RSS

Sinergi operator seluler dan pemerintah dalam menyambut era tv digital (DTV)

30 Aug

Indonesia berencana untuk melakukan migrasi TV analog ke digital pada tahun 2018 nanti. Semenjak tahun 2007 pemerintah secara bertahap melakukan proses migrasi tersebut. Proses migrasi tersebut tidak lepas dari pengaruh International Telecommunication Union (ITU) yang telah menetapkan tahun 2015 sebagai batas waktu migrasi dari penyiaran tv analog ke penyiaran DTV. Dalam the Geneva 2006 Frequency Plan (GE06) Agreement keputusan batas waktu migrasi tersebut dihasilkan. Meskipun keputusan tersebut tidak mengikat Indonesia secara langsung, tapi pemerintah memandang perlu untuk melakukan proses migrasi tersebut.

Meskipun Mahkamah Agung (MA) membatalkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) No 22/2011 tentang Penyelenggaraan TV Digital tidak berarti proses migrasi ini telah selesai. Perkembangan teknologi di bidang telekomunikasi yang semakin pesat mau tidak mau harus diakomodir oleh setiap negara. Mereka yang tidak menyesuaikan dengan perkembangan tersebut pasti akan tergilas roda perkembangan jaman.

TV Digital (DTV) adalah siaran audio (suara), video (gambar), dan informasi tambahan lainnya yang dipancarkan dalam bentuk format digital. Kata “digital” itu sendiri sudah sangat sering digunakan dalam bahasa teknologi modern dan umumnya mengacu pada suatu entitas fisik yang dikuantisasi dan diwakili oleh karakter biner (dikutip dari http://tvdigital.kominfo.go.id).

Ini adalah Logo DTV yang dibuat oleh Kemenkominfo

Beberapa keunggulan dai DTV yaitu: kualitas gambar dan suara yang lebih bagus, lebih interaktif, pemanfaatan spektrum frekuensi lebih efisien, biaya lebih murah, menumbuhkan industri konten yang lebih variatif.
Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji optimalisasi peran industri seluler dalam proses migrasi analog ke digital yang telah direncanakan oleh pemerintah pada tahun 2018. Secara spesifik tulisan ini akan membahas tentang pentingnya proses sosialisasi dan peran operator seluler dalam memajukan ekonomi di daerah di era digitalisasi.

Bruno Latour, Sosiolog di bidang Sains dan Teknologi asal Perancis menyatakan bahwa keberhasilan adopsi teknologi baru ditentukan oleh sinergi para aktor yang ada didalamnya. Latour adalah salah satu penggagas actor-network theory (ANT) yang menjelaskan lahirnya suatu pengetahuan melalui relasi antara masyarakat (konstruktivisme sosial) dan alam (realisme). Dalam ANT, sosiolog sains memberikan perhatian tidak semata-mata pada manusia (actant), tapi juga pada benda dan obyek (non-actant) secara simetris. Bersama Steve Woolgar, Latour melakukan studi etnografi di laboratorium endocrinology Salk Institute. Aktor yang dimaksud tidak hanya manusia (human) namun juga selain manusia (non-human), dimana keduanya di-manusia-kan dan disejajarkan. Jika kedua aktor tersebut berjalan dengan beriringan maka proses adopsi teknologi akan mencapai keberhasilan. Sebaliknya jika kedua aktor tidak berjalan secara simetris maka proses adopsi teknologi akan mengalami kegagalan.

Indikator keberhasilan sebuah loncatan teknologi adalah kesejahteraan rakyat, dinikmati semua, dan tidak terjadi monopoli. Apalah artinya sebuah teknologi baru kalau tidak membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia. Pada akhirnya perkembangan teknologi hanya akan membawa kesengsaraan bagi sebagian manusia dan menguntungkan sebagian manusia yang lain. Karena itu semestinya proses migrasi tv analog ke DTV bisa memberikan sebanyak mungkin kemanfaatan bagi manusia.

Pentingnya Proses sosialisasi

Proses sosialisasi memegang peran penting dalam keberhasilan migrasi analog ke DTV. Beberapa pertanyaan sederhana yang patut diajukan adalah: sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang proses migrasi, sejauh mana upaya pemerintah dalam melakukan sosialisasi dan materi apa yang telah disampaikan kepada masyarakat?.

Proses sosialisasi seringkali dianggap sebagai masalah sepele, kemudian tidak memiliki ukuran jelas tentang capaian yang harus diraih. Dalam proses migrasi ini misalnya, apakah sebagian masyarakat kita sudah tahu tentang migrasi tersebut? Jangan-jangan proses migrasi hanyalah menjadi kepentingan dari pemerintah, pelaku industri TV dan pihak-pihak lain yang telah bersiap untuk mengambil keuntungan.

Saat ini sebenarnya proses sosialisasi bisa dilakukan dengan lebih mudah ketika jaringan telepon seluler telah mencapai berbagai pelosok negeri ini. Telepon seluler yang dibarengi dengan harga murah dari layanan operator bisa menjadi sarana sosialisasi yang efektif dan personal. Bagi saya pribadi sampai hari ini belum pernah menerima pesan, baik teks maupun audio/video berkaitan dengan proses migrasi TV analog ke DTV. Kondisi ini mungkin dialami oleh sebagian atau bahkan semua lapisan masyarakat. Satu-satunya informasi yang bisa didapat tentang proses migrasi ini diperoleh dari situs resmi pemerintah dan beragam artikel di dunia maya.

Artinya proses sosialisasi baru menyentuh lapisan melek internet atau mereka yang secara khusus menaruh perhatian terhadap proses migrasi ini. Jika proses sosialisasi melibatkan operator seluler maka percepatan dan jangkauanya bisa lebih masif. Jika tahun 2018 secara konsisten dijadikan patokan sebagai analog switch off maka semenjak sekarang proses sosialisasi tersebut harus dijalankan secara konsisten, terencana dan terukur keberhasilannya.

Analog switch off adalah periode dimana siaran analog dihentikan dan diganti dengan siaran digital. ASO sudah dilakukan secara total di beberapa negara di dunia diantaranya Inggris, Belanda, Norwegia, Jerman, Swedia, dan Italia. Seluruh negara di dunia lainnya termasuk di kawasan ASEAN juga sedang melakukan proses transisi ke penyiaran digital. Indonesia akan melakukan ASO secara total tahun 2018.

Saat ini di tahun 2013, proses sosialisasi secara benar harus sudah dilakukan. Harapannya dengan semakin meningkatnya pemahaman masyarakat tentang proses migrasi, mereka bisa mengambil peran.

Operator seluler perlu dilibatkan dalam proses sosialisasi ini, mengingat kemampuan mereka dalam mengkreasi beragam pesan. Layanan telefon murah, paket data, chatting dan fasilitas lainnya bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk proses sosialisasi.

Peran operator seluler dalam menumbuhkan ekonomi kreatif

Ketika penggunaan frekuensi semakin efektif maka dalam satu kanal bisa diisi lebih dari satu channel siaran. Kondisi ini jelas menumbuhkan peluang sekaligus tantangan bisnis. Bisnis konten, layanan dan model bisnis kreatif lainnya bisa lahir dalam kondisi ini.

Dalam format digital semakin banyak ceruk yang disediakan untuk mengisi konten digital. Artinya kreatifitas anak muda bisa dimanfaatkan untuk mengisi peluang ini. Generasi muda kita saat ini lahir di era teknologi informasi yang berkembang cepat. Kebiasaan dan kemampuan mereka beradaptasi dengan perkembangan teknologi merupakan kelebihan yang harus dimanfaatkan.

Ketika channel siaran di era DTV semakin banyak artinya semakin terbuka peluang untuk mengisi slot bisnis di sektor ini. Beragam konten baik pendidikan, olahraga, hiburan, teknologi, kuliner, relijius sangat dibutuhkan untuk mengisi siaran. Banyak pengamat memprediksikan kalau era DTV akan dibarengi dengan personalisasi isi siaran. Orang semakin selektif dalam memilih konten sesuai kebutuhanny. Maka lahirlah channel yang secara khusus menayangkan program tertentu. Channel yang bersifat generalis dengan menyediakn konten siaran dalam semua bentuk, mungkin hanya bisa dilakukan oleh para pemodal besar.

Sedangkan channel yang memiliki keterbatasan pendanaan akan memilih semakin spesialis dalam menyediakan konten siaran. Disini menjadi peluang sekaligus tantangan dari generasi muda kita untuk mengambil peran dalam era DTV sehingga mereka tidak terus-menerus menjadi konsumen pasif yang menikmati konten siaran impor.

Indonesia memiliki kekayaan budaya, ide, gagasan dan generasi muda yang kreatif, jadi sudah selayaknya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bukan sekedar menjadi pribadi konsumtif yang kehilangan kreatifitas. Generasi muda saat ini sudah terbiasa dengan aktifitas upload foto, video, music indie, lipsing, membuat film indie dan sebagainya. Semua aktifitas tersebut berbasis pada dua hal penting yaitu: ketersediaan gadget mutakhir dan saluran internet yang disediakan oleh layanan operator seluler dengan harga terjangkau.

Sebagai contoh adalah layanan XL yang menghadirkan Paket Internet HotRod 3G+ dengan kecepatan hingga 7,2 Mbps. Layanan ini tersedia dalam pilihan tarif harian, mingguan, sampai bulanan yang terjangkau.

Keberadaan layanan internet dari operator seluler seperti ini bisa menjadi modal berharga bagi generasi muda untuk membuka kreatifitas mereka. Mereka bisa belajar beragam konten siaran yang menarik dengan membuka internet. Konten tersebut bisa dijadikan modal belajar yang positif sehingga tara produksi mereka baik yang berbentuk audio maupun video bisa layak ditayangkan.

Selain konten off air, peluang bisnis lainnya adalah liputan live yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan layanan internet dari operator seluler. Beberapa channel yang mengkhususkan pada konten berita, membutuhkan materi siaran langsung. Sementara mereka seringkali tidak memiliki koresponden atau wartawan yang tersebar di semua daerah. Disinilah peluang sinergi antara kontributor lepas dengan channel siaran TV. Dengan layanan internet yang semakin baik maka peluang menjadi kontributor lepas ini terbuka bagi semua orang.

Banyak jurnalis yang sekarang ini memanfaatkan keunggulan layanan internet dari operator seluler untuk mendukung pekerjaannya. Kesempatan ini bisa juga dimanfaatkan oleh generasi muda kita untuk mendukung pekerjaan mereka sebagai kontributor lepas. Ini menjadi kontribusi nyata dari layanan seluler untuk membuka kesempatan menikmati kesuksesan proses migrasi analog ke digital yang sedang digulirkan.

Untuk bisa memanfaatkan teknologi digital terutama streaming perlu sinergi dengan operator untuk membuka layanan di daerahdaerah yang tertinggal dengan membuka kanal internet yang cepat. Banyak daerah yang kaya potensi selama ini tidak terekspos secara memadai sehingga kehadiran operator seluler bisa menjembatani kondisi tersebut.

Menggali potensi daerah

Indonesia memiliki kekayaan wisata, alam, adat istiadat, peluang usaha dan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Sungguh disayangkan jika potensi tersebut tidak berkembang maksimal hanya karena kurang terekspos. Berbicara potensi wisata misalnya, selama ini hanya daerah tertentu seperti Bali, Lombok, Raja Ampat, Bunaken, Borobudur, Pulau Komodo yang sudah relatif dikenal di dunia internasional. Padahal kekayaan potensi wisata Indonesia baik yang berupa alam. warisan budaya maupun ragam adat istiadat masih banyak yang belum terekspos maksimal.

Kelezatan masakan Indonesia bukan hanya rendang, nasi goreng, bakso, melainkan masih ada beragam jenis masakan lainnya yang tidak kalah lezatnya. Ini tentunya membutuhkan kemauan untuk menggali dan mempromosikan ke dunia Di era DTV harapannya semakin banyak channel yang mau mengangkat tema kekayaan Indonesia ini. Melalui layanan internet seluler bisa dikemas konten kreatif tentang kekayaan Indonesia tersebut untuk mengisi kanal-kanal digital yang terbuka luas.


Rendang, sumber gambar

Kembali menggunakan analisa Bruno Latour tentang pentingnya sinergi dari faktor manusia dan non-manusia dalam proses adopsi teknologi. Dalam isu migrasi TV digital ini yang dimaksud dengan aktor manusia meliputi Kominfo, DPR, KPI, operator seluler, pengusaha media, penyedia infrastruktur teknologi, teknisi, masyarakat, penyedia konten, penyedia layanan bisnis dll. Sementara faktor bukan manusia meliputi regulasi (UU Penyiaran, PP, Permen), TV digital, teknologi digital, internet, set up box, kanal, televisi dll.

Para akor tersebut saling terkait satu sama lain. Maka mereka harus memainkan peran dengan baik sesuai dengan fungsi dan tanggungjawabnya. Jika salah satu diantara aktor itu mengalami malfungsi maka sistem adopsi akan mengalami gangguan.

Sumber Rujukan:

http://www.duniaesai.com
http://tvdigital.kominfo.go.id/
http://inet.detik.com/read/2012/02/13/125758/1840989/328/kominfo-buka-peluang-usaha-di-bisnis-tv-digital
http://www.xl.co.id/id/internet
http://nurul.blog.undip.ac.id/2013/07/03/migrasi-tv-digital-sinergi-manusia-dan-non-manusia/

 
Leave a comment

Posted by on August 30, 2013 in lomba kary tulis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: