RSS

Category Archives: Sosial budaya

Lopisan Pekalongan

Idul Fitri menjadi hari raya umat Islam yang dirayakan dengan beragam istilah dan cara perayaan yang unik di berbagai daerah. Idul fitri dikenal dengan beberapa sebutan misalnya Lebaran, Bodo, Ba’do dan istilah lain yang memiliki makna sama yaitu sebuah perayaan setelah berpuasa Ramadhan. Lebaran artinya sudah, usai, setelah, selesai, dari kegiatan berpuasa. Ini semakna dengan Bodo dan Ba’do yang juga berarti setelah selesainya puasa. Kata-kata tersebut konon digunakan oleh para wali penyebar Islam di jaman dahulu agar mudah dimengerti. Kata lebaran, bodo dan ba’do digunakan untuk mewakili kata Idul Fitri sedangkan kata puasa untuk menggantikan kata shaum dalam bahasa Arab. Masyarakat Jawa tentu lebih mudah memahami filosofi kata lebaran dan puasa daripada Idul fitri dan shaum.
Ragam perayaan lebaran yang dilakukan masyarakat Indonesia dibalut dalam kearifan lokal setiap daerah. Simbolisasi perayaan lebaran di setiap daerah merupakan bagian dari proses akulturasi antara budaya lokal dan Islam yang dibawa oleh para wali. Masyarakat Jawa ketika itu masih banyak menganut agama Hindu sehingga dibutuhkan sebuah pendekatan kultural agar Islam bisa diterima. Seperti perayaan lebaran yang kemudian dikemas dalam beragam simbol perayaan yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat Hindu.
Bentuk simbol-simbol perayaan lebaran muncul dalam rupa makanan, pakaian, atau ritual yang diarahkan untuk tujuan tertentu. Semangat persatuan, persaudaraan, ketentraman dan kesatuan dalam masyarakat menjadi tujuan besar yang ingin dicapai. Salah satu tradisi yang lazim adalah silaturahmi dari rumah ke rumah. Berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain untuk saling memaafkan memang dikenal sebagai salah satu ciri khas perayaan lebaran di Indonesia. Tradisi lain yang juga marak digelar adalah syawalan yang dilakukan setelah puasa enam hari di bulan syawal. Tradisi syawalan dikenal luas di Jawa dan setiap daerah memiliki keunikan dalam pelaksanaannya. Salah satu tradisi syawalan yang terkenal di daerah pantai utara Jawa (Pantura) adalah Lopisan atau Krapyakan di Pekalongan. Acara ini biasanya digelar setelah puasa enam hari di bulan syawal. Lopisan di Pekalongan menjadi tradisi yang meriah terutama di wilayah Krapyak, Kranggan, Kuripan, dan Bugisan. Acara ini selalu dinanti setiap tahunnya oleh masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.
Munurut cerita Ibu Parti yang tinggal di daerah Bugisan, tradisi Lopisan sudah ada semenjak jaman dahulu. Dia mewarisi tradisi tersebut dari kakek nenek dan orang tuanya. Bapak Pamardi (adiknya Bu Parti) menambahkan yang pertama mengelar hajatan Syawalan ini adalah KH. Abdullah Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso. Tradisi ini diturunkan dari generasi ke generasi sehingga tetap dijaga sebagai bagian dari warisan leluhur.
Lopisan berasal dari kata “lopis” yaitu sebuah makanan yang dibuat dari bahan “ketan”. Disebut juga Krapyakan karena puncak acara dilaksanakan di daerah Krapyak. Untuk membuat Lopis dibutuhkan bahan baku ketan yang kemudian dibungkus dengan daun pisang. Pengikatnya menggunakan tali bambu yang dililitkan. Ketan kemudian direbus selama kurang lebih 5 jam. Lamanya proses tergantung dari banyak sedikitnya jumlah ketan yang dijadikan bahan baku Lopis. Lopis memiliki rasa manis sehingga banyak disukai masyarakat. Saat ini Lopisan sudah menjadi agenda pariwisata Pekalongan yang digelar setiap tahun. Untuk kebutuhan tersebut dibuatlah lopis raksasa dengan bahan baku ketan yang digunakan bisa mencapai 4 kwintal. Tentu saja untuk memasak lopis dengan ketan sebanyak itu bisa membutuhkan waktu 4-5 hari.
Pemilihan ketan sebagai bahan baku lopis sesungguhnya sarat akan makna filosofis. Ketan memiliki makna “raket” atau lengket, ini menyimbolkan semangat persaudaraan, persatuan, perdamaian. Setelah berpuasa dan merayakan lebaran maka semangat untuk saling memaafkan adalah syarat untuk kelanggengan persaudaraan dan persatuan di masyarakat. Ini sedikit berbeda dengan tradisi syawalan di daerah lain yang biasanya disimbolkan dengan “bodo kupat” atau “kupatan” yang bermakna wani ngaku lepat (berani mengakui kesalahan). Kupat biasanya disandingkan dengan opor ayam sebagai lauknya. Model simbolisasi kupatan dan lopisan ini sebenarnya memiliki makna luhur yang sama yaitu semangat untuk menjaga persatuan dan persaudaraan. Dengan berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, maka persaudaraan dan persatuan akan tetap terjaga. Persaudaraan akan semakin “raket” atau kuat ketika setiap individu bersedia saling memaafkan dan bersilaturahmi.
Lopisan digelar setelah puasa enam hari di bulan Syawal karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat Pekalongan untuk berpuasa sehari setelah Idul fitri. Selama enam hari sanak saudara dari luar daerah biasanya menahan diri untuk berkunjung karena tuan rumahnya masih berpuasa. Sehingga Lopisan menjadi ajang untuk menumpahkan semangat silaturahmi, menjalin persaudaraan dan merekatkan kembali simpul-simpul persaudaraan yang kendur dalam setahun. Pada hari itu rumah-rumah warga dibuka lebar dan siap menerima tamu yang datang bersilaturahmi. Menu lopis menjadi makanan utama yang ada di setiap rumah selain makanan wajib lebaran lainnya.
Prosesi lopisan dimulai dengan memotong lopis raksana leh walikota atau pejabat yang mewakili kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir. Selain menghadiri acara pemotongan lopis, masyarakat juga berkunjung ke rumah sanak kerabat yang telah siap menyambut mereka. Beragam masyarakat dari berbagai etnis berkumpul menjadi satu merayakan lopisan. Ini menyimbolkan semangat persatuan dan persaudaraan diantara beragam etnis, suku dan kelompok sosial masyarakat Pekalongan. Dihari itu mereka menanggalkan perbedaan dan bersatu sebagai sebuah keluarga besar. Semangat ini yang diharapkan tetap dibawa dalam pergaulan sehari-hari.
Pekalongan menjadi contoh daerah yang dihuni oleh beragam etnis dengan perbedaan budaya dan adat istiadat. Sebagai wilayah di pesisir pantai utara Jawa, Pekalongan menjadi jalur perdagangan yang banyak disinggahi semenjak dahulu. Etnis Jawa, Arab, Cina berbaur menjadi satu dalam balutan kemajemukan. Dewasa ini ada dua konsep masyarakat majemuk yang muncul dari berbagai hasil penelitian yaitu: (1) konsep “kancah pembauran” (melting pot), dan (2) konsep “pluralisme kebudayaan” (cultural pluralism).
Teori kancah pembauran pada dasarnya, mempunyai asumsi bahwa integrasi (kesatuan) akan terjadi dengan sendirinya pada suatu waktu apabila orang berkumpul pada suatu tempat yang berbaur, seperti di sebuah kota atau pemukiman industri. Sebaliknya konsep pluralisme kebudayaan justru menentang konsep kancah pembauran di atas. Menurut Horace Kallen, salah seorang pelopor konsep pluralisme kebudayaan tersebut, menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnis atau ras yang berbeda tersebut malah harus di dorong untuk mengembangkan sistem mereka sendiri dalam kebersamaan, memperkaya kehidupan masyarakat majemuk mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsep kancah pembauran hanyalah suatu mitos. Mitos yang tidak pernah menjadi kenyataan, sedang pluralisme kebudayaan menurut berbagai ahli telah mengangkat Amerika Serikat, Cina, Rusia, Kanada, dan India menjadi negara yang kuat. Masyarakat majemuk Indonesia lebih sesuai didekati dari konsep pluralisme kebudayaan, sebab integrasi nasional yang hendak diciptakan tidak berkeinginan untuk melebur identitas ratusan kelompok etnis bangsa kita. Disamping dijamin oleh UUD 45, pluralisme juga diperlukan dalam pembangunan nasional. Masalahnya ialah bagaimana mengelola pluralisme itu dan menjauhkan dampak negatifnya dalam “National Building” .
Dalam tradisi lopisan yang digagas oleh para juru dakwah Islam di masa lampau menerapkan prinsip-prinsip pluralitas kebudayaan tersebut. Lopisan tidak dimaksudkan untuk meleburkan semua jenis kebudayaan menjadi satu melainkan simbolisasi persatuan dan semangat persaudaraan. Masyarakat yang sudah terbiasa dengan perayaan tidak dihilangkan kesempatanya untuk aktualisasi diri. Lopisan mewadahi kreatifitas dan membungkusnya dalam semangat persaudaraan dan persatuan.
Reaktualisasi Lopisan dalam masyarakat majemuk
Acara lopisan sudah berlangsung puluhan tahun, sehingga mulai terjadi pergeseran dari makna dan semangat awal adanya cerita ini. Maka perlu disegarkan kembali agar generasi muda yang akan datang tidak tercerabut dari akal budayanya. Reaktualisasi ini penting terkait kondisi bangsa saat ini. Konflik dengan kekerasan terjadi di berbagai daerah. Lampung, Maluku, Kutai, Jakarta, NTT, Madura dibanjiri tetesan darah karena konflik. Dikalangan generasi muda juga penuh dengan tragedi kekerasan. Tawuran pelajar dan mahasiswa dipilih untuk menyelesaikan masalah.
Indonesia adalah negara multikultur dengan beragam jenis perbedaan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik hasil sensus tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah suku bangsa di Indonesia mencapai 1.128. Saat ini ada kecenderungan bahwa perbedaan digunakan oleh masyarakat sebagai alasan untuk berkonflik dan bertikai. Padahal semenjak jaman dahulu ketika para pendahulu bangsa ini memproklamirkan kemerdekaan, semangat menjaga perbedaan dalam bingkai persatuan tetap diutamakan. Tengoklah sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia. Untuk mengokohkan semangat ini maka lahirlah Bhineka Tunggal Ika sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Keberagaman dan upaya untuk menjaga persatuan bangsa muncul dalam beragam simbolisasi yang diwariskan semenjak nenek moyang bangsa ini ada. Mereka menyadari pentingnya simbolisasi tersebut sehingga tranfer ide dan gagasan persatuan lebih mudah dilakukan. Contohnya, akulturasi antara Islam dan Hindu terjadi dalam beragam bentuk bangunan seperti menara masjid, alun-alun dan arsitektur bangunan masjid.
Lopisan Pekalongan juga memiliki filosofi yang sama untuk meningkatkan persatuan masyarakat. Nilai ini yang harus terus-menerus diwariskan dari generasi ke generasi. Perbedaan itu bisa direkatkan tanpa harus diselesaikan dengan kekerasan. Beragam etnis yang hidup di Pekalongan bisa rukun berdampingan karena saling menghargai perbedaa. Filosofi lopisan yang luhur inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Bu Parti sebagai generasi terdahulu yang menerima tradisi lopisan dari leluhurnya melihat fenomena sekarang sudah mulai berbeda. Generasi muda sekarang munurutnya tidak memahami lagi akar tradisi lopisan yang luhur. Mereka justru memandang lopisan tidak lebih dari sekedar keramaian yang sama dengan acara-acara lainnya.
Mengikuti tradisi lopisan yang digelar setiap tahun hanya sebatas ajang berwisata, berhura-hura, mendapat kenalan baru, pacar baru dan kepentingan sesaat lainnya. Kekhawatiran Bu Parti dan generasi seangkatannya menjadi peringatan agar pemangku kepentingan memperhatikan kondisi ini. Tokoh masyarakat, pemerintahan, orang tua, guru dan panutan lainnya perlu mengingatkan kembali nilai luhur lopisan. Generasi muda harus diajak untuk mengingat dan memahami kenapa lahir tradisi ini. Hal ini penting agar dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa menerapkan prinsip persaudaraan dan tenggang rasa. Sebuah bekal hidup yang harus dimiliki dalam masyarakat majemuk.
Lebih dari sekedar lopisan
Saat ini Lopisan sudah menjadi agenda pariwisata di Pekalongan. Setiap tahunnya dibuat Lopis raksasa yang dimudian dipotong secara simbolis oleh Walikota dan dibagikan kepada para pengunjung. Ribuan orang setiap tahunnya menghadiri acara lopisan dan menjadi potensi pariwisata kreatif yang layak dikembangkan. Pekalongan sendiri merupakan wilayah di Pantura yang memiliki potensi besar untuk pengembangan ekonomi kreatif. Selain Lopisan, Pekalongan juga dikenal sebagai sentra batik yang mendunia. Batik Pekalongan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Kalau setiap tahun Lopisan dihadiri ribuan orang maka potensi pengembangan pasar batik tentu terbuka lebar. Sinkronisasi program dan kreatifitas acara akan memberikan nilai lebih bagi kemajuan ekonomi kreatif di Pekalongan.
Batik sudah mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Sehingga lebih mudah untuk mempromosikan program lain yang dikaitkan dengan batik. Lopisan misalnya, selama ini masih menjadi agenda regional pekalongan dan sekitarnya. Semestinya kalau dikelola dengan baik dan dikombinasikan dengan batik akan menghasilkan daya tarik yang lebih luas. Lopisan memiliki nilai-nilai dalam kerangka persatuan dan kesatuan bangsa. Alangkah baiknya jika semangat ini menular secara nasional sehingga bangsa ini bisa hidup rukun dalam kemajemukan.
Untuk bisa membuat lopisan menjadi agenda nasional bahkan internasional ada beberapa cara yang bisa dilakukan, diantaranya:
1. Menggabungkan agenda lopisan dengan batik. Misalnya acara lopisan dilengkapi dengan seragam batik. Kemudian agenda seperti pameran batik nasional atau bahkan internasional bisa dilakukan secaa beriringan dengan lopisan. Selama ini lopisan hanya menjadi agenda regional karena tidak dikaitkan dengan agenda lain yang bisa membuatnya lebih dikenal. Untuk itu lopisan perlu dikemas dengan lebih menarik dan tetap berpegang pada akar filosofinya yang kuat. Wisatawan dari mancanegara biasanya sangat menyukai dan menghargai agenda pariwisata yang memiliki akar filosofi lokal yang kuat. Ini merupakan bagian dari keinginan mereka untuk mengenal bangsa lain.
2. Memanfaatkan sosial media seperti facebook dan twitter untuk melakukan promosi sekaligus meminta masukan dari berbagai pihak bagi kemajuan agenda ini. Di jaman yang sudah tanpa batas ini media sosial memegang peran penting bagi penyebaran informasi sekaligus penanaman nilai. Generasi muda saat ini lebih suka duduk di depan komputer untuk mencari informasi sehingga media sosial adalah saluran yang praktis, murah dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Indonesia masuk dalam 5 besar pengguna facebook di dunia. Berdasarkan penelitian Semiocast, lembaga riset media sosial yang berpusat di Paris, Prancis, ternyata jumlah pemilik akun Twitter di negara ini merupakan yang terbesar kelima di dunia. Indonesia berada di posisi kelima dengan jumlah akun 19,5 juta. Sosial media adalah potensi yang besar bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.
Pada akhirnya manfaat terbesar yang ingin dipetik oleh bangsa ini melalui beragam tradisi adalah adanya semangat kerukunan dalam kemajemukan. Seperti halnya lopisan Pekalongan yang menularkan semangat untuk “raket” dan tetap kuat dalam tali persaudaraan. Semoga semangat ini membawa kebaikan bagi bangsa Indonesia yang multikultur.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 27, 2012 in Sosial budaya

 

Tags: ,

Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme

Bhinneka Tunggal Ika seperti kita pahami sebagai motto Negara, yang diangkat dari penggalan kakawin Sutasoma karya besar Mpu Tantular pada jaman Keprabonan Majapahit (abad 14) secara harfiah diartikan sebagai bercerai berai tetapi satu. Motto ini digunakan sebagai ilustrasi dari jati diri bangsa Indonesia yang secara natural, dan sosial-kultural dibangun diatas keanekaragaman
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa yang tercantum dan menjadi bagian dari lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Sebagai semboyan bangsa, artinya Bhinneka Tunggal Ika adalah pembentuk karakter dan jati diri bangsa. Bhinneka Tunggal Ika sebagai pembentuk karakter dan jati diri bangsa ini tak lepas dari campur tangan para pendiri bangsa yang mengerti betul bahwa Indonesia yang pluralistik memiliki kebutuhan akan sebuah unsur pengikat dan jati diri bersama. Bhinneka Tunggal Ika pada dasarnya merupakan gambaran dari kesatuan geopolitik dan geobudaya di Indonesia, yang artinya terdapat keberagaman dalam agama, ide, ideologis, suku bangsa dan bahasa .
Kebhinekaan Indonesia itu bukan sekedar mitos, tetapi realita yang ada di depan mata kita. Harus kita sadari bahwa pola pikir dan budaya orang Jawa itu berbeda dengan orang Minang, Papua, Dayak, Sunda dan lainnya. Elite pemimpin yang berasal dari kota-kota besar dan metropolitan bisa jadi memandang Indonesia secara global akan tetapi elite pemimpin nasional dari budaya lokal tertentu memandang Indonesia berdasarkan jiwa, perasaan dan kebiasaan lokalnya. Ini saja menunjukkan kalau cara pandang kita tentang Indonesia berbeda. Jadi tanpa kemauan untuk menerima dan menghargai kebhinekaan maka sulit untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Apa yang dilakukan oleh pendahulu bangsa ini dengan membangun kesadaran kebangsaan atau nasionalisme merupakan upaya untuk menjaga loyalitas dan pengabdian terhadap bangsa.
Selama ini sifat nasionalisme kita kurang operasional atau hanya berhenti pada tataran konsep dan slogan politik. Nasionalisme bisa berfungsi sebagai pemersatu beragam suku, tetapi perlu secara operasional sehingga mampu memenuhi kebutuhan objektif setiap warga dalam suatu negara-bangsa. Tradisi dari suatu bangsa yang gagal memenuhi fungsi pemenuhan kebutuhan hidup objektif akan kehilangan peran sebagai peneguh nasionalisme. Saat ini diperlukan tafsir baru nasionalisme sebagai kesadaran kolektif di tengah pola kehidupan baru yang mengglobal dan terbuka. Batas-batas fisik negara-bangsa yang terus mencair menyebabkan kesatuan negara kepulauan seperti Indonesia amat rentan terhadap serapan budaya global yang tidak seluruhnya sesuai tradisi negeri ini. Disamping itu realisasi otonomi daerah yang kurang tepat akan memperlemah nilai dan kesadaran kolektif kebangsaan di bawah payung nasionalisme.
Menurut Profesor Abdul Munir Mulkhan, kekukuhan nasionalisme di dalam diri bangsa ditentukan posisi dan seberapa ia berakar dalam “dunia batin” warga bangsa tersebut. Nasionalisme yang sekedar konsensus politik nasional, akan mudah pudar bersama perubahan sosial yang semakin cepat di era global ini. Wawasan nasionalisme akan tetap segar jika ia juga merupakan daya spritual dan kesadaran hidup di dalam diri orang atau warga bangsa. Karena itulah nasionalisme seharusnya selalu disegarkan kembali dan didialogkan bersama seluruh warga suatu bangsa tersebut. Nasionalisme yang berhenti sebagai doktrin ideologis kenegaraan kurang berakar dalam kesadaran hidup warga. Kesadaran nasionalisme (NKRI) tumbuh kukuh dalam diri rakyat kebanyakan yang rela berkorban bagi kepentingan nusa bangsanya, ketika mereka merasa menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kebangsaan itu. Kesadaran primordial rakyat nampak lebih kental dibanding elite yang lebih rasional. Namun ketika rakyat itu melihat praktek kekuasaan yang egois bagi kepentingan elite, muncul kritik dan pemberontakan budaya .
Sejarah penyatuan Indonesia adalah contoh konkret keberhasilan dari penerapan Bhineka Tunggal Ika. Lebih dari satu dekade yang lalu, Ben Anderson melontarkan gagasannya tentang masyarakat khayalan (imagined communities). Konsep ini menarik karena Anderson, mengklaim bahwa nasionalisme berakar dari sistem budaya dalam suatu kelompok masyarakat yang saling tidak mengenal satu sama lain. Kebersamaan mereka dalam gagasan mengenai suatu bangsa dikonstruksi melalui khayalan yang menjadi materi dasar nasionalisme. Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa, bahkan bangsa yang terkecil sekalipun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir di pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial. Pandangan yang dianut Anderson menarik karena meletakkan nasionalisme sebagai sebuah hasil imajinasi kolektif dalam membangun batas antara kita dan mereka, sebuah batas yang dikonstruksi secara budaya melalui kapitalisme percetakan, bukan semata-mata fabrikasi ideologis dari kelompok dominan. Dalam konsep Anderson, nasionalisme Indonesia terbentuk dari adanya suatu khayalan akan suatu bangsa yang mandiri dan bebas dari kekuasaan kolonial, suatu bangsa yang diikat oleh suatu kesatuan media komunikasi, yakni bahasa Indonesia. Bhineka Tunggal Ika bukan slogan politik. Nasionalisme tidak bergantung pada mitos saja, tetapi juga harus melihat realita kebhinekaan Indonesia.

rujukan:
Oleh Prof Dr Udin S.Winataputra,M.A. 2009. Multikulturalisme-Bhinneka Tunggal IKa dalam Perspektif Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pembangunan Karakter Bangsa Indonesia. Dikutip dari http://baehaqiarif.wordpress.com/2009/02/19/63/ diakses 6/8/2012/10.43 wib

[2] (Rahman, 2010: 8) dalam Sari Monik Agustin, 2011:195, Prosiding seminar komunikasi UI, 2011

[3] Dikutip dari https://mubarok01.wordpress.com/2009/09/, diakses 6/8/2012/10.48

 
3 Comments

Posted by on November 8, 2012 in Sosial budaya

 

Tags:

Multikultural, Akulturasi, Pluralisme

Dilihat dari proses terjadinya, proses menjadi multikultural berbeda dengan akulturasi dan akomodasi. Akulturasi atau disebut juga asimilasi adalah konsep untuk merujuk proses di mana seseorang pendatang luar, imigran, aturan kelompok subordinate menjadi menyatu secara tak kentara lagi ke dalam masyarakat tuan rumah yang dominan. Sedangkan akomodasi adalah proses di mana subordinate group menyetujui harapan-harapan dari kelompok masyarakat dominan. Baik dalam asimilasi maupun akomodasi, keduanya mendasarkan pada asumsi adanya kelompok masyarakat yang lemah (subordinate group) dan kelompok masyarakat yang kuat (dominant group). Dalam multikulturalisme, asumsi tentang subordinate dan dominant group tidak ada karena setiap kelompok mempunyai kesempatan yang sama untuk mengekspresikan diri, hidup berdampingan, dan bekerjasama dengan kelompok lain[1].

Dewasa ini ada dua konsep masyarakat majemuk yang muncul dari berbagai hasil penelitian yaitu: (1) konsep “kancah pembauran” (melting pot), dan (2) konsep “pluralisme kebudayaan” (cultural pluralism). Teori kancah pembauran pada dasarnya, mempunyai asumsi bahwa integrasi (kesatuan) akan terjadi dengan sendirinya pada suatu waktu apabila orang berkumpul pada suatu tempat yang berbaur, seperti di sebuah kota atau pemukiman industri. Sebaliknya konsep pluralisme kebudayaan justru menentang konsep kancah pembauran di atas. Menurut Horace Kallen, salah seorang pelopor konsep pluralisme kebudayaan tersebut, menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnis atau ras yang berbeda tersebut malah harus di dorong untuk mengembangkan sistem mereka sendiri dalam kebersamaan, memperkaya kehidupan masyarakat majemuk mereka. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsep kancah pembauran hanyalah suatu mitos. Mitos yang tidak pernah menjadi kenyataan, sedang pluralisme kebudayaan menurut berbagai ahli telah mengangkat Amerika Serikat, Cina, Rusia, Kanada, dan India menjadi negara yang kuat. Masyarakat majemuk Indonesia lebih sesuai didekati dari konsep pluralisme kebudayaan, sebab integrasi nasional yang hendak diciptakan tidak berkeinginan untuk melebur identitas ratusan kelompok etnis bangsa kita. Disamping dijamin oleh UUD 45, pluralisme juga diperlukan dalam pembangunan nasional. Masalahnya ialah bagaimana mengelola pluralisme itu dan menjauhkan dampak negatifnya dalam “National Building”[2].

Dalam masyarakat multikultural, konsepnya ialah bahwa di atas pluralisme masyarakat itu hendaknya dibangun suatu rasa kebangsaan bersama, tetapi dengan tetap menghargai, mengedepankan, dan mengembangkan pluralisme masyarakat itu (multiculturalism celebrate culture variety). Dengan demikian, ada tiga syarat bagi adanya suatu masyarakat multikultural, yaitu: 1) adanya pluralisme masyarakat; 2) adanya cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama; 3) adanya kebanggaan mengenai pluralisme tersebut[3].

[1] Dikutip dari tulisan, Multikulturalisme, Demokrasi, Dan Pendidikan, Shodiq M. Hum disampaikan Disampaikan pada pelatihan Pendidikan Multikulturalisme Untuk Guru-guru Madrasah, cemarakita.files.wordpress.com/ diakses, 6/8/2012/11.00

2]Usman Pelly, Pengukuran Intensitas Konflik Dalam Masyarakat Majemuk, Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI•Vol. 1•No.2•Oktober 2005 hal: 5-6

[3] Dikutip dari tulisan, Multikulturalisme, Demokrasi, Dan Pendidikan, Shodiq M. Hum disampaikan Disampaikan pada pelatihan Pendidikan Multikulturalisme Untuk Guru-guru Madrasah, cemarakita.files.wordpress.com/ diakses, 6/8/2012/11.00

 
Leave a comment

Posted by on November 7, 2012 in Sosial budaya

 
Gallery

Ketika Ajal Menjemput

Sungguh kematian adalah suatu kepastian, tiada seorangpun yang mampu untuk menundanya walau se detik pun. Tidak juga mampu menundanya dengan harta berlimpah atau berlindung dibalik benteng yang kuat.
Pagi ini jam 08.09 wib aku baru saja masuk ke kantor ketika tiba2 seorang teman mengabarkan kalau Pak “A” baru saja meninggal tadi jam 2 pagi.
Kemarin siang beliau masih masuk kerja dan bertemu dengan teman kerja. Sekali lagi ketika Alloh SWT menghendaki datangnya ajal bagi setiap hamba tentu bukan suatu yang sulit. Selagi kita masih diberi umur dan kesempatan untuk berbuat baik..janganlah menunda, segera lakukan dan buatlah tabungan amal kita sebanyak mungkin

 
Leave a comment

Posted by on October 2, 2012 in Sosial budaya

 

Tags:

 
IELTS Liz

IELTS Videos, IELTS Tips & IELTS Lessons for Free

Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita