RSS

Pragmatisme Parpol dalam Rekrutmen Caleg

01 Mar

Menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2014 partai politik mulai gencar melakukan rekrutmen calon legislatif (caleg). Pemilihan caleg yang tepat diyakini akan mampu mendongkrak perolehan suara parpol. Karena itu parpol berlomba-lomba untuk melakukan rekrutmen caleg yang mampu mendongkrak perolehan suara mereka. Sejatinya rekrutmen caleg merupakan bagian dari proses politik yang harus dilaksanakan dengan tahapan tertentu sesuai mekanisme partai. Proses rekrutmen tersebut semestinya berbasis pada kredibilitas dan akuntabilitas caleg. Hal ini penting mengingat mereka adalah calon anggota parlemen yang nanti akan mengemban amanat rakyat. Jika para caleg tersebut tidak memenuhi kriteria kredibilitas dan akuntabilitas maka bagaimana mungkin mereka bisa mengemban amanat tersebut.
Rendahnya kepercayaan rakyat terhadap kinerja anggota dewan saat ini semestinya dijadikan pelajaran oleh parpol untuk lebih selektif dalam memilih caleg. Serangkaian kasus yang menimpa anggota dewan seperti jerat korupsi, narkoba, cacat moral dan arogansi politik telah menurunkan wibawa dewan di mata rakyat. Keterlibatan Angelina Sondakh, Wa Ode Nurhayati, dan anggota dewan lainnya dalam kasus korupsi telah menurunkan kepercayaan rakyat terhadap dewan. Anggota dewan yang tertangkap mengakses situs porno saat rapat, menjadi makelar kasus telah menurunkan wibawa dewan di mata rakyat.
Jika kepercayaan rakyat terhadap kinerja dewan terus menurun dikhawatirkan akan menumbuhkan apatisme politik di hati rakyat. Kondisi ini bisa melahirkan revolusi ketika rakyat tidak lagi percaya saluran-saluran politik yang ada. Jika parpol dan anggota dewan sudah dianggap tidak mampu lagi menyalurkan aspirasi rakyat maka kekisruhan politik akan terjadi. Sayangnya fenomena ini tidak dibaca dengan baik oleh parpol sehingga mereka tetap asal-asalan dalam melakukan rekrutmen caleg
Pentingnya popularitas
Penggerebegan artis Rafi Ahmad, Wanda Hamidah dan teman-temannya dalam kasus narkoba menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi bangsa ini. Setidaknya ada dua persoalan penting yang bisa ditarik dari peristiwa tersebut. Pertama, potensi penyalahgunaan narkoba di kalangan artis dan politisi. Kedua, pragmatisme parpol dalam melakukan rekrutmen caleg. Wanda Hamidah adalah politisi yang saat duduk sebagai wakil rakyat di DKI Jakarta sedangkan Raffi Ahmad sedang diincar untuk menjadi caleg suatu partai.
Untuk mendongkrak perolehan suara dalam pemilu, maka parpol lebih memilih popularitas caleg daripada asepek kredibilitas dan akuntabilitas. Pragmatisme ini dipilih oleh hampir semua parpol baik dalam pemilihan caleg maupun calon pemimpin daerah yang mereka usung. Pilkada Jawa Barat menjadi contoh bagaimana taburan artis yang terlibat dalam pertarungan politik. Mereka tidak harus menjadi kader parpol yang meniti karir dari bawah agar bisa tampil mewakili parpol. Cukuplah bermodal ketenaran dan status artis yang dianggap mampu memikat rakyat.
Popularitas menjadi faktor determinan dalam rekrutmen caleg daripada kualitas pribadinya. Sikap pragmatis dari parpol inilah yang menjadi kekhawatiran tersendiri. Calon wakil rakyat yang duduk di parlemen semestinya adalah kader-kader terbaik bangsa. Mereka harus melewati serangkaian seleksi ketat agar mampu menjadi wakil rakyat. Semua warga negara termasuk artis sejatinya berhak menjadi wakil rakyat. Titik krusialnya adalah pada proses rekrutmen yang dilakukan oleh parpol.
Pilihan sikap pragmatis parpol menunjukkan tidak berjalannya kaderisasi politik yang dibangun. Mekanisme kaderisasi tidak mampu menghasilkan sosok yang dicintai, dikenal dan dipercaya rakyat. Oleh karena itu menjelang pemilu, parpol menempuh cara instan dengan memilih caleg yang popular dan disukai rakyat. Artis menjadi pilihan paling tepat karena memenuhi kedua aspek tersebut. enggan menempuh proses dalam memupuk kepercayaan rakyat, ketidakpercayaan parpol terhadap para kadernya,
Saatnya berubah
Jika sikap pragmatisme parpol dalam memilih caleg terus dipertahankan maka potret wakil rakyat hasil pemilu 2014 tentu tidak lebih baik dari kondisi sekarang. Kondisi ini semestinya disadari oleh parpol sehingga tidak asal-asalan dalam memilih caleg. Ingatlah bahwa mereka adalah calon-calon wakil rakyat yang berperan besar dalam menentukan kondisi bangsa ini. Apa jadinya jika mereka dipilih hanya berdasar popularitas bukan karena kredibilitas dan akuntabilitas.
Untuk mengubah cara pandang pragmatis tersebut dibutuhkan keberanian dari parpol dan desakan kuat dari rakyat. Parpol harus berani menampilkan caleg yang kredibel dan berkemampuan cukup untuk mewakili rakyat. Disisi lain rakyat harus cerdas dalam memilih sehingga tidak terbuai pada popularitas caleg. Sejatinya artis atau siapapun berhak menjadi wakil rakyat sejauh mereka memenuhi syarat yang ditentukan. Karena itu saatnya merubah cara pikir dan mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

 
1 Comment

Posted by on March 1, 2013 in CampurSari

 

One response to “Pragmatisme Parpol dalam Rekrutmen Caleg

  1. opickk

    March 4, 2013 at 1:08 am

    Reblogged this on opickk.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: