhenti pada ranah hukum semata. Ketika adegan korupsi, aktor korup dan masyarakat yang menonton menjadi satu dalam irama dinamika kerja media massa maka korupsi memperoleh panggung baru dalam masyarakat tontonan.

Key words: masyarakat tontonan, korupsi, media massa

A. Pendahuluan
Korupsi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam dinamika masyarakat Indonesia. Kasus mafia pajak Gayus Tambunan menjadi contoh bagaimana gurita korupsi telah mengakar dan melibatkan berbagai instansi penegak hukum. Para pelaku korupsi bukanlah orang yang tidak mengerti hukum, justru mereka adalah para penegak hukum yang semestinya bersih dari jerat korupsi. Rekam sejarah korupsi di Indonesia menunjukkan bahwa para pelaku adalah orang-orang yang memiliki lingkaran kekuasaan dan menjadi wakil kepentingan rakyat di berbagai posisi. Menteri, Gubernur, Walikota, Bupati, Anggota DPR/DPRD, menjadi tersangka korupsi.
Korupsi juga menimbulkan perseteruan antarlembaga penegak hukum sehingga proses pemberantasan menjadi terhambat. Sebagai contoh adalah fenomena perseteruan antara KPK dan Kepolisian yang memunculkan istilah Cicak dan Buaya. Istilah tersebut pertama kali dicetuskan oleh Komisaris Jendral Susno Duadji menanggapi perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri. Cicak merupakan simbol dari KPK sedangkan buaya melambangkan institusi Polri . Secara tidak langsung istilah tersebut diungkapkan untuk menunjukkan bahwa institusi Polri lebih kuat dan besar daripada KPK. Perseteruan antara KPK dan Polri dipicu oleh kasus Anggoro Widjoyo dalam kasus korupsi pengadaan Peraltan Sistem Komunikasi di Departemen Kehutanan . Kedua instusi melihat bahwa ada keterlibatan pejabat dari kedua institusi dalam kasus korupsi tersebut. Saling tuding kemudian terjadi sehingga melibatkan petinggi kedua instansi penegak hukum tersebut.
Kasus tersebut kemudian menggelinging bak bola salju yang menyeret banyak pihak. Dua orang pimpinan KPK yaitu Bibit Samad Riyanto dan Candra Hamzah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polri. Sementara KPK dan masyarakat Cinta Indonesia Cinta KPK (Cicak) menuding adanya upaya rekayasa dalam kasus tersebut yang menjurus pada kriminalisasi KPK. Mereka menuding keterlibatan Polri dan Kejaksaan dalam proses rekayasa tersebut.
Dalam sekejap kasus perseturuan antara Cicak dan Buaya menjadi tontonan masyarakat yang menyita perhatian banyak pihak. Presiden bahkan merasa perlu untuk membentuk tim pencari fakta guna menyelesaikan kasus tersebut. DPR berusaha untuk membela Polri dan Kejaksaan, sementara komunitas Cicak menggalang opini publik melalui media massa. Selanjutnya masyarakat diperlihatkan bagaimana menariknya tontonan perseteruan tersebut, sebuah alur drama memikat yang tidak diketahui kapan berakhir.
Masyarakat dibuat terpaku di depan televisi, mendengarkan radio, membaca koran, melihat internet, menggalang dukungan melalui situs jejaring sosial, berdemo, berdebat, yang semuanya untuk mengekspesikan bagaimana tertariknya mereka dengan tontonan tersebut. Perseteruan antarlembaga hukum tersebut menjadi tontonan yang menggilas sinetron, panggung komedi, music atau sekedar reality show yang penuh kepura-puraan. Semuanya kalah oleh drama perseteruan Cicak lawan Buaya yang mampu menjadi tontonan utama masyarakat.
Untuk membuat drama perseteruan lebih menarik, muncullah tokoh dan kejutan-kejutan mendadak yang membuat penonton semakin penasaran. Rekaman antara Anggodo Widjoyo dengan para petinggi kejaksaan menjadi bukti menarik yang memanaskan suasana. Pemutaran kaset rekaman tersebut di Mahkamah Konstitusi menjadi bumbu pedas pada perseteruan ini. Tokoh-tokoh seperti Ary Muladi, Yulianto, Ong Julia Gunawan, A H Ritonga dan lainnya menjadikan drama tersebut semakin lengkap. Dalam kasus mafia pajak Gayus Tambunan aktor penegak hukum di Kejaksaan dan Kepolisian juga terlibat sehingga menambah gempita tontonan di media massa.
Drama Cicak lawan Buaya dan Mafia Pajak Gayus Tambunan masih terus bergulir dan entah sampai kapan akan selesai. Namun yang pasti drama tersebut telah berhasil memikat perhatian masyarakat, menjadi tontonan yang mampu menghipnotis kesadaran dan akal sehat bangsa ini . Mengalahkan perhatian terhadap pentingnya penanganan kemiskinan, korban gempa atau pemadaman listrik yang menghancurkan sektor industri dan ketidakbecusan negara lainnya dalam mengurus kepentingan masyarakat.

B. Permasalahan
Perseteruan antara Cicak lawan Buaya dan kasus Mafia Pajak menjadi contoh bagaimana persoalan korupsi tidak sekedar berada dalam ranah hukum, melainkan telah masuk menjadi bagian dari budaya media. Masing-masing pihak secara sadar berusaha untuk tampil di media massa dengan berbagai argumen. Semua ingin mendapat perhatian publik, dan tampil sebagai aktor utama dalam tontonan tersebut.
Mengapa para aktor perseteruan seperti KPK, Polri dan Kejaksaan suka tampil di media? Mengapa ada yang merasa perlu membantah, menangkis, bersumpah, dan menangis di depan layar kaca? Mengapa mereka merasa perlu mendapatkan dukungan dan simpati melalui berbagai aksi penggalangan dukungan?. Oleh karena itu menarik untuk dikaji bagaimana konteks korupsi dalam budaya media dan kemenangan tontonan.

C. Pembahasan
Semenjak jaman pramodern, masyarakat telah memiliki tontonan. Di jaman Yunani kuno telah ada olimpiade, festival puisi, debat publik serta perang berdarah yang menjadi tontonan masyarakat. Di dunia timur ada cerita Genghis Khan yang menjadi cerita tontonan menarik. Beberapa pertempuran besar diceritakan secara turun-tem,urun sebagai tontonan yang menarik. Pertempuran antara Napoleon Bonaparte (Prancis) dengan tentara Inggris yang berujung kekalahannya di Waterlo menjadi cerita tak terputus. Meskipun sudah berlalu lebih dari seperempat abad Perang Malvinas antara Inggris dan Argentina masih menjadi perbincangan hangat . Di Indonesia ada cerita G 30/S PKI yang selalu hangat dibicarakan. Semuanya menjadi memori tak terlupakan setelah menjadi tontonan yang menarik.
Budaya media adalah industri budaya yang diorganisasikan pada model produksi massal dan ditujukan bagi audiens massal sesuai jenis, mengikuti formula konvensional, kode dan aturan. Budaya media menggabungkan antara budaya dan teknologi. Budaya media mendefinisikan apa yang dianggap baik dan buruk, positif atau negatif dan bermoral atau tak bermoral . Tontonan budaya media mendemonstrasikan siapa yang kuat dan lemah,dan siapa yang boleh menggunakan kekuatan dan kekerasan. Dramatisasi dan legitimasi kekuasaan digunakan untuk membuat tontonan menjadi lebih menarik.
Kondisi masyarakat seperti ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Guy Debord sebagai masyarakat tontonan (society of spectacle). Masyarakat tontonan adalah masyarakat yang hampir di segala aspek kehidupannya dipenuhi oleh berbagai bentuk tontonan dan menjadikannya sebagai rujukan nilai dan tujuan hidup. Selain itu, tontonan memanipulasi dan mengeksploitasi nilai-guna (use-value) dan kebutuhan manusia sebagai sarana memperbesar keuntungan dan kontrol ideologis atas manusia. Dalam masyarakat tontonan (spectacle society), segala sesuatu ditampilkan sebagai citra-citra yang bahkan tampak lebih real dibanding realitas sebenarnya. Inilah awal dimana tempat lahirnya masyarakat hipperrealitas (hyperreality society) .
Konsep “masyarakat tontonan” dikembangkan oleh teoritisi Prancis bernama Guy Debord . Konsep yang dikembangkannya mendeskripsikan media dan masyarakat konsumen, organisasi antara produksi dan konsumsi image, komoditi dan panggung pertunjukan. Ia menggambarkan media dan masyarakat konsumen termasuk pengemasan, promosi, tampilan komoditas dan produksi serta efek dari semua media. Perkembangan tontonan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi di bidang komunikasi yang mampu menyiarkan tontonan hingga pelosok dunia.
Olahraga adalah contoh tontonan yang telah menjadi tontonan global dan menjadi komoditi utama yang diburu media massa. Siaran Basket NBA, Superbowl, NASCAR, balap Formula 1, kompetisi Liga Inggris, Serie A Italia, Olimpiade dan pertunjukan olahraga lainnya menjadi komoditas andalan untuk meraih pengiklan sebanyak mungkin. Semua kompetisi olahraga tersebut tidak hanya berbicara sportifitas olahraga semata, namun menjadi tontonan yang ditunggu karena kemampuannya untuk memikat penonton. Semua tontonan tersebut tidak akan lepas dari unsure kompetisi, kemenangan, sukses dan akhirnya uang.
Contoh komoditi lain yang juga berhasil menjadi tontonan global adalah film. Amerika Serikat memiliki “Hollywood”, India memiliki “Bollywood” dan China selalu memiliki film kungfu yang dinanti jutaan penonton di seluruh dunia. Perusahaan film dunia seperti Warner Bross, Sony Picture atau di Indonesia ada Multivison sadar betul bahwa di dalam masyarakat tontonan memerlukan berbagai upaya agar produk mereka tetap laku . Jadilah sinergi produser, artis, dan media massa menjadi mesin-mesin kapitalis yang terus bergerak mengeruk keuntungan.
Atas dasar itu, mengutip Guy Debord, wacana kapitalisme mutakhir telah mengubah wajah dunia menjadi tak lebih dari sebuah panggung tontonan raksasa yang dihuni masyarakat yang haus tontonan. Dalam wacana semacam itu, sudah menjadi dogma bahwa memproduksi suatu komoditas harus disertai dengan memproduksi tontonan. Semua tontonan menjadi komoditas, sebaliknya semua komoditas menjadi tontonan. Apabila pihak media, tidak mampu menyajikan formula isi tayangan yang bernilai urgensif, maka semakin nyata kalau kita sedang berkubang dalam masyarakat tontonan. Artinya, adalah tontonan secara serentak tampak sebagai masyarakat itu sendiri, sebagai bagian dari masyarakat, dan sebagai perangkat untuk mempersatukan .
Tontonan (spectacle) di sini bukan koleksi citra (image), melainkan relasi sosial yang dimediasi melalui citra. Relasi sosial telah bergeser lebih jauh menjadi relasi komoditas. Citra-citra yang ditampilkan komoditas non-kehidupan tersebut bergerak secara otonom untuk memperdaya dan mengambilalih segala aspek kehidupan. Tidak hanya sampai di situ, kehidupan yang ditandai dengan relasi komoditas juga telah menyihir para penonton-penontonnya untuk menjiplak dan memproduksi ulang citra-citra yang tadi dipertontonkan. Penonton tersebut menjadi agen atas citra-citra yang sebelumnya ia lihat dengan matanya sendiri. Dengan kata lain, relasi sosial adalah relasi atas dasar citra-citra yang ditampilkan oleh kerumunan orang, termasuk pemahaman atas diri sendiri dan orang lain, berangkat dari komoditas yang ia pernah tonton .
Debord mengatakan “In a world that is really turned upside down, the true is a moment of the false”,ketika tontonan menjadi representasi semata, maka kebenaran adalah momen kepalsuan (falsehood) . Kehidupan yang sesungguhnya telah dinegasikan dalam kemasan tontonan yang menawarkan antusiasme penontonnya. Konsep tontonan ini, sadar atau tidak, mengikuti pola-pola produksi tontonan populer, dan sistem industri masyarakat kapitalistik. Tontonan tak lain merupakan praktik sosial yang berbasis formasi ekonomis, sekaligus produksi utama masyarakat dewasa ini. Di dalamnya, segala aspek kebudayaan dan pengalaman dimediasi oleh tontonan untuk menyamarkan dan melindungi kepentingan pemegang kuasa.
Tontonan pada dasarnya juga bersifat tautologis. Demi survivalnya sebuah tontonan maka harus menjadi kontrol sosial. Tontonan tersebut harus bisa memulihkan citranya di hadapan spektator melalui berbagai bentuk repackage, mereproduksi tontonan alternatif, dan menjual kembali komoditas yang dipertontonkan. Segala sesuatu yang tampak sebagai tontonan adalah baik, maka tontonan itu baik. Pada titik ini, formasi ekonomis mengemas benda-benda, untuk kemudian memonopoli kawasan representasi yang ditampilkan oleh media.
Kembali pada cerita korupsi di Indonesia, pertanyaan yang muncul kenapa masing-masing pihak merasa perlu untuk tampil di media massa? Jawabannya, karena “pertarungan dan konstelasi kepentingan adalah show business. Ketika sudah masuk dalam media, maka semua harus bisa menjadi tontonan dan menghasilkan keuntungan. Perseteruan, konflik, dan permusuhan yang melibatkan aktor politik di tingkat negara adalah materi tontonan yang menyenangkan. Dalam “masyarakat tontonan”, citra, kesan, dan penampilan luar adalah segalanya. Ia perlu dikemas agar memikat masyarakat. Karena itu para aktor yang terlibat harus bisa memanipulasi penampilan agar tontonan yang dihasilkan bisa memikat masyarakat. Tangisan, bantahan, gerak tubuh, penampilan, kalimat bijak, dan atribut lainnya menjadi penting untuk mengemas citra.
Politik dan kehidupan sosial juga dibentuk oleh tontonan media . Untuk bisa tampil menjadi tontonan di media massa maka kehidupan sosial dan politik harus memenuhi criteria tertentu. Budaya media memerlukan adanya materi yang mengembangkan fantasi, impian, model pemikiran, perilaku dan mengkonstruksi identitas. Cerita pemberantasan korupsi di Indonesia telah memenuhi unsur-unsur tersebut. Penonton diajak berfantasi untuk menebak siap yang salah dan benar, siapa menang dan kalah. Mereka juga diajak untuk berfikir, berperilaku dan mengkonstruksi identitas sesuai dengan pilihan sendiri. Tontonan yang ditampilkan media berhasil memisahkan kelompok pendukung yang kemudian mengkonstruksi identitas masing-masing. Munculnya komunitas Cicak menunjukkan adanya perubahan pemikiran, perilaku dan konstruksi identitas sebaga keberpihakan terhadap KPK.
Dalam tontonan, Gayus Tambunan menjadi aktor antagonis yang dibenci masyarakat. Di sisi lain Bibit Samad Riyanto dan Candra Hamzah menjadi sosok pahlawan yang dielu-elukan oleh para penonton. Drama memang belum berakhir namun setidaknya sampai saat ini keduanya telah lahir menjadi simbol perlawanan terhadap mafia hukum dan korban penindasan. Tontonan dan budaya media telah melahirkan siapa pahlawan dan siapa penjahat, membedakan aktor protagonis dan antagonis dalam benang hitam dan putih yang demikian jelas.
Perjalanan persidangan Gayus Tambunan sedikit demi sedikit mengikis kebencian terhadap Gayus dan melihatnya sebagai aktor kecil yang dikorbankan. Sepak terjang Bibit dan Candra di KPK ditampilkan kembali untuk menunjukkan prestasi gemilang yang telah mereka buat. Sepak terjang mereka dikemas kembali dalam tayangan tersendiri untuk semakin memperkuat tontonan utama. Bagaimana dengan Buaya? Setali tiga uang media juga mengemas kembali keberhasilan Polri mengungkap kasus terorisme di Indonesia seolah ingin mengatakan bahwa mereka benar-benar professional. Adegan di rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR menunjukkan bagaimana wakil rakyat mendukung tindakan polisi.
Hal serupa juga terjadi ketika Kejaksaan menggelar rapat yang sama . Jaksa Agung meyakinkan bahwa aparatnya telah bekerja professional. Bahkan tidak perlu malu ketika mengatakan bahwa gaji para jaksa terlalu kecil sehingga rawan penyuapan. Gaji kecil dijadikan alasan pembenar untuk sebuah tindakan yang tidak professional. Seolah tidak menyadari bagaimana buruknya kinerja aparatnya dalam menanganji kasus korupsi di Indonesia. Jaksa rawan penyuapan karena gaji kecil menjadi potongan cerita baru yang menambah hangat tontonan utama .
Inilah sebuah tontonan yang lahir dari drama pemberantasan korupsi di Indonesia. Tontonan telah memanipulasi akal sehat para penontonnya sehingga rela untuk melaungkan waktu, ide, pikiran dan perhatian khusus bagi suksesnya tontonan ini. Dalam budaya media, tontonan adalah upaya untuk mengawetkan kepentingan dan eksistensi suatu kapitalisme. Tidak ada tontonan yang gratis karena semua memerlukan pengorbanan untuk mendapatkannya.

D. Penutup
Cerita korupsi di Indonesia seperti kasus Mafia Pajak Gayus Tambunan dan Cicak lawan Buaya setidaknya saat ini menjadi tontonan luar biasa yang menyedot perhatian sebagaian besar masyarakat. Sebuah kemenangan tontonan dalam kerangka budaya media. Dalam masyarakat tontonan yang lebih memandang kulit daripada isi, aspek kemeriahan dan gemuruh tontonan adalah aspek utama. Layaknya menonton pertandingan sepakbola, panggung tontonan hanya akan hidup ketika keriuhan penonton tetap membahana sepanjang pertandingan.
Konsep Guy Debord tentang “masyarakat tontonan” tidak hanya berbicara kehadiran realitas menjadi tontonan, tetapi juga memberikan gambaran bagaimana budaya media membungkusnya. Pertukaran nilai guna menjadi nilai tukar, meyakinkan pentingnya komoditas bagi sebuah pertunjukan. Satu hal yang pasti bahwa kesuksesan sebuah tontonan melibatkan banyak aspek. Salah satunya adalah besarnya ekspektasi penonton terhadap gemerlap tontonan. Penonton harus terlaibat secara akal dan emosional agar sebuah tontonan menjadi hidup dan menghasilkan keriuhan. Gegap gempita tontonan pemberantasan korupsi di Indonesia menemukan habitatnya yang tepat dalam “masyarakat tontonan” yang haus gempita selebrasi pertunjukan.

*Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Interaktif ilmu-Ilmu Sosial Universitas Brawijaya, Malang, Vol.4 Februari 2011*

Daftar Pustaka

Croteau, David and Hoyness, William, 2000, Media Society, Second edition, California:Sage Publications.
Curran, James, Gurevitch, Michael, 1991, Mass Media and Society, Routledge Chapman Hall inc:New York
Kellner, Douglas, 1995,Media Culture,Cultural studies, identity and politics between the modern and the postmodern”, New York:Routledge
Artikel Internet

Lihat tulisan Triyono Lukmantoro “Tontonan Nasionalisme Melodrama” (Suara Merdeka:27 Juni 2008)
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/06/27/19559/Tontonan.Nasionalisme.Melodrama

Majalah Angkasa Edisi Koleksi XXXIX 2007, Guerra De Las Malvinas

“Culture Studies, Media Spectacle, Election 2004”,ditulis oleh Douglas Kellner, dimuat di Journal InterActions: UCLA Journal of Education and Information Studies. InterActions: UCLA Journal of Education and Information Studies is produced by the eScholarship Repository and bepress.Volume 2 Issue 1, article 6 tahun 2006.
Douglas Kellner “Media Culture and the Triumph of the Spectacle
Majalah Angkasa edisi Koleksi XXXIX 2007, Guerra De Las Malvinas

“The Society Of The Spectacle” ditulis oleh Guy Debord, versi pdf dapat diperoleh secara online melalui http://treason.metadns.cx, TREASON PRESSGPO Box 2427 Canberra ACT 2601 canberratreason@yahoo.com.au.

 
Leave a comment

Posted by on November 8, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: