RSS

Media Equation Theory

14 Dec

Contoh kasus
Beberapa saat yang lalu, Minah, seorang nenek di Banyumas dijatuhi hukuman kurungan 1,5 bulan penjara akibat perbuatannya memungut biji coklat di salah satu perkebunan milik seorang pengusaha di Jawa Tengah.
Salah satu televisi swasta nasional di Indonesia menayangkan berita ini dalam bentuk feature dan mengulasnya secara mendalam. Dalam laporannya, televisi tersebut menayangkan pula bagaimana kehidupan keseharian nenek Minah yang hanya bertani dan hidup seadanya.

Untuk berangkat ke persidangan pun dia harus berhutang kepada tetangganya karena tidak punya biaya. Bahkan tetangga nenek Minah yang dihutangi biaya ke persidangan itu pun menunjukkan muka yang sedih dan menangis karena kasihan ketika dimintai pendapat oleh televisi tersebut.
Penonton yang melihat tayangan ini, sontak menunjukkan sejumlah reaksi. Ada yang ikut-ikutan menangis karena sedih dan prihatin dengan keadaan nenek Minah.

Ada yang merasa marah, karena aparat penegak hukum yang menangani kasus ini bersikap sewenang-wenang dan tidak berperikemanusiaan. Ada pula yang bersikap biasa saja, karena masalah ini tidak ada kaitannya dengan kepentingannya.
Reaksi orang terhadap tayangan televisi apapun bentuk programnya cukup beragam. Ada yang menunjukkan respon sebagaimana yang ditayangkan di televisi, sedih merespon sedih, senang merespon senang. Tapi ada juga yang merespon sebaliknya, dalam tayangan yang sedih, dia justru merasa senang atau justru merasa marah, sebagaimana contoh kasus nenek Minah tadi.
Media Equation Theory
relatif masih baru di dalam dunia media, karena baru dipublikasikan dari hasil penelitian pada tahun 1997.
Bahkan tidak semua ahli menyetujui teori ini sebagai bagian dari dinamika ilmu komunikasi. Secara konseptual, teori persamaan media ini mencoba memberikan pandangan yang cukup menantang dan sangat baru mengenai bagaimana interaksi yang terjadi antara manusia dan media.

Pemetaan yang dilakukan adalah bagaimana manusia memperlakukan media, yang dalam penelitian ini tidak diperlakukan sebagai pihak yang pasif.
Media juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face.
Dalam teori persamaan ini, media dianggap sebagai bagian dari kehidupan nyata (media and the real life are the same).

Tokoh teori ini adalah Bryon Reeves dan Clifford Nass.
Media Equation Theory atau teori persamaan media ini ingin menjawab persoalan mengapa orang-orang secara tidak sadar dan bahkan secara otomatis merespon apa yang dikomunikasikan media seolah-olah (media itu) manusia

Dengan demikian, menurut asumsi teori ini, media diibaratkan manusia. Teori ini memperhatikan bahwa media juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti dalam komunikasi antar pribadi yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face

Apa yang dilakukan manusia, seperti berkomunikasi, bercerita, memberi nasihat dan menghibur, bisa dilakukan oleh media. Sehingga lama-kelamaan peran manusia akan bergeser dan tergantikan oleh kehadiran media. Media seakan dianggap seperti manusia oleh manusia itu sendiri

Misalnya, kita berbicara (meminta pengolahan data) dengan komputer kita seolah komputer itu manusia. Kita juga menggunakan media lain untuk berkomunikasi. Bahkan kita berperilaku secara tidak sadar seolah-olah media itu manusia.

Dalam komunikasi interpersonal misalnya, manusia bisa belajar dari orang lain, bisa dimintai nasihat, bisa dikritik, bisa menjadi penyalur kekesalan atau kehimpitan hidup.
Apa yang bisa dilakukan pada manusia ini bisa dilakukan oleh media massa.

Dalam media cetak misalnya, kita bisa meminta nasihat masalah-masalah psikologi pada rubrik konsultasi psikologi di media massa itu, kita bisa mencari jodoh juga bisa lewat media, misalnya dalam rubrik kontak jodoh. Kita bisa tertawa, sedih, iba terhadap apa yang disajikan media.
Intinya, layaknya manusia media bisa melakukan apa saja yang dikehendaki individu bahkan bisa jadi lebih dari itu.

Ketika manusia mendengarkan radio dengan volume kecil, maka ia akan mendekat ke arah radio tersebut. Hal ini sama seperti ketika manusia itu berinteraksi dengan manusia yang lain. Ketika lawan bicaranya berbicara dengan pelan dan kecil, maka secara otomatis kita akan mendekat supaya bisa mendengar apa yang mereka sampaikan.

Media diberlakukan sebagai aktor sosial. Artinya, aturan yang mempengaruhi perilaku setiap hari individu-individu dalam interaksi dengan orang lain relatif sama seperti ketika orang-orang berinteraksi dengan media.
Kalau orang berinteraksi dengan memakai aturan tertentu, mediajuga punya aturan tertentu juga seperti dalam situasi lingkungan sosial.

De Fleur, Uses and Gratification, dan Media Equation Theory
De Fleur menegaskan adanya lingkungan sosial dan kehidupan sekitar yang memberikan pengaruh terhadap individu untuk memberikan respon terhadap media.
Uses and Gratification melihat adanya motivasi dan kemampuan kognitif orang karena adanya kepentingan dan kepuasan tertentu untuk menggunakan media

Kedua pandangan di atas masih menempatkan media massa sebagai media, bukan sebagai personal atau individu.
Pandangan yang sangat berbeda dan baru inilah yang dibangun oleh Media Equation Theory.
Selain menempatkan individu sebagai personal dan media sebagai personal, teori ini juga menempatkan media sebagai sesuatu yang aktif, manusia sebagai makhluk dengan old brain yang dia punya.

Teori ini mengibaratkan bagaimana media massa berinteraksi dengan manusia layaknya manusia dengan manusia. Tentunya ini menjadi perdebatan karena media massa tidak mempunyai kognisi yang sama dengan old brain yang dimiliki manusia. Media massa tetaplah mesin pengirim pesan, yang oleh Reeves dan Nass diberikan penekanan bahwa media more than a tool.

Kognisi yang dikatakan Reeves dan Nass sebagai kemampuan media merespon dan memberikan perintah kepada manusia untuk melakukan sesuatu adalah hasil karya dari manusia itu sendiri, bukan hasil pemikiran dari media sebagaimana old brain yang dimiliki oleh manusia. Aspek inilah yang belum dijawab oleh Reeves dan Nass melalui penelitiannya

Meskipun media massa berevolusi semakin canggih dengan adanya teknologi, makin efektif merespon kebutuhan manusia, dan bisa memunculkan sifat ketergantungan sebagaimana yang terjadi dalam hubungan interpersonal, namun persoalan kognisi media yang berasal dari ciptaan manusia dan konteks media yang bersifat masif bukan personal belum terjawab.
Media Equation dengan Teori Mengenai “message”
Jika dalam Media Equation Theory sebagaimana dipandang Griffin, lebih banyak menitikberatkan mengenai interaksi antara media dengan manusia layaknya hubungan interpersonal, maka seharusnya secara pesan pun seharusnya terkandung muatan-muatan yang bersifat interpersonal.

Bagi McLuhan keberadaan televisi (atau media lain) sendiri dalam ruangan tersebut adalah sebuah pesan. Adanya televisi (media lain), menjadikan penanda bahwa manusia berkembang dan teknologi komunikasinya juga berkembang.
McLuhan, secara jelas bisa memetakan bahwa adanya televisi menjadi penanda determinisme teknologi. Pesan yang dibawa jelas, perkembangan teknologi.

Sedangkan dalam Media Equation Theory, pesan yang disampaikan cukup ambigu.
Televisi jelas tidak mempunyai mulut untuk berbicara, namun bisa menyuarakan audio dari program yang ditayangkannya.
Jika memandang televisi itu sebagai medium, secara jelas Reeves dan Nass menyatakan bahwa media dianggap layaknya manusia, dimana dia berinteraksi sebagaimana orang berinteraksi.

Akan tetapi, memahami kejadian televisi tersebut tentunya logika ini tidak match. Televisi tidak berpikir layaknya manusia. Televisi juga tidak berbicara layaknya manusia. Televisi pun tidak mendengarkan dan memberikan feedback sebagaimana manusia ketika berinteraksi dalam hubungan interpersonal.
Kritik
Kritik atas Media Equation Theory ini juga mengkritisi mengenai salah satu pernyataan mereka, bahwa bagaimana manusia memperlakukan media, sama seperti manusia memperlakukan manusia yang lain. Manusia sama dengan media.
Namun, yang perlu menjadi catatan dalam hal ini, Reeves menuliskan bahwa media dalam teori ini meliputi semua media, baik itu media cetak, radio, televisi, bahkan internet.

Treatment yang mereka lakukan untuk memberikan bukti terhadap penelitian ini diantaranya adalah dengan melihat respon orang ketika melihat televisi dan memperlakukan internet.
Meskipun sama-sama media, televisi dan internet adalah dua hal yang berbeda. Televisi selama ini dimasukkan dalam kategori media massa,
sedangkan internet masuk dalam kategori new media karena tidak bisa dimasukkan dalam ranah massa atau personal saja.
KESIMPULAN
Dalam kajian ilmu komunikasi, bagaimana manusia berinteraksi dengan mediumnya, Media Equation Theory memang menghadirkan perspektif baru.
Pertama, hubungan antara manusia dengan media massa dianggap sama sebagaimana hubungan antara manusia dengan manusia dalam hubungan interpersonal.

Kedua, media dianggap mempunyai kognisi dengan penekanan, medium more that a tool, sehingga media dianggap bisa memberikan respon atas komunikasi yang terjadi antara media dengan manusia.
Ketiga, teori ini menyamaratakan efek media pada manusia ketika manusia berhadapan dengan media, apapun bentuk medianya.

Kritik atas teori ini :
Pertama, jika teori ini memang berbicara pada ranah efek media, Media Equation Theory telah melupakan aspek kognisi yang dimunculkan dalam teori yang berbicara mengenai efek media.
Bagaimanapun ketika manusia berinteraksi dan berkomunikasi mereka dipengaruhi oleh dirinya sendiri yang mempunyai kemampuan kognitif, tujuan, dan motivasi, atau lingkungan sekitarnya yang membentuk sosial dan kulturalnya, atau orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dalam teori ini, justru manusia ditempatkan sebagai sesuatu yang pasif dengan menerima apapun yang diminta dan dilakukan oleh media.
Kedua, media massa sebagai produk dari teknologi komunikasi mempunyai dua kategori, sebagai bukti atas determinisme teknologi atau menjadi determinisme sosial dan budaya.

Media massa memang menjadi variabel yang aktif dalam konteks perkembangan teknologi komunikasi. Media menjadi pesan yang harus dibaca, dlihat, dan dikritisi. Namun dalam Media Equation Theory media justru dipandang sebagai personal yang melakukan perubahan atas apa yang dilakukan oleh manusia.

Pemikiran ini sangat berbeda dengan pemikiran McLuhan yang menyatakan bahwa media as a message.
Dengan begitu teori ini menjadi semacam penegasan bahwa media mempunyai kognisi yang mampu menunjukkan perilaku tertentu.
Padahal media sendiri sebenarnya tida mempunyai old brain sebagaimana manusia. Bagaimana media berpikir juga karena dibentuk dan diciptakan oleh manusia.

sumber:
Littlejohn, Stephen W, Foss, Karen A, 2008, Theories of Human Communication,Ninth Edition, Belmont California: Wadsworth Publishing Company

 
Leave a comment

Posted by on December 14, 2012 in CampurSari

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: