RSS

Lopisan Pekalongan

27 Dec

Idul Fitri menjadi hari raya umat Islam yang dirayakan dengan beragam istilah dan cara perayaan yang unik di berbagai daerah. Idul fitri dikenal dengan beberapa sebutan misalnya Lebaran, Bodo, Ba’do dan istilah lain yang memiliki makna sama yaitu sebuah perayaan setelah berpuasa Ramadhan. Lebaran artinya sudah, usai, setelah, selesai, dari kegiatan berpuasa. Ini semakna dengan Bodo dan Ba’do yang juga berarti setelah selesainya puasa. Kata-kata tersebut konon digunakan oleh para wali penyebar Islam di jaman dahulu agar mudah dimengerti. Kata lebaran, bodo dan ba’do digunakan untuk mewakili kata Idul Fitri sedangkan kata puasa untuk menggantikan kata shaum dalam bahasa Arab. Masyarakat Jawa tentu lebih mudah memahami filosofi kata lebaran dan puasa daripada Idul fitri dan shaum.
Ragam perayaan lebaran yang dilakukan masyarakat Indonesia dibalut dalam kearifan lokal setiap daerah. Simbolisasi perayaan lebaran di setiap daerah merupakan bagian dari proses akulturasi antara budaya lokal dan Islam yang dibawa oleh para wali. Masyarakat Jawa ketika itu masih banyak menganut agama Hindu sehingga dibutuhkan sebuah pendekatan kultural agar Islam bisa diterima. Seperti perayaan lebaran yang kemudian dikemas dalam beragam simbol perayaan yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat Hindu.
Bentuk simbol-simbol perayaan lebaran muncul dalam rupa makanan, pakaian, atau ritual yang diarahkan untuk tujuan tertentu. Semangat persatuan, persaudaraan, ketentraman dan kesatuan dalam masyarakat menjadi tujuan besar yang ingin dicapai. Salah satu tradisi yang lazim adalah silaturahmi dari rumah ke rumah. Berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain untuk saling memaafkan memang dikenal sebagai salah satu ciri khas perayaan lebaran di Indonesia. Tradisi lain yang juga marak digelar adalah syawalan yang dilakukan setelah puasa enam hari di bulan syawal. Tradisi syawalan dikenal luas di Jawa dan setiap daerah memiliki keunikan dalam pelaksanaannya. Salah satu tradisi syawalan yang terkenal di daerah pantai utara Jawa (Pantura) adalah Lopisan atau Krapyakan di Pekalongan. Acara ini biasanya digelar setelah puasa enam hari di bulan syawal. Lopisan di Pekalongan menjadi tradisi yang meriah terutama di wilayah Krapyak, Kranggan, Kuripan, dan Bugisan. Acara ini selalu dinanti setiap tahunnya oleh masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.
Munurut cerita Ibu Parti yang tinggal di daerah Bugisan, tradisi Lopisan sudah ada semenjak jaman dahulu. Dia mewarisi tradisi tersebut dari kakek nenek dan orang tuanya. Bapak Pamardi (adiknya Bu Parti) menambahkan yang pertama mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso. Tradisi ini diturunkan dari generasi ke generasi sehingga tetap dijaga sebagai bagian dari warisan leluhur.
Lopisan berasal dari kata “lopis” yaitu sebuah makanan yang dibuat dari bahan “ketan”. Disebut juga Krapyakan karena puncak acara dilaksanakan di daerah Krapyak. Untuk membuat Lopis dibutuhkan bahan baku ketan yang kemudian dibungkus dengan daun pisang. Pengikatnya menggunakan tali bambu yang dililitkan. Ketan kemudian direbus selama kurang lebih 5 jam. Lamanya proses tergantung dari banyak sedikitnya jumlah ketan yang dijadikan bahan baku Lopis. Lopis memiliki rasa manis sehingga banyak disukai masyarakat. Saat ini Lopisan sudah menjadi agenda pariwisata Pekalongan yang digelar setiap tahun. Untuk kebutuhan tersebut dibuatlah lopis raksasa dengan bahan baku ketan yang digunakan bisa mencapai 4 kwintal. Tentu saja untuk memasak lopis dengan ketan sebanyak itu bisa membutuhkan waktu 4-5 hari.
Pemilihan ketan sebagai bahan baku lopis sesungguhnya sarat akan makna filosofis. Ketan memiliki makna “raket” atau lengket, ini menyimbolkan semangat persaudaraan, persatuan, perdamaian. Setelah berpuasa dan merayakan lebaran maka semangat untuk saling memaafkan adalah syarat untuk kelanggengan persaudaraan dan persatuan di masyarakat. Ini sedikit berbeda dengan tradisi syawalan di daerah lain yang biasanya disimbolkan dengan “bodo kupat” atau “kupatan” yang bermakna wani ngaku lepat (berani mengakui kesalahan). Kupat biasanya disandingkan dengan opor ayam sebagai lauknya. Model simbolisasi kupatan dan lopisan ini sebenarnya memiliki makna luhur yang sama yaitu semangat untuk menjaga persatuan dan persaudaraan. Dengan berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, maka persaudaraan dan persatuan akan tetap terjaga. Persaudaraan akan semakin “raket” atau kuat ketika setiap individu bersedia saling memaafkan dan bersilaturahmi.
Lopisan digelar setelah puasa enam hari di bulan Syawal karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat Pekalongan untuk berpuasa sehari setelah Idul fitri. Selama enam hari sanak saudara dari luar daerah biasanya menahan diri untuk berkunjung karena tuan rumahnya masih berpuasa. Sehingga Lopisan menjadi ajang untuk menumpahkan semangat silaturahmi, menjalin persaudaraan dan merekatkan kembali simpul-simpul persaudaraan yang kendur dalam setahun. Pada hari itu rumah-rumah warga dibuka lebar dan siap menerima tamu yang datang bersilaturahmi. Menu lopis menjadi makanan utama yang ada di setiap rumah selain makanan wajib lebaran lainnya.
Prosesi lopisan dimulai dengan memotong lopis raksana leh walikota atau pejabat yang mewakili kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Selain menghadiri acara pemotongan lopis, masyarakat juga berkunjung ke rumah sanak kerabat yang telah siap menyambut mereka. Beragam masyarakat dari berbagai etnis berkumpul menjadi satu merayakan lopisan. Ini menyimbolkan semangat persatuan dan persaudaraan diantara beragam etnis, suku dan kelompok sosial masyarakat Pekalongan. Dihari itu mereka menanggalkan perbedaan dan bersatu sebagai sebuah keluarga besar. Semangat ini yang diharapkan tetap dibawa dalam pergaulan sehari-hari.
Pekalongan menjadi contoh daerah yang dihuni oleh beragam etnis dengan perbedaan budaya dan adat istiadat. Sebagai wilayah di pesisir pantai utara Jawa, Pekalongan menjadi jalur perdagangan yang banyak disinggahi semenjak dahulu. Etnis Jawa, Arab, Cina berbaur menjadi satu dalam balutan kemajemukan. Dewasa ini ada dua konsep masyarakat majemuk yang muncul dari berbagai hasil penelitian yaitu: (1) konsep “kancah pembauran” (melting pot), dan (2) konsep “pluralisme kebudayaan” (cultural pluralism).
Teori kancah pembauran pada dasarnya, mempunyai asumsi bahwa integrasi (kesatuan) akan terjadi dengan sendirinya pada suatu waktu apabila orang berkumpul pada suatu tempat yang berbaur, seperti di sebuah kota atau pemukiman industri. Sebaliknya konsep pluralisme kebudayaan justru menentang konsep kancah pembauran di atas. Menurut Horace Kallen, salah seorang pelopor konsep pluralisme kebudayaan tersebut, menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnis atau ras yang berbeda tersebut malah harus di dorong untuk mengembangkan sistem mereka sendiri dalam kebersamaan, memperkaya kehidupan masyarakat majemuk mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsep kancah pembauran hanyalah suatu mitos. Mitos yang tidak pernah menjadi kenyataan, sedang pluralisme kebudayaan menurut berbagai ahli telah mengangkat Amerika Serikat, Cina, Rusia, Kanada, dan India menjadi negara yang kuat. Masyarakat majemuk Indonesia lebih sesuai didekati dari konsep pluralisme kebudayaan, sebab integrasi nasional yang hendak diciptakan tidak berkeinginan untuk melebur identitas ratusan kelompok etnis bangsa kita. Disamping dijamin oleh UUD 45, pluralisme juga diperlukan dalam pembangunan nasional. Masalahnya ialah bagaimana mengelola pluralisme itu dan menjauhkan dampak negatifnya dalam “National Building” .
Dalam tradisi lopisan yang digagas oleh para juru dakwah Islam di masa lampau menerapkan prinsip-prinsip pluralitas kebudayaan tersebut. Lopisan tidak dimaksudkan untuk meleburkan semua jenis kebudayaan menjadi satu melainkan simbolisasi persatuan dan semangat persaudaraan. Masyarakat yang sudah terbiasa dengan perayaan tidak dihilangkan kesempatanya untuk aktualisasi diri. Lopisan mewadahi kreatifitas dan membungkusnya dalam semangat persaudaraan dan persatuan.
Reaktualisasi Lopisan dalam masyarakat majemuk
Acara lopisan sudah berlangsung puluhan tahun, sehingga mulai terjadi pergeseran dari makna dan semangat awal adanya cerita ini. Maka perlu disegarkan kembali agar generasi muda yang akan datang tidak tercerabut dari akal budayanya. Reaktualisasi ini penting terkait kondisi bangsa saat ini. Konflik dengan kekerasan terjadi di berbagai daerah. Lampung, Maluku, Kutai, Jakarta, NTT, Madura dibanjiri tetesan darah karena konflik. Dikalangan generasi muda juga penuh dengan tragedi kekerasan. Tawuran pelajar dan mahasiswa dipilih untuk menyelesaikan masalah.
Indonesia adalah negara multikultur dengan beragam jenis perbedaan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik hasil sensus tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah suku bangsa di Indonesia mencapai 1.128. Saat ini ada kecenderungan bahwa perbedaan digunakan oleh masyarakat sebagai alasan untuk berkonflik dan bertikai. Padahal semenjak jaman dahulu ketika para pendahulu bangsa ini memproklamirkan kemerdekaan, semangat menjaga perbedaan dalam bingkai persatuan tetap diutamakan. Tengoklah sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia. Untuk mengokohkan semangat ini maka lahirlah Bhineka Tunggal Ika sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Keberagaman dan upaya untuk menjaga persatuan bangsa muncul dalam beragam simbolisasi yang diwariskan semenjak nenek moyang bangsa ini ada. Mereka menyadari pentingnya simbolisasi tersebut sehingga tranfer ide dan gagasan persatuan lebih mudah dilakukan. Contohnya, akulturasi antara Islam dan Hindu terjadi dalam beragam bentuk bangunan seperti menara masjid, alun-alun dan arsitektur bangunan masjid.
Lopisan Pekalongan juga memiliki filosofi yang sama untuk meningkatkan persatuan masyarakat. Nilai ini yang harus terus-menerus diwariskan dari generasi ke generasi. Perbedaan itu bisa direkatkan tanpa harus diselesaikan dengan kekerasan. Beragam etnis yang hidup di Pekalongan bisa rukun berdampingan karena saling menghargai perbedaa. Filosofi lopisan yang luhur inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Bu Parti sebagai generasi terdahulu yang menerima tradisi lopisan dari leluhurnya melihat fenomena sekarang sudah mulai berbeda. Generasi muda sekarang munurutnya tidak memahami lagi akar tradisi lopisan yang luhur. Mereka justru memandang lopisan tidak lebih dari sekedar keramaian yang sama dengan acara-acara lainnya.
Mengikuti tradisi lopisan yang digelar setiap tahun hanya sebatas ajang berwisata, berhura-hura, mendapat kenalan baru, pacar baru dan kepentingan sesaat lainnya. Kekhawatiran Bu Parti dan generasi seangkatannya menjadi peringatan agar pemangku kepentingan memperhatikan kondisi ini. Tokoh masyarakat, pemerintahan, orang tua, guru dan panutan lainnya perlu mengingatkan kembali nilai luhur lopisan. Generasi muda harus diajak untuk mengingat dan memahami kenapa lahir tradisi ini. Hal ini penting agar dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa menerapkan prinsip persaudaraan dan tenggang rasa. Sebuah bekal hidup yang harus dimiliki dalam masyarakat majemuk.
Lebih dari sekedar lopisan
Saat ini Lopisan sudah menjadi agenda pariwisata di Pekalongan. Setiap tahunnya dibuat Lopis raksasa yang dimudian dipotong secara simbolis oleh Walikota dan dibagikan kepada para pengunjung. Ribuan orang setiap tahunnya menghadiri acara lopisan dan menjadi potensi pariwisata kreatif yang layak dikembangkan. Pekalongan sendiri merupakan wilayah di Pantura yang memiliki potensi besar untuk pengembangan ekonomi kreatif. Selain Lopisan, Pekalongan juga dikenal sebagai sentra batik yang mendunia. Batik Pekalongan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Kalau setiap tahun Lopisan dihadiri ribuan orang maka potensi pengembangan pasar batik tentu terbuka lebar. Sinkronisasi program dan kreatifitas acara akan memberikan nilai lebih bagi kemajuan ekonomi kreatif di Pekalongan.
Batik sudah mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Sehingga lebih mudah untuk mempromosikan program lain yang dikaitkan dengan batik. Lopisan misalnya, selama ini masih menjadi agenda regional pekalongan dan sekitarnya. Semestinya kalau dikelola dengan baik dan dikombinasikan dengan batik akan menghasilkan daya tarik yang lebih luas. Lopisan memiliki nilai-nilai dalam kerangka persatuan dan kesatuan bangsa. Alangkah baiknya jika semangat ini menular secara nasional sehingga bangsa ini bisa hidup rukun dalam kemajemukan.
Untuk bisa membuat lopisan menjadi agenda nasional bahkan internasional ada beberapa cara yang bisa dilakukan, diantaranya:
1. Menggabungkan agenda lopisan dengan batik. Misalnya acara lopisan dilengkapi dengan seragam batik. Kemudian agenda seperti pameran batik nasional atau bahkan internasional bisa dilakukan secaa beriringan dengan lopisan. Selama ini lopisan hanya menjadi agenda regional karena tidak dikaitkan dengan agenda lain yang bisa membuatnya lebih dikenal. Untuk itu lopisan perlu dikemas dengan lebih menarik dan tetap berpegang pada akar filosofinya yang kuat. Wisatawan dari mancanegara biasanya sangat menyukai dan menghargai agenda pariwisata yang memiliki akar filosofi lokal yang kuat. Ini merupakan bagian dari keinginan mereka untuk mengenal bangsa lain.
2. Memanfaatkan sosial media seperti facebook dan twitter untuk melakukan promosi sekaligus meminta masukan dari berbagai pihak bagi kemajuan agenda ini. Di jaman yang sudah tanpa batas ini media sosial memegang peran penting bagi penyebaran informasi sekaligus penanaman nilai. Generasi muda saat ini lebih suka duduk di depan komputer untuk mencari informasi sehingga media sosial adalah saluran yang praktis, murah dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Indonesia masuk dalam 5 besar pengguna facebook di dunia. Berdasarkan penelitian Semiocast, lembaga riset media sosial yang berpusat di Paris, Prancis, ternyata jumlah pemilik akun Twitter di negara ini merupakan yang terbesar kelima di dunia. Indonesia berada di posisi kelima dengan jumlah akun 19,5 juta. Sosial media adalah potensi yang besar bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.
Pada akhirnya manfaat terbesar yang ingin dipetik oleh bangsa ini melalui beragam tradisi adalah adanya semangat kerukunan dalam kemajemukan. Seperti halnya lopisan Pekalongan yang menularkan semangat untuk “raket” dan tetap kuat dalam tali persaudaraan. Semoga semangat ini membawa kebaikan bagi bangsa Indonesia yang multikultur.

 
Leave a comment

Posted by on December 27, 2012 in Sosial budaya

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: