RSS

Menjelang Kemarau

28 Mar

Kerusakan lingkungan di Indonesia sudah sampai titik yang memprihatinkan. Berdasar data Badan Planologi Departemen Kehutanan, laju kerusakan hutan mencapai 3,8 juta hektar tiap tahunnya. Ini berarti setiap menitnya hutan seluas enam lapangan bola lenyap akibat penebangan liar (Kompas 5/3/05).
Kerusakan hutan yang diakibatkan akitifitas ilegal logging telah menghilangkan kemampuan hutan untuk menyerap air. Air hujan tidak bisa diserap dengan baik sehingga menimbulkan banjir di musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Selain aktifitas ilegal logging, hilangnya kemampuan hutan menyerap air juga disebabkan konversi lahan resapan air menjadi area pemukiman maupun jalan. Lebih ironis lagi ketika era otonomi daerah diterapkan, aktifitas perusakan hutan justru semakin menjadi-jadi. Adanya desentralisasi wewenang pengelolaan hutan mendorong daerah untuk mengekploitasi hutan secara besar-besaran karena nilai ekonomisnya tinggi sebagai sumber pendapatan daerah. Semakin menipisnya persediaan air tanah akibat berkurangnya kemampuan hutan menyerap air masih diperparah dengan pencurian air tanah yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar.
Dampaknya ketika musim kemarau tiba masyarakat selalu dihadapkan masalah klasik yakni kekurangan air baik untuk keperluan rumah tangga maupun pertanian. Di musim kemarau masyarakat harus berjuang keras untuk mendapatkan air. Jarak puluhan kilometer rela mereka tempuh sekedar untuk mendapatkan sejrigen air bersih guna keperluan sehari-hari. Kurangnya air di musim kemarau juga menyebabkan masyarakat tidak bisa bercocok tanam sehingga kekurangan makanan. Contoh terbaru adalah kasus yang terjadi Kabupaten Lembata NTT. Gagal panen di musim penghujan dan tidak adanya air untuk bercocok tanam di musim kemarau membuat mereka kehabisan bahan makanan pokok.
Kekurangan air di musim kemarau adalah kejadian rutin tiap tahun yang bisa dikurangi dampak buruknya jika masyarakat melakukan persiapan cukup. Hanya saja masyarakat tidak mau belajar dari pengalaman masa lalu dan enggan merubah sikap guna menyongsong datangnya musim kemarau. Pada musim kemarau warga terbiasa menggantungkan diri dari bantuan air bersih pemerintah atau sumbangan dermawan lainnya. Sikap cenderung pasrah tanpa mau berusaha seperti ini harus dirubah. Ada banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi kekurangan air di musim kemarau, salah satunya adalah dengan membuat sumur resapan.
Keberadaan sumur resapan ini akan sangat membantu baik di musim kemarau maupun musim hujan. Sebagai contoh sumur resapan dengan ukuran panjang satu meter, lebar satu meter dan kedalaman tiga meter memiliki daya tampung tiga kubik. Pada saat musim hujan air yang masuk ke dalam sumur resapan kemudian diserap menjadi air tanah. Pada musim kemarau air dari sumur resapan ini akan menjadi logistik bagi sumur-sumur di setiap rumah tangga sehingga tidak terjadi krisis air. Terjadinya banjir di musim penghujan akibat surplus air yang tidak mampu diserap tanah dapat dikurangi dengan adanya sumur resapan ini. Jadi pembuatan sumur resapan selain bermanfaat sebagai tabungan di musim kemarau juga bermanfaat untuk menanggulangi banjir di musim hujan.
Selain membuat sumur resapan, cara lain yang bisa ditempuh adalah melakukan penghematan penggunaan air. Masyarakat yang terbiasa boros dalam pengunaan air di musim hujan harus merubah sikapnya. Hal-hal kecil seperti mematikan kran air ketika menggosok gigi, mengganti air bersih dengan air bekas mencuci untuk menyiram tanaman dan mencuci mobil adalah kiat-kiat yang bisa dipraktekkan untuk menghemat air.
Dalam lingkup pribadi mungkin tidak terlalu terasa dampaknya, tetapi jika semua orang mau berbuat demikian tentu upaya penghematan air bukan sekedar bualan. Di tingkat yang lebih tinggi seperti forum RT perlu juga diadakan musyawarah tentang mekanisme distribusi air agar merata. Jangan sampai sumber daya air yang menaungi hajat orang banyak hanya berpusat di tangan segelintir orang. Untuk merubah sikap masyarakat yang terbiasa pasrah dengan keadaan menjadi aktif berusaha bukanlah hal mudah. Karena itu diperlukan kehadiran “jenius-jenius lokal” yang mampu menjadi opinion leader dan agent of change ditengah masyarakat.
Akan tetapi perlu diingat, semua usaha tersebut tidak akan berarti tanpa diimbangi komitmen kita semua untuk memperbaiki kualitas lingkungan. Sebagai contoh aktifitas ilegal logging sebenarnya bisa dihentikan jika pemerintah punya komitmen kuat untuk mengatasi permasalahan ini. Sekali lagi kesadaran dan kearifan kita dalam mengelola lingkungan merupakan hal mendasar yang harus kita benahi.

 
Leave a comment

Posted by on March 28, 2013 in CampurSari

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: