RSS

Memanfaatkan Sosial Media Sebagai Reproduksi Banal Pancasila

21 Mar

lomba blog pusaka indonesia 2013

Sebelum memulai segalanya sudah selayaknya bangsa ini senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat yang terhingga. Lihatlah hamparan kekayaan alam yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Minyak bumi, batubara, emas, perak, intan, kuningan, tembaga, dan bahan tambang lainnya terkandung di bumi pertiwi. Laut yang membentang di utara dan selatan memberikan sumber kehidupan yang tak terhingga. Bukan hanya menghasilkan komoditas perikanan tetapi juga menjadi jalur pelayaran yang potensial. Keindahan alam Indonesia juga mengundang decak kagum bagi siapapun yang menikmatinya. Mereka yang pernah datang ke Bali, Lombok, Bunaken, Raja Ampat selalu rindu untuk kembali.
Bangsa ini juga semestinya selalu bersyukur dengan anugerah perbedaan, kemajemukan, dan warna-warni yang melekat secara alami. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik hasil sensus tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah suku bangsa di Indonesia mencapai 1.128. bayangkan semuanya memiliki kekayaan budaya, adat istiadat, bahasa, jenis makanan, pakaian dan kearifan-kearifan lokal yang mengagumkan. Bayangkan betapa kayanya bangsa ini baik dari segi materi berupa kekayaan alam maupun dari sisi rohani berupa kekayaan budayanya.

Kaya tapi bagai buih di lautan

Kaya tapi berjiwa miskin, itulah yang kasat mata dari kepribadian bangsa ini. Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya, tapi bangsa ini justru sering rendah diri ketika berhadapan dengan bangsa lain. Kebanggaan sebagai sebuah bangsa tidak nampak dalam wujud nyata kehidupan sehari-hari. Seolah-olah identitas bangsa yang muncul dalam kekayaan budaya itu bukan suatu kebanggaan. Ada yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi meninggalkan identitas kebangsaannya. Mereka kemudian terbuai dalam kemeriahan puja puji keindahan dan kebanggaan identitas bangsa lain.
Tengoklah anak muda kita yang begitu bangga dengan model dan gaya K-Pop nya. Jadilah segala macam urusan hidupnya diidentikan dengan proses pengidolaan tersebut. Pakaian, cara bertutur sapa, makanan, potongan rambut dan orientasi hidup tidak lepas dari proses pengidolaan. Begitu bangganya mereka menunjukkan identitas imitasi yang mereka pakai.
Gejala ini tidak hanya menunjukkan lemahnya posisi budaya Indonesia di mata budaya asing tetapi juga menunjukkan lemahnya internalisasi identitas kebangsaan tersebut. Seolah proses internalisasi yang terjadi di keluarga, pendidikan formal maupun lingkungan tidak mampu membentuk identitas kebangsaan generasi muda bangsa ini.

Kadang saya berfikiran semestinya kita banyak berterimakasih kepada bangsa lain yang mengklaim identitas bangsa ini. Pengaruhnya suangat nyata untuk membangkitkan bangsa ini dari amnesia identitas kebangsaan. Setidaknya ketika bangsa lain mengklaim tari Pendet, Gondang Sembilan dan Reog secara massif bangsa ini seolah sadar dari kondisi lupa identitas kebangsaan. Seolah baru sadar kalau bangsa ini punya banyak kekayaan identitas yang bisa diambil bangsa lain. Kalau tidak ada klaim dari bangsa lain kayaknya kita lupa begitu saja kalau bangsa ini sangat kaya.
Para pendiri bangsa ini sudah mempersiapkan segala kemungkinan ketika Indonesia melewati masa kemerdekaan. Bangsa ini akan terlibat dalam pergaulan komunitas global yang multikultur. Karena itu dipersiapkan pilar-pilar kebangsaan yang nantinya mampu menjadi penguat identitas kebangsaan. Tujuannya agar bangsa ini tidak tercerabut dan larut dalam globalisasi sehingga identitasnya menjadi pudar. Hilangnya identitas suatu bangsa sesungguhnya menandakan kehancuran bangsa tersebut.

Salah satu diantara pilar-pilar kebangsaan tersebut adalah nilai-nilai luhur Pancasila. Di semua jenjang pendidikan formal, Pancasila diajarkan sebagai bagian dari pengenalan dan penguatan identitas kebangsaan. Pancasila juga dihadirkan di ruang-ruang kuliah, materi pidato hari besar, rapat kenegaraan dan beragam acara formal lainnya. Pertanyaannya mengapa seolah upaya-upaya tersebut tidak mampu menbendung derasnya pengaruh budaya asing?sehingga dari generasi ke generasi identitas kebangsaan seolah semakin kabur. Upaya apa yang bisa dilakukan ditengah mencairnya batas-batas regional negara?sejauh mana peran sosial media dalam reproduksi nilai-nilai Pancasila dan penguatan identitas kebangsaan?

Sosial media dan pengingat banal

Identitas kebangsaan perlu diwariskan secara konsisten dari generasi ke generasi. Tidak hanya itu nilai-nilai kebangsaan tersebut juga harus bisa dipahami lintas generasi. Pendek kata nilai-nilai luhur bangsa yang terangkum dalam Pancasila harus bisa dimengerti dengan bahasa yang paling sederhana oleh setiap generasi. Lebih dari itu upaya mengingatkan nilai-nilai kebangsaa tersebut harus bisa dilakukan secara konsiten dan terus-menerus. Arahnya adalah penguatan identitas kebangsaan dan terpeliharanya nasionalisme.

Menurut Billig, dalam bukunya Banal Nationalism (1995), nasionalisme secara banal (keseharian, biasa-biasa, sambil-lalu) terreproduksi dan tertanamkan, meski tidak ada kejadian-kejadian yang membarakan nasionalisme. Billig mengkritik konseptualisasi nasionalisme yang cenderung memfokuskan pada manifestasi-manifestasi kasat mata yang muncul terutama dalam kondisi-kondisi khusus. Sebaliknya dari semangat membara yang muncul kadang-kadang, nasionalisme adalah kondisi yang bersifat endemik. Inti pandangan Billig tentang nasionalisme menyatakan bahwa nation senantiasa direproduksi lewat pengingat-pengingat yang kelihatannya sepele dan tak-terperhatikan (banal reminders) yang secara terus-menerus dan sehari-hari mengingatkan penduduk akan negaranya. Salah satu contoh pengingat nasionalisme banal adalah bendera. Jika dalam nasionalime membara bendera-bendera dikibarkan oleh penduduk dengan semangat menyala, dalam nasionalisme banal bendera adalah pengingat yang sepele dan tak-terperhartikan. Kadang-kadang secara tak sengaja kita melihatnya, namun lebih sering kita acuh tak acuh. Tetapi bendera-bendera itu, secara terus-menerus, tanpa kita sadari, menjadi pengingat kalau kita adalah anggota sebuah bangsa.

Pengingat-pengingat itu begitu akrab dengan kehidupan sehari-hari warga negara, yang tanpa sadar senantiasa mengingatkan posisinya di tengah-tengah bangsa lain. Pengingatan terus-menerus tanpa sadar ini, menurut Billig, mencegah terjadinya amnesia-kolektif bahwa mereka adalah warga dari sebuah bangsa. Dengan demikian reproduksi nasionalisme tidaklah terjadi pada saat khusus, tetapi setiap hari dan terus menerus.

Karena itulah dibutuhkan pengingat banal yang mampu secara terus-menurus, ringan dan rutin mereproduksi nilai-nilai kebangsaan tersebut. Saat ini perkembangan internet dan sosial media begitu cepat. Indonesia termasuk dalam lima besar pengguna twitter dan facebook di dunia. Ini artinya, sosial media bisa menjadi potensi besar dalam upaya menguatkan identitas kebangsaan. Sebuah identitas yang membuat nasionalisme dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa bisa terwujud.
Identitas kebangsaan yang direproduksi secara banal terbukti lebih awet dan bermakna dalam kehidupan manusia. Nilai-nilai Pancasila dan keluhuran budaya bangsa ini bisa didiskusikan dan disebarkan secara massif melalui media ini. Saat ini generasi muda kita lebih suka bergelut dan aktif di sosial media daripada mendatangi acara resmi seperti seminar atau lokakarya. Artinya melalui medium sosial media inilah upaya mengingatkan bangsa ini secara terus menerus bisa dilakukan. Sosial media seperti arena baru yang bisa digunakan untuk diskusi, afirmasi dan penguatan identitas kebangsaan.

Sifatnya yang personal, jangkauan luas, egaliter dan interaktif membuat forum-forum diskusi melalui sosial medi lebih disukai. Beragam gerakan melalui sosial media juga terbukti ampuh untuk menggerakkan aksi di dunia nyata. Sebagai contoh gerakan Koin untuk Prita, Bilqis, Gerakan dukung KPK ada beragam aktitifitas sosial lainnya yang bermula dari diskusi di sosial media.

Pancasila di sosial media

Nilai-nilai Pancasila yang tertuang dalam lima sila merupakan akumulasi identitas bangsa. Bangsa ini diidealkan menjadi bangsa yang bermutu secara jasmani dan rohani. Ada kesejahteraan yang ditopang keadilan. Ada proses musyawarah dalam pengambilan keuutusan. Ditopang persatuan dan kesatuan bangsa sebagai pondasinya. Kemudian semua cita-cita tersebut harus berdiri diatas kekuatan spiritual sebagai wujud dari kepercayaan kepada Tuhan YME. Rangkuman keluhuran niai-nilai tersebut bisa menjadi identitas yang kuat bagi bangsa ini. Persoalannya bagaimana nilai-nilai yang ideal tersebut dikomunikasikan di dunia maya?apakah kita akan memakai definisi formal yang biasanya kita terima?perlukah alih bahasa dan kemasan agar pesan-pesan luhur tersebut menjadi menarik dan mudah dipahami di dunia maya?
Inilah yang menjadi tantangnan kita. Mengemas Pancasila dalam pesan ala dunia maya tanpa perlu kehilangan identitas keluhurannya. Misalnya, kita bisa posting gambar pakaian adat kemudian ajak follower atau friend kita untuk memberikan komentar. Terkadang bisa dibuat status-status pendek yang bisa mengingatkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila. Misalnya: “jangan berantem, musyawarah aja yuk”, “laut di Raja Ampat indah lo, kaya banget ya bangsa kita”. Kalimat-kalimat pendek tersebut bisa digunakan sebagai pembuka diskusi lebih lanjut.
Globalisasi tidak bisa dibendung. Bangsa ini juga tidak bisa mengucilkan diri dari percaturan global. Persoalannya bagaimana dalam percaturan global dan semakin multukulturanya struktur masyarakat dunia, kita tetap tidak kehilangan identitas kebangsaan. Sosial media bisa dimanfaatkan untuk reproduksi banal identitas kebangsaan tersebut.

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2013 in lomba kary tulis

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: