RSS

Media Massa Dalam Peliputan Bencana

18 Sep

Dalam setiap kejadian bencana selalu diikuti dengan pemberitaan media massa yang massif. Media massa beromba-lomba untuk memberikan informasi terbaru, terlengkap, tercepat, terakurat dalam liputan bencana. Mereka bahkan mengirim tim khusus untuk mencari informasi seputar bencana. Ketika tsunami melanda Aceh pada tahun 2004 lalu, media massa berlomba-lomba mengirim tim liputan terbaik untuk memberikan informasi terbaru. Demikian pula ketika gempa bumi mengguncang Yogyakarta dan Padang. Letusan dahsyat gunung Merapi dan Sinabung juga menjadi pemberitaan berhari-hari di media massa. Saat ini Gunung Slamet di Jawa Tengah sedang menjadi pusat pemberitaan media. Salah satu gunung berapi terbesar di Jawa ini sedang bergejolak.

Kejadian bencana selalu memiliki magnitude yang kuat untuk diberitakan. Dari berbagai sisi kejadian bencana memiliki nilai berita. Liputan media di satu sisi memberikan informasi terkini kepada masyarakat tetapi di sisi lain justru sering kontraproduktif dengan upaya penanganan bencana.

Kurang empati

Dalam peliputan bencana seringkali media tidak mempertimbangkan sisi empati. Korban yang sedang sedih, dalam ketakutan, kekalutan, tampil seadanya harus direkam kamera untuk disebarluaskan. Ini tentunya memberikan efek kengerian, kesedihan bagi yang melihatnya, misalnya sanak saudaranya yang tinggal jauh. Sebagai contoh ketika terjadi erupsi Merapi, orang-orang tua yang diangkut dalam mobil bak terbuka dengan rambut penuh debu dan wajah ketakutan direkam begitu saja dan ditampilkan di layar televisi.

Ketika mereka sedang sedih tiba-tiba stasiun televisi datang dengan pertanyaan yang tidak menunjukkan empati “bagaimana perasaan ibu menghadapi musibah ini”? Sebuah pertanyaan yang diajukan tanpa empati sama sekali. Orang yang yang sedang ditimpa musibah pastilah sedih, menangis tidak perlu ditanya lagi. Apalagi rona kesedihan dan tangisannya kemudian menjadi bahan tontonan yang menghasilkan iklan dan pemasukan bagi televisi.

Empati adalah keharusan, mereka yang sedang tertimpa musibah membutuhkan dorongan dari kita semua. Karena itu dalam pemberitaanpun semestinya media memahami kondisi ini. Jangan sampai tuntutan untuk menghasilkan berita tercepat, terakurat, terlengkap kemudian mengikis nilai-nilai kemanusiaan dalam dirinya.

 Dramatisasi dan trauma

Untuk menghasilkan dramatisasi, televisi bahkan secara langsung menyiarkan proses evakuasi yang terkadang menyedihkan. Dalam gempa di Padang misalnya, mereka yang tertimbun reruntuhan terus-menerus direkam televisi dan disiarkan langsung. Korban bencana yang sedang kebingungan dikejar wartawan untuk diwawancarai. Kemudian media juga membuat program khusus yang menampilkan kesedihan, menggambarkan dahsyatnya bencana dan akibat yang ditimbulkannya.

Kita juga menyayangkan ketika televisi terus-menerus mengulang gambar yang sama, sehingga menimbulkan efek ketakutan yang mendalam. Dalam teori komunikasi seseorang yang menerima terpaan komunikasi berulang-ulang akan tertancap kuat dalam memorinya. Bayangkan jika itu anak kecil. Mereka akan terus teringat memori mengerikan setiap kali melihat totntonan bencana.

Berikan harapan

 Ketika rumah hancur diterjang bencana, ketika sanak saudara pergi meninggalkan selamanya, ketika harta benda tak lagi tersisa maka harapanlah yang membuat orang tetap kuat menjalani hidupnya. Pasca bencana “harapan” adalah sebuah keinginan terbesar yang diharapkan oleh korban bencana. Harapanlah yang akan mampu menggerakkan mereka untuk bangkit dari keterpurukan. Harapanlah yang akan mengubah kesulitan menjadi usaha yang kuat.

Kinerja BNPB, para relawan dan segenap masyarakat dalam tahapan pasca bencana seolah dinihilkan kembali karena muncul pemberitaan di media yang menghancurkan harapan. Contohnya, digambarkan kondisi rumah dan tempat tinggal mereka tidak mungkin diperbaiki kembali, atau tidak ada program nyata dari pemerintah untuk membantu mereka, bantuan logistik tidak mencukupi, tidak cepat sampai, logistik hanya terbatas untuk beberapa hari. Muatan berita-berita tersebut meruntuhkan mental dan harapan korban. Dalam kondisi kalut bencana orang seringkali kehilangan konsentrasi dan logika, sehingga informasi ditelan mentah-mentah. Pasca bencana informasi yang mengatakan kekurangan bantuan logistik membuat orang kalap dan berebut bantuan sehingga menghambat penyaluran dan menimbulkan keributan.

Media semestinya membuat pemberitaan yang menumbuhkan harapan korban musibah. Jangan terlalu banyak mengungkit-ungkit kesedihan, kengerian, yang membuat orang putus harapan. Semestinya ada pengertian bahwa kebebasan pers bukan berarti bebas tanpa aturan. Justru rasa tanggungjawab, empati, kepedulian semestinya bisa mendorong manusia untuk membantu sesamanya.

Media memiliki pengaruh yang besar dalam menyebarkan harapan. Beberapa catatan penting yang harus dipegang oleh insan media diantaranya; berikan informasi akurat, buatlah pemberitaan yang menumbuhkan optimisme. Gunakanlah sumber resmi yang terpercaya sehingga tidak menimbulkan desas-desus. Informasi yang tidak akurat seringkali justru menimbulkan kepanikan, contohnya setelah gempa jogja tahun 2006 beberapa media memberitakan kalau tsunami akan terjadi. Hal ini membuat warga semakin kalut sehingga mereka berbondong-bondong mengungsi..

Berikan empati dan tumbuhkanlah harapan korban bencana agar mereka mampu melewati masa-masa sulit. Bantulah BNPB, pemerintah, relawan dan masyarakat dengan pemberitaan yang bertanggungjawab, berempati, dan menumbuhkan harapan. Jangan hancurkan harapan mereka yang sedang ditimpa kesulitan. Sebagai negara dengan potensi bencana yang tinggi maka sinergi segenap potensi bangsa sangat dibutuhkan di masa prabencana, ketika terjadi bencana dan pascabencana.

 
1 Comment

Posted by on September 18, 2014 in lomba kary tulis

 

Tags: , ,

One response to “Media Massa Dalam Peliputan Bencana

  1. Umar Fko

    September 22, 2014 at 4:52 pm

    luar biasa tulisannya pak, sesuai banget dengan yanng terjadi di lapanga

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

belalang cerewet

semua dicatat agar awet

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita

%d bloggers like this: