RSS

Dari tahun 2005

02 Apr

Mengencangkan Kembali Simpul-Simpul Integrasi

Pagi itu 27 Desember 2004, berita utama dari berbagai media massa di tanah air memberitakan gempa dasyat melanda Aceh yang segera diikuti sapuan gelombang Tsunami. Dalam hitungan menit Aceh luluh lantak, gedung pemerintah, bangunan sekolah, rumah-rumah warga dan berbagai fasilitas umum lainnya terendam lumpur yang dibawa aliran air laut. Ribuan warga Aceh terkubur menjadi korban dasyatnya bencana yang melanda negeri ini.

Bergegas saya pergi ke kampus, dalam benak saya teringat seorang teman asal Aceh. Setelah bertemu ia nampak lesu, sejenak ia bercerita kalau saat ini sedang dalam keadaan bingung. Ia tidak tahu bagaimana keadaan keluarga dan saudara-saudaranya di Aceh. Saluran komunikasi terputus, keinginannya untuk pulang tertunda karena sarana transportasi darat dan laut ke Aceh untuk sementara terputus. Satu-satunya harapan adalah transportasi udara, namun nampaknya itupun sulit terwujud. Penerbangan yang ada diutamakan untuk mengangkut bantuan kemanusiaan. Kalaupun ada harus berebut dengan sekian banyak orang yang juga ingin menjenguk keluarganya di Aceh.

Bencana Aceh membawa banyak pelajaran bagi bangsa ini. Tidak hanya berkaitan dengan penanganan korban bencana dan antisipasinya tetapi juga berkaitan dengan ancaman integrasi nasional. Keterbatasan kemampuan sarana transportasi udara membuat jarak kita dengan saudara-saudara kita di Aceh terasa demikian jauh. Ketika mereka butuh bantuan, ternyata berbagai bantuan dari luar negeri lebih dulu sampai daripada bantuan kita. Dengan sarana transportasi yang lebih memadai relawan asing lebih cepat menjangkau Aceh.

Dalam kondisi demikian perlu direnungkan kembali integrasi nasional kita. Bagaimana bisa kita berteriak meminta saudara-saudara kita di Aceh tetap berada di bawah naungan NKRI jika ternyata jarak demikian jauh. Silaturahmi sebagai bangsa sulit diwujudkan, bagaimana terjadi transformasi kultural jika mobilitas horizontal demikian sulit terwujud. Ancaman disintegrasi bangsa akhir-akhir ini menguat kembali. Munculnya gerakan separatis di Aceh, Papua, dan Maluku bukanlah sekedar ancaman kosong. Disisi lain, pelaksanaan otonomi daerah yang salah kaprah juga menjadi ancaman bagi integrasi nasional. Otonomi daerah yang salah kaprah memunculkan raja-raja kecil di daerah, menimbulkan kesenjangan ekonomi dan memicu etnosentrisme yang berlebihan. Benih-benih konflik antar masyarakat di Poso, Mamasa dan daerah-daerah lainnya jika tidak segera diselesaikan akan menjadi ancaman serius bagi keutuhan bangsa ini.

Untuk itu perlu kita gali kembali makna integrasi nasional yang telah dirumuskan pendahulu bangsa ini sehingga simpul-simpul integrasi yang mulai mengendur dapat kita kencangkan kembali. Generasi 28 telah mengajarkan kepada kita arti pentingnya integrasi sebagai suatu bangsa. Para tokoh generasi 28 yang tergabung dalam Jong Java, Jong Sumatera, Jong Islamatien Bond dan segenap potensi bangsa lainnya telah memberi contoh bagaimana integrasi bangsa terbentuk. Untuk kepentingan yang lebih besar yaitu integrasi nasional, mereka menyisihkan egoisme kesukuan, kebanggaan kelompok dan embel-embel primordial lainnya. Mereka sadar tanpa integrasi nasional maka bangsa ini tidak akan beranjak maju. Perpecahan dan konflik berkepanjangan akan dimanfaatkan pihak luar untuk kembali menjajah bangsa ini.

Untuk merajut tali integrasi perlu diawali dengan kemauan memahami nilai-nilai perbedaan. Bangsa ini memiliki kemajemukan dari segi suku, adat istiadat, bahasa, agama dan nilai-nilai yang dianut. Karenanya, kunci untuk bisa bersatu adalah kemauan untuk saling menerima perbedaan. Hal ini hanya mungkin dicapai jika terjadi transformasi kultural yang memungkinkan terjadinya pemahaman akan makna integrasi.

Dalam konteks kekinian upaya untuk mempertahankan integrasi bangsa ditengah globalisasi dunia menjadi semakin sulit. Karena itu, segenap komponen bangsa hendaknya memiliki kemauan untuk berperan aktif dalam upaya memelihara integrasi nasional sesuai dengan bidangnya masing-masing. Baik itu kalangan pendidik, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, aparat dan semua potensi bangsa semestinya menaruh saham bagi terpeliharanya konsensus integrasi.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam upaya memelihara integrasi nasional adalah terjaganya mobilitas horizontal yang memungkinkan tercipta transformasi kultural. Mobilitas horizontal memungkinkan terpeliharanya tali silaturahmi dan upaya saling memahami perbedaan sebagai bangsa. Jika untuk bertemu saja sulit tentu untuk memahami perbedaan sebagai bangsa akan lebih sulit. Melihat kondisi geografis Indonesia yang terdiri ribuan pulau dengan jarak berjauhan satu sama lain kita membutuhkan sarana transportasi yang cepat untuk mencapai wilayah-wilayah yang berjauhan.

Di beberapa pulau terpencil sarana transportasi darat masih sulit ditemui sehingga untuk mencapai wilayah itu hanya mungkin melalui jalan laut atau udara. Menempuh jalan laut tentu memakan waktu lama, sehingga transportasi udara nampaknya lebih cocok untuk mengemban misi itu. Ingatlah ketika masyarakat Aceh menghadiahi Presiden Soekarno sebuah pesawat terbang guna menunjang tugas-tugas kenegaraan. Para pendahulu bangsa ini sadar, dengan luas wilayah dari Sabang sampai Merauke perlu sarana transportasi yang cepat untuk menjaga mobilitas horizontal. Karena itu pilihan terhadap transportasi udara didasari pertimbangan mendalam peran pentingnya dalam menjaga integrasi nasional.
Dengan menggunakan transportasi udara akan memudahkan untuk menjangkau segenap wilayah Indonesia. Dibukanya jalur penerbangan akan menumbuhkan pusat-pusat kegiatan ekonomi, dan membuka daerah tersisolasi. Manfaatnya jelas, dengan tumbuhnya pusat-pusat kegiatan ekonomi maka distribusi kemakmuran akan lebih luas. Hal ini sangat penting dalam upaya meredam gejolak konflik akibat kesenjangan ekonomi. Selain itu, terjangkaunya daerah-daerah yang semula terisolir akan mempersempit peluang pihak asing untuk mencerai-beraikan keutuhan Indonesia.

Transformasi kultural dan “intercultural communication” (komunikasi antar budaya) sebagai roh kebhinekaan akan terwujud jika didukung adanya mobilitas horizontal yang memadai. Komunikasi antar budaya inilah yang akan mengantarkan pada pemahaman kebhinekaan dalam memandang kemajemukan bangsa. Kamajemukan adat istiadat, suku, agama dan lainnya adalah modal untuk bersatu bukan untuk bercerai berai. Dengan intensifnya komunikasi antar budaya maka stereotip dan prasangka yang muncul dari kemajemukan bangsa ini bisa dikelola sehingga tidak menjadi potensi ancaman disintegrasi.
Dalam hal ini secara pragmatis transportasi udara bisa menanamkan pemahaman komunikasi antar budaya dengan memanfaatkan simbol keanekaragaman budaya bangsa. Hal-hal kecil seperti penggunaan pakaian pilot dan kru pesawat dengan motif adat, dekorasi interior pesawat yang menggambarkan kebhinekaan Indonesia, maupun simbol-simbol lainnya sangat bermanfaat untuk menggugah kesadaran pentingnya menghargai keberbedaan. Untuk itu insan penerbangan perlu merenungkan hakekat peran mereka dalam integrasi nasional.

Tidak dipungkiri bahwa tujuan kegiatan bisnis adalah mencari keuntungan, tetapi bukan berarti melupakan misi yang lebih besar. Integrasi nasional adalah kepentingan bersama yang perlu mendapat perhatian serius semua komponen bangsa. Untuk itu tidak ada salahnya jika kita mencermati falsafat sosok Hanoman. Dalam cerita Ramayana, sosok Hanoman adalah seorang sakti mandraguna dan sosok abdi yang setia. Dari kepribadiannya kita bisa belajar ketulusan dalam mengabdi untuk kepentingan yang lebih besar. Sepak terjangnya dalam menumpas Rahwana bukan sekedar dilandasi perintah dari Sri Rama tetapi juga dilandasi keinginan untuk menyelamatkan kepentingan rakyat yang lebih besar. Ia sadar jika Rahwana tidak ditumpas maka dia akan menjadi momok bagi ketentraman dan kesatuan rakyat.

Untuk itu ia rela meninggalkan Kiskenda untuk “tetuko” demi kepentingan umat. Dari kisah ini kita tarik suatu pelajaran tentang pentingnya berkorban demi tujuan yang lebih besar.Keuntungan dalam bisnis memang perlu tetapi kemauan untuk sekaligus mengambil peran sosial demi kepentingan lebih besar juga tidak bisa diabaikan. Guna mendukung misi menjaga integrasi bangsa, maka profesionalitas insan penerbangan penting untuk selalu ditingkatkan. Berbagai pelatihan guna meningkatkan profesionalitas perlu didukung materi tentang integrasi nasional. Diharapkan insan penerbangan tidak hanya memiliki skil profesional tetapi juga paham hakekat peran mereka sebagai duta bagi terpeliharanya konsensus nasional.

Terpeliharanya mobilitas horizontal yang memungkinkan transformasi kultural akan membawa Indonesia menuju keadaan yang disebut Global Village. Konsep ini dikembangkan oleh Inis Mc Luhan seorang tokoh komunikasi yang melihat perkembangan alat komunikasi memungkinkan orang di seluruh dunia untuk berhubungan. Hilangnya batasan-batasan geografis sebagai negara karena perkembangan teknologi komunikasi diibaratkan sebagai kondisi desa yang mengglobal. Dalam masyarakat desa, satu sama lain bisa mengenal baik karena tidak ada halangan untuk bertemu dan menjalin komunikasi. Dalam kondisi demikian maka integrasi akan mudah terwujud.

Dalam konteks peran transportasi udara untuk menjaga integrasi nasional pandangan ini juga bisa diterapkan. Sama halnya dengan perkembangan sarana komunikasi, berkembangnya penerbangan nasional akan memudahan mobilitas horizontal sehingga sekat-sekat penghalang geografis dapat diatasi.
Dengan terbukanya daerah-daerah terisolasi maka jarak yang semula jauh akan nampak dekat. Orang bisa berkunjung satu sama lain, bertukar perbedaan dan memahami keberbedaan dalam semangat kebhinekaan. Mereka yang semula merasa terasing, sendiri dan tidak diperhatikan akan merasakan indahnya bersatu. Tidak ada lagi keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI karena merasa tidak diperhatikan dan dipinggirkan. Kondisi Indonesia yang demikian ini akan memudahkan terpeliharanya simpul-simpul integrasi.

Melihat potensi yang dimiliki sarana transportasi udara tidak salah kiranya jika peran mereka dalam menjaga integrasi nasional sangat diharapkan. Karenanya terbanglah “pesawatku” ke seluruh penjuru tanah air. Katakanlah kepada saudara-saudaraku dari Sabang sampai Merauke bahwa kita adalah saudara.

Essai ini dibuat tahun 2005 lalu, pas saya masih kuliah, diikutkan dalam Lomba Karya Tulis Maskapai LION Air, dan Alhamdulillah dapat juara 1.Sebuah renungan ketika Indonesia dihantam Tsunami tahun 2004 lalu

 
Leave a comment

Posted by on April 2, 2013 in Uncategorized

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: