RSS

Perhatian Islam Terhadap Komunikasi

08 Nov

Dalam Islam persoalan komunikasi juga mendapat perhatian yang serius. Beberapa prinsip dasar berkomunikasi disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadist. Prinsip-prinsip tersebut berupa pedoman yang bersifat pokok dan bisa diaplikasikan dalam beragam praktek komunikasi. Beberapa diantaranya adalah prinsip qaulan sadida, qaulan karima, qaulan baligha, qaulan mansyura.dan lainnya.

– Qawlan sadidan
Dalam Al Qur’an, Alloh SWT berfirman tentang keharusan berkata yang benar. Sebagaimana dalam firman-NYa yang berarti:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (Q.S An-Nisa:9).
Arti perkataan benar adalah sesuai dengan kriteria kebenaran untuk orang Islam. Ucapan yang benar adalah yang sesuai dengan Al-Quran,Assunnah,dan Ilmu. Al-Quran menyindir keras orang-orang yang berdiskusi tanpa merujuk kepada Al-Kitab,petunjuk dan ilmu “Diantara manusia yang berdebat tentang Allah tanpa ilmu petunjuk dan kitab yang menerangi “(Qs;31:20).

Al-Quran menyatakan bahwa berbicara yang benar,menyampaikan pesan yang benar,adalah prasyarat untuk kebenaran (kebaikan,kemaslahatan) amal. Bila kita ingin menyukseskan karya kita,bila kita ingiln memperbaiki masyarakat kita, maka kita harus menyebarkan pesan yang benar dengan perkataan yang lain. Hal ini berarti masyarakat menjadi rusak jika isi pesan komunikasi tidak benar. Berkomunikasi dalam Islam harus dilandasi semangat, maksud, tujuan, dan keinginan yang kuat untuk mewujudkan kebaikan bagi masyarakat, keluarga maupun orang yang diajak bicara. Ini adalah prinsip dasar berkomunikasi dalam Islam, harus berkata benar, hal-hal yang benar dan disampaikan dengan cara yang benar.

Alloh SWT berfirman, “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71].

Wujud ketakwaan seseorang salah satunya ditunjukkan dengan kemampuanya untuk berkata yang benar. Berkata yang benar berkaitan dengan keimanannya dalam beragama. Meyakini bahwa segala macam perbuatan termasuk perkataan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

– Qawlan Maysyuran
Perkataan selanjutnya yang menjadi dasar dalam berkomunikasi adalah perkataan yang pantas, tidak merendahkan martabat orang lain, tidak menghina, tidak menghancurkan kemuliaan orang dan tidak mengungkit segalam kebaikan yang pernah diberikan kepada orang lain. Setidaknya ketika kita belum bisa memberikan bantuan kepada orang lain, janganlah sakiti mereka dengan perkataan tidak pantas.

Alloh SWT berfirman yang artinya” Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas (Q.S Al Isra:28)

Ayat ini berkaitan dengan ayat ke 26 dalam surat yang sama. Ketika datang kepada karib kerabat, orang miskin, orang yang sedang dalam perjalanan dan membutuhkan bantuan maka bantulah mereka. Apabila kita tidak dapat melaksanakan perintah Allah seperti yang tersebut dalam ayat 26, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang baik agar mereka tidak kecewa lantaran mereka belum mendapat bantuan dari kamu. Dalam pada itu kamu berusaha untuk mendapat rezki (rahmat) dari Tuhanmu, sehingga kamu dapat memberikan kepada mereka hak-hak mereka.

Seringkali ketika datang seseorang membutuhkan bantuan kita, maka kita menyambutnya dengan perkataan buruk atau malah mengusirnya. Jelas perbuatan ini dilarang dalam Islam. Kita harus memperlakukan sesama manusia dengan perkataan yang pantas. Bukan makian, hujatan, penghinaan atau merendahkan martabatnya. Saudara, tetangga, atau orang miskin yang membutuhkan bantuan seringkali terpaksa datang untuk berhutang atau meminta sumbangan. Jika kita belum mampu membantu mereka, maka tidak perlu kita mengeluarkan kata-kata tidak pantas. Jika kita telah mampu membantu mereka, maka bantulah dan tidak boleh dibarengi dengan kata-kata yang menyinggung perasaan.
Misalnya, Si A datang ke rumah B untuk meminjam uang. Si A menyambut B dengan kata-kata, “ada apa, mau pinjam uang?. Pinjam uan kok tiap hari”. Meskipun kemudian si A memberikan pinjaman uang, tetapi perkataan yang disampaikannya tetaplah menyakitkan buat B.

– Qawlan Layyinan
Ciri utama dari perkataan ini adalah lemah lembut, persuasive, cerdas , memahami lawan bicara dan mampu mengendalikan emosi. Perkataan yang lembut dan cerdas mencerminkan individu yang tenang dan mampu mengatasi situasi komunikasi yang terkadang tidak sesuai dengan keinginannya.

Alloh SWT berfirman yang artinya” Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Q.S Thaha:44)

Ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya terkait perintah kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Mereka diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun, mengajaknya kepada kebenaran. Alloh SWT Maha Tahu bahwa Fir’aun adalah sosok yang melampaui batas. Dia mengaku kalau dirinya adalah Tuhan yang harus disembah. Jelas bahwa dia adalah sosok kafir yang sangat dzalim. Meski demikian perintah berdakwah yang diterima oleh Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS tetaplah menggunakan perkataan yang lemah lembut.

Kita analogikan ketika kita berkomunikasi dengan orang tua, tetangga, teman atau bahkan orang yang jahat sekalipun terkadang kita menggunakan kata-kata yang kasar. Sebuah pertanyaan sederhana, apakah mereka lebih buruk dari Fir’aun sehingga kita bisa berkata kasar?. Ataukah diri kita lebih baik dari Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS yang tetap diperintahkan untuk berkata lemah lembut?.
Sungguh memprihatinkan ketika anak berkomunikasi dengan orang tua menggunakan kata-kata yang kasar. Demikian halnya ketika orang tua menasehati anaknya dengan kemarahan dan makian. Jika prinsip ini berjalan dengan benar kehidupan komunikasi pasti akan berjalan menyenangkan. Setiap manusia berhubungan dengan kelemahlembutan.

– Qawlan Kariman

Alloh SWT berfirman yang artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Q.S Al Isra:23).

Hubungan antara anak dengan orang tua mendapat perhatian yang sangat serius dalam Islam. Dalam beberapa ayat disebutkan bagaimana kedudukan berbakti kepada orang tua sangat tinggi. Selalu disandingkan antara keimanan seseorang dengan bukti hubungan baiknya dengan orang tua.

Dalam berkomunikasi dengan orang tua, Islam memberikan rambu-rambu yang jelas. Yakni kewajiban untuk menghirmati, tidak menghardik, tidak melawan atau bahkan sekedar menunjukkan mimik tidak suka. Upaya untuk menentang orang tua dalam berkomunikasi tidak dibenarkan. Bahkan ketika kita berbeda pendapat atau orang tua berbuat kesalahan , kita tetap diharuskan memuliakan mereka dalam berkomunikasi. memilih kata-kata yang tepat ketika menolak atau tidak sepaham dengan orang tua.

Memilih perkataan yang mulai sesungguhnya menjadi bagian dari upaya kita untuk memuliakan orang lain dan diri kita sendiri. Artinya orang lain ketika berkomunikasi dengan kita juga akan mampu mengahrgai ketika kita juga memuliakan mereka. Seringkali manusia tidak dihargai karena dirinya sendiri tidak mampu untuk menghargai orang lain.

– Qawlan Ma’rufan
Dalam Al Qur’an Alloh SWT berfirman, yang artinya, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik (Q.S An-Nisa:5).

Pernyataan (dan berkatalah kepada mereka dengan perkataan yang baik), karena terkadang terjadi dari segi materi sudah dicukupi, tapi omongannya menyakitkan. Disamping itu, hal ini karena umumnya reaksi yang mudah diumbar dan sulit dikendalikan ketika orang yang marah adalah ucapan yang keluar dari mulut. Karena itu, penyebutan perkataan dalam ayat ini lebih dipertegas. Namun yang jelas, perintah berbuat baik tidak hanya terbatas pada ucapan, tetapi segala bentuk ucapan dan tindakan harus membuat nyaman bagi anak yatim .
Seringkali orang tua memenuhi hak anak secara materi atau pengasuh anak yatim memberikan materi yang cukup. Namun perkataan yang mereka ucapkan kepada anak-anak mereka atau anak yatim yang mereka pelihara adalah perkataan yang menyakitkan. Contohnya:
“Kamu itu, sudah semua kebutuhan dipenuhi masih aja sekolahnya bodoh”.

Perkataan ini jelas menyakitkan bagi anak meskipun kebutuhan mereka secara materi dipenuhi. Demikian halnya perilaku anak kepada orang tua mereka. Biasanya ketika orang tua sudah berusia lanjut dan ikut anaknya sering muncul perkataan yang tidak menyenangkan orang tuanya. Anak merasa telah memberikan fasilitas yang memadai sementara orang tua tidak mengerti keadaan mereka.

– Qawlan Baligha
Kata Baligh dalam bahasa Arab artinya sampai mengenai sasaran , atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan Qawl ( ucapan atau komunikai) kata Baligh” Berarti fasih, jelas makananya ,terang dan tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Karena itu prinsip qaulan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif.
Allohg SWT berfirman yang artinya “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka (Q.S An-Nisa:63).

Komunikasi yang efektif ditandai dengan pemahaman diantara partisipan komunikasi, diikuti dengan perubahan sikap, pemikiran dan perilaku. Cara berkomunikasi yang efektif diantaranya dengan pemilihan kalimat yang tepat, elihat kemampuan lawan bicara, melihat situasi dan kondisi. Nabi Muhammad SAW mencontohkan cara berkomunikasi dengan baik ketika menghadapi orang dengan berbagai tingkatan usia.
Misalnya, Nabi SAW bercanda dengan seorang anak kecil yang baru saja ditinggal mati oleh burung kesayangannya. Beliau tidak menggunakan bahasa orang tua yang berat melainkan dengan sapaan selayaknya usia anak-anak.

Berikut petikan sebuah Hadist yang menyebutkan Nabi SAW bercanda dengan anak-anak.
Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu? (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Ketika bertemu dengan seorang yang sudah tua, Nabi SAW juga memilih kalimat yang berbeda sesuai dengan usianya. Seorang perempuan tua bertanya pada Rasulullah: “Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak masuk surga?” Rasulullah menjawab: “Ya Ummi,sesungguhnya di surga tidak ada perempuan tua”. Perempuan itu menangis mengingat nasibnya Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat Al Waaqi’ah ayat 35-37 “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya”. (Riwayat At Tirmidzi, hadits hasan) .

Nabi SAW tidak sedang berbohong karena di surga semua manusia kembali berusia muda. Beliau ingin bercanda dengan nenek tersebut dan ternyata setelah dijelaskan tentang kalimat “di surga tidak ada orang tua” nenek tersebut kemudian tersenyum. Islam memberi contoh bagaimana penggunaan komunikasi yang efektif untuk tujuan memberi informasi, menghibur, memberi peringatan atau bergurau.

– Larangan ghibah
Membicarakan aib orang lain (ghibah) sudah menjadi kebiasaan manusia semenjak dahulu. Bahaya dari perbuatan ini sudah dijelaskan dalam syariat. Karena itu rambu-rambu larangan berghibah disebutkan dalam AL Qur’an maupun hadist. Saat ini ketika media massa berkembang pesat, ghibah justru menjadi komoditas yang diperjualbelikan melalui beragam program infotainment. Larangan berghibah disebutkan dalam beberapa dalil berikut.

Allah berfirman artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]

Dalam ayat lainnya Alloh SWT berfirman yang artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf : 16-18]

Dalam kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan. “Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta”

Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Roasulullah bersabda. Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Imam Nawawi berkomentar tentang hadits ini ketika menjelaskan hadits-hadits Arba’in. Beliau menjelaskan, “Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara

Perbuatan ghibah sangat dilarang dalam Islam, bahkan diibaratkan dengan memakan daging saudaranya sendiri. Saat ini praktek komunikasi sudah sangat jauh dari nilai-nilai tersebut. Adanya program infotainment yang mengupas keburukan orang lain telah merusak tatanan masyarakat. Kemudian muncullah kebencian, saling curiga, dan ghibah yang terus-menerus tanpa henti. Dalam sejarah manusia ghibah yang dilakukan untuk membahas keburukan orang lain teah menghancurkan banyak kaum. Karena itu, dalam kegiatan komunikasi perhatian terhadap ghibah selalu ditekankan dalam Islam. Inilah beberapa asas yang menjadi pegangan ketika berkomunikasi, sehingga umat Islam menjadikan komunikasi sebagai bagian dari praktek ketaatan terhadap syariat sekaligus memberi maslahat dalam kehidupan manusia.

 
Leave a comment

Posted by on November 8, 2013 in Just Talk Active

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: