RSS

Category Archives: CampurSari

Operator Seluler dan Sinergi Ketahanan Pangan

Jum’at 29 Agustus 2014

Pagi itu jam 8 pagi, kami bersiap untuk berangkat menunaikan salah satu Tridarma perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat hari ini adalah Dusun Selongisor, Desa Batur, Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Letaknya kira-kira 2 jam perjalanan perjalanan dari kampus. Desa ini terletak di dataran tinggi berbatasan antara kabupaten Semarang dan Salatiga. Dari jalan utama Salatiga-Magelang yang melewati kawasan Kopeng kami harus belok kiri setelah Koramil Getasan. Letaknya yang berada di lereng pegunungan Merbabu membuat udara begitu dingin, bahkan ketika menjelang siang hari, kabut sudah turun.
Tujuan kami ke desa Batur adalah bertemu dengan kelompok tani Tranggulasi yang berada di dusun Selongisor. Kelompok tani ini sudah dikenal karena kemampuannya mengembangkan pertanian organik. Mereka tidak hanya bertani untuk mencukupi kebutuhan keluarga melainkan sudah menjadi pemasok di berbagai pasar modern dan tradisional.


Produk Pertanian Organik Kelompok Tani Tranggulasi, Siap Kirim sumber gambar disini

Selain mengembangkan pertanian, mereka juga mengembangkan pelatihan dan magang di bidang pertanian . Tujuannya adalah untuk menularkan ilmu pertanian sekaligus semangat bertani yang sudah mulai luntur di kalangan masyarakat kita. Bertani identik dengan kemiskinan dan kesulitan, pandangan inilah yang mencoba untuk ditepis oleh kelompok tani Tranggulasi. Melalui pertanian mereka ingin menunjukkan kalau sektor ini menjanjikan, terutama pertanian organik. Setali tiga uang, dengan bertani tidak hanya menghadirkan keuntungan bagi diri sendiri, kelompok dan keluarga tetapi juga sekaligus menopang ketahanan pangan Negara. Sungguh mulia peran yang mereka pilih tersebut. Sebagai bentuk penghargaan dari pemerintah terhadap kiprah kelompok tani ini, pada tahun 2011 Kelompok Tani Tranggulasi mendapatkan penghargaan Adikarya Pangan Nusantara 2011.


Sumber Gambar (Koleksi Kelompok Tani Tranggulasi)

“Sinyal Byar Pet”

Setelah beramah tamah dengan Pak Camat, Pak Kades, Kepala Dusun dan Kelompok Tani Tranggulasi tim pengabdian masyarakat mulai mengerjakan tugasnya. Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini terkait dengan bantuan dari Kementrian Sosial yang difasilitasi oleh universitas kami. Sebagian anggota tim mengurus administrasi anggota kelompok tani yang rencananya akan mendapatkan bantuan dana. Sebagian tim survey ke rumah penduduk di sekitar Desa Batur, rumah-rumah tersebut nantinya akan mendapatkan bantuan bedah rumah dari Kementrian Sosial. Paket bantuan dari Kementrian Sosial terdiri dari bantuan permodalan untuk kelompok usaha bersama (KUBE), bedah rumah, dan pengerasan jalan.
Setelah meninjau rumah-rumah penduduk yang akan menerima bantuan bedah rumah, aku memilih untuk berjalan-jalan melihat situasi sekitar Dusun Selongisor. Kulihat layar handphoneku menunjukkan jam 10.30 wib. Dari dua operator seluler yang akau pakai, tak satupun yang keluar sinyalnya. Kucoba berjalan ke tempat yang lebih tinggi, mungkin ada sinyal seluler disana. Tepat di depan SD Batur salah satu handphone ku menunjukkan adanya sinyal seluler sementara yang satu tetap tidak nampak.


Sumber gambar disini

Dalam hati terbersit, di daerah yang masih dekat dengan ibukota provinsi saja masih ada daerah yang sulit dijangkau sinyal seluler, bagaimana dengan daerah lain. Hasil obrolan kami dengan masyarakat di Desa Batur, menunjukkan bahwa sinyal seluler masih menjadi barang mahal. Sesekali HP mereka bisa menangkap sinyal, tetapi kemudian hilang tak berbekas seolah daerah tersebut tak pernah dilewati sinyal seluler. Hanya di tempat-tempat tertentu seperti di depan SD Batur itulah sinyal cukup kuat diterima.
Bagi mereka terutama kelompok tani yang juga memasarkan produknya ke berbagai daerah kehadiran sinyal seluler adalah barang vital. Terkadang mereka harus turun, atau mencari daerah agar bisa menghubungi kolega bisnis. Ada beberapa operator seluler yang sinyalnya cukup kuat namun justru operator tersebut bukan pemain besar yang nomernya banyak dipakai oleh kolega bisnis mereka.
Selain menembus pasar local dan nasional, produk sayur organic dari Kelompok Tani Tranggulasi juga sudah menembus pasar internasional seperti Singapura. Untuk menopang pengembangan bisnis ke luar negeri tentunya membutuhkan koneksi internet, bagaimana kalau sinyal byar pet? Tentunya sulit bagi kelompok tani ini untuk mengembangkan pasarnya.
Produk mereka bagus, sungguh mempesona kalau ada operator seluler yang mau menggandeng kelompok tani seperti Tranggulasi ini. Menyebarkan produk mereka, menyebarkan konten pelatihan mereka, memotivasi generasi muda untuk menjadi petani organic, sekaligus promosi wisata alam yang menjanjikan.

Ini adalah blog dari ketua petani Tranggulasi bapak Pitoyo Ngatimin http://pitoyo-tranggulasi.blogspot.com/

gambar.tranggulasi1

Ini adalah postingan pertama sekaligus belum pernah di update lagi sampai sekarang. kesulitan koneksi internet membuat upaya update konten menjadi lebih sulit. Jika Blog ini didukung oleh kerjasama dengan operator seluler tidak hanya bermanfaat bagi petani di kelompok tani tersebut tapi lebih besar dari itu adalah menyebarkan harapan bahwa menjadi petani organic adalah pekerjaan yang menjanjikan.

 
“Sinergi dan Harapan”
Dalam kerangka kegiatan pengabdian masyarakat tim universitas membuatkan secara khusus website untuk membantu pemasaran produk, menyebarkan semangat dan mendukung ketahanan pangan nasional. Bagi kelompok tani Tranggulasi yang sudah dikenal di berbagai daerah keberadaan website ini akan membantu meningkatkan peran dan pemasaran produk mereka. Perjalanan mereka dalam mengembangkan pertanian organik patut disebarkan, dikemas sehingga menumbuhkan semangat generasi muda untuk meniru jejak mereka

web.tranggulasi

Ini adalah web tranggulasi yang dibuat oleh tim universitas dalam rangka kegiatan pengabdian masyarakat.

Dalam impian saya tranggulasi bisa lebih banyak memberi manfaat dengan bantuan operator seluler: Website tersebut masih sangat sederhana, jika ada operator seluler yang mau menggandeng kelompok tani tersebut tentunya bisa dibuat website yang lebih baik.
Kelompok Tani Tranggulasi memiliki produk pertanian organic, memiliki semangat bertani, dan membantu mewujudkan ketahanan pangan nasional. Operator seluler memiliki teknologi komunikasi, jaringan, kemampuan manajemen media online, pengalaman. Sinergi ini saya yakin akan menghasilkan sebuah gerakan semangat bertani yang menasional.
Dengan potensi luas wilayah Indonesia untuk sector pertanian yang begitu luas semestinya ketahanan pangan bisa dicapai. Kelompok Tani Tranggulasi hanya contoh, operator seluler bisa menggandeng potensi bangsa yang lain di berbagai bidang. Saat ini di berbagai tempat di Indonesia muncul degradasi semangat untuk menjadi petani sehingga dari Tranggulasi kita bsa menyebarkan semangat menyebarkan kebahagiaan menjadi petani, menyebarkan harapan, menyebarkan optimisme.
Patut kita tunggu operator seluler manakah yang akan mengambil peran, mewujudkan sinergi sehingga semangat bertani, semangat kemandirian pangan bisa disebarkan ke berbagai daerah.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 2, 2014 in CampurSari

 

Tags: , ,

50ribu=Berkah dan Senyum

Kebahagiaan itu katanya tidak lengkap kalau tidak menghadirkan senyum bagi sesama. Bahagia untuk diri sendiri sementara saudara yang lain dalam kesusahan rasanya tidak lengkap. Kali ini saya akan cerita bagaimana dengan uang 50 ribu kita bisa jalan-jalan di Semarang plus menghadirkan kebahagiaan untuk orang lain. Artinya dengan 50 ribu kita bisa mendapat kebahagiaan (senyum) sekaligus membahagiakan orang lain (berkah). Jadi konsep perjalanan kali ini adalah “jalan-jalan keliling semarang, menebar senyum dan diiringi dengan sedekah”

Kita mulai ceritanya.

Semarang, adalah ibukota Jawa Tengah, terletak di pesisir utara Pulau Jawa. TIpologi kotanya naik turun, berhawa panas dan memiliki kultur campuran antara masyarakat industri dan pesisir. Kalau mau jalan-jalan di Semarang, pakai motor lebih praktis, cukup modal bensin 2 liter (2 x6500=13 ribu) udah panas nih pantat buat keliling kota. Tapi kalau mau lebih santai sambil melihat pemandangan kota, enaknya sih naik BRT (ini kayak busway di Jakarta). Kalau naik BRT ini kita bisa keliling kota Semarang cukup dengan 3500 rupiah. Kalu mau pindah jalur sepanjang masih turun di halte kita gak perlu nambah duit lagi.
– Kita mulai perjalanan dari daerah Semarang atas tepatnya di Tembalang. Kenapa dimulai dari Tembalang. Disini merupakan salah satu pusat kegiatan warga Semarang. Di Tembalang kita akan ketemu kampus Universitas Negeri terbesar di Jawa Tengah yah namanya Universitas Diponegoro. Karena lingkungan kampus sudah pasti kehidupannya gak ada matinya. selama 24 jam daerah ini selalu rame. Warung, toko, gerai waralaba, rental komputer dll siap melayani selama 24 jam. Buat kulineran juga asyik. Banyak jenis kuliner tersebar di daerah ini. Karena konsepnya jalan sambil beramal maka di Tembalang keluarkan uang 5000, berikan kepada siapapun yang membutuhkan, yang pertama kali ditemui hari itu. Nah duitnya masih 45 ribu. Kita sarapan dulu, salah satu menu tradisonal yang ada disini adalah “Gablok”. Makanan ini kayak gendar yang kemudian ditaburi bumbu kacang plus sayuran (pecel). Jangan lupa nyicipi gorengannya. Harga Gablok per porsi 1.500, gorengan 2: 15000, teh anget:15000, jadi cukup dengan 4500 kita sudah sarapan. DI tembalang selain wisata kampus, kita bisa juga menikmati aneka kreatifitas anak mudanya. Sampai di Tembalang kita sudah mengeluarkan duit 5000 (buat sedekah) + 4500 (buat sarapan): jumlah pengeluaran= 9500
– Dari Tembalang kita menuju ke pusat kota Kawasan Simpang 5. Ini adalah jantungnya kota Semarang. Kawasan ini menjadi pusat keramaian dan aktifitas warga. Dari Tembalang kita bisa naik BRT seharga 3500. DI kawasan Simpang 5 berderet aneka Mall, dan Masjid legendaris yaitu masjid Baiturrahman. Setelah puas mengelilingi kawasan Simpang 5 jangan lupa bergeser sedikit ke barat menuju Lawang Sewu. Bangunan bersejarah peninggalan Belanda ini menjadi salah satu icon Kota Semarang. Dari Simpang 5 ke Lawang Sewu bisa naik bis kota dengan ongkos 2000 atau jalan kaki sambil melihat suasana kota. Tarif masuk kawasan Lawang Sewu sekitar 5000 (kalau belum naik, hee). jadi sampai sini kita sudah menghabiskan. 9500+3500+2000+5000= 20.000 yeah duitnya masih 30 ribu.


Sumber Gambar, Klik

– Dari Lawang sewu kita bisa lanjut ke Kota Lama. naik bis kota sekitar 3000 rupiah. Di kawasan ini kita akan ketemu bangunan bersejarah peninggalan kolonial, seperti Gereja Blenduk, Musium Kereta Api, Stasiun Kereta Api Tawang, Polder Tawang dll. Bagi yang hobi fotografi disini kalian akan ketemu banyak komunitas foto. Mereka terpikat dengan keindahan Kota Lama. TIdak jarang daerah ini juga dijadikan lokasi pengambilan gambar sinetron dan film.
– Dari kota lama jalan kira2 500 meter akan ketemu Pasar Johar. salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Semarang. dengan modal sisa duit 27 ribu saatnya kita istirahat, makan siang, sambil beli oleh-oleh khas Semarang yang murah meriah disini. Ada pusat oleh2 di Jalan Pandanaran tapi kalau gak bawa duit banyak, mending jalan ke Pasar Johar. Kuliner siang hari di sekitar pasar Johar, kita bisa nyicipi soto khas semarang per porsi sekitar 8000 (sudah sama 1 gelas teh anget). Sambil istirahat makan siang, bagi yang muslim bisa sholat dhhur atau ashar di Masjid Kauman. Kalau mau beli oleh khas bisa milih antara Wingko Babat atau Lumpia. Wingko babat seharga 1000 rupiah per buah, sedangkan lumpia sekitar 1500 rupiah perbuah. Duitnya 27 ribu- makan siang 8000= masih 19.000. Beli oleh2 wingko babat 5 buah 5000 rupiah jadi duitnya masih 14.000
– Dari pasar Johar kita bergeser ke Barat menuju Klenteng Sam Pho Kong. cukup naik bis kota seharga 3000. Klenteng ini menjadi salah satu simbol pluralitas warga Semarang. duitnya masih 11 ribu. sebelum menutup hari kembali kita keluarkan 5000 buat sesama. Berikan kepada merekayang membutuhkan. sisa 9000 bisa buat naik bis kembali ke tembalang, atau ke stasiun kereta, atau ke terminal untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain.

nah duitnya sudah habis, perjalanan berkah sambil beramal dan tersenyum karena bisa jalan2 keliling kota Semarang
buat yang mau jalan-jalan pakai motor Klik dulu link dibawah ini ya, pilihan motor tepat buat keliling kota semarang.

 
Leave a comment

Posted by on June 5, 2014 in CampurSari

 

SEBUAH RENUNGAN UNTUK PENDIDIKAN KITA

Pagi itu Walid harus sekolah, jam dinding menunjukkan pukul 05.15 pagi. Ayahnya baru pulang dari masjid. Seperti biasa sang ayah selalu berusaha untuk membangunkan Walid supaya bisa berangkat sekolah. Walid mudah dibangunkan kalau dibujuk dengan makanan, tetapi kalau dibangunkan untuk berangkat sekolah dia pasti menolak. Sang ayah sudah tahu kebiasaan tersebut. Jadilah pagi itu segelas susu hangat menjadi senjata ayah untuk membangunkan Walid. Usaha ayah berhasil, Walid bangun dengan semangat untuk minum segelas susu, selanjutnya dia mudah dibujuk untuk mandi dan siap-siap berangkat sekolah.
Di kamar lainnya, sang kakak Rijal sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Meskipun baru kelas satu SD, tas yang harus digendongnya sudah penuh sesak dengan buku. Jadilah tubuh kecil Rijal harus menanggung beratnya tas yang penuh seabrek buku. Belum lagi tentengan tempat bekal makan dan minum yang juga harus dibawa. Sang ayah menggeleng kepala, di usia yang masih kecil, anak-anaknya sudah harus menanggung beban pendidikan yang begitu berat. Sejak usia dini mereka sudah harus belajar membaca, menulis dan berhitung. Padahal sesungguhnya di usia mereka, saat bermain adalah masa yang indah. Sang ayah merenung mengingat kembali masa kecilnya, ketika seusia Walid dan Rijal dia bisa bermain sesukanya. Tidak harus dibebani dengan jadwal sekolah yang berat. Jaman dulu belum ada PAUD bahkan TK saja baru di kota-kota besar. Pendidikan formal pertamanya di bangku SD itupun tidak harus dengan membawa seabrek buku yang begitu berat. Pulang sekolah dia masih bisa main sepuasnya, tak seperti anak-anaknya yang setelah pulang masih dikejar PR.
Kondisi Walid dan Rijal masih lebih baik karena saudara-saudara mereka di tempat lain menghadapi beragam persoalan pelik. Sebagian dari mereka harus bertaruh nyawa untuk bisa sampai ke sekolah. Menyeberangi jembatan maut yang setiap saat bisa runtuh karena sudah tidak layak dilewati.

Sumber foto: antaranews.com
Di tempat lain, sebagian pelajar harap-harap cemas karena gedung sekolahnya sudah lapuk. Sambil belajar mereka juga harus memikirkan keselamatan dirinya jika sewaktu-waktu gedung sekolah mereka ambruk. Di jenjang pendidikan menengah, kita selalu mengelus dada ketika tawuran pelajar tidak kunjung selesai. Narkoba dan tindakan kriminalitas pelajar meningkat setiap tahunnya. Di level pendidikan tinggi juga setali tiga uang. Tawuran antar mahasiswa, plagiarisme dan pengangguran terdidik yang diproduksi tiap tahun seolah tidak ada ujung pangkalnya. Isu ujian nasional yang dikaitkan dengan system dan pemerataan pendidikan juga selalu mengemuka setiap tahun.
Persoalan pendidikan Indonesia mencakup sistem pendidikan, ketersediaan sarana prasarana, kemanfaatan pendidikan, kordinasi atar level pendidikan, dan sumber daya manusia. Tidak dipungkiri bahwa pendidikan adalah investasi masa depan sebuah bangsa. Jika salah urus maka eksistensi sebuah bangsa dipertaruhkan. Pada tulisan ini saya ingin membahas persoalan pendidikan dengan fokus pada dua hal yaitu: pendidikan karakter sejak dini dan pemerataan akses.

Pendidikan Karakter
Buat apa pinter kalau tidak jujur, buat apa berprestasi kalau kehilangan integritas, kenapa harus jenius kalau tidak bisa menghormati orang tuanya. Sia-sialah menuntut ilmu ke berbagai penjuru dunia, kalau tidak bisa mengabdi buat bangsanya. Semestinya bertambahnya ilmu membuat seseorang lebih baik karakternya. Bukan sebaliknya menjadi pribadi yang culas, oportunis, serakah, tamak, dan kehilangan rasa hormat terhadap sesama. Ini masalah pendidikan kita, bukan sekedar pintar tetapi juga mampu menjadi karakter yang baik, karena hakekat sesungguhnya dari pendidikan adalah karakter kemanusiaannya.
Pendidikan karakter sejak dini berarti memulai dari keluarga. Nilai-nilai yang melekat kuat dalam diri seseorang dibangun dari internalisasi dalam keluarga. Pada kenyataannya kondisi ini justru yang banyak dilupakan. Mereka memulai pendidikan justru dari lingkup formal. Orang tua menyerahkan anaknya sejak dini kepada orang lain atau institusi pendidikan yang terkadang tidak mengutamakan pendidikan karakter.
Sebagai contoh, sejak kecil anak dididik oleh pembantu karena orang tuanya sibuk bekerja. Di usia 3-5 tahun mereka dimaksukkan ke PAUD atau TK dengan harapan mendapatkan pendidikan formal yang baik. Di tingkat pendidikan yang semestinya mengedepankan penguatan karakter, justru anak dibebani dengan baca, tulis, hitung yang kemudian dijadikan sebagai ukuran keberhasilan pendidikan. Sehingga, ketika anak tidak mampu mengikuti standar pendidikan tersebut, orang tua merasa khawatir dan menganggap anak mereka tertinggal dari yang lain. Namun ketika anak menunjukkan karakter jujur, berani, peduli, berjiwa social tetap dianggap biasa hanya karena belum bisa baca, tulis dan hitung. Pintar dari aspek akademis tanpa dibarengi karakter kuat sejak dini justru berpotensi melahirkan kerusakan.
Setiap orang tua semestinya memahami kondisi ini sehingga mengambil peran penuh dalam pembentukan karakter putra-putrinya. Pendidikan formal hanya bersifat membantu dan memberikan bekal akademis, sementara pembentukan karakter yang kuat ada di keluarga dan lingkungan tempatnya tumbuh.
Untuk menunjang keberhasilan pendidikan karakter instrument pendidikan formal yang harus disiapkan dengan matang adalah sosok guru. Mereka yang menjadi guru haruslah sosok terbaik dari sisi prestasi akademik, karakter sebagai pendidik, motovasi dan metode dalam mendidik Karena guru adalah actor utama dalam keberhasilan pendidikan. Maka mereka haruslah sosok terbaik sehingga bisa menghasilkan generasi terbaik.
Pemerataan Kesempatan
Kita yakin kalau bangsa ini tidak kekurangan potensi sumber daya manusia. Di berbagai penjuru tanah air bertebaran anak bangsa yang hebat. Persoalanya bisakah mereka mendapat kesempatan merasakan pendidikan yang layak?fasilitas yang memadai?dan kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi yang terbaik bagi bangsa ini?.
Tidak dipungkiri persoalan pemerataan kesempatan dalam mengakses pendidikan masih menjadi masalah bagi keberhasilan pendidikan kita. Mereka yang pintar dan bersemangat tidak bisa mengakses pendidikan karena masalah ekonomi, letak geografis, sampai ketiadaan sarana pendidikan di sekitarnya. Banyak sekali potensi bangsa yang memiliki kesempatan untuk maju dan berkembang. Sayangnya tidak semua memiliki kemampuan akses dan pendanaan untuk meningkatkan kompetensinya. Pemerintah sudah menggulirkan program wajib belajar gratis sampai dengan tingkat SMA ada juga dana BOS yang digunakan untuk membantu operasional sekolah. Meski demikian ternyata persoalan pendidikan yang disebabkan oleh factor ekonomi masih dominan.
Inilah tantangan dunia pendidikan kita. Pertama bagaimana membentuk karakter peserta didik dengan baik dan kedua memastikan setiap potensi bangsa bisa mengakses pendidikan yang layak.

 
Leave a comment

Posted by on May 22, 2014 in CampurSari

 

Ibarat sebuah kapal

Ibarat sebuah kapal yang sedang mengarungi lautan, dibutuhkan nahkoda yang handal sehingga kapal bisa sampai ke tujuan. Hempasan badai dan ombak bisa dilalui jika nahkodanya cakap dalam memimpin perjalanan kapal.
Demikian halnya dengan sekolah, yang membutuhkan seorang kepala yang handal dan mampu membawa sekolah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ditengah kemajuan jaman dan perkembangan teknologi yang semakin pesat dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengemban amanat dengan baik sesuai kondisi jamannya.

Sekolah sebagai tempat mengembangkan dan mencetak calon generasi penerus bangsa membutuhkan sosok dan pola kepemimpinan yang cerdas membaca peluang sekaligus mampu mengemban amanat kepemimpinan. Dia harus mampu untuk mempengaruhi, menggerakkan, mengembangkan, memberdayakan segenap potensi yang dimiliki oleh sekolah.

Sekolah merupakan satuan pendidikan yang di dalamnya meliputi kepala sekolah, guru, karyawan, dinas pendidikan, murid, wali murid dan masyarakat di sekitarnya. Inilah stakeholder sekolah yang menjadi bagian dari kinerja kepemimpinan di sekolah.

Inilah salah satu sudut dunia pendidikan, tentang pentignya peran kepala sekolah dalam sebuah institusi pendidikan.

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2014 in CampurSari

 

Tidur di pasir

Waktu masih kecil, terutama di musim kemarau saya selalu suka tiduran di pasir pinggir kali. Lahir dan besar di pinggiran kali CItanduy perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat membuat pasir sungai CItandui di musim kemarau menjadi kawan menyenangkan.

Bersama-sama teman sebaya kami bermain sepakbola, tiduran di pasir dan tentu saja “siblon” di sungai Citandui. Setiap habis subuh, kami rame-rame pergi ke pinggir sungai, tiduran di pasir sambil melihat matahari yang mulai naik. SInarnya yang semburat dari timur membuat suasana pinggiran kali begitu indah. seringkali karena keasyikan bermain di pinggiran pasir, kami lupa kalau harus pergi ke sekolah. Jadilah rame-rame orang tua datang ke pinggir kali dan memanggil anak-anaknya untuk pulang dan pergi sekolah.

Sore hari menjadi saat yang kami nantikan juga. Kembali ke pinggir kali, kami biasa bermain sepakbola di pasir, menerbangkan layang-layang dan “siblon” di kali Citandui. Menjelang maghrib barualah kami pulang untuk rame-rame pergi ke masjid. MElanjutkan permainan dengan gobak sodor, bentengan dan petak umpet ditengah gulita malam tanpa penerangan listrik.

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2014 in CampurSari

 

The effectiveness of parent – children communication

Human action is guided by beliefs and ideology that they are embraced. Those beliefs and ideologies lead people to act and to behave. Radical ideology is a latent danger that could arise any moment. Radical ideology could trigger anarchist terror acts committed by the perpetrators. Several types of terrorist acts are bombings, murders, ambushes, kidnappings, robbery, hostage taking, sabotage and intimidation. Several cases of bombings in Indonesia with its variations can be the manifestation of radical ideology that they embraced. Students, who have already indoctrinated by the radical teachings, have the potential to spread the ideology to other people who live in the same environment. The doctrine of the ideology will be started after the students join the organization. This situation is certainly more difficult to overcome than if the doctrine was started before they join the organization.
It is important to develop an effective communication method as a preventive measure, which is able to identify, to prevent, and to normalize ideological doctrinesby using soft power action. This case study aims was to determine the relationship between the effectiveness of interpersonal communication role of parents – children and peer group to preventing the radical ideology that developed in Indonesia. The populations in this study are students who joined the mouslem student organization, and samples were taken of 100 respondents purposively taken in accordance with the criteria set by the researchers. Results of quantitative data relating to the influence between variables was calculated with SPSS. Variables that exist in the study are calculated by using correlation technique in order to determine the relationship between variables.
Relationship between effective communication and the peer group communications is 0,089. This suggests that there are strong relationships between the two variables. While the significance value between the two variables is 0.379. It shows the significance of the relationship between the two variables to preventing radical ideology

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2014 in CampurSari

 

Pantura (Musim Hujan Ini)

Bagi anda yang berkeinginan untuk menempuh perjalanan melewati jalur Pantura sebaiknya berfikir berulang kali. APalagi di musim hujan saat ini. Dari berita di media massa kita lihat bagaimana banjir telah menghancurkan infrastruktur jalan dan jembatan sepanjang Pantura. Hari-hari melewati jalur Pantura adalah paduan antara kemacetan, emosi, pemborosan BBM dan buang-buang waktu di jalan. Mau sedikit cerita pengalaman pribadi ketika menempuh perjalanan dari Pekalongan-Semarang. Tepatnya hari selasa 4 Februari 2014 kemarin.

Saya berangkat dari Pekalongan jam 7 pagi naik travel. Sebenarnya pengin naik kereta yang lebih nyaman tapi gak adapat tiket. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan Pekalongan-Semarang antara 2-3 jam. Tapi hari selasa kemarin benar-benar rekor terbaru. Saya berangkat dari Pekalongan jam 7 pagi dan baru sampai di Semarang jam 4 sore…

Banjir besar yang melanda Kendal terutama daerah Brangsong membuat jalur Pantura berhenti total. Sebenarnya jalan yang kebanjiran sampai ke pinggang orang dewasa itu hanya sekitar 2 km. Tapi mobil-mobil kecil yang gak berani lewat atau yang sudah lewat akhirnya mogok di tengah jalan membuat jalur Pantura macet total.

Kondisi Pantura kini mulai membaik seiring surutnya banjir. Hari MInggu tanggal 9 Februari 2014 saya kembali lewat dari Pekalongan ke Semarang. KOndisi jalan sudah kering, tersisa lubang besar sepanjang perjalanan. KOndisi ini menghambat laju kendaraan meski tidak separah saat banjir.

Jadi yang mau lewat jalur Pantura di musim hujan ini, sebaiknya mengalihkan ke mode transportasi lain..

 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2014 in CampurSari

 
 
IELTS Liz

IELTS Videos, IELTS Tips & IELTS Lessons for Free

Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita