RSS

GAGASAN MEMPERLUAS PERAN BULOG GUNA MEWUJUDKAN KETAHANAN PANGAN

29 Apr

“Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat, kayu dan batu jadi tanaman”. Potongan lagu Koes Plus ini menggambarkan betapa sejahteranya masyarakat Indonesia. Namun pada kenyataannya gambaran tersebut tidak sepenuhnya benar. Persolan kemiskinan, pengangguran, kelaparan dan ketahanan pangan saat ini menjadi ancaman serius bagi rakyat Indonesia. Meski tanah kita subur dan sumber daya alam melimpah namun persoalan busung lapar ternyata tak berhenti mengintai kehidupan bangsa ini Sebagai sebuah negara dengan wilayah pertanian yang luas semestinya Indonesia mampu menjaga ketahanan pangannya sendiri tanpa tergantung bangsa lain.
Ketahanan pangan menyangkut ketersediaan dan keterjangkauan terhadap pangan yang cukup dan bermutu. Dalam hal ini terdapat aspek pasokan, daya beli, dan aksesibilitas setiap orang terhadap pangan. Mengingat pentingnya persoalan pangan maka pemerintah manapun tidak akan berani bermain-main dalam urusan ini.
Semenjak tahun 1967 pemerintah secara resmi membentuk Bulog yang secara khusus ditugaskan untuk mengelola persoalan pangan. Perjalanan Bulog sebagai sebuah lembaga pangan seiring dengan perjalanan panjang bangsa ini dalam mengawal ketahanan pangan nasional. Sejak awal pendiriannya, Bulog merupakan salah satu instrumen pelaksana kebijakan pangan nasional. Peran Bulog mengalami pasang surut yang dinamis, tetapi alasan keberadaannya tidak pernah terlepas dari kerangka kebijakan pangan secara keseluruhan.
Meski saat ini telah menjadi Perum, namun visi dan misi Bulog tetaplah mengedepankan kepentingan rakyat yaitu menyediakan pangan yang cukup, aman dan terjangkau guna memenuhi kebutuhan pangan. Sejarah telah membuktikan kemampuan Bulog untuk beradaptasi dengan berbagai kebijakan pangan yang dibuat pemerintah meski lembaga ini mengalami perubahan bentuk dan struktur kelembagaan.
Pengalaman Bulog mengelola pangan nasional telah terbukti namun kita juga tidak bisa menutup mata jika citra Bulog di masyarakat cukup negatif. Perjalanan beberapa mantan kepala Bulog yang berakhir dengan masalah hukum menunjukkan bahwa di lembaga ini rawan dengan penyimpangan. Kesan sebagai gudang uang cukup menonjol sehingga menarik berbagai kepentingan untuk mengambil keuntungan. Hal tersebut wajar adanya mengingat besarnya nilai perputaran uang yang terkait dengan kegiatan usaha Bulog.
Akuntabilitas publik yang rendah dan sifat kelembagaan Bulog yang mendua (lembaga pemerintah tetapi melakukan aktivitas bisnis komersial) menyebabkan terbukanya praktek KKN. Kondisi ini adalah tantangan bagi segenap jajaran Bulog untuk berbenah. Mentransformasi diri menjadi lembaga yang bersih, transparan, akuntabel dan profesional. Sebentar lagi Bulog genap berusia 42 tahun sebuah usia yang semestinya sudah matang dan dewasa untuk menjadi lebih baik.
Perum Bulog dan mimpi ketahanan pangan
Salah satu amanat penting para pendiri bangsa yang juga mimpi segenap rakyat Indonesia adalah kemandirian di bidang ekonomi. Masyarakat adil dan makmur merupakan tujuan yang harus dibangun bersama oleh segenap elemen bangsa. Salah satu indikator kemakmuran suatu bangsa ditandai kemampuannya untuk menyediakan kebutuhan pokok bagi rakyatnya.
Potensi Indonesia sebagai negara dengan ketahanan pangan yang kuat dapat tercapai jika semua elemen masyarakat bergandeng tangan mewujudkannya. Selama ini muncul opini bahwa masalah ketahanan pangan semata urusan pemerintah, petani dan tentu saja Bulog. Padahal masalah ketahanan pangan suatu bangsa juga dipengaruhi faktor lain seperti politik, budaya dan gaya hidup. Sebagai contoh, proses diversifikasi pangan kita mengalami hambatan karena gaya hidup masyarakat yang belum bisa beralih dari beras. Generasi muda kita enggan menjadi petani karena pengaruh budaya massif yang menawarkan gaya hidup hedonis. Berbagai jurusan pertanian di perguruan tinggi sepi peminat bahkan tidak sedikit yang terpaksa tutup. Semakin merosotnya luas lahan, amburadulnya tata niaga pupuk, dan harga beras yang anjlok ketika panen hanyalah sedikit persoalan yang melingkupi kehidupan petani kita. Akhirnya petani memilih menjual lahan untuk mendapat keuntungan sesaat daripada meneruskan pekerjaan yang dianggap tidak menjanjikan. Jika kondisi ini terus berlanjut maka ketahanan pangan nasional jelas terancam.
Pada tulisan ini kita memfokuskan upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan terutama gagasan untuk memperluas peran Bulog. Artinya, Bulog tidak hanya ditempatkan sebagai lembaga yang menampung produk dan stabilisasi harga, tetapi juga melakukan fungsi afirmasi terhadap petani guna menumbuhkan semangat dan keyakinan mereka. Meyakinkan petani bahwa keberadaan mereka adalah elemen terpenting dari ketahanan pangan nasional dan juga profesi ini secara ekonomi menjanjikan. Bulog punya jaringan kantor, gudang distribusi dan mereka paham permasalahan pangan di lapangan. Kondisi inilah yang harus dimanfaatkan guna melakukan edukasi terhadap petani. Kepastian harga pembelian gabah ketika panen yang secara ekonomi menguntungkan merupakan salah satu bentuk upaya menumbuhkan semangat bertani.
Usaha lain yang bisa dilakukan adalah memelopori pemberian penghargaan bagi kegiatan pertanian unggulan. Wujudnya bisa bermacam-macam mulai dari penghargaan bagi petani teladan, pedagang, daerah penghasil beras terbaik, kelompok tani atau insentif khusus bagi mereka yang mampu memberikan terobosan bagi peningkatan produk pertanian. Penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir melainkan sekedar katalisator untuk memupuk semangat bertani dan meneguhkan kepercayaan mereka. Secara rasional petani jelas memiliki kontribusi yang signifikan bagi kehidupan masyarakat tetapi penghargaan yang mereka terima kalah dari penyanyi dangdut atau artis. Profesi petani dipandang sebelah mata sehingga ditinggalkan oleh generasi muda kita. Mereka yang menjadi petani sebagian karena terpaksa saat pekerjaan lain tak dimiliki. Menjadi petani adalah pilihan pahit dan tidak membanggakan.
Selain memberikan penghargaan, Bulog juga bisa memanfaatkan jaringan yang dimiliki untuk membuka mata generasi muda agar tidak malu menjadi petani. Ketika datang menemui petani baik untuk membeli stok beras atau sosialisasi program mungkin lebih baik jika karyawan Bulog tidak menunjukkan kesan adanya jarak antara aparat dan rakyat. Tunjukkan bahwa petani adalah profesi terhormat, dibutuhkan dan memegang peran penting bagi kehidupan bangsa. Pakaian yang resmi bisa ditinggalkan sementara, bahasa yang sulit dan birokratis bisa disederhanakan,
Karyawan Bulog juga bagian dari komunitas masyarakat sehingga mereka bisa menjadi public relations yang membawa visi dan misi lembaga. Tingkah laku dan sikap mereka di masyarakat adalah cerminan kinerja lembaga tempat mereka bekerja. Jangan sampai melakukan tindakan kontraproduktif yang justru melemahkan semangat petani. Isu-isu penurunan harga pembelian gabah dan informasi lain yang berpotensi meresahkan petani tidak perlu disebarluaskan. Justu mereka harus bisa menjadi ujung tombak Bulog untuk memupuk semangat petani dengan memberi informasi yang positif. Ingatlah bahwa mereka hidup dari mengelola produk pertanian yang merupakan hasil tetesan keringat jutaan petani di Indonesia.
Ketika semangat bertani telah tumbuh dan generasi muda bangga menjadi petani maka kita bisa berharap bangsa ini akan mencapai swasembada pangan. Meningkatnya jumlah hasil produksi pertanian berarti membuka kesempatan untuk melakukan ekspor. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi Bulog bisa melakukan ekspor yang mendatangkan devisa bagi negara. Pada akhirnya sinergi antara berbagai eleman bangsa adalah keharusan jika ketahanan pangan ingin dicapai. Bulog bisa menjadi katalisator namun perlu diingat lembaga ini tidak bisa berjalan sendiri.
Mimpi kita terhadap Bulog mungkin berbeda tapi satu hal yang pasti kalau semua berharap lembaga ini memberi peran memadai bagi kemakmuran bangsa ini. Kritik, saran, makian, cacian, dan cemoohan sejatinya wujud nyata kecintaan bangsa ini terhadap Bulog. Mereka punya impian untuk melihat Bulog menjadi lembaga yang profesional dalam melayani rakyat

Tulisan ini pernah diikutkan dalam Lomba Penulisan Bulog, dan Alhamdulillah menjadi juara

 
1 Comment

Posted by on April 29, 2013 in lomba kary tulis

 

One response to “GAGASAN MEMPERLUAS PERAN BULOG GUNA MEWUJUDKAN KETAHANAN PANGAN

  1. febrina

    April 2, 2014 at 6:25 am

    #Lomba menulis artikel&foto #keadilanpangan #panganlokal #Indonesia hadiah dr @AJIIndo total 10jt, diperpanjang hinggga 5 April 2014. Info : http://bit.ly/NqkdNd

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: