RSS

Stop Impor! Mari Berdaulat Pangan

Negara dengan luas lahan yang luar biasa kok impor pangan.
Negara agraris, kok beras saja tetap impor, buah impor, daging impor.
Punya lautan luas, kok memenuhi protein warga negaranya saja harus impor.
Apa yang salah sebenarnya dengan negara ini. Apakah potensi sumber daya alamnya kurang? Apakah jumlah petaninya kurang? Apakah tanah kita tidak subur? atau laut kita tidak lagi menghasilkan ikan? jangan-jangan tanah di bumi pertiwi sudah tidak mau lagi menghasilkan pangan, karena berkali-kali dicemari, dirusak?
Kalau mencermati kondisi Indonesia, semestinya kita tidak hanya memiliki ketahanan pangan yang kuat, tetapi juga memiliki kedaulatan pangan. Kalau ketahanan pangan hanya berbicara kecukupan, pemerataan dan keadilan dalam memperoleh pangan. Sementara kedaulatan pangan lebih dari itu, tapi kita bisa mencukupi, merata dan adil dengan berdiri diatas kaki sendiri, bukan impor lagi. Lebih dari itu kita semestinya menjadi eksportir pangan, bukan lagi importir. Punya ketahanan pangan, berdaulat, dan juga mampu jadi ekportir pangan.

Mengaca
Mari kita mengaca, supaya bisa melihat wajah pangan negeri ini dengan jelas. Kenapa tidak berdaulat pangan dan kenapa tergantung impor. Mungkin ada yang menjawab, banyak lahan pertanian yang beralih fungsi ditanami rumah dan gedung-gedung. Atau ada yang beralibi kalau jumlah penduduk kita kebanyakan jadi butuh banyak pangan. Atau beralasan lagi generasi muda pada malas jadi petani jadi banyak lahan yang nganggur.

Nah ini tipikal kita, kalau disuruh cari alasan pasti banyak, pokoknya pintar cari alasan. Walaupun alasanya masuk akal tetap saja menunjukkan lemahnya mental kita. Setiap bangsa pasti punya masalah dengan ketahanan dan kedaulatan pangan tapi persoalanya mengeluh saja tidak cukup. SUdah tahu masalahnya apa, sekarang tinggal bagaimana kita menyelesaikan masalah itu.

Punya lahan pertanian luas, punya sumber daya manusia banyak kok tidak bisa berdaulat pangan berarti ada yang salah urus di negeri ini. Lahan produktif kok beralih fungsi ditanami rumah dan gedung, berarti ada yang gak beres. Generasi muda pada malas jadi petani berarti ada yang tidak benar dalam dunia pertanian kita.

Stop Impor, mungkinkah?

Kita harus jujur kalau ketergantungan kita terhadap impor pangan sangat kuat. Pertanyaannya mungkinkah berhenti impor pangan? atau setidaknya beranikah pemerintah menghentikan impor pangan?

Kata pepatah: man jadda wajada: kalau bersungguh-sungguh pasti bisa
Kalau bangsa ini mau bersungguh-sungguh untuk berdaulat pangan pasti bisa. kalau sejauh ini belum bisa, mungkin karena kita tidak bersungguh-sungguh untuk mencapainya.
Bagaimana langkahnya, ini beberapa hal yang mungkin dilakukan sepanjang ada kemauan kuat.
1. Produk pangan lokal untuk bisa bersaing membutuhkan stimulus. Permudah bibitnya, dengan menyediakan bibit berkualitas dan terjangkau. BErikan kemudahan untuk mendapatkan pupuk. Jangan pas musim tanam justru pupuk menghilang. Berikan kemudahan permodalan sehingga petani kita bisa bercocok tanam.
2. Menjaga harga produk pertanian: Harga produk pertanian kita selalu kalah dengan barang impor. Sudah impor kok harganya lebih murah dari pangan lokal?. Penyebabnya karena di negaranya mereka mendapatkan insentif dari pemerintahnya sehingga harganya bisa bersaing di pasar internasional. Di kita, petani seolah disuruh bertarung sendiri melawan kapitalisme perdagangan. Nah ini sulit. Bantu modal petani, jaga harganya supaya petani bisa bersaing.
3. Supaya generasi muda mau menjadi petani gimana caranya?. Jadikan profesi petani menjadi profesi yang menjanjikan.
Selama menjadi petani identik dengan kemiskinan, kekurangan, keterbelakangan maka jangan harap generasi muda menjadi petani. Jadikan profesi petani sebagai profesi yang meyakinkan untuk masa depannya.

JAdi menghentikan impor dan berdaulat pangan bukanlah hal yang tidak mungkin. Selama ada kemauan, kesungguhan dan political will yang kuat dari pemerintah semua bisa terwujud. Namun perlu diingat, kalau kebijakan pemerintah tidak akan sukses kalau tidak didukung dengan perilaku positif masyarakat.
Jadi biasakan pergi ke pasar tradisional, beli produk pangan lokal.
Gak usah gengsi membeli buah lokal, tidak usah silau dengan buah impor.
Yakinlah beras lokal kualitasnya bagus, jangan berharap pada beras impor. So stop impor dan mari berdaulat pangan.

#keadilanpangan

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 4, 2014 in lomba kary tulis

 

Tags:

Ibarat sebuah kapal

Ibarat sebuah kapal yang sedang mengarungi lautan, dibutuhkan nahkoda yang handal sehingga kapal bisa sampai ke tujuan. Hempasan badai dan ombak bisa dilalui jika nahkodanya cakap dalam memimpin perjalanan kapal.
Demikian halnya dengan sekolah, yang membutuhkan seorang kepala yang handal dan mampu membawa sekolah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ditengah kemajuan jaman dan perkembangan teknologi yang semakin pesat dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengemban amanat dengan baik sesuai kondisi jamannya.

Sekolah sebagai tempat mengembangkan dan mencetak calon generasi penerus bangsa membutuhkan sosok dan pola kepemimpinan yang cerdas membaca peluang sekaligus mampu mengemban amanat kepemimpinan. Dia harus mampu untuk mempengaruhi, menggerakkan, mengembangkan, memberdayakan segenap potensi yang dimiliki oleh sekolah.

Sekolah merupakan satuan pendidikan yang di dalamnya meliputi kepala sekolah, guru, karyawan, dinas pendidikan, murid, wali murid dan masyarakat di sekitarnya. Inilah stakeholder sekolah yang menjadi bagian dari kinerja kepemimpinan di sekolah.

Inilah salah satu sudut dunia pendidikan, tentang pentignya peran kepala sekolah dalam sebuah institusi pendidikan.

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2014 in CampurSari

 

Tidur di pasir

Waktu masih kecil, terutama di musim kemarau saya selalu suka tiduran di pasir pinggir kali. Lahir dan besar di pinggiran kali CItanduy perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat membuat pasir sungai CItandui di musim kemarau menjadi kawan menyenangkan.

Bersama-sama teman sebaya kami bermain sepakbola, tiduran di pasir dan tentu saja “siblon” di sungai Citandui. Setiap habis subuh, kami rame-rame pergi ke pinggir sungai, tiduran di pasir sambil melihat matahari yang mulai naik. SInarnya yang semburat dari timur membuat suasana pinggiran kali begitu indah. seringkali karena keasyikan bermain di pinggiran pasir, kami lupa kalau harus pergi ke sekolah. Jadilah rame-rame orang tua datang ke pinggir kali dan memanggil anak-anaknya untuk pulang dan pergi sekolah.

Sore hari menjadi saat yang kami nantikan juga. Kembali ke pinggir kali, kami biasa bermain sepakbola di pasir, menerbangkan layang-layang dan “siblon” di kali Citandui. Menjelang maghrib barualah kami pulang untuk rame-rame pergi ke masjid. MElanjutkan permainan dengan gobak sodor, bentengan dan petak umpet ditengah gulita malam tanpa penerangan listrik.

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2014 in CampurSari

 

Menggugat Praktek Jurnalistik Dalam Peliputan Bencana

Bencana yang datang silih berganti di Indonesia menimbulkan keprihatinan tersendiri, Media massa berlomba-lomba untuk memberitakan kejadian seputar bencana, Tapi praktek jurnalistik dalam peliputan bencana perlu dipersoalkan.
a. Contoh, kedangkalan dalam menggali informasi misalnya dalam bentuk wawancara pertanyaan terhadap mereka yang gagal terbang karena bandara ditutup, kecewa nggak.? Hal seperti ini perlu ditanyakan apa nggak. Kemampuan dan kredibilitas wartawan dalam menggali informasi dipertanyakan.
b. Berita bohong contohnya isu adanya gas beracun dalam asap gunung kelud sempat dihembuskan oleh beberapa media sehingga menimbulkan kepanikan
c. Foto palsu yang sempat diunggah di laman media online yang kemudian diketahui bahwa berita tersebut adalah palsu. Bukan hasil dari wartawan yang bersangkutan.
Beberapa kritik:
– Rendahnya akurasi, verifikasi dan kedalaman berita. Wartawan ingin cepat memberikan gambaran berita kemudian melupakan aspek-aspek tersebut. Ritme kerja media yang dituntut cepat seringkali membuat wartawan berfikir pendek untuk mencari sekilas aja. Tidak mendalam
– Plagiasi, dituntut menghasilkan foto yang bagus sehingga plagiat foto orang lain
– Tidak adanya empat dalam pemberitaan. Memberitakan berita yang menggugah kesedihan, ditayangkan berulang-ulang dengan gambar yang menyeramkan. Akan terus mengingatkan korban akan peritiwa yang mereka alami
– Berita palsu, membuat keributan dan kegaduhan, keresahan

 
Leave a comment

Posted by on February 28, 2014 in Just Talk Active

 

The effectiveness of parent – children communication

Human action is guided by beliefs and ideology that they are embraced. Those beliefs and ideologies lead people to act and to behave. Radical ideology is a latent danger that could arise any moment. Radical ideology could trigger anarchist terror acts committed by the perpetrators. Several types of terrorist acts are bombings, murders, ambushes, kidnappings, robbery, hostage taking, sabotage and intimidation. Several cases of bombings in Indonesia with its variations can be the manifestation of radical ideology that they embraced. Students, who have already indoctrinated by the radical teachings, have the potential to spread the ideology to other people who live in the same environment. The doctrine of the ideology will be started after the students join the organization. This situation is certainly more difficult to overcome than if the doctrine was started before they join the organization.
It is important to develop an effective communication method as a preventive measure, which is able to identify, to prevent, and to normalize ideological doctrinesby using soft power action. This case study aims was to determine the relationship between the effectiveness of interpersonal communication role of parents – children and peer group to preventing the radical ideology that developed in Indonesia. The populations in this study are students who joined the mouslem student organization, and samples were taken of 100 respondents purposively taken in accordance with the criteria set by the researchers. Results of quantitative data relating to the influence between variables was calculated with SPSS. Variables that exist in the study are calculated by using correlation technique in order to determine the relationship between variables.
Relationship between effective communication and the peer group communications is 0,089. This suggests that there are strong relationships between the two variables. While the significance value between the two variables is 0.379. It shows the significance of the relationship between the two variables to preventing radical ideology

 
Leave a comment

Posted by on February 20, 2014 in CampurSari

 

Pantura (Musim Hujan Ini)

Bagi anda yang berkeinginan untuk menempuh perjalanan melewati jalur Pantura sebaiknya berfikir berulang kali. APalagi di musim hujan saat ini. Dari berita di media massa kita lihat bagaimana banjir telah menghancurkan infrastruktur jalan dan jembatan sepanjang Pantura. Hari-hari melewati jalur Pantura adalah paduan antara kemacetan, emosi, pemborosan BBM dan buang-buang waktu di jalan. Mau sedikit cerita pengalaman pribadi ketika menempuh perjalanan dari Pekalongan-Semarang. Tepatnya hari selasa 4 Februari 2014 kemarin.

Saya berangkat dari Pekalongan jam 7 pagi naik travel. Sebenarnya pengin naik kereta yang lebih nyaman tapi gak adapat tiket. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan Pekalongan-Semarang antara 2-3 jam. Tapi hari selasa kemarin benar-benar rekor terbaru. Saya berangkat dari Pekalongan jam 7 pagi dan baru sampai di Semarang jam 4 sore…

Banjir besar yang melanda Kendal terutama daerah Brangsong membuat jalur Pantura berhenti total. Sebenarnya jalan yang kebanjiran sampai ke pinggang orang dewasa itu hanya sekitar 2 km. Tapi mobil-mobil kecil yang gak berani lewat atau yang sudah lewat akhirnya mogok di tengah jalan membuat jalur Pantura macet total.

Kondisi Pantura kini mulai membaik seiring surutnya banjir. Hari MInggu tanggal 9 Februari 2014 saya kembali lewat dari Pekalongan ke Semarang. KOndisi jalan sudah kering, tersisa lubang besar sepanjang perjalanan. KOndisi ini menghambat laju kendaraan meski tidak separah saat banjir.

Jadi yang mau lewat jalur Pantura di musim hujan ini, sebaiknya mengalihkan ke mode transportasi lain..

 
Leave a comment

Posted by on February 11, 2014 in CampurSari

 

Buku Terbaru

Buku KAP

Alhamdulilah akhirnya terbit juga. Buku terbaru,silahkan yang berminat bisa memilikinya. Cocok untuk buku pegangan dan buku ajar Mata Kuliah KOmunikasi ANtar Pribadi

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2014 in Uncategorized

 
 
IELTS Liz

IELTS Videos, IELTS Tips & IELTS Lessons for Free

Open Mind

Sabar dan Syukur sebagai bekal kehidupan

HaMaZza's Blog

Berbagi Inspirasi, Cerita & Pengalaman

momtraveler's Blog

my love ... my life ....

software4ku

Bermacam - macam software dan program, Tips dan trik

Let's remind each other...

..yuk saling mengingatkan..

All Words

Motivation Comes From The Words and Yourself

~Harap dan Terus Berharap~

tak ada yang bisa sobat dapatkan disini selain setetes ilmu dan keinginan untuk merajut benang-benang ukhuwah

Umarat's Blog

"Biasakanlah Yang Benar, Jangan Benarkan Kebiasaan"

Postingan Dunia

Dunia Membutuhkan kita