RSS

Komunikasi Transendental

05 Nov

Dalam Islam sejatinya komunikasi antara manusia dengan Alloh SWT adalah kunci atau landasan bagi komunikasi yang lain. Dalam hubungan individu, kelompok, organisasi maupun praktek komunikasi massa tidak bisa dilepaskan dari komunikasi hamba dengan Alloh SWT. Bentuk-bentuk komunikasi antara hamba dengan Alloh SWT terwujud dalam beragam ibadah yang dijalaninya. Ritual ibadah tidak hanya persoalan kebiasaan, gerakan fisik, tetapi juga mengandung komunikasi yang intensif. Beberapa diantaranya adalah sholat, dzikir, membaca Al Qur’an, dan berdoa.
Sholat didefiniskan sebagai aktifitas ibadah yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Dalam rangkaian sholat tersebut terdapat beragam proses ibadah baik yang berupa amalan hati, amalan lisan, maupaun gerakan badan. Amalan hati berupa niat ketika manusia secara ikhlas menyatakan kepada Alloh SWT bahwa ibadah sholat yang dilakukannya tidak ditujukan kepada yang lain. Melalui lisannya manusia membaca ayat suci dan berdoa sebagai bentuk permohonan, penghambaan dan pasrah diri secara total.

Aktifitas berdoa yang dilakukan oleh manusia menjadi bentuk lain dari komunikasi antara manusia dengan ALloh SWT. Dalam doa manusia memanjatkan segala keinginannya, meminta segala kebutuhannya, meminta jalan keluar dari persoalan yang dihadapi, memohon ampunan dan lainnya. Dia berkomunikasi dengan Alloh SWT dalam pekatnya sepertiga malam yang terakhir. Ketika sebagian besar manusia terlelah dalam buaian mimpi. Dalam Islam segala aktifitas komunikasi yang dilakukan oleh manusia tidak boleh lepas dari kerangka aturan yang telah ditetapkan syariat. Karena itu persoalan jujur, tidak mengadu domba, tidak memfitnah, tidak bergunjing dalam komunikasi bukan hanya memenuhi hak sesama manusia tetapi juga memenuhi kewajiban syariat yang telah ditetapkan.

Sebagai contoh kewajiban jujur dalam segala hal termasuk berkomunikasi telah ditetapkan dalam Al Qur’an. “Tetapi jikalau mereka berlaku jujur pada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21). Dalam hadist Nabi juga disebutkan tentang keharusan berbuat jujur. “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta (HR. Muslim no. 2607).

Jadi dalam pandangan Islam aspek kejujuran dalam berkomunikasi bukan sekedar tuntutan kebutuhan antarmanusia tetapi juga merupakan kewajiban manusia dalam menaati syariat. Ini menandakan bahwa komunikasi transcendental bagi seorang muslim adalah dasar dan pijakan ketika dia berkomunikasi dengan manusia. Secara langsung komunikasi antara hamba dengan Alloh SWT juga dimanifestasikan dalam banyak ayat dan hadist. Dalam bentuk perintah dan larangan yang menunjukkan bahwa komunikasi itu dibangun.

Al Qur’an sebagai sumber pengetahuan juga memberikan tafsir tersirat dan tersurat tentang komunikasi. Salah satunya adalam Umul KItab Surat AL Fatihah. Umul Kitab adalah surat dalam Al Qur’an yang dibaca setidaknya tujuh belas kali sehari oleh setiap muslim. Dalam sholat wajib yang meliputi Subuh, Dhuhur, Ashar, Magrib dan Isya setiap muslim membaca surat ini sebagai bacaan wajib yang harus ditunaikan. Al Fatihah adalah rukun sholat yang harus dibaca. Tanpa bacaan tersebut, sholat seseorang dianggap tidak sah. Kandungan utama surat Al Fatihah secara garis besar dibagi dalam dua hal yaitu, komunikasi antara manusia dengan Rab-nya dan juga jawaban dari Rab-nya terhadap bacaan mahluk-Nya .

Hal tersebut tersurat dalam hadist berikut: dari Abu Hurairah, “Kalau kami sedang berada di belakang imam, bagaimana?” Beliau menjawab, “Bacalah untuk diri kalian sendiri, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ta’ala berfirman : ‘Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.’ Kalau hamba itu membaca, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Kalau dia membaca, ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Maliki yaumid din’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku’. Kemudian Allah mengatakan, ‘Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.’. dan kalau dia membaca, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin” maka Allah berfirman, ‘Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya.’.”

Hal tersebut mengisyaratkan adanya komunikasi transenden yang dibangun antara seorang muslim dengan Allah SWT. Kajian dasar yang membahas persoalan ini dalam ilmu komunikasi belum banyak dilakukan. Bidang kajian komunikasi selama ini dibatasi pada aspek human communication yang bersifat manifest. Pembahasan komunikasi dan teori yang melingkupi aspek praksis komunikasi didasarkan pada hubungan manifest yang dijalin oleh partisipan komunikasi. Kerangka imajiner dan relasi hubungan yang tidak bersifat manifest dianggap sebagai bagian terpisah dari proses komunikasi.
Dalam pandangan Islam kegiatan komunikasi tidak hanya membentuk pola hubungan antar manusia tetapi membentuk pola kedekatan hubungan antara manusia dengan Rab-nya. Sekulerisasi pemahaman untuk memisahkan kegiatan komunikasi antara manusia dengan manusia membuat pemahaman komunikasi terbatas pada aspek manifest. Pertanggungjawaban terbesar komunikasi manusia adalah dengan Rab-nya sehingga pemahaman ini menjadi dasar dari kegiatan komunikasi dalam Islam. Berkomunikasi dengan sesama manusia tidak bisa dibatasi dengan penilaian aspek manifest semata.

Proses formulasi teori meliputi tahapan inquiri yaitu, asking question, observation dan formulating answer . Proses inquiry, tak lebih dari proses menanyakan pertanyaan yang menarik, penting, dan selanjutnya menyediakan jawaban yang sistematis atas pertanyaan tersebut. Untuk meraih jawaban itu, diperlukan langkah kedua, yaitu observation (pengamatan). Dalam melakukan pengamatan, diperlukan metode yang berbeda-beda –seperti yang telah disebut sebelumnya– dari satu tradisi ke tradisi lainnya. Seorang peneliti haruslah merencanakan terlebih dahulu metode apa yang akan digunakannya, setelah ia melakukan tahapan berikutnya: asking question. Lalu tahap selanjutnya adalah constructing answers atau membangun jawaban. Dalam proses ketiga ini, para sarjana akan berusaha untuk mendefinisikan, mendeskripsikan, dan menelaskan, menilai, dan menginterpretasikan sesuatu yang diamati, yang akan sama dengan maksud dari “teori”.

Proses penyelidikan ilmiah ini tidak berlangsung secara linier, melainkan melaju melingkar, maju mundur dari poin ke poin. Misalnya, seorang sarjana komunikasi yang memiliki sebuah rancangan investigasi ilmiah tertentu, melakukan presentasi di hadapan para kolega dalam sebuah konvensi ilmiah. Proyeknya mendapatkan ulasan dari banyak pihak, sehingga ia dapat mengetahui letak kelemahan rancangan miliknya, dan barangkali terpaksa harus kembali ke poin awal. Atau maju ke depan, dan setelah hasil penelitian tercipta, akan tercipta pertanyaan-pertanyaan baru .

Tafsir Surat Al Fatihah memberikan penjelasan dengan rinci mulai dari proses dasar keyakinan seorang muslim sampai dengan proses komunikasi antara manusia dengan Allah SWT. Merujuk pada proses inquiri dalam mewujudkan sebuah teori, tafsir yang diketengahkan sesungguhnya menjawab segala persoalan yang dihadapi manusia. Pada tataran ini AL Fatihah sebagai wahyu dari Allah SWT tidak bisa dipandang sebagai teori karena bukan sebuah hasil pemikiran manusia. Lebih bijaksana dan tepat ketika menyatakan bahwa dalam tafsir Al Fatihah terdapat ajaran Allah SWT tentang komunikasi.

Teori dan praktek komunikasi hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan sistem kehidupan manusia. Demikian halnya teori komunikasi bukanlah asas dari kehdiupan manusia secara absolut melainkan bagian kecil dari manifest eksistensi manusia. Problematika komunikasi antarmanusia sesungguhnya bisa diselesaikan dengan bijak ketika manusia memahami makna dari Al Qur’an. Sebagai bagian tak terpisahkan dari proses keberadaan manusia di dunia, kitab suci ini merupakan panduan perbuatan manusia dalam segala bidang. Termasuk di dalamnya kegiatan komunikasi baik dipandang sebagai skill praktis maupun komunikasi dari sudut pandang keilmuan. Artinya ketika komunikasi dipandang sebagai kegiatan praktis, maka di dalam AL Qur’an sudah ada tuntunan secara praktis bagaimana berkomunikasi. Sedangkan komunikasi sebagai keilmuan juga dilandasi dengan acuan-acuan pokok dalam ayat yang tersebar di dalamnya. Dalam berbagai surat dan ayat ditemukan bagimana komunikasi secara keilmuan di konsepsikan. Hal ini tidak mengherankan karena AL Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan apapun yang ada di dunia ini.

 
Leave a comment

Posted by on November 5, 2013 in Just Talk Active

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: