RSS

Walau Bukan Ibu ku

27 Nov

Satu-satunya memori yang sangat ingat tentang ibu kandung saya adalah ketika rumah tetangga saya tertimpa pohon. Seingat saya sore itu hujan deras melanda kampung kami di Sidaurip, Cilacap disertai angin kencang yang merobohkan beberapa pohon. Rumah tetangga depan rumah saya tertimpa pohon yang tumbang. Kami kaget dan keluar rumah untuk melihat peristiwa tersebut. Dari teras rumah terlihat rumah tetangga saya porak-poranda ditimpa sebuah pohon besar. Ibu melarang saya dan adik saya keluar rumah meski kami berdua tetap menonton dari teras depan rumah.

Di luar kejadian itu, saya benar-benar tidak ingat memori antara saya dengan ibu. Beliau meninggal ketika usia saya masih dibawah 5 tahun. Kira-kira usia saya ketika itu sekitar 4,5 tahun. Sementara adik saya berusia 3 tahun. Usia kami memang tidak terpaut jauh. Setelah ibu meninggal, saya dirawat nenek dan budhe saya yang bernama Hatijah. Saya dan adik biasa memanggilnya dengan sebutan Wak Tijah. Beliau dan suaminya yang bernama Wak Jono mengurus kami berdua setelah ibu meninggal, dan bapak dipindah tugas ke luar kota.

Wak Jono dan Wak TIjah adalah pakde dan bude saya yang tidak memiliki putra kandung. Namun beliau banyak membantu orang lain, terutama anak-anak pesantren kurang mampu yang nyantri di sekitar rumahnya. Dari beliau berdualah kami belajar kehidupan. Meskipun kami berdua bukan putra kandung, tetapi kecintaannya tidak bisa diukur. Semenjak kecil merawat kami dan mendampingi pertumbuhan kami. Banyak sekali memori tentang mereka yang membuat saya selalu termenung. Mengingat bagaimana ketulusan dan kecintaannya mengurus kami.

Teringat, kami berdua sering diajak ke pasar yang jaraknya 15 km dengan naik sepeda. Beliau memiliki usaha membuat tempe, sehingga secara rutin pergi ke pasar untuk membeli kedelai. Jaraknya memang jauh, tetapi selisih harga yang cukup lumayan disbanding membeli kedelai di dekat rumah membuat beliau rela menempuh perjalanan jauh. Dengan sepeda “wangkring” (sepeda jaman dulu yang ada palang antara tempat duduk dengan kemudi) Wak Jono memboncengkan saya, adik dan Wak Tijah menempuh jarak 15 km. bagi kami berdua, perjalanan tersebut seperti wisata sehingga selalu kami nantikan. Kami berdua selalu merasa bahagia ketika diajak ke pasar untuk membeli kedelai. Sepanjang perjalanan, selain cerita pemandangan yang kami lihat, Wak Jono dan Wak Tijah juga sering melantunkan sholawat. Katanya bacaan tersebut akan menentramkan hati yang gundah sekaligus bukti kecintaan kita kepada Rosululloh SAW.

Walau bukan ibu kandungku Wa TIjah telah mengurus, mendidik, dan menemani kami tumbuh. Pelajaran hidup yang dibalut dengan ketulusan kasih saying yang diberikannya tidak kalah dengan kasih saying seroang ibu kandung. Bagi kami berdua, kehadirannya adalah hikmah dari Alloh SWT atas ketentutan yang telah digariskan kepada kami. Ditinggal ibu di usia kecil, diganti dengan seseorang yang mencintai dan menyayangi kami dengan tulus.

Sampai hari ini, dan kapanpun kami tentu tidak akan mampu membalas segala kebaikannya. Hanya doa, sujud dan tetes air mata di sepertiga malam terakhir semoga menjadi bagian dari bakti kami kepadanya. Teriring harapan semoga segala kebaikannya diberi balasan setimpal, di akhirat kelak.

 
Leave a comment

Posted by on November 27, 2013 in CampurSari

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: