RSS

Pilih Jalur Kereta, Apa Jalan Tol?

13 Nov

Saya adalah pengguna kereta api Kaligungmas jurusan Tegal-Semarang. Hampir setiap hari saya naik kereta ini. Rute yang dilewati kereta ini adalah Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang-Kendal dan berakhir di Stasiun Poncol Semarang. Saya sendiri biasa naik dari Pekalongan untuk tujuan Semarang. Alasan memilih kereta terletak pada kenyamanan, ketepatan waktu, harga bersaing, dan anti macet. Dari stasiun Pekalongan kereta biasanya berangkat pukul 5.38 wib dan sampai di Semarang pada pukul 07.18 wib. Setelah terjadi perbaikan pelayanan, jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta menjadi lebih baik.

Kareta jelas memiliki banyak keunggulan dibanding angkutan darat lainnya. Kereta lebih nyaman, bersih, tepat waktu, gak macet kecuali rusak. Sebagai angkutan masaal kereta jelas bisa diandalkan, mampu mengangkut orang banyak dalam waktu bersamaan. Bayangkan kalau harus naik bis, berapa banyak armada yang harus disediakan. Berapa banyak jalan yang harus diperlebar setiap tahunnya. Hitung-hitungan secara kasar, di dinding gerbong kereta Kaligungmas tertera tulisan jumlah penumpang duduk 68 orang. Dengan estimasi penumpang berdiri 25%, jadi satu gerbong kereta bisa berisi 68+17: 85 orang. Kereta ini memiliki 5 rangkaian gerbong jadi penumpang yang bisa diangkut sekitar 85×5: 425 orang sekali angkut. Kalau menggunakan bus umum yang muatanya 45 penumpang berarti dibutuhkan sekitar 10 bus.

Rel apa jalan Tol

Judul tulisan ini menggambarkan kelebihan dan kekurangan pembuatan rel kereta api dan jalan tol. Artinya mode trasnportasi mana yang lebih menguntungkan dilihat dari berbagai aspek. Untuk rujukan komplit tentang kajian social ekonomi rencana pembangunan jalan told an kereta api di pulau Jawa bisa kita dapat dari hasil kajian Puslitbang PU.
Untuk sederhananya saya kutipkan beberapa point hasil kajian tersebut. Pertama, dari dimensi social. Untuk membuat jalan tol diperlukan lahan yang luas dan panjang. Artinya banyak warga yang harus rela meninggalkan daerah asalnya karena lahannya terkena pembangunan jalan tol. Ini bisa menimbulkan persolan baru saat negosiasi ganti rugi, adaptasi tempat baru, dan beragam aksi menolak perluasan ini. Masalah social untuk pengembangan jalan tol akan lebih besar daripada pengembangan jalan kereta api.

Kedua, dimensi ekonomi. Investasi di jalan KA maupun jalan raya akan menyebabkan output perekonomian tumbuh meningkat dari besarnya investasi yang dilakukan. Ketika jalan berkembang maka angkutan manusia dan barang akan meningkat. Perekonomian berkembang dan pengangguran berkurang. Saat ini dukungan investasi untuk pengembangan jalan tol masih lebih besar daripada dukungan untuk pembuatan jalur kereta api. Padahal seandainya sinergitas pembangunan antara jalan raya dengan jalur kereta api bisa ditingkatkan, maka kemacetan jalan bisa berkurang signifikan. Bagi masyarakat yang ingin menempuh perjalanan jarak menengah dan jauh, maka dianjurkan menggunakan kereta. Sementara untuk jarak dekat bisa menggunakan angkutan jalan lainnya seperti bus, taksi, angkutan kota. Dukungan kebijakan dan dana untuk investasi pengembangan rel kereta api sangat diperlukan. Karena model angkutan masal ini sanggup mengurai kemacetan dan solusi angkutan barang dalam jumlah besar.

Ketiga, dimensi lingkungan. Pengembangan jalan tol secara besar-besaran telah mempercepat konversi lahan-lahan produktif. Kalau kereta dikembangkan, lahan-lahan produktif masih bisa ditanami. Sementara kalau pengembangan jalan tol terus dilakukan maka lahan-lahan produktif semakin terkikis. Lahan-lahan di Pulau Jawa dikenal sangat subur untuk pertanian. Karena itu, alih lahan untuk kepentingan jalan tol akan semakin menggerus potensi lahan produktif di Pulau Jawa.

Pengembangan jalan tol akan menambah volume kendaraan dan akhirnya merusak lingkungan lebih cepat. Semakin banyak kendaraan, semakin banyak BBM yang dipakai, semakin besar pencemaran dan kerusakan lingkungan. Sementara kereta api memiliki keunggulan dalam efisiensi BBM dan menurunkan pencemaran lingkungan.
Meski demikian pertimbangan pengembangan jalan tol atau jalur kereta api semestinya juga mendapatkan masukan dari kearifan. Selain hitung-hitungan dampak ekonomi, kajian dampak social dan potensi kerusakan lingkungan kita juga perlu memperhatikan aspek kearifan local. Ada beberapa lokasi yang membutuhkan pendekatan budaya dan relijius untuk mempertimbangkan pembangunan infrastruktur.

Jadi pilih jalur kereta apa jalan tol? Hasil kajian dari Puslitbang PU di atas bisa menjadi bahan renungan dan rujukan untuk menentukan pilihan.

 
2 Comments

Posted by on November 13, 2013 in lomba kary tulis

 

2 responses to “Pilih Jalur Kereta, Apa Jalan Tol?

  1. Muna Sungkar

    November 13, 2013 at 8:32 am

    Pilih kereta api aja lah tinggal duduk, tidur, eh tau2 nyampe🙂 Btw ini kah yg diikuti lomba tulis nusantara??

     
    • mubarok01

      November 14, 2013 at 2:34 am

      Iya bener mba,,pilih kereta lebih nyaman…bukan mba…ini lombanya puslitbang PU

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s