RSS

Stereotip dan Etnhosentrisme

11 Apr

Sebagaimana dikemukakan oleh Lippman bahwa stereotip adalah ”gambaran dalam kepala kita”, yang memiliki komponen afektif dan kognitif, yaitu sebagai faktor penentu penghormatan terhadap diri sendiri, gambaran dari dunia kita, sistem nilai, posisi, dan hak-hak kita. Oleh karenanya berkaitan erat dengan perasaan kita yang melekat padanya. Stereotip, merupakan representasi kognitif atas kelompok lain yang mempengaruhi perasaan kita terhadap anggota dalam kelompok tersebut. (Gudykunst & Yun-Kim, 1997: 112). Stereotip memiliki dua kecenderungan, yang positif maupun yang negatif, namun terkait dengan dinamika kontak antarras yang terjadi di kalangan warga masyarakat Amerika, tidaklah mudah untuk mengarahkan pembentukan stereotip yang positif, mengingat perbedaan yang terjadi dinilai sebagai perbedaan yang penting dan mendasar, cenderung sulit untuk dijembatani.

Beberapa stereotip kita bersifat unik dan didasarkan pada pengalaman kita, tetapi beberapa dibagi secara bersama dengan anggota lain dari ingroup kita. Stereotip sosial seringkali digunakan di media, dan kita belajar banyak stereotip dari media. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembentukan dan difusi stereotip merupakan suatu proses yang terorganisir secara struktural, sehingga disinyalir adanya kepentingan-kepentingan tertentu di balik pembentukan dan penyebaran (anggapan) stereotip yang terdapat dalam media dan dikalangan masyarakat. Terdapat kecenderungan bahwa sesungguhnya semua stereotip terhadap non-Eropa, orang tua, dan orang cacat yang ditampilkan dalam media memiliki konotasi negatif dan cenderung tidak akurat (menyimpang).

Penggambaran media mengenai kelompok minoritas tak jarang dilakukan secara stereotipikal atau merendahkan. Stereotip terhadap kelompok minoritas terjadi baik di media cetak, elektronik, film, buku-buku pelajaran, ataupun media lainnya. Penelitian mengenai stereotip mengindikasikan bahwa media dapat mengutamakan stereotip, dan stereotip inilah yang kemudian berpengaruh terhadap pemahaman orang. Berbagai stereorip tersebut mempengaruhi bagaimana kita membuat penilaian terhadap orang dari kelompok yang dikenai stereotip. (Bryan & Zilmann, 2002: 102–103).

Berlakunya pembentukan dan dipercayainya suatu stereotip secara berlebih, dapat mendorong seseorang untuk bersikap cenderung etnosentris, dimana etnosentrisme muncul jika komunitas atau bangsa sendiri dipandang sebagai pusat dunia. Dengan kata lain etnosentrisme merujuk pada kecenderungan seseorang untuk mengindetifikasikan ingroupnya, dan menilai outgroup berdasarkan standar ingroupnya. Etnosentrisme bukan merupakan suatu kesengajaan. Seringkali eskpresi etnosentrisme merupakan sebuah fungsi tentang cara seseorang bersosialisasi, diyakini bahwa etnosentrisme terdapat di semua budaya, dan terkadang berlaku sebagai perwujudan dari mekanisme pertahan diri sekelompok masyarakat yang merasakan kesamaan, dimana antar anggotanya merasakan ikatan ingroup yang tidak dirasakannya diluar kelompok tersebut.

Stereotip dan etnosentrisme dapat digolongkan sebagai sikap antarkelompok (intergroup attitudes) melayani empat fungsi sebagaimana dikemukakan oleh Katz (1960), sbb:
1. Fungsi Utilitarian (Fungsi Penyesuaian) – fungsi saat seorang individu berpegang pada sikap yang diyakininya, akan dapat bermanfaat dalam kulturnya sendiri untuk mengarahkan pada pencapaian penghargaan.
2. Fungsi Pertahanan Ego – fungsi saat seorang individu berpegang pada sikap tertentu yang memungkinkan mereka untuk menjaga citra diri (ego), dimana sikap-sikap ini memungkinkan dirinya untuk terhindar dari pengakuan atas hal-hal yang membuat diri seseorang merasakan ketidaknyamanan.
3. Fungsi Perwujudan Nilai – fungsi yang berlaku saat seseorang berpegang pada sikap tertentu, karena keinginnya untuk mengekspresikan aspek kehidupan yang penting untuk dirinya.
4. Fungsi Pengetahuan – fungsi saat seorang individu berpegang pada sikap tertentu yang memungkinkan dirinya untuk menyusun (melakukan strukturasi) atau mengorganisir (mengelola) stimuli yang masuk dalam suatu cara yang masuk akal bagi individu terkait. (Gudykunst & Yun-Kim, 1997: 119).

Etnosentrisme pada derajat tinggi juga memungkinkan terjadinya permusuhan, perselisihan, ataupun konflik dengan anggota outgrup, atau bahkan menginisiasikan terjadinya perang, yang tentu saja sarat akan kepentingan politis, disamping adanya etnosentrisme yang mungkin menjadi latar belakang penyebab tragedi kemanusiaan yang tak jarang mengakibatkan jatuhnya korban pada pihak-pihak yang berselisih.

Etnosentrisme juga beroperasi dalam tiga jarak komunikasi dalam aspek kognitif yang juga mempengaruhi perilaku seorang individu, terkait dengan anggapan diri yang mengunggulkan komunitas, ingroup, kelompok etnis, atau bangsanya – sebagaimana dikemukakan oleh Lukens (1978), yaitu sbb: (Gudykunst & Yun-Kim, 1997: 123 – 124).
1. Jarak penghinaan (The Distance of Disparagement) merefleksikan dendam (kebencian) dari ingroup terhadap outgroup, yang bercirikan penggunaan ekspresi peyoratif dan ethnophaulism.
2. Jarak penghindaran (The Distance of Avoidance) dibentuk untuk menghindari atau meminimalkan kontak dengan anggota dari sebuah outgroup. Pada jarak ini, anggota kelompok ingroup merasakan solidaritas kultural, kebanggaan yang meningkat dengan penggunaan jargon umum kelompok mereka secara berkesinambungan.
3. Jarak pengabaian (The Distance of Indifference) adalah bentuk tuturan yang digunakan untuk mencerminkankan pandangan bahwa kultur yang dimiliki seseorang adalah pusat segalanya. Jarak ini, mengungkap insensitivitas (ketidakpekaan) pada perspektif orang asing.
Dikemukakan oleh Roger & Steinfatt (1999: 223), bahwa etnosentrisme juga dapat menyebabkan munculnya rasisme, yang dipahami sebagai pengkategorisasian individu berdasar kenampakan fisiknya, dengan merujuk pada warna kulit, rambut, struktur wajah, dan bentuk mata; yang pada akhirnya mengarah pada perilaku prasangka dan diskriminasi. Etnosentrisme tak jarang juga mengarahkan pada terjadinya seksisme, yang dipahami sebagai pengkategorisasian inividu-individu berdasar atas perbedaan jenis kelamin. (Rahardjo, 2005: 57).
Etnosentrisme pada akhirnya bisa mengarahkan pada terbentuknya prasangka, dikemukakan oleh Allport (1954: 7) bahwa prasangka (prejudice) dapat dipahami sebagai
”Precedent” atau ”judgement based on previous decision and experiences.” (Allport dalam Gudykunst & Yun Kim, 1997: 125)

Siklus logika reaksi psikokultural ingroup terhadap outgroup ataupun strangers mengambil bentuk sebagai berikut: stereotip negatif, penilaian (appraisal) dapat mengarahkan pada terbentuknya emosi berprasangka perilaku berprasangka pada akhirnya memunculkan perilaku diskriminasi. (Gudykunst & Yun-Kim, 1997: 125 – 126).
Sikap antarkelompok dapat mengarahkan seseorang pada perilaku antarkelompok, dalam hal ini dimensi kontak antarkultur telah mencapai aspek konatif, sebagaimana dikemukakan oleh Sears bahwa rasisme simbolik, merupakan bagian perilaku antarkelompok dipahami sebagai
”rasisme yang pada hakikatnya terdiri atas penghinaan dan permusuhan yang diarahkan, atau dukungan formal pada ketidakseimbangan, yang merupakan gabungan dari beberapa perasaan dan kebanggaan pada nilai tradisional yang bersifat individualisme.” (Sears, 1988; dalam Gudykunst & Yun-Kim,1997: 129).

 
Leave a comment

Posted by on April 11, 2013 in Just Talk Active

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: