RSS

Tanggap dan Sigap Menghadapi Bencana

18 Jan

Rentetan bencana alam terus terjadi di Indonesia. Beragam jenis bencana terjadi silih berganti mengguncang bumi pertiwi. Di musim kemarau banyak daerah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Ketika musim penghujan tiba, masyarakat harus waspada terjangan banjir yang siap datang setiap saat. Jakarta, Semarang, Riau dan kota-kota lain di Indonesia telah menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Gempa bumi dan tsunami telah meluluhlantakkan negeri ini berkali-kali. Tentu masih teringat di benak kita bagaimana tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 lalu menelan korban tak kurang dari 100 ribu jiwa. Gempa bumi juga setali tiga uang, tak pernah berhenti mengguncang dan menimbulkan korban. Gempa di Yogyakarta menelan korban tak kurang dari 5000 jiwa, kemudian disusul gempa Pangandaran, Cilacap, Papua dan yang terbaru terjadi di Padang, Sumatera Barat.
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral telah memetakan daerah rawan gempa di Indonesia. Pemetaan daerah rawan gempa di Indonesia meliputi NAD, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng DIY, Jatim, Bali, NTB dan NTT. Kemudian Sulut, Sulteng, Sulsel, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen dan Fak-Fak di Papua serta Balikpapan Kaltim. Dari Sabang sampai Merauke wilayah Indonesia memiliki potensi untuk terjadi gempa.
Kondisi tersebut terjadi karena Indonesia dikepung tiga lempeng tektonik dunia. Indonesia merupakan daerah pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara. Sedangkan dengan Pasific bertabrakan di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga dilepaskan menjadi gempa bumi. Pelepasan energi ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsor, dan liquefaction.
Indonesia juga merupakan jalur The Pacific Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia. Cincin api Pasifik membentang diantara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Jalur ini membentang dari pantai barat Amerika Selatan, ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan. Indonesia memiliki gunung berapi dengan jumlah tak kurang dari 240 buah. Dari jumlah tersebut hampir 70 di antaranya masih aktif. Zone kegempaan dan gunung api aktif Circum Pasifik amat terkenal, karena setiap gempa hebat atau tsunami dahsyat di kawasan itu, dipastikan menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 lalu, juga melanda kawasan lain seperti Sri Langka.
Uraian dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral tersebut tentunya cukup memberi gambaran kepada kita bagaimana potensi bencana di Indonesia. Meski demikian tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan kapan bencana datang ? Tidak ada seorangpun yang tahu kapan, di mana dan bagaimana bencana akan terjadi. Manusia hanya bisa memprediksi, menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Di beberapa daerah seperti Aceh, Nabire, Alor, Bengkulu, pantai selatan Jawa, dan sejumlah daerah rawan gempa lainnya telah di pasang alat pendeteksi bahaya gempa dan tsunami. Semua alat tersebut hanya bisa membantu manusia untuk mendeteksi datangnya bencana.
Belajar dari rangkaian bencana yang terjadi di Indonesia maupun di negara lain, menunjukkan bahwa kemampuan untuk melakukan persiapan dalam menghadapi bencana menjadi faktor penting untuk meminimalkan korban. Sebagai contoh adalah Jepang yang merupakan negara dengan potensi gempa tinggi. Dengan perencanaan dan pendidikan yang matang mengenai mitigasi bencana, mereka mampu meminimalkan korban dan kerugian yang timbul akibat bencana. Banyaknya korban yang timbul sebenarnya lebih diakibatkan oleh dampak yang muncul dan bukan dari bencana itu sendiri. Ketika terjadi gempa, dampaknya secara langsung hanya dirasakan dalam beberapa menit, namun korban lebih banyak justru timbul karena tertimpa reruntuhan bangunan atau karena keterlambatan proses evakuasi

 
Leave a comment

Posted by on January 18, 2013 in CampurSari

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: