RSS

Menarasikan Facebook Sebagai Super-Panopticon

07 Jan

“…he (the prisoner) is the object of information, but never a subject in communication”

(Michel Foucault, Discipline and Punish)

PENDAHULUAN
Sejak media massa hadir pada 500 tahun yang lalu, keberadaannya telah menyihir banyak elemen dalam aspek kehidupan. Sejarah peradaban telah membuktikan bahwa keberadaan informasi dan komunikasi selalu beriringan dengan kehadiran dan perkembangan teknologi. Manusia menjadi semakin ‘haus’ akan informasi, semua rasa ingin tahu manusia ini berawal dari naluri atau rasa ingin mengetahui dan memberitahukan sesuatu kepada sesamanya yang akhirnya menjadi sebuah hak, yaitu hak tahu dan memberitahukan, right to know dan right to inform. Memang tak bisa dipungkiri bahwa rasa haus dan ingin tahu manusia menjadi sebuah jawaban yang kuat dalam pencarian media baru.
Lahirnya media-media baru membawa angin segar terhadap kemudahan yang diperoleh manusia dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Terutama setelah hadirnya sebuah teknologi dan media baru yang saat ini kita kenal sebagai internet. Pernyataan seorang sosiolog terkenal dari Kanada, Mc Luhan, dapat semakin meyakinkan kita bahwa saat ini dunia tak lebih dari sekadar desa dunia (global village). Bentuk bumi yang bulat, beserta seluruh lekukan dan jaraknya seakan menjadi sebuah dataran yang sangat kecil dan tak berarti. Internet merupakan saluran komunikasi interaktif, dimana manusia dapat berinteraksi langsung dengan orang lain dari berbagai belahan dunia. Internet adalah media konvergensi atau media yang menggabungkan unsur-unsur dari perkembangan media cetak dan elektronik dalam satu media. Lahirnya internet hampir mengubah pola hidup masyarakat dan memberikan kontribusi yang besar dalam melakukan komunikasi, publikasi serta menjadi sarana untuk mendapatkan berbagai informasi.
Saat ini, masyarakat di mana pun berada dapat menggunakan teknologi internet seperti situs jejaring sosial untuk menggalang kekuatan sekaligus menegaskan pendirian mereka tentang apa pun, yang sebelumnya hal itu mustahil dilakukan. Situs jejaring sosial telah menjadi bagian dari kehidupan hampir semua orang, baik tua maupun muda dan tanpa mengenal gender serta status sosial mereka. Dapat dikatakan, kini kita telah memasuki era hyperconnected dimana orang selalu terhubung dengan semua orang setiap detik, setiap waktu, setiap hari.
Indonesia pun sekarang seakan tengah tersihir oleh jerat jejaring aplikasi sosial on-line Facebook yang kini menjadi nomor satu menyingkirkan Friendster, Multiply.com, MySpace yang terlebih dulu muncul dan popular sebelumnya. Publikasi Alexa.com terkini mengungkap bahwa Indonesia yang sesungguhnya terbilang masih cukup buruk kondisi konektivitas maupun amat rendah tingkat prosentase pengguna akses Internet on-line —0.5% dari 235 juta penduduk yang memiliki koneksi Internet aktif— nyatanya menjadi salah satu negeri yang tertinggi di kawasan ASEAN dalam pertumbuhan pengguna Facebook yakni : 645% selama tahun 2008 yanglalu. Diperkirakan sekarang ada sekitar 3 juta pengguna Facebook dari Indonesia. Akses pengguna Facebook asal Indonesia mencatatkan angka 4% hingga dalam lingkup global dapat duduk pada peringkat ke-5 dibawah pengguna asal AS, Inggris, Perancis, dan Italia (Rizal Aachtung, 23 Mei 2009)
Fenomena inilah yang kemudian memunculkan pernyataan bahwa Indonesia telah menjadi The Republic of the Facebook (Putra, 2009). Demikian headlines yang ditulis oleh Budi Putra mantan editor Harian Tempo yang dirilis oleh CNET Asia portal IT terkemuka di Asia pada awal bulan Januari 2009 lalu. “Prestasi” ini menjadikan Indonesia sebagai the fastest growing country on Facebook in Southeast Asia. Bahkan, angka ini mengalahkan pertumbuhan pengguna Facebook di China dan India yang merupakan peringkat teratas populasi penduduk di dunia (Sahana, 2008).
Namun, perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi akhir-akhir ini telah menghasilkan fenomena yang tak terbayangkan, yaitu makin menipisnya ruang privat. Bahkan muncul ancaman berupa hilangnya ruang privat sehingga anggota masyarakat tidak lagi memiliki privasi. Sebelum terjadinya fenomena kontemporer ini, manusia sebagai anggota masyarakat memiliki ruang privat dan ruang publik. Tetapi ruang privat itu kini terancam benar-benar “lenyap.”
Penggunaan facebook pun bukannya tanpa resiko. Setiap catatan, pesan, gagasan atau ucapan yang kita masukkan di dalam situs jejaring sosial ini akan langsung terbaca dan dapat diakses oleh ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan anggota jejaring sosial lainnya. Tulisan seperti punya nyawa sendiri. Ia lepas dari kontrol kita dan kita tak bisa menariknya lagi. Orang lain bisa mem-forward opini itu ke mana-mana tanpa bisa kita halangi. Bahkan orang itu bisa mengubah isi opini kita, mendramatisasi, menambahkan sesuatu, menghapus bagian tertentu, dan sebagainya.
Kasus Prita Mulyasari vs RS Omni Internasional, bisa dijadikan salah satu contoh betapa beropini di dunia maya juga mengandung resiko. Prita yang menuliskan pengalamannya saat berobat di rumah sakit tersebut, justru didakwa melanggar Pasal 27 ayat (3) junto Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal 27 ayat (3) UU tersebut menyatakan: “Setiap orang dilarang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatanpenghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Prita juga dikenakan Pasal 310, 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman 1 tahun 6 bulan. Sedangkan Pasal 45 Ayat 1 UU ITE menyatakan, pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 27 Ayat 3 diancam pidana penjara paling lama 6 tahun penjara dan atau denda paling banyak 1 miliar rupiah.
Praktis tidak ada lagi yang namanya privasi (privacy) atau ruang privat. Semua yang bersifat privat telah menjadi publik, menjadi konsumsi umum, pemerintah, penguasa, dan sebagainya. Selalu ada pihak lain yang bisa memantau, mengintai, menyadap, memata-matai, dan menelanjangi diri kita, tanpa memandang waktu dan tempat. Karena sadar sepenuhnya bahwa dirinya selalu menjadi obyek pantauan itulah, manusia sebagai anggota masyarakat pun praktis akhirnya seperti kehilangan kebebasan. Manusia selalu merasa terpenjara, dipantau, diawasi, diintai, dan dimata-matai oleh pihak lain, baik pengawasan itu benar-benar aktual terjadi atau sekadar dalam imajinasinya saja. Artinya, internet merupakan sebuah objek kajian yang memang memiliki kontribusi bagi perbaikan kehidupan masyarakat di satu sisi, tapi tanpa mengabaikan potensi-potensi terburuk yang telah dan mungkin akan muncul sebagai salah satu konsekuensinya di sisi yang lain. Ini yang kemudian oleh Foucault dikenal dengan Panopticon, yaitu ruang-ruang tempat relasi kuasa beroperasi secara langsung.

PERMASALAHAN
Panopticon adalah perwujudan puncak dari institusi pendisiplinan modern. Panopticon merupakan struktur yang memungkinkan aparatus melakukan observasi secara menyeluruh (terus menerus) mengenai tawanan, artinya panopticon memungkinkan penerapan sejenis pandangan tertentu yang berdasarkan “pandangan/tatapan yang tidak setara” (unequal gaze). Dengan panopticon, aparatus (penjaga) bisa mengamati secara konstan dan mengenal dengan cepat (Ritzer, 1995: 60). Sehingga, konsep panoptikon dicirikan adanya kuasa atas informasi oleh satu pihak. Di dalam penjara Panoptikon, penguasa seluruh informasi adalah sang penjaga sedangkan tawanan tidak pernah mengetahui informasi. Oleh karena itu, tawanan tidak pernah menjadi subyek komunikasi. Tawanan tidak pernah bisa merasa pasti, apakah ia sedang diawasi atau tidak.
Perumpamaan penjaga dan tawanan dapat kita perlebar ke ranah sosial yang lebih luas, khususnya dalam fenomena Facebook. Dalam Facebook dapat kita bagi menjadi dua pihak, yaitu pihak pemilik Facebook sebagai penjaga dan pihak pengguna Facebook sebagai tawanan. Sebagai penjaga, pemilik facebook memiliki kekuasaan yang tak terkontrol untuk mengawasi para pengguna. Bagaimanakah semua sistem panoptikon itu dimungkinkan terjadi dalam Facebook? Bagaimana pula Facebook kemudian menjadi Super-Panopticon?

PEMBAHASAN
Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti: .edu, .ac, .uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs jejaring sosial ini.
Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Dan akhirnya pada September 2006 Facebook membuka pendaftaran untuk siapa saja yang memiliki alamat e-mail. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah, tempat kerja, atau wilayah geografis. Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Pada tahun 2007 pula, terdapat penambahan 200 ribu account baru perharinya
Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi, dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serikat, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya. Lebih dari 25 juta user aktif menggunakan Facebook setiap harinya. Rata-rata user menghabiskan waktu sekitar 19 menit perhari untuk melakukan berbagai aktifitas di Facebook . (http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook)
Syarat pertama untuk dapat mengakses Facebook adalah melakukan pendaftaran dengan menyertakan alamat E-mail sekaligus password calon pengguna. Dari proses awal ini saja kita dapat mengetahui bahwa Facebook sangat berpotensi menguasai pengawasan atas segala informasi para penggunanya. Dengan memegang semua alamat email dan password para penggunanya, Facebook dapat mengontrol seluruh informasi yang berkaitan dengan penggunanya. Facebook tidak hanya dapat memblokir tapi juga dapat mengetahui pesan-pesan (yang bisa jadi rahasia) antar anggotanya. Artinya, sedari awal, Facebook telah membawa kita ke dalam suatu bentuk teknologi kekuasaan yang disebut sebagai Super Panopticon.

Panopticon = Teknologi Kekuasaan
Dalam karya klasiknya, Panopticon; Or The Inspector House yang terbit tahun 1787, Jeremy Bentham membuat sebuah proposal tentang sebuah model yang bisa dipakai untuk membangun sistem penjara dengan seluruh lingkungannya yang secara total bisa dikontrol (dikutip dari tulisan Hikmat Budiman,http://www.interseksi.org/publications/essays/articles/menarasikan_cyberspace.html). Model tersebut ia sebut sebagai Panopticon. Dalam Panopticon satu orang pengawas di menara bisa mengawasi aktivitas banyak orang dalam tahanan. Yang dikembangkannya adalah sebuah model pengawasan melalui apa segelintir kecil orang (para sipir atau pengawas, dan atasannya) secara konstan mengawasi banyak orang (the few watch the many). Para tahanan tahu bahwa mereka selalu berada dalam pengawasan, tapi tidak satu pun dari mereka tahu kapan pengawasan dilakukan (Foucault, 1995: 200).
Interpretasi Foucault atas gagasan Bentham memberi penekanan pada efek kekuasaan yang dilihatnya berlaku otomatis dalam sistem Panopticon. Kekuasaan harus terlihat atau tampak tapi tidak bisa diverifikasi (visible and unverifiable) Kuasa harus tampak dalam arti bahwa tahanan akan secara konstan melihat di depan matanya sisi bangunan tinggi menara pusat pengawasan dari mana mereka diintai. Kuasa harus tidak bisa diverifikasi dalam arti bahwa tahanan harus tidak pernah tahu kapan persisnya ia sedang diawasi pada satu saat tertentu. Kondisi mental yang dihasilkannya mengakibatkan setiap tahanan selalu menimpakan beban pada diri mereka sendiri. Beban bahwa mereka diawasi setiap saat oleh sebuah kekuasaan yang tidak tampak bagi mereka.
Kekuasaan menjadi sebuah tatapan tak berwajah (faceless gaze) yang akan terus mengawasi seluruh tingkah laku mereka. Identitas kolektif dihapuskan, dan digantikan oleh satu kumpulan identitas dari individu-individu yang terpisah, sehingga dalam kaca mata para penjaga atau pengawas di menara, yang ada bukan identitas kolektif melainkan, dalam bahasa Foucault, “sebuah multiplisitas yang bisa dihitung dan diarahkan” (Foucault, 1995: 201). Mereka yang berada dalam tahanan model Panopticon pada dasarnya telah berubah menjadi agen penindasan bagi dirinya sendiri. Para tahanan, dengan kalimat lain, mengalami sebuah situasi yang dilukiskan Foucault sebagai penindasan-diri (self oppressed). Salah satu dogma yang berlaku di kalangan mereka yang mengalami situasi mental seperti itu adalah bahwa individu-individu mutlak memerlukan perlindungan, dan mereka hanya bebas sejauh tidak melanggar aturan. Itulah yang dimaksud Foucault dengan proses normalisasi. Bagi Foucault, Panopticon bisa dilihat sebagai sebuah susunan arsitektur yang memungkinkan relasi kuasa dilihat sebagai sesuatu yang mandiri terlepas dari siapa yang menggunakan kekuasaan tersebut.
Sehingga, Foucault mengemukakan bahwa penjara Panoptikon merupakan suatu instrumen fisik/alat (means) yg memungkinkan semua mekanisme disiplin dilakukan. Panopticon juga merupakan laboratorium, tempat untuk melakukan eksperimen terhadap individu, mengumpulkan informasi mengenai individu serta menganalisis secara menyeluruh apa yg bisa dicapai dari perilaku mereka. Apakah tindakan bisa menjadi korektif training atau tidak. Sehingga sesungguhnya, penjara panopticon memberikan power of mind. Mesin untuk menciptakan individu sesuai yang diharapkan. Mengubah para tahanan menjadi individu yang setidaknya berguna bagi society.
Menjadi jelas bahwa model Panopticon digunakan Foucault untuk memeriksa relasi-relasi kuasa yang beroperasi dalam hampir seluruh bentuk institusi masyarakat modern. Baginya bentuk fisik bangunan tidak terlampau penting, karena yang utama adalah bagaimana kekuasaan menyebar luas dalam relasi-relasi sosial secara subtil, sehingga tidaklah mengherankan bahwa penjara-penjara sekarang makin mirip dengan pabrik, sekolah, barak militer, rumah sakit, yang semuanya juga memang mirip penjara (Foucault, 1995: 228).

FACEBOOK = SUPER-PANOPTICON
Kalau mekanisme pengawasan total diberlakukan dalam kehidupan di luar penjara atau struktur-struktur fisik tempat relasi kuasa beroperasi seperti sekolah, pabrik, rumah sakit, barak militer dan lain-lain, problemnya kemudian adalah medium apa yang bisa dipakai untuk itu. Sebagian teoritisi sosial seperti Mark Poster, David Lyon, dan Gary T. Mark melihat bahwa untuk konteks masyarakat jaringan elektronik saat ini, model kontrol sosial telah bergeser dari metode-metode klasik menjadi dataveillance, karena kekuasaan diterapkan tidak pada tubuh biologis para tawanan, pasien, atau prajurit, melainkan pada representasi-representasi digitalnya dalam sistem database. Dengan demikian, facebook dilihat sebagai teknologi yang bisa mewujudkan metode pengawasan skema panopticon dalam masyarakat yang sudah sangat bergantung pada sistem pencacahan data untuk berbagai kebutuhan hidupnya (Hikmat Budiman, http://www.interseksi.org/publications/essays/articles/menarasikan_cyberspace.html).
Mark Poster memulai telaahnya dengan fokus pada penggunaan sistem database untuk menyimpan informasi personal tentang individu. Sistem database bagi Poster adalah salah satu kekuatan utama dalam pembentukan subjek di zaman informasi saat ini. Sistem-sistem tersebut diperlakukan Poster sebagai wacana (discourse), karena dianggap mempengaruhi proses pembentukan subjek. Database adalah satu bentuk penulisan jejak-jejak simbolik. Dalam bentuk elektronik dan digitalnya, database sangat mudah dipindah-pindahkan dalam ruang, bisa dilestarikan tanpa batas dalam waktu. Ia bukan milik seorang pun bukan pula milik setiap orang, tapi bisa menjadi milik seseorang, institusi sosial, korporasi, negara, militer, rumah sakit, perpustakaan, atau universitas yang menguasainya sebagai hak milik (Poster, 1995: 85).
Peran database ini tidak dapat diabaikan ketika menganalisis peran jaringan informasi. Database, seprti penuturan Mark Poster adalah terbatas namun ampuh untuk pertukaran informasi. Data diproses seketika melalui serat optik, saluran telepon, satelit dan digital prosesor. Database menjadikan seseorang bukan subyek individu yang ”real” melainkan representasinya dalam bentuk data personal. Informasi-informasi tentang seseorang kemudian dikonversikan semuanya menjadi data digital dalam komputer, sehingga individu bukan lagi sebuah tubuh fisik-biologis, melainkan seperangkat titik-titik data atau sebuah representasi digital. Sebuah digital self yang bisa diidentifikasi dengan bahasa elektronik.
Facebook, sebagai salah satu bentuk teknologi kekuasaan yang beroperasi lewat internet, menjadikan tubuh kita terikat kuat ke dalam struktur database sebagai satu informasi di tengah informasi yang lain (informatically tied-down). Hal ini sejatinya sama dengan konsep Jeremy Bentham tentang sistem struktur penjara Panopticon. Tapi yang diawasi bukan tubuh biologis seperti dalam penjara Panopticon, melainkan representasi digitalnya. Poster memberi nama struktur pengawasan ini Super-Panopticon, sebuah sistem pengawasan yang tanpa dinding, jendela, menara, atau pengawas (Poster, 1990: 93). Poster menurunkan argumennya tersebut dalam kalimat-kalimat berikut:

“…Database, menurut saya, beroperasi sebagai sebuah super-panopticon. Seperti penjara, database bekerja secara terus-menerus, sistematis dan tersembunyi, mengumpulkan informasi tentang individu-individu dan menyusunnya menjadi profile-profile. Tidak seperti panopticon, para “tahanan” tidak perlu dikurung dalam arsitektur apa pun; mereka hanya perlu menjalankan kehidupan rutin sehari-harinya. Super-panopticon dengan demikian lebih tidak terang-terangan daripada pendahulunya, tapi ia tidak kurang efisiennya dalam melakukan tugas normalisasi…Komputer dengan mudah mempertukarkan berbagai database, informasi dalam satu komputer bisa diakses oleh yang lain. Dengan sangat cepat, informasi dari database-database tersebut melintasi dunia dalam cyberspace. Database-database “mengawasi” kita tanpa mata dari penjaga penjara mana pun, dan mereka melakukannya jauh lebih akurat dan menyeluruh dari manusia mana pun.” (Poster, 1995: 69)

Sejatinya, terdapat dua pihak dalam Facebook, yaitu pihak pemilik Facebook sebagai penjaga dan pihak pengguna facebook sebagai tawanan. Sebagai penjaga, pemilik Facebook memiliki kekuasaan yang tak terkontrol untuk mengawasi para pengguna. Dalam perumpamaan panoptikon, Facebook sebagai penjaga mengendalikan seluruh informasi dengan menguasai email dan password. Sedangkan pengguna sebagai tawanan tidak mengetahui atau tidak dapat mengontrol apa yang dilakukan Facebook terhadap mereka. Facebook menyebabkan seseorang seseorang menjadi visible (terlihat). Inilah kunci penting dari panopticon, membuat yang tidak terlihat menjadi terlihat (visibility).
Kekuasaan dalam bentuk kontrol tersebut dipegang secara bulat oleh facebook, sedangkan pengguna sama sekali tidak punya kekuasaan apapun untuk mengontrol gerak-gerik facebook terhadap dirinya, misalnya jika ada pemblokiran. Beberapa contoh kasus di bawah ini adalah contoh tentang kekuasaan Panoptik Facebook atas penggunanya, seperti dikutip dari tulisan Muhammad Taufiqurrohman berikut: (http://bahas.multiply.com/journal/item/72).
Facebook mempunyai peraturan yang mengatakan bahwa seseorang yang mendaftar Facebook harus mencantumkan nama asli dan lengkap. Nama yang terlihat tidak asli dan tidak lengkap tidak akan diterima sebagai anggota. Namun seiring berkembangnya Facebook hal tersebut menjadi sedikit problematik. Apalagi setelah sekarang Facebook telah menjangkau hampir ke seluruh wilayah dunia. Nama yang semakin beragam semakin sulit untuk ”didisiplinkan”. Definisi sebagai ”aneh” dan ”lengkap” semakin sulit untuk diputuskan. Salah satu kasus yang cukup heboh adalah kasus nama ”Alicia Istanbul” yangs sempat dilansir oleh media massa Amerika.
Alicia Istanbul, adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Pada sebuah Rabu pagi hari Alicia mendapati bahwa dia telah terputus dari jaringan Fcebook yang sudah dia gunakan sejak tahu 2007. Ibu rumah tangga ini tidak hanya kehilangan kotak ats 330 teman-temannya, tetapi juga kehilangan lembar-lembar halaman bisnis desain permata yang dia pasarkan disekitar daerahnya di Atlanta. Dia menyayangkan mengapa tidak ada konfirmasi lebih dahulu sebelum pemblokiran tersebut. Penghapusan Alicia tersebut dikarenakan oleh nama “aneh” yang dimilikinya, yaitu Istanbul.
Kasus nama ”aneh” semakin lama semakin tidak dapat dikendalikan oleh Facebook. Di Indonesia misalnya banyak sekali pengguna Facebok yang mengganti nama mereka dengan berbagai macam nama. Namun, kasus ”Istanbul” ini setidaknya memberikan sebuah pelajaran tentang betapa kekuasaan berupa kontrol yang dimiliki Facebook sangat besar, bahkan karena sebuah nama.
Conton lain, Facebook diberitakan telah memblokir dua akun Pengingkar Holocaust. Sebelum mendapatkan kecaman dan permintaan dari berbagai pihak, Facebook mengijinkan dua akun tersebut untuk menggunakan Facebook. Namun, karena mendapatkan tekanan dari beberapa pihak akhirnya terjadilah pemblokiran tersebut. Di Amerika Serikat, Pengingkar Holocaust bukanlah organisasi illegal. Oleh karena diberi kebebasan oleh Negara untuk berpendapat, mengekpresikan pikirannya dan lain sebagainya. Namun, di beberapa negara seperti Austria, Belgia, Czech Republic, Prancis, Jerman, Lithuania, Polandia, Rumania, Israel, Slovakia and Swiss, Pengingkar Holocaust adalah kriminalitas. Sehingga Facebook harus memblokir akun pengingkar Holocaust tersebut.
Di Indonesia, pemblokiran Facebook pernah terjadi pada saat kampanye Pemilihan Umum 2009, yaitu pemblokiran Facebook Prabowo Subianto (FbPS) yang menjadi media kampanye cawapres Gerindra. Alasan pemblokiran tersebut dikatakan tim sukses Mega Prabowo adalah lantaran Prabowo dianggap bukanlah orang yang langsung mengoperasionalkan account Facebooknya sehingga dianggap pemalsuan atau kebohongan publik. Pemblokiran facebook yang memiliki jumlah anggota di account sekitar 67.000 orang, dengan fans aktif sekitar 18.000, itu jelas merugikan pengelola. Pengelola Facebook juga kaget karena isi datanya selama sebulan yakni dari 15 Juni-20 Juli 2009 sempat menghilang meski akhirnya muncul lagi dengan tidak sempurna. Bahkan sempat muncul kata : disable atau tidak bisa digunakan. Ditambah lagi, link Facebook Prabowo yang semula beralamatkan di: http://www.facebook.com/prabowo.subianto, kini telah berubah menjadi :
http://www.facebook.com/prabowo-subianto.
Beberapa contoh kasus di atas memberikan gambaran bagaimana Facebook telah melampaui Panoptikon, sehingga disebut sebagai Super-Panopticon. Mengapa? Karena dua unsur utama dalam “penjara” Panoptikon Facebook, yaitu Facebook (owner) sebagai penjaga dan pengguna (user) sebagai tawanan sama-sama tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri alias kehilangan kuasa untuk mengontrol kesadarannya sendiri meskipun tidak berarti pengawasan hilang sama sekali.
Dalam penjara Panoptikon Foucault, penjaga benar-benar bisa mengontrol tawanan. Namun yang terjadi di dalam Facebook adalah penjaga (staf Facebook) tidak benar-benar bisa menguasai tawanan, misalnya dalam kasus penggantian nama asli yang semakin sulit dikontrol seiring berkembangnya Facebook ke seantero dunia. Di pihak tawanan juga begitu, tawanan (pengguna Facebook) seperti kehilangan kesadaran sama sekali bahwa dirinya sedang diawasi. Kesadaran tentang adanya pengawasan (kontrol) Facebook hampir tidak ada. Pengguna Facebook dengan sukarela menyerahkan data pribadi dirinya, tanpa harus tahu dimana database hidup kita disimpan dan siapa pula yang bisa menggunakannya. Hal ini berbeda dengan tawanan dalam penjara Panoptikon Foucault yang meskipun tidak dapat melihat siapa yang mengawasi tetapi ia sadar ada sesuatu (seseorang) yang mengawasi dirinya.

PENUTUP
Sistem panoptikon yang menghasilkan kekuasaan dapat mengakibatkan represi, eksklusi, sensor dan lain sebagainya yang bernada penindasan simbolik kepada manusia-manusia yang dibawah sistem tersebut. Manusia-manusia dibawah semua sistem Panoptikon (sekolah, penjara, perusahaan, internet, dll) direduksi menjadi hanya sekadar obyek dan bukan diberikan posisinya yang semula yakni subyek. Oleh karena itu, kita yang berada yang dibawah kendali sistem-sistem Panoptikon, sebenarnya adalah “subyek yang diobyekkan”.
Facebook telah menjebak kita ke dalam jaringan database di internet, sehingga tidak ada lagi tempat berlindung untuk bisa bebas dari pengawasan atau untuk melakukan resistensi. Orang bisa bebas bepergian ke mana saja dalam lautan informasi, tapi tidak pernah bisa keluar dari jaring-jaring database yang mengurungnya. Digitalisasi informasi melalui Facebook bukan hanya memudahkan pengelolaan data, tetapi itu juga berarti memudahkan kontrol dan manipulasi atas subjek-subjek (individu). Sehingga baik Facebook (owner) sebagai penjaga dan pengguna (user) sebagai tawanan sama-sama tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri alias kehilangan kuasa atas dirinya sendiri. Inilah Superpanopticon.

DAFTAR PUSTAKA

Foucault, Michel. 1995. Discipline And Punish, The Birth of The Prison. Random
House, Inc : New York

Poster, Mark. 1995. The Second Media Age. Cambridge : Polity Press

—————-. 1990. The Mode of Information. Chicago : The University of
Chicago Press

Ritzer, George. 1997. PostModern Social Theory. The McGraw-Hill Companies
Inc : New York

Internet :
Aachtung, Rizal. 2009. Sikap Berhati-hati Berjejaring Sosial “The Facebook
Area”. http://fortamaslipi.co.cc/index.php?option=com_content&task=view&id=224&Itemid=23

Munandar, Satrio Aris. 2009. Tanya-Jawab Soal Beropini di Blog, Milis Dan
Media Online (Dunia Maya) http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2009_06_10_archive.html

Putra, Budi. 2009. Welcome to the Republic of the Facebook!.
http://asia.cnet.com/blogs/toekangit/post.htm?id=63008431
(24 Februari 2009)

Sahana. 2008. Facebook Indonesia Outpaces Southeast Asian Counterparts in
2008. http://www.insidefacebook.com/2008/12/31/facebook-indonesia-
outpaces-southeast-asian-counterparts-in-2008/ (24 Februari 2009)

Taufiqurrohman, Muhammad. Facebook Melampaui Panopticon
http://bahas.multiply.com/journal/item/72.

http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook

 
Leave a comment

Posted by on January 7, 2013 in Just Talk Active

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: